
Kehamilan Ameera adalah kabar yang begitu dinantikan. Bukan hanya keluarga, tapi para penggemar juga menyambut hangat kala Cakra mengumumkan kehamilan istrinya lewat akun sosial media.
Sekaligus dia juga mengumumkan untuk vakum dari dunia entertain dan memilih fokus untuk menjalani perannya sebagai suami dan calon ayah. Tidak ingin batin istrinya terluka, Cakra memilih untuk mulai meniti karir di perusahaan Evan.
Sebuah keputusan yang sangat menguntungkan, baik Ameera maupun bagi Cakra sendiri. Sebenarnya sejak awal Ameera tak begitu merestui Cakra menekuni dunia seni peran, tapi kala itu Cakra yang memilih dan dia tidak bisa bertindak banyak.
Setidaknya, dengan dia yang memilih bekerja layaknya manusia normal, waktu untuk Ameera akan lebih tertata dan hati sang istri tidak akan dibuat tersiksa oleh kehadiran penggemar fanatik Cakra yang kerap kali menggila.
Ameera juga merasa perannya sebagai istri lebih hidup. Walau di mata beberapa orang mungkin terkesan monoton, tapi pergi pagi dan pulang sore di jam yang pasti lebih baik dibandingkan pergi kapan pulangnya kapan seperti selama ini.
Ditambah lagi, dengan pekerjaan Cakra yang harus melibatkan seorang wanita, sungguh Ameera tidak rela. Dua bulan sudah berlalu sejak Cakra memutuskan untuk pamit dari dunia hiburan, dan dia tampak lebih betah dengan apa yang dia jalani sekarang.
Dibantu pakai dasi dan kemeja setiap hari oleh sang istri adalah impian Cakra sejak dulu, dunia impian yang dulunya seakan tak tergapai kini benar-benar Cakra nikmati. Tidak lupa, bagian paling favorit menurut Cakra ialah, pulang disambut Ameera.
"Sayang!!"
Teriakan Ameera sudah terdengar sejak Cakra memasuki gerbang utama. Pemandangan semacam itu adalah hal biasa, dan hingga detik ini Ameera dan Cakra belum diizinkan kedua orang tuanya untuk meninggalkan kediaman utama dengan alasan takut kesepian.
Cakra yang juga sama iyanya jelas takkan diam saja. Setiap turun dari motor dia sudah merentangkan tangan dan menyambut Ameera menghambur ke pelukannya. Ya, semanis itu hubungan mereka dan tidak ada kata malu karena masih di rumah mertua.
Cakra mengusap pundak sang istri usai mengecup keningnya beberapa kali. Dibuat jatuh cinta setiap hari pada wanita yang memang menjadi miliknya ini adalah level kebahagiaan paling tinggi yang dia rasakan saat ini.
"Sayang bawa apa?"
Seperti biasa, selain menyambut suaminya, Ameera selalu bertanya Cakra bawa apa. Sebahagia itu dia memiliki Ameera, wanita kaya raya yang bahkan mampu membeli segalanya dengan uang justru begitu mengharapkan oleh-oleh dari sang suami yang terbiasa hidup susah.
__ADS_1
Lucunya, yang Ameera ingini juga hal-hal sederhana dan mungkin hanya Cakra saja terpikir untuk membelikannya cotton candy di usia segini. "Suka?" Tak lupa, dia akan melontarkan pertanyaan yang akan selalu Ameera angguki.
Apapun yang dia berikan selalu berharga di mata Ameera. Sikap Cakra yang manis dan mampu membuatnya bahagia dengan segala cara adalah hal yang dia syukuri setiap detiknya. "Suka, aku sudah lama tidak makan ini ... tapi kenapa cuma beli satu? Nanti papa ambil punyaku gimana?"
Cakra menepuk keningnya, sungguh dia lupa jika mertuanya juga tidak jauh berbeda. "Aku lupa, bagi saja ya, Sayang?"
"Masa dibagi, akunya kurang nanti." Khawatir sekali dia kekurangan, padahal dimakan saja belum.
Cakra tertawa pelan, terlebih lagi melihat Ameera yang was-was makananya akan diambil sang papa saat ini. "Itu banyak, Sayang, dibagi sedikit, nanti kamu sakit gigi."
"Kalau aku saja bisa sakit gigi karena makan ini gimana papa? Pasti makin besar kemungkinan sakit gigit giginya."
"Iya tidak masalah, biar sakit giginya sama-sama," timpal Cakra yang kemudian menciptakan gelak tawa keduanya. "Kasihan dong, nanti tembolok papa makin gede."
"Jiahahah kamu pikir papa kodok?"
Sesederhana itu membuat Ameera tertawa, bahkan jika harus mengorbankan nama papanya juga tidak mengapa, paling juga terancam dikubur bersama bibit kacang tanah nantinya.
Pulangnya Cakra adalah pertanda tenaga Ameera seakan terisi full, gelak tawanya menggema di rumah utama. Jika sudah begitu, mana mungkin Papa Mikhail bisa melepaskan keduanya begitu saja.
.
.
"Sore papa."
__ADS_1
"Sore, Nak, menantu papa sudah pulang ... bawa apa hari ini?"
Benar saja, kurang lebih seperti Ameera sang mertua juga turut bertanya yang membuat Cakra dan Ameera saling pandang. Terpaksa, mau tidak mau cotton candy itu harus dikorbankan sementara waktu.
"Bercanda." Melihat wajah cemberut putrinya Papa Mikhail sontak memberitahukan maksudnya, khawatir saja nanti justru jadi masalah.
"Kalau papa mau bisa kok dibagi, tapi sedikit ya ... nanti aku dimarahin tetangga sebelah."
"Tidak, Sayang, papa benar-benar bercanda. Sudah sana masuk, siap-siap karena ba'da magrib nikahnya akan segera dimulai," ucap Papa Mikhail tiba-tiba yang membuat Ameera mengerjap pelan.
Tidak ada pembicaraan masalah itu beberapa hari terakhir dan dia lupa. "Nikah? Tetangga kita yang mana, Pa?"
"Tetangga dengkulmu, nikahan Ricko!!
"Hah? Apa iya?" Penyakit lupa tanggal agaknya memang sudah melekat dalam diri Ameera, jadwal periksa kandungan saja dia lupa, apalagi nikahan Ricko.
"Masa sih? Bukannya masih lama? Ini tanggal berapa sih? Seingatku belum tanggal 27."
"27 itu Mahendra ... lupa juga?"
Sudah pasti iya, tatapan dan senyumannya sudah menjelaskan semuanya. "Astaga, Meera, banyak-banyak makan wortel sana," pungkas papanya tak lupa menjitak kening Ameera sebagai salam perpisahan, meninggalkan Cakra yang kini tampak berpikir keras usai mendengar saran mertuanya. "Sejak kapan kegunaan wortel begitu?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -