Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 113 - End


__ADS_3

Mendengar permintaan Ameera, Azkara bergegas pergi. Sementara di sisi lain, Cakra yang kini merasa ada yang aneh melontarkan pertanyaan kala sang istri sedikit lebih tenang.


"Kamu ngapain cubit aku?"


"Dia mana? Sudah pergi, 'kan?" Bukannya menjawab, Ameera justru balik bertanya seraya celingukan mencari dimana keberadaan Azkara.


"Ya, Tuhan, Ra ... kamu tahu aku setakut apa? Ha?" Cakra menghela napas panjang, sama sekali tidak dia duga jika Ameera hanya bersandiwara.


"Terpaksa, dari pada ditonjok Azkara? Kalian berdua sama iyanya, gila kalau marah," pungkas Ameera dan berusaha berdiri usai bersandiwara di hadapan Azkara demi sang suami. "Gila?"


"Iya, Azkara memang gila kalau sudah mar_ aaaarrrgghh!!"


"Siapa yang gila, Tan?"


Entah sejak kapan dia berada di ambang pintu, Ameera mengerjap pelan begitu sadar Azkara berdiri di depannya. "Ameera!! Kenapa, Sayang?" Belum sempat Ameera membela diri, sang dewi penolong kini datang hingga dia merasa sedikit lebih tenang.


"Tante bohong, Oma ... perutnya tidak sakit tuh, tapi jiwanya."


Kesal lantaran sadar jika baru saja dibohongi, Azkara asal bicara hingga Mama Zia hanya menghela napas panjang. Dia benar-benar bingung, entah apa yang terjadi di antara mereka, tapi begitu didekati ketiganya sudah sama-sama diam bak mengalami masalah serius.


"Benar yang dikatakan Azkara?"


Awalnya Mama Zia hendak marah lantaran ucapan asal ceplos Azkara, tapi melihat putrinya baik-baik saja seketika dia urungkan. "Ta-tadi memang sakit kok, Ma ... tapi sembuh, kayaknya kontraksi palsu deh."

__ADS_1


Azkara berdecih, setelah sebelumnya hanya kesal pada Cakra, kini dia turut kesal pada Ameera. "Iya memang palsu karena sengaja dibuat-buat," ketusnya kemudian tanpa izin melenggang masuk dan saat itu juga Ameera berlindung di belakang pundak sang suami.


"Lihat, ini sudah sangat cukup untuk membersihkan namaku di depan opa."


Mata Cakra membulat sempurna begitu Azkara merambas tumpukan kertas dan alat tulis yang dia gunakan untuk membuat lukisan keramat itu. Seketika Cakra panik, besar kemungkinan Azkara akan mengadu dan rahasia itu akan tersebar ke seluruh anggota keluarganya.


"Azka jangan, Azka!! Maaf ... aku yang akan jelasin sama papa, kamu tidak per_"


"Halah!! Aku tidak percaya lagi, biarkan aku yang bicara sendiri!!" tolak Azka yang agaknya sudah terlampau kecewa dan kali ini dia benar-benar marah.


Sudah tentu Cakra yang khawatir akan menjadi topik pembicaraan untuk kesekian kalinya meminta kebaikan hati Azkara dan sekali ini saja. Bahkan, dia rela menjanjikan hadiah yang terdengar menggiurkan, tapi tetap tidak berhasil meluluhkan hati Azkara.


"Azka please!!"


"Big no! Aku bisa beli sendiri."


Terlebih lagi, sejak usia 17 tahun Evan sudah membebaskannya menghamburkan uang, sudah tentu tawaran Cakra tidak akan mempan. "Azka, bukankah kita berteman?"


"Mulai hari ini kita tidak lagi berteman ... lo gue end!!"


"End? Apa tidak bisa diperbaiki, Azka?" rayu Cakra masih berusaha memperbaiki hubungan mereka.


Namun, sekalipun Cakra sudah membujuk dengan berbagai cara, Azkara tetap menggeleng dan menjawab dengan sebegitu tegasnya. "Iya, End ... berakhir, aku akan segera menemui opa dan mengembalikkan nama baikku yang tercemar karena om Cakra."

__ADS_1


Cakra tak bisa membantah, dia menggigit bibir seraya mengusap kasar wajahnya. Usaha Ameera menyelamatkannya gagal kali ini, mereka tertangkap basah dan marahnya Azka menjadi dua kali lipat dibuatnya.


"Satu lagi, lain kali sekalipun tante jerit-jerit persis tikus kejepit aku tidak akan peduli, camkan itu!!"


Bukan hanya Cakra yang bungkam, tapi Ameera juga ikut diam dan meneguk salivanya pahit. Wanita itu menatap sang mama yang kini menggeleng pelan akibat ulahnya. "Ada-ada saja kalian bertiga."


Hanya itu yang diucapkan mamanya, tidak ada amarah ataupun kekesalan usai mengetahui jika Ameera ternyata berbohong. Tidak ada yang bisa Mama Zia lakukan selain memaklumi kedua belah pihak, maklum saja cucunya memang masih tergolong anak-anak sementara putri dan menantunya menolak dewasa.


Mereka sama iyanya, dan hal-hal semacam ini juga tidak akan berlangsung lama. Sekalipun mereka bertikai, nantinya juga akan kembali seperti semula. "Mama ke dapur lagi," pungkas Mama Zia berlalu keluar, tapi baru beberapa langkah wanita itu berbalik dan menyampaikan sebuah pesan singkat untuk putrinya.


"Bohong yang ini terakhir kali ya, Sayang ... mama panik, Azka juga sama jadi wajar dia marah," tambah Mama Zia yang hanya mampu Ameera tanggapi dengan anggukan pelan.


Tentang kebohongannya memang tidak dapat dibenarkan. Karena bukan hanya Azkara dan mamanya saja yang panik, tapi Cakra juga demikian. Tak jauh berbeda dengan yang diucapkan Mama Zia, pria itu juga mengatakan hal sama.


"Maaf, aku terpaksa ... hanya itu yang bisa kulakukan," sesal Ameera memeluk sang suami, masih dia ingat betul sepanik apa Cakra begitu dia memulai aksinya.


Tidak sedikit pun niat Ameera membuat sang suami panik, dia hanya takut saja kemarahan Azkara justru berakhir serius dan mereka bertengkar nyata. Keduanya sama-sama Ameera sayangi, dan pertengkaran di antara keduanya adalah hal yang paling dia takuti. "It's okay, terima kasih karena selalu melindungiku," ucap Cakra tak lupa berterima kasih atas perjuangan istrinya.


"Oh iya, ngomong-ngomong aktingku tadi gimana? Masih bagus?"


Cakra tersenyum simpul, tidak ada yang lebih baik dibandingkan bakat Ameera. "Perfect, aku saja ikut tertipu, bagaimana yang lain."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2