
Sejak bersama Cakra, satu hal yang tidak Ameera sukai adalah sebuah perpisahan. Lalu, kali ini dia justru diharuskan menjalani sebuah hubungan jarak jauh, istilah kerennya LDR. Mendengarnya saja sudah malas, keren dari mananya? Ya, begitulah umpatan yang membekas dalam hati Ameera sejak tiba di Jakarta.
Belum 48 jam berpisah, Ameera sudah mulai uring-uringan. Padahal, semalaman sudah Cakra temani via telepon, walau isinya juga hanya tidur seperti biasa. Entah orang gila mana yang mengajarkan Ameera hingga dia benar-benar mendefinisikan seseorang yang biasa disebut bucin (budak cinta) semacam itu.
Panggilan telepon mereka tidak berakhir jika bukan karena ponselnya kehabisan daya. Agaknya, layanan sleep call yang dahulu kerap Cakra lakukan kini akan kembali menjadi bagian favorit Ameera.
Sayang, di siang hari Cakra justru sulit dihubungi. Sejak terbangun dan menyambut cahaya mentari, Ameera belum mendengar suara Cakra hingga tenaganya seolah terkuras habis, lemas dan malas melakukan apa-apa.
Termasuk bernapas, mungkin juga begitu. Sarapan jangan ditanya, karena Mama Zia sudah sempat naik darah lantaran makanan di meja hanya Ameera lihat saja. Entah karena dia berpikir makanan itu akan masuk sendiri atau bagaimana, tapi yang jelas Ameera benar-benar malas makan saja.
Perubahannya yang persis wanita tanpa arah tersebut jelas saja disaksikan keluarganya. Entah itu saudara, sepupu, bahkan keponakan juga menyadari perubahan Ameera setelah pulang.
Terlebih lagi, di mata sang kakak yang kemarin tidak bisa ikut menjemput Ameera lantaran pekerjaan yang juga sama pentingnya, Zean. Pria itu menghela napas panjang seraya menggeleng pelan kala melihat adiknya sudah persis penghuni rumah sakit jiwa.
"Hadeuh ... Ra, ikut kakak yuk."
"Kemana?"
Ameera menatap bingung Zean yang tiba-tiba mengajaknya, entah kemana dia juga tidak tahu. Kebetulan, otak Ameera rasanya sedang buntu dan tidak akan menolak jika diajak jalan-jalan atau semacamnya.
Zean mendekat, sengaja seolah hal itu menjadi rahasia dan hanya Ameera yang diajak. Biasanya, jika sudah begini sang kakak akan memberikan hadiah dan tidak boleh diketahui oleh Lengkara.
"Ikut saja, sebelum makin parah ... Kakak khawatir nanti susah sembuhnya," bisik Zean seketika membuat Ameera naik darah.
Sudah jelas, Ameera bisa menebak isi pikiran Zean dan kali ini bisa dipastikan ajakan Zean bukan untuk jalan-jalan, tapi ke psikiater ternama lantaran khawatir Ameera berakhir di rumah sakit jiwa.
Niat hati memberikan solusi, pria itu merasakan sakit luar biasa usai Ameera menarik rambutnya tanpa aba-aba. "Kan!! Apa kubilang? Fiks sih, kamu memang tidak bisa lagi diselamatkan, Ra."
Dugaannya semakin meyakinkan, Ameera yang mengamuk setelah disangka mengalami gangguan jiwa beberapa saat lalu sudah cukup menjadi bukti bahwa wanita itu memang tidak beres.
__ADS_1
Ameera yang merasa dirinya waras, jelas saja tidak terima hingga mengejar Zean ke pekarangan belakang rumah. Jika sebelumnya hanya dengan tangan kosong, kali ini dia membawa sapu lantai yang membuat keduanya menjadi pemandangan tak biasa pagi ini.
Sebagai korban yang pernah trauma dikejar orang gila, Zean berusaha menyelamatkan diri dan mencari keberadaan sang papa yang sedang sibuk dengan rutinitasnya. Sembari berteriak memanggil Papa Mikhail, pria itu tak lagi peduli dengan apa yang dia injak hingga teriakan sang papa menggema terdengar di sana.
"Ya Tuhan, Zean!! Matamu buta atau bagaimana? Tidak lihat yang kau injak itu apa?"
Mendengar hal itu, barulah Zean menunduk, seketika mulutnya menganga begitu sadar jika jejak kakinya sudah menghancurkan tanaman cabai yang baru saja disemai Papa Mikhail belum lama ini.
Habislah Zean, dalam posisi terpojok dan kini Ameera semakin dekat hingga dia tidak punya kesempatan untuk melarikan diri. Terpaksa, Zean harus menerima pukulan yang mendarat tepat di pundaknya lantaran kemarahan Ameera memang luar biasa membuncah.
Melihat putri bungsunya marah besar, Papa Mikhail bertindak cepat bahkan pepaya yang baru dia panen terlepas begitu saja. Tak lagi dia peduli sekalipun pecah dan tidak bisa diselamatkan, tapi keselamatan Zean lebih utama.
"Stoop!! Kenapa kalian? Ada apa, hah?"
Hari masih tergolong pagi, dan Papa Mikhail dikejutkan dengan dua versi kecil dirinya yang entah kapan bisa dewasa jika sedang di rumah. Begitu ditanya, Ameera juga tak segera menjawab, melainkan melayangkan tatapan permusuhan pada Zean.
"Meera terus yang salah? Papa tanya sama Direktur jalur orang dalam ini apa salahnya?"
Suasana hati Ameera sudah terlanjur buruk, dia berlalu pergi dengan membawa sapu lantai di tangannya. Kesal sekali rasanya, dada Ameera sampai naik turun sampai tak lagi peduli panggilan Ricko yang baru saja tiba ke rumahnya.
.
.
"Ada masalah? Kenapa menangis?"
Lama tak bertemu, sekalinya bertemu Ricko sudah mendapati Ameera tengah berurai air mata. Pria itu tidak sendiri, tapi juga ada Mahendra yang sudah berlari menghampiri Zean di belakang, mungkin khawatir mantan bosnya akan dicekik tuan rumah.
"Kakak ngapain ke sini?"
__ADS_1
Belum juga menjawab, dan Ricko kembali mendapati Ameera yang menggunakan jurus ditanya balik nanya. Mungkin Ameera lupa, tadi kemarin dia sendiri yang meminta Ricko untuk kembali.
Beberapa pihak sudah mulai menghubungi, termasuk di sana Kama yang sudah menunggu cukup lama untuk project mereka yang sempat tertunda. "Kenapa tidak ganti pemain saja?"
"Mana bisa, Kama bilang cuma kamu yang pantas mau bagaimana lagi?"
Sungguh, semangat Ameera untuk melakukan segala sesuatu memang sudah buyar sejak berpisah dengan Cakra. Terlebih lagi, mengingat lawan main di project terbarunya ini adalah aktor yang tak begitu dia senangi, tepatnya sepupu Julio, mantan kekasihnya.
Ameera berdecak, pulang dari desa dia mendadak malas melakukan apapun. Mandi saja tidak tergerak, apalagi untuk bekerja nantinya. "Besok saja, kakak bisa pulang dulu hari ini."
Ricko tersenyum tipis, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat. Dia menatap ke arah Ameera yang kini tampak menatap layar gawai seolah menanti seseorang menghubunginya.
Cukup lama dia pandangi, hingga sebuah notifikasi pesan singkat muncul di sana dan senyum Ameera mengembang seketika. "Dia yang kamu tunggu?"
"Hm, Kakak lihat calon suamiku deh, cakep, 'kan? Baru potong rambut ... apa sudah dapat kerja ya?"
Ameera bermonolog, dia sebahagia itu hanya karena mendapat kabar terbaru dari Cakra. Dunia yang tadinya mendung, mendadak cerah hingga Ameera bahkan mulai bercerita dengan antusiasnya.
Ricko adalah salah-satu yang tidak hadir kemarin, dan hal itu cukup disayangkan Ameera. Karena itulah dia bercerita panjang lebar dan Ricko mendengarkan dengan begitu seksama.
"Benar-benar tidak ada kesempatan lagi untukku ya, Ra?"
"Hah? Kesempatan? Kesempatan untuk apa?" Ameera mengerutkan dahi, tiba-tiba Ricko melontarkan sebuah pernyataan yang membuatnya menganga.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1