
Ameera mengangguk patuh, dia terlalu bahagia hingga tidak bisa mengendalikan diri kala menyambut kedatangan Cakra. Beruntungnya, Cakra bergerak cepat hingga suara Ameera belum sempat terdengar siapapun.
"Ayumi sudah tidur?" tanya Cakra begitu pelan, hampir berbisik lantaran pertemuan ini mereka lakukan secara rahasia.
Jemari Cakra yang menempel di bibirnya membuat Ameera tidak berani bersuara, kembali dia mengangguk pelan hingga Cakra melepaskan tangannya. "Coba lihat sekali lagi, yakin tidur?"
"Yakin, kalau tidak percaya masuk saja," jawab Ameera santai hingga kembali mendapat jitakan dari Cakra.
Selalu saja ada yang membuat pria itu tertawa geli, ucapan asal ceplos dan kerap tanpa pikir panjang adalah hal yang mungkin tidak akan Cakra temukan pada wanita lain. Walau memang sebuah candaan, tapi bagi Cakra maknanya sudah berbeda.
"Haha bercanda, tapi kamu belum jawab pertanyaanku tadi ... kamu dari mana?" tanya Ameera menatap Cakra penuh tanya, dari pakaiannya tidak seperti yang digambarkan Yusuf, dia hanya mengenakan kaos abu-abu dan wajah yang begitu segar.
"Ketiduran ... tadi mimpi buruk, jadi aku samperin," ungkap Cakra beralasan, padahal jelas saja hal itu pembohongan publik.
Cakra tidak tidur, dia hanya sempat mandi setelah memberikan pelajaran pada Mustakim. Jika ditanya kenapa alasannya mendatangi Ameera, Cakra juga tidak bisa menjelaskan karena semua terjadi begitu saja.
Hati Cakra yang bicara seolah menjadi sebuah titah untuknya mengambil langkah. Mungkin karena rindu, atau kedekatan mereka kembarin membuat Cakra juga merasa terikat dan sulit berjauhan dari wanita ini.
Wanita yang membuat Cakra merasa tidak sendiri, wanita yang pada akhirnya menjadi dunia Cakra. Terlebih lagi, catatan-catatan yang Cakra temukan di ponsel Ameera tentangnya semakin membuat pria itu merasa teramat berharga.
"Hm? Tumben tidurnya cepet ... kamu sakit?" Ameera tahu betul jam tidur Cakra, oleh karena itu pengakuan bahwa jam segini Cakra terbangun membuat wanita itu khawatir tentu saja.
Jemari halus Ameera memastikan suhu tubuh Cakra, dia tidak panas, tidak pula dingin dan sangat baik-baik saja. "Tidak, aku baik-baik saja, Ra," jawab Cakra tersenyum hangat.
Sudah begitu lama, delapan tahun lalu tepatnya sejak kepergian sang bunda Cakra kembali merasakan perhatian semacam ini. Sentuhan tangan Ameera membuatnya berdebar, hingga Cakra menggenggamnya untuk beberapa saat.
"Yakin?"
Cakra mengangguk, kalau pun ada yang tidak beres dengan dirinya, maka sudah pasti jantungnya. Ya, jantung Cakra berdegub tak karu-karuan, panas dan seolah akan meledak saat menatapnya dengan jarak yang kini begitu dekat.
__ADS_1
"Tunggu, ini plester sejak kapan? Kamu luka?" Sudah Cakra tutupi sedemikian rupa, tapi ternyata luka di pelipisnya masih terlihat jelas oleh Ameera.
Kendati demikian, Cakra sudah menyiapkan jawabannya sejak awal. Sudah tentu dia tidak akan kehilangan kata jika hanya diminta berkilah. "Kegores paku pas di kamar mandi, jadinya gini ... tapi lukanya kecik kok, tenang."
Sebesar itu rasa percaya Ameera hingga alasan yang asal sebut saja dia percayai begitu saja. Ameera bertopang dagu, memandangi setiap inci wajah tampan Cakra yang mampu memporak-porandakan dunianya.
Jangankan pekerjaan, bahkan reputasinya sebagai selebriti juga sudah dipertaruhkan. Hanya demi Cakra, dia bahkan rela andai perannya digantikan, toh saat ini ambisi Ameera untuk menjadi seorang bintang tidak lagi sebesar dahulu.
"Jangan kelamaan, nanti jatuh cinta," ucap Cakra mengalihkan pandangan, dia suka memandang sang kekasih, tapi jika sudah dipandang balik jelas saja salah tingkah juga.
"Sudah jatuh cinta, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya." Ameera masih bertahan dengan posisinya, entah kenapa rasa sayangnya pada pria ini benar-benar berbeda.
Mungkin terkesan berlebihan, tapi Ameera tidak berbohong, sebelumnya dia tidak pernah menyayangi seseorang sebegitu dalamnya. Bahkan dia tidak peduli apa tanggapan orang nantinya, sejak awal Ameera sudah bertekad andai harus bersaing bersama Ayumi, dia tidak akan menyerah.
Cakra tersenyum tipis, nyaris tak terlihat sebelum kemudian bersandar di tembok dan posisinya kini membelakangi Ameera. Keduanya memandang langit yang tidak sekelam malam biasanya, kecantikan dewi malam tampak terpancar sempurna memecah cakrawala.
"Am_ ehm." Cakra kira Ameera masih menatap ke atas, tidak dia duga sama sekali jika ternyata sejak tadi Ameera menatap ke arahnya.
Berbeda dari biasanya, kali ini hati Cakra mengambil alih Hingga jarak keduanya semakin terkikis. Jantung Ameera berdegub kencang seiring dengan semakin dalam tatapan Cakra padanya, hangatnya napas Cakra terasa begitu nyata menyentuh kulit Ameera.
Dia tidak bodoh, Ameera sudah sangat dewasa dan dia sadar betul apa yang akan terjadi sebentar lagi. Biasanya, jika pria sudah mulai mengikis jarak semacam ini, Ameera akan memalingkan muka secepatnya. Namun, kali ini dia berbeda, bahkan begitu menunggu Cakra mendaratkan bibirnya segera.
.
.
"Mau sebenarnya, tapi nanti saja ... aku belum berani kalau di sini," ucap Cakra tersenyum tipis sebelum kemudian mengusap bibir Ameera dengan jemarinya.
Ameera yang sudah terlalu jauh berpikir segera memalingkan muka usai menepis tangan Cakra. Dia kecewa, marah, tapi bingung apa layak marah hanya karena hal semacam ini. Bingung juga sebenarnya, kenapa dia justru seolah tidak ada harganya jika di hadapan Cakra, padahal pada pria lain dia jual mahal dan kerap kali putus dengan alasan Ameera enggan berpacaran seperti wanita lainnya.
__ADS_1
"Aku pulang ya, terima kasih sudah mencintaku, Ameera."
Ameera yang agaknya kecewa berat karena Cakra tidak sesuai ekspetasinya hanya berdecak malas. Dia bahkan tidak lagi menatap mata Cakra, melainkan menatap sembarang arah yang sekiranya tidak bisa dibaca Cakra.
"Ameera, kamu dengar tidak?"
"Iyaah, dah pulang sana ... datang-datang cuma ganggu, orang mau tidur juga." Dia menggerutu, sebenarnya itu adalah bahasa lain dari kata 'belum boleh pulang'. Ya, kata-kata dalam kamus wanita yang hanya bisa dipahami beberapa orang saja.
Termasuklah Cakra, dia adalah yang mengerti hingga untuk menghadapi masalah ini bukan hal sulit baginya. Cakra kembali mendekat, mengatup wajah Ameera dengan kedua tangannya. Wajah cemberut Ameera semakin menggemaskan di matanya hingga menjadi alasan Cakra mengecupnya di beberapa bagian, kecuali bibir.
"Kenapa cuma pipi?" tanya Ameera dengan begitu polosnya. Bukan berarti menuntut Cakra, hanya saja dia penasaran apa alasan Cakra begitu menghindari bibirnya.
"Kata ibu, cium di pipi artinya ungkapan rasa sayang," jawab Cakra kini merapikan rambut panjang Ameera.
Ameera yang memang tidak begitu memahami hal tersebut hanya mengangguk berkali seakan memang paham maksud ucapan Cakra. "Ehm kalau di bibir kenapa?"
"Bahaya, nanti akunya malah tidur di sini," jawab Cakra mengedipkan mata yang seketika membuat wajah Ameera merah padam. Dia pikir Cakra akan memberikan jawaban yang bersifat ilmu atau semacamnya, nyatanya sama iyanya seperti jawaban pria nakal lainnya.
"Cakra kam_"
"Nona!! Buka pintunya!!"
Mata keduanya membulat sempurna kala mendengar suara ketukan pintu disertai suara Mahendra. "A-aku gimana?"
"Gimana apanya? Ya pulanglah, orang kamu di luar bukan di dalam!!" desis Ameera mendorong kening Cakra yang justru berusaha masuk dan naik lewat jendela.
"Oh iya, lupa."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -