
Kehadiran anak kecil itu semakin menambah kebingungan Cakra. Terlebih lagi, kala Ameera bahkan berjongkok dan merentangkan tangan pemilik pipi gembul itu menghambur ke pelukannya.
"Sayangnya Onty ikut, mama juga?"
Interaksi mereka berhasil membuat Cakra mengerjap pelan. Bingung, penasaran dan canggung menjadi satu. Dia tahu ada yang tidak beres, terlebih lagi kala seorang wanita dengan paras persia Ameera tersebut turut keluar dan menyambut kedatangan mereka.
"Katanya cuma Papa doang, kok kamu juga?"
"Mas Bima ikutan, masa iya aku ketinggalan," jawabnya kemudian mengambil alih seorang balita yang Cakra ketahui bernama Dewangga itu.
Bocah itu sedikit familiar di mata Cakra, pemandangan itu rasanya pernah dia lihat. Entah kapan, sekitar setahun lalu mungkin, tapi dia tidak begitu yakin karena kini anak itu sudah semakin bertumbuh dan pipinya semakin penuh.
Belum selesai kebingungan Cakra, dia masih belum mampu memahami keadaan tersebut dan kini justru wanita itu bertanya secara langsung terkait umur hingga Cakra gelagapan.
"23 tahun, Kak."
"Berondong ternyata, Ra? Apa nggak amis baunya?"
"Lengkara!!"
Frontal sekali dia bicara, sampai Cakra memerah begitu mendengar pertanyaan saudara kembar Ameera yang sempat mengenalkan diri beberapa saat lalu. Dia sempat mendengar tentang Lengkara sebelumnya, tapi dia tidak menyangka jika lidahnya akan setajam itu di pertemuan pertama.
Agaknya, kekhawatiran Cakra kemarin benar terjadi. Dia sempat khawatir terkait karakter saudara perempuan Ameera lantaran sempat diomeli Zean habis-habisan perkara salah sambung. Dan hari ini benar terbukti bahwa saudara perempuanya tak kalah mengerikan.
__ADS_1
Bagaimana tidak Cakra berpikir demikian? Baru di awal pertemuan sudah segila itu, lantas ketika sudah lama mungkin lebih gila tentu saja. "Haha bercanda, mata kamu kenapa, Cakra? Nggak tidur? Abis ngapain sama Meera? Camping apa camping?"
Cakra pikir, yang sebelumnya sudah paling frontal, ternyata ada lagi pertanyaan gila lainnya hingga Cakra sampai kehabisan kata untuk menjawabnya. "Ti-tidur kok, Kak, cuma kebangun jam dua sia_ ehm maksudku malam."
Sudah berbohong, bicaranya juga tidak lurus dan hal itu semakin membuat Cakra terlihat memalukan. Dia tertunduk malu, gelak tawa Lengkara sudah jelas adalah buah dari caranya menjawab yang persis penderita gagap.
Bukan hanya malu yang membuat Cakra menunduk dalam, tapi juga dia tengah berusaha menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya. Jika dari jumlah mobilnya, firasat Cakra sudah tak karu-karuan dan dia yakin di dalam sana sudah pasti banyak anggota keluarga Ameera yang lain.
Entah kapan dan bagaimana mereka bisa berada di sini pagi ini, padahal kemarin sore Cakra masih sempat pamit pada papa Ameera dan tidak ada kecurigaan sama sekali. Cakra juga yakin keberadaannya masih di Jakarta, dan fakta bahwa pagi ini mereka sudah berkumpul di kediaman Abah Asep jelas saja menimbulkan tanya.
"Ajak masuk, Ra ... papa udah nungguin kalian dari tadi."
"Papa?"
Benar sudah, Cakra menerka hal itu sejak tadi. Dia tidak sebodoh itu, sedikit banyak Cakra mampu menyimpulkan keadaan walau masih belum begitu jelas. Papa, dengan jelas Lengkara menyebut papa hingga Cakra mendadak dingin.
.
.
Bukan tak suka, tapi gugupnya luar biasa hingga membuat jantung Cakra berdegub tak karu-karuan dibuatnya. Sementara Ameera, dia hanya tersenyum hangat seraya mengangguk pelan.
"Maaf ya, papa hanya butuh kepastian ... bisa kan kamu kasih itu sama aku?"
__ADS_1
Cakra menghela napas panjang, dia tak siap jujur saja. Memang mau, tapi bukan dalam waktu dekat. "Bisa, tapi apa tidak bisa beberapa saat lagi, Ra?" Bukan tidak memikirkan Ameera, hanya saja mental Cakra belum siap, itu saja.
"Hm, tidak masalah ... terpenting akui saja dan itu sudah cukup."
Tidak butuh terburu-buru sebenarnya, tapi Ameera hanya butuh pengakuan Cakra di hadapan papanya. Sang papa mendesak kemarin, pasca Cakra pamit tersebut Ameera mendapati fakta bahwa sebenarnya pihak keluarganya sudah berada di kediaman Abah.
Firasat tak enak Ameera kemarin nyatanya bukan isapan jempol belaka. Walau informasi dari Zean mengatakan bahwa sang papa baik-baik saja dan masih melakukan rutinitas seperti biasa kemarin, nyatanya sang papa sedang dalam perjalanan menuju desa kelahiran Cakra.
Jujur Ameera juga terkejut sebenarnya, tapi atas permintaan Papa Mikhail, dia meminta agar Ameera turut merahasiakan hal tersebut dari Cakra. Tak hanya Ameera, tapi Mahendra jelas lebih tahu semuanya.
Hanya Cakra yang sebenarnya benar-benar buta, terjebak di antara orang yang tahu segalanya dan dia bak orang bodoh yang kebingungan menghadapi ini semua. Bahkan, dia sampai gugup begitu mencium punggung tangan Papa Mikhail saat bertemu.
"Matamu kenapa? Sehat, Cakra?"
"Sehat, Om_ ehm maksudnya Papa." Jika saja Ameera tidak mencubit pinggangnya, mungkin Cakra benar-benar akan memanggil Papa Mikhail dengan sebutan om.
Hanya karena tidak menduga akan kedatangan keluarga Ameera, Cakra sampai kehilangan kepercayaan diri yang kemarin dia perlihatkan saat pamit untuk camping bersama Ameera.
Usai menjabat tangan seluruh yang ada di sana, Cakra duduk di sisi Mahendra, dia meremmas jemari seraya mencuri pandang beberapa orang yang berkeliling di ruangan itu. Takut, kalut dan merasa kecil karena hanya dengan melihatnya saja Cakra bisa merasakan bahwa keluarga Ameera bukan orang biasa.
"Santai saja, yang kau takuti belum ada di sini," bisik Mahendra seolah tahu siapa yang Cakra cari.
•
__ADS_1
•
- To Be Continued -