
Ancaman Ameera sukses membuat Cakra bergegas keluar, walau mungkin saja bercanda tetap saja dia ngilu dibuatnya. Sesuai perintah, dia tidak diizinkan untuk pergi sendiri, dan Cakra tidak pernah mau membantah perintah istri.
Walau Ameera anak bungsu, tapi bukan berarti Cakra kesulitan karena tidak ada teman yang bisa dia jadikan tumbal setiap kali butuh bantuan. Ada Azkara yang bersedia diajak kemana-mana walau tahu Cakra hanya datang jika ada maunya.
Begitu keluar dari pintu utama yang Cakra tuju adalah rumah tetangga sebelah. Sudah pasti dia akan meminta Azkara keluar demi memenuhi keinginan Ameera malam ini.
"Mau apa, Om? Pasti ada maunya?"
"Istriku ngidam."
"Ya terus? Ngajak aku? Om lihat ini sudah jam berapa? Lagian tante Meera ngaco banget pakai ngidam jam segini."
Cakra tahu sebenarnya dia datang di saat yang sangat tidak tepat. Penampilan kusut Azkara menegaskan jika kedatangannya mengganggu tidur keponakannya. Namun, hendak bagaimana lagi? Cakra terpaksa karena hendak minta temani papa mertuanya tidak mungkin, Cakra tidak akan setega itu membiarkan sang mertua masuk angin.
"Ya gimana, namanya ngidam, Azka."
Azkara menghela napas kasar, walau jujur saja malas luar biasa, tapi pria di hadapannya ini adalah kesayangan papanya hingga Azkara tidak mampu berbuat apa-apa. Dia menggeliat dan mencari sandalnya, masih dengan celana pendek dan kaos oblong karena memang tergesa-gesa.
"Ya sudah ayo, ngidam apa dia?" Bibirnya cemberut, tapi Azkara masih sempat penasaran secara jelasnya.
"Mau air kelapa," jawab Cakra yang kini naik ke atas motor dan menunggu Azkara mengenakan helm-nya.
"Air kelapa? Kelapa apa, Om?"
"Sawit!! Pertanyaanmu banyak sekali, ayo naik." Cakra berdecak kesal pada akhirnya.
Andai bukan karena istrinya, Cakra juga enggan mengajak Azkara karena memang kerap membuat sakit kepala. Lebih menyebalkan lagi, sekalipun Cakra sudah mengeluarkan tanduknya dia masih santai saja bahkan memeluk Cakra begitu naik di atas motornya.
"Apa kita seromantis itu, Azkara?"
__ADS_1
"Fine ... aku pegangan di belakang saja kalau begitu," ucap Azkara seakan sengaja menguji kesabaran Cakra hingga pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian mengembuskannya perlahan.
Terserah, Cakra tidak bersedia untuk merayu Azkara untuk memperbaiki posisi duduknya. Nanti juga lelah sendiri, sementara ini biarkan saja Azkara berpegang pada besi bagian belakang ala ibu-ibu tersebut.
Sesuai dugaan Azkara, mencari kelapa muda di jam segini bukanlah hal mudah. Mereka perlu waktu untuk berkeliling bahkan Azkara mulai kesal dan kembali ke mode serius setelah bercanda tiada habisnya.
"Om ... kalau cuma begini sampai pagi tidak akan ada hasilnya, mending petik dari pohonnya saja."
Idenya sangat amat berharga dan ada baiknya disimpan saja. Cakra sama sekali tidak tertarik mendengar ucapan Azkara. Tidak hanya Ameera, tapi keponakannya juga kerap melakukan segala sesuatu yang tak masuk akal.
Setelah di awal kehamilan Ameera ingin jalan-jalan naik kuda, malam ini Cakra kembali dipertemukan dengan spesies orang gila yang mengajaknya naik pohon kelapa tepat malam hari.
"Kau bercanda? Orang gila mana yang naik kelapa malam-malam begini?"
"Om tahu tidak? Yang dimaksud ngidam itu tenggang waktunya tak tentu, kadang satu jam, dua jam bahkan tiga puluh menit bisa hilang. Kalau kita terlalu lama, ngidamnya sudah kadaluwarsa dan usaha kita sia-sia ... istri om marah, terus nanti anaknya ileran kan kasihan!!"
Cakra mengerjap pelan, entah dari mana anak ini paham dunia semacam itu. Hendak dia sangkal, tapi memang fakta dan semua itu benar. Ngidam ada tenggang waktu dan biasanya tidak lama.
Tak berselang lama, Azkara berhenti di sebuah rumah sederhana dengan tanah yang cukup luar di sekitarnya, kemungkinan ini adalah rumah seseorang yang Azkara maksud.
Mereka disambut baik oleh pria paruh baya yang ternyata mengenal Azkara. Sebuah ide asal ceplos dari Azkara membawa Cakra berdiri di depan pohon kelapa dengan tinggi 5 meter tersebut.
"Om atau aku yang naik?"
"Kau bisa?"
"Bisa, begini doang mah kecil."
Belum apa-apa Azkara sudah jumawa, dan Cakra yang kebetulan tidak lagi memiliki keberanian untuk naik kembali menyerahkan segalanya hingga akhir.
__ADS_1
Azkara memasangkan senter di kepalanya sebagai salah-satu sarana paling utama untuk bertempur malam ini. Dengan penuh percaya diri dia bersiap memanjat pohon kelapa tersebut tanpa ragu.
"Demi anak Onta ... ayo kita lakukan Azkara!!" ucap Azkara memejamkan mata dan memulai aksinya.
"Woaah gila!!"
Cakra menganga, tanpa dia duga anak konglomerat itu memiliki kemampuan memanjat melebihi siluman kera. Entah dari mana Azkara mendapatkan ilmu semacam itu, tapi dalam sekejab dia sudah berada di atas sana.
"Mau berapa, Om?"
"Tiga, aku juga mau!!" teriaknya mendadak ingin ketika Azkara bertanya.
"Biasanya opa mau juga."
"Ya sudah, lima kalau begitu."
Azkara mulai menjatuhkan kelapa-kelapa tersebut dari pohonnya. Sementara Azkara di atas, Cakra menghitung dan akan berkata stop jika sudah dirasa cukup.
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima sudah cukup, Az_"
Brugh
Ucapan Cakra terhenti kala mendengar ada suara tambahan setelah jumlah kelapa yang diinginkan telah tercukupi.
"Enam!! Eh? Kok jadi enam?" Cakra celingukan dan mulai menangkap cahaya dari semak-semak, segera pria itu bergegas lantaran firasatnya mulai tidak enak. "Ya, Tuhan, Azkara!! Kau baik-baik saja?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -