Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 39 - Semua Demi Ameera


__ADS_3

Bagian yang paling tidak Ameera sukai setiap kali bersama Cakra ialah penghujung pertemuan. Tidak lain dan tidak bukan, yang Ameera maksud ialah perpisahan. Hendak bagaimana lagi, mana mungkin Cakra menginap di rumah Abah Asep malam ini.


Setelah sempat menghabiskan waktu cukup lama dan keduanya semakin intens selama di perjalanan pulang, sore harinya Cakra dan kedua temannya pamit pulang ke rumah masing-masing.


"Beneran tidak bisa ditunda ya? Besok kan bisa pulangnya?" Ameera mencebik, seolah tak ikhlas Cakra berlalu pergi.


Cakra yang sudah menduga Ameera akan bersikap demikian hanya menyunggingkan senyumnya. "Besok aku datang lagi, Ra," tutur Cakra meyakinkan.


Sebenarnya ketika tiba di kediaman Abah Asep pria itu tidak langsung pulang. Hingga sore hari Cakra masih berada di sana, sudah tentu tidak sebebas di kota. Ada Abah Asep dan tatapan tajam Mahendra yang mengawasinya hingga membuat ruang gerak mereka amat terbatas, bahkan Ameera hanya bisa memantau sang kekasih dari kejauhan.


Janji Cakra tak segera membuat hatinya luluh, Ameera sontak menautkan jemari kelingkingnya dan memaksa Cakra untuk kembali terikat perjanjian sepihaknya. "Beneran ya? Kalau bohong gimana? Rumahmu kubakar ya?" tanya Ameera seketika membuat mata Cakra membulat sempurna.


Tidak hanya Cakra, tapi Yusuf dan Hasan juga sama. Ada-ada saja, terbiasa dengan wanita di desa yang lembut dan tidak seberani Ameera membuat tiga pemuda itu menggelengkan kepala.


"Ya janganlah, kalau rumahnya dibakar nanti kita tinggalnya dimana? Hm? Katanya mau rasain hidup di desa, masa iya numpang di rumah Abah?" Tidak kehabisan kata, Cakra justru menanggapi ucapan Ameera dengan gombalan berkedok canda.


Tidak sia-sia, hal itu sukses menciptakan semu kemerahan di wajah ayu Ameera. Ketika di perjalanan Ameera mengutarakan keinginannya untuk hidup berdua bersama Cakra di desa dengan alasan dia sudah terlalu betah.


Cakra yang mendengar hal itu jelas saja menganggap ucapannya sebagai doa, jelas terbukti hingga saat ini dia masih terus mengingat ucapan Ameera. "Aku pulang ya, obatnya jangan lupa ... kalau tidur matikan lampunya," ucap Cakra membuyarkan lamunan Ameera.


Dia gelagapan, kembali mengingat bahwa Cakra sempat mengintipnya malam itu, sudah jelas Ameera malu lantaran sadar jika kegilaannya disaksikan langsung oleh mata Cakra. "Satu lagi, pakai baju panjang dan jangan naikkan kaki di tembok," tambah Cakra yang berakhir pukulan di lengannya.


Bukan tanpa alasan Ameera sampai main tangan, Yusuf dan Hasan yang duduk di belakang Cakra adalah alasannya. Di hadapan keduanya, bisa-bisanya Cakra membeberkan aib Ameera yang sejak dahulu dia jaga. "Cakra kok gitu sih? Temen kamu denger," gerutu Ameera dengan bibir yang kini maju beberapa centi.


Bukannya panik, Cakra justru santai saja. "Santai, mereka tidak mengerti," timpal Cakra sudah pasti berbohong, sengaja dia berkata demikian agar Ameera percaya.

__ADS_1


Ameera percaya? Jelas saja tidak, dia justru memastikan sendiri dan bertanya pada kedua teman Cakra. Lucunya, baik Yusuf maupun Hasan seolah mengerti apa yang terjadi dan sebagai teman jelas dia akan mendukung Cakra.


Jika Ameera punya jurus pura-pura lupa, lawannya kali ini juga punya jurus andalan, yakni jurus pura-pura bodoh. Keduanya tampak bingung dan saling berbisik dengan bahasa sunda, seolah tengah meminta penjelasan pada Cakra tentang pertanyaan Ameera.


"Tuh, ditanya balik sama mereka 'Teteh ngomong apa?' gitu katanya," ujar Cakra dengan wajah paling menyakinkan yang kemudian menciptakan senyum penuh kelegaan di wajah Ameera.


"Jawab, mereka nanya, Ra," titah Cakra kemudian.


Ameera yang tidak sadar sama sekali jika dia tengah dibodohi di sini justru berpikir keras dan mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Yusuf dan Hasan. "Ehm ... nggak kok, nggak naon-naon," jawabnya hanya mengandalkan kosa kata yang ada di kepalanya saja.


Susah payah ketiganya menahan tawa, bahkan bibir Cakra sampai sakit hanya karena menggigit bibir agar tidak membuat Ameera tersinggung nantinya. Lumayan, setidaknya dia ada usaha dan mencoba menghargai kedua teman Cakra yang dia kira memang tidak mengerti ucapannya. Padahal, tadi malam mereka sempat berbagi ilmu bersama Mahendra dan komunikasi mereka sangat baik tentunya.


"Dah, aku pulang ya."


"Ameera-ku lucu sekali," teriak Cakra sengaja agar Yusuf dan Hasan yang kemarin menganggapnya berkhayal bisa mendengar pengakuan Cakra.


.


.


Sesuai ucapannya pada Ameera, besok pagi dia baru bisa datang, dengan kata lain malam ini Cakra akan pergi ke tempat lain. Bukan hanya pada Ameera dia mengatakan hal itu, tapi pada Yusuf juga demikian.


Cakra mengatakan malam ini dia tidak akan ikut berjaga di rumah Abah Asep seperti malam sebelumnya. Sudah tentu hal itu tidak segera Yusuf iyakan kala Cakra menolak padahal sudah sengaja di jemput ke rumahnya.


"Jawab dulu kamu mau kemana, Cak?" Bukan tanpa alasan Yusuf bertanya, tapi melihat Cakra yang sudah siap-siap dengan dengan motor dan pakaian lengkapnya membuat Yusuf menatap Cakra curiga.

__ADS_1


Seperti biasa, Cakra yang dapat merasakan kecurigaan Yusuf hanya menghela napas panjang. "Ada urusan, titip calon istriku ya," ucap Cakra seraya mengedipkan mata.


Selesai membuat Yusuf menghela napas panjang dan terpaksa mengangguk, Cakra melajukan sepeda motornya. Suara motor Cakra menegaskan seberapa cepat pria itu melaju, bahkan jika ikut di belakangnya besar kemungkinan masuk angin.


Tidak ada alasan yang melandasi kepergian Cakra selain Ameera, semua demi Ameera, begitu juga dengan malam ini. Cakra begitu fokus mengemudi ke tempat tujuan yang telah dia sepakati. Tanpa siapapun ketahui, bahkan Ameera juga tidak tahu bahwa tadi malam, tepatnya setelah mereka berkencan Cakra tengah menyepakati sebuah perjanjian yang dia lakukan demi mengembalikan senyum Ameera.


Senyum yang hilang pasca kehilangan ponsel kesayangannya. Rahang Cakra mengeras, matanya menatap tajam seseorang yang sudah menunggu di jembatan penghubung antar desa. Tanpa basa-basi, Cakra turun dari motor dan menghampiri pria itu dengan langkah tegapnya.


"Mana uangnya?"


"Barangnya dulu," ucap Cakra bersedekap dada, dia tidak akan memberikan uang yang diminta sebelum ponsel Ameera jatuh ke tangannya.


Sesuai dugaan, pria berkumis tipis itu tertawa kecil, tampak meremehkan Cakra dan menghembuskan asap rokok tersebut ke arah Cakra. "Hebat juga kamu, Cak, merantau ke Jakarta dapat artis terkenal, anak orang kaya dan juga berkuasa ... tapi sayang, perawan tua," tutur pria itu tampak santai yang berhasil membuat Cakra naik darah.


Dia tersinggung, sekalipun itu fakta, tapi memang Cakra paling benci siapapun menghina Ameera. Dia yang sejak awal sudah marah, tanpa pikir panjang mengeluarkan belati yang sudah dia persiapkan, bahkan sengaja diasah berkali-kali sebelum dia pergi ke tempat ini.


"Eits? Bukankah di perjanjian kita tidak begini?"


"Sama seperti Ameera yang luka, maka kau juga harus sama, bedebah!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2