Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 115 - Jangan Malu, Masuk Saja


__ADS_3

Apa yang terjadi kemarin sudah cukup menjadi pelajaran, Ameera benar-benar tidak lagi mengulanginya. Cukup sudah, walau kemarahan papanya tidak semenyeramkan itu, tapi tetap saja Ameera takut dibuatnya.


Bukan hanya itu yang membuat Ameera bertekad tidak lagi akan mengulanginya, tapi kekesalan Azkara juga menjadi alasan wanita itu memilih bersikap seadanya. Sedikit pun tidak ada cita-cita Ameera untuk merayu Azkara demi mengemis maaf seperti beberapa waktu lalu, tidak ada.


Kendati demikian, walau dia sudah berusaha sebaik mungkin, tetap saja Azkara tidak bisa mempercayainya. Tidak hanya itu, dia juga sudah malas menemani Cakra kemana-mana, sudah tentu alasannya karena kecewa yang ternyata berlarut-larut.


Sudah satu minggu setelah kejadian itu, Azkara tidak pernah datang menjenguk Ameera ke kediaman oma Cakra. Padahal, biasanya anak itu akan datang tiga hari sekali walau hanya untuk mengantarkan kue atau jus yang dibuatkan mamanya untuk Ameera.


Agaknya keponakan satu itu benar-benar marah hingga malas berteman lagi. Ameera yang merasa bersalah hanya menghela napas panjang begitu Zavia menggantikan tugas Azkara.


"Via, bocah ingusan itu benar-benar marah?"


Sedikit berat untuk diakui, tapi memang nyata keadaannya begitu. "Nanti juga nggak lagi, kayak nggak kenal Azka ... btw omdong mana? Kerja ya?"


"Om, Zavia, Om, ngapain disingkat-singkat omdong segala," celetuk Ameera tak terima dengan panggilan aneh dari keponakannya.


Entah siapa yang ciptakan, hingga akhir tidak ada yang mengaku, tapi yang jelas panggilan itu terlontar pertama kali dari bibir mungil Dewangga yang kemudian diikuti Dewantara. Selanjutnya, menyebar kemana-mana hingga Zavia yang sudah beranjak dewasa juga turut memanggil Cakra seperti itu.


"Lah kan bener omnya berondong? Kenapa Onta marah sih?"


Ameera tidak marah, hanya sebal saja kenapa bisa para anggota keluarganya sekreatif ini dalam menjalani hidup. Sebenarnya Ameera ingin berdebat, tapi sayang akhir-akhir ini perutnya semakin sesak mengingat HPL kian dekat.


Sementara itu, sikap Ameera yang lebih mengalah membuat Zavia berada di titik aman. Niat hati masuk hanya untuk mengantarkan kiriman mamanya, Zavia justru berbicara cukup lama tanpa peduli bahwa di luar sana mungkin ada yang sedang gusar menantinya.


.


.


"Huft, lama banget sih, Via? Ngapain coba lama-lama?"

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit dia menunggu, Azkara mulai jengah berdiri di depan kediaman Cakra layaknya kurir salah alamat. Hendak masuk malu, tidak masuk makin malu karena beberapa kali dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang melewati tempat itu.


Padahal, dia sudah menggunakan helm full face dengan harapan tidak akan ada yang menyadari keberadaannya. Namun, nyatanya hal itu justru semakin menarik perhatian. Entah karena terpesona, atau justru menganggap Azkara lucu, tapi yang jelas dia tidak kuasa menahan malu.


Lebih menyebalkan lagi, di tengah dia menanti Zavia, sebuah mobil yang cukup familiar mendekat ke arahnya. Seketika Azkara memakai jurus pura-pura tidak kenal dan menghadap tembok demi menghindari Cakra.


Ya, jujur saja dia akan lebih malu andai tertangkap basah oleh Cakra tengah berada di kediamannya. Bukan tak mungkin Cakra akan mengejek lantaran beberapa waktu lalu Azkara sempat mengatakan tidak akan berkunjung ke kediaman mereka apapun alasannya.


"Jangan lihat, please!! Sudah om masuk saja."


Azkara membatin seiring dengan firasatnya yang kian buruk. Berusaha bersembunyi, tapi tubuhnya terlalu kentara dan mana mungkin Cakra bisa dibodohi.


"Azkara!!"


"Duh, pakai dipanggil lagi," gumam Azka kala mendengar teriakan Cakra.


"Woey Azka!!"


Masih belum menoleh, Azka berharap Cakra akan berlalu pergi dan mengira dia memang orang asing. Sialnya, pria itu justru berteriak semakin besar dan meminta Azkara menoleh ke arahnya.


"Astaga anak ini, hei kalau mau pipiss jangan di sana, bau!!"


Setelah semua gagal, panggilan yang kali ini berhasil membuat Azkara mendekati Cakra. Dia yang awalnya malas untuk bertemu, kali ini sengaja membuka helm dan berbicara baik-baik padanya.


"Sembarangan, om pikir aku tidak punya malu?"


Cakra tertawa pelan, dia tidak sedang ingin berdebat kali ini. "Kau sedang apa di sini?" tanya Cakra usai turun dari mobil, dia menghampiri Azkara baik-baik walau minggu lalu telah membuatnya terjebak dalam situasi sulit.


"Mau ketemu istriku?"

__ADS_1


"Sorry, aku kesini cuma anterin Via," jawabnya ketus, tidak ramahnya sama sekali.


Kendati demikian, sikap Azkara semacam ini sama sekali tidak membuat Cakra tersinggung. Dia tersenyum tipis seraya memijat pangkal hidungnya, gengsi Azkara melebihi tinggi burj khalifa.


"Jangan malu, masuk saja ... aku pulang bawa durian, pasti kau suka."


Azkara menepis tangan Cakra yang hendak memegang pundaknya. Sungguh sukar dirayu dan marahnya Azkara cukup menguji iman Cakra sebagai omnya. Jika merayu Hudzai atau Syauqi mungkin Cakra bisa, tapi untuk yang satu ini memang tidak tertebak, sama seperti papanya.


"Sama nanas juga ada."


"Ck, udah deh om jangan rayu-rayu aku, om pikir aku cowok apaan?"


Dua cara tak berhasil juga, maka Cakra menggunakan cara terakhir dan merogoh ponselnya. "Aku dapat informasi tentangnya, bukan hanya nama dan akun sosial medianya, tapi se-mu-a," ucap Cakra seraya menunjukkan foto seorang gadis cantik yang berhasil membuat mata Azkara mengerjap pelan.


"Sumpah?"


"Hm, sudah kukatakan jika hanya begini gampang bagi_"


"Siapa namanya, Om?"


"Masuk dulu, baru kukasih tahu."


"Siap, Komandan!!" Gampangan sekali, hanya dengan iming-iming semacam itu, Azkara bergegas menghidupkan motor dan masuk ke gerbang utama. "Ada-ada saja."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2