Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 68 - Terikat Masa Lalu


__ADS_3

"Kakak mengenal ibunya?"


Cukup lama Evan terdiam, dan Ameera tetap sabar menunggu tanpa mendesaknya untuk bicara. Sedikit banyak dia mengerti, bahwa Evan takkan mungkin bercanda dan memberikan harapan palsu seperti yang lain. "25 tahun lalu, terakhir kali aku bertemu dengannya dan Dinara baik-baik saja ... tepatnya di hari pernikahanku bersama Liora, itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya."


Evan mulai bercerita, dan belum apa-apa Ameera sudah menyimpulkan jika ceritanya sangat menarik hingga sengaja memperbaiki posisi duduknya. Tanpa Ameera tanya satu persatu, Evan justru menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan dr. Dinara.


Sesuai dugaan, ceritanya sangat menarik sampai mata Ameera membulat sempurna setelah Evan mengakui bahwa antara dirinya dan Dinara hampir saja terikat di masa lalu. "Dia baik, sangat baik ... tapi, saat itu aku tidak menerima tawaran ayahnya karena aku sangat mencintai Liora," tutur Evan menghela napas panjang.


Sebuah pengakuan berbalut penyesalan, dia terlihat terpukul dan kesulitan merangkai kata-kata setelahnya. "Awalnya tidak ada masalah, rencana perjodohan itu tidak bisa dilanjutkan dan aku menikahi wanita pilihanku ... sampai akhirnya, satu bulan setelah pernikahanku Dinara menjalin hubungan terlarang bersama Gautama Darwangsa, ayah kandung Cakra."


Ameera mengangguk pelan, dia sampai menggigit bibirnya lantaran terbawa suasana mendengar cerita Evan. Terlebih lagi, cara pria itu menyampaikannya benar-benar tertata dan tidak heboh sendiri ketika bercerita. "Kamu tahu nama itu?"


"Iya, Kak, tertulis di nisan dan juga foto yang Cakra simpan ... boleh tahu siapa pria itu sebenarnya?" Telanjur tahu tentang siapa Dinara, sudah tentu Ameera juga ingin tahu siapa sosok ayah Cakra.


Tentu, dengan senang hati Evan menjabarkan siapa itu Gautama Darmawangsa. Salah-satu pria berbahaya di zamannya, terkenal sebagai penjudi kelas atas dan pembunuh bayaran dengan harga tak main-main.


Putra tunggal keluarga Darmawangsa, salah-satu konglomerat di ibu kota yang dibuang akibat kelakuannyan. Sejak remaja tidak lagi diakui sebagai keluarga hingga luntang-lantung tanpa arah. Naas, takdir justru mempertemukannya dengan Dinara, wanita cantik yang dibuat buta dengan pesona Gautama Darwangsa.


Sebuah awal petaka yang membuat seorang dokter muda berpendidikan tinggi dan disegani banyak pria itu turut terbuang lantaran lebih memilih Gautama dibandingkan orang tuanya. Sebuah ketulusan cinta tak berbalas, Gautama tidak berubah setelah menikah walau sang istri sudah berkorban mati-matian hingga membuat Dinara merasa terancam.

__ADS_1


Tak punya pilihan lain, wanita itu melarikan diri ke sebuah desa terpencil demi melanjutkan hidup bersama buah hatinya yang kala itu masih berada dalam kandungan. Semua berjalan dengan sempurna, Cakra hidup bahagia dan dunianya baik-baik saja hingga di usia 7 tahun.


Namun, kebahagiaan mereka terusik kala Gautama justru kembali mencari keberadaan istrinya setelah berpisah cukup lama. Evan pikir, Gautama kembali memang atas niat baik untuk menjalin kesempatan kedua yang mereka punya.


Nyatanya, tidak ada yang berubah hingga pria itu justru berakhir di tangan putranya sendiri, Cakra. Sayang, Evan terlambat menyadari dan Abah Asep baru mengabari setelah tragedi berdarah itu terjadi.


Terpaksa, mau tidak mau Evan harus mengambil tindakan untuk melindungi Cakra kala yang kala itu masih di bawah umur. Evan tak segan melayangkan ancaman pada pihak manapun agar tutup mulut dan patuh pada skenario yang dia ciptakan. Sementara warga desa Evan percayakan pada Abah Asep karena dia tidak bisa meninggalkan Jakarta kala itu.


"Jadi, baik ibu maupun ayahnya adalah keturunan darah biru?"


Sepanjang cerita, hal pertama yang justru Ameera tarik kesimpulannya adalah itu. Bukan karena dia mencari materi, tapi dia butuh kepastian saja. "Bisa disimpulkan begitu," jawab Evan kemudian menghela napas panjang.


"Prof. Madani adalah teman baik mendiang papaku sewaktu muda ... jadi, walau tidak jadi menantu beliau tetap memintaku mengawasi Dinara dari jauh lewat perantara Abah Asep, tempatmu menginap itu."


"Ah jadi kakek dari pihak ibu adalah seorang profesor dan dari pihak ayah seorang pengusaha?" Ameera kembali memastikan, dan pertanyaan itu kemudian Evan angguki hingga Ameera dapat menarik satu kesimpulan lagi. "Wajar saja," gumamnya pelan, tapi masih mampu terdengar jelas oleh Evan.


"Wajar? Wajar kenapa?"


"Wajar papa suka," sahut Ameera yang seketika membuat Evan tersenyum tipis. Untuk yang satu ini mereka sependapat dan Evan mengerti apa maksud adik iparnya.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya itu alasan Papa Mikhail menerima Cakra sebaik itu, tapi memang sejak awal Cakra muncul ke media dan Ameera mengenalkannya sebagai kekasih, sejak saat itu pula Evan langsung angkat bicara dan meminta restu papanya.


Tidak hanya sekadar itu, tapi Evan juga menjelaskan secara rinci tentang siapa Cakra, asal-usul Cakra, bahkan sampai masa lalunya yang sempat mengguncang seisi desa. Pertama kali mendengar Papa Mikhail tidak serta merta menerima, tapi Evan yang berusaha memohon pengertian untuk menerima Cakra dengan baik barulah Papa Mikhail melemah.


"Woah, begitu ternyata."


Tuntas sudah benang kusut yang sejak kemarin tidak bertemu ujungnya. Sesuai dugaan, pria yang melindungi Cakra adalah Evan, atas amanah Prof. Madani, kakek dari sebelah ibunya. Namun, meski sudah sedetail itu masih ada hal lain yang membuat Ameera penasaran.


"Jika memang kedua kakek Cakra masih ada, kenapa dia dibiarkan terlantar begitu saja pasca kejadian itu?" Sungguh, pertanyaan itu benar-benar tidak masuk logika Ameera sebagai manusia. Jika hanya marah pada kedua orang tuanya, maka tidak seharusnya Cakra turut merasakan pahit yang sama.


"Cakra masih muda, belum 25 tahun."


"Maksud Kakak? Memang kenapa kalau sudah 25 tahun?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2