Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
rencana Adnan


__ADS_3

Sudah saatnya istirahat untuk makan siang, para siswa baru dan panitia OSIS mengantri makan siang di kantin Sekolah, sedangkan majelis guru makan siang di kantor dengan makanan yang sudah di kotak kan yang diantar oleh pak Yayat atau petugas kantin lainnya setiap hari.


Sekolah SMA xx menyediakan menu makan siang untuk semua warga sekolah, tentu saja bukan makan gratis, siswa diharuskan membayar uang bulanan sedangkan guru dihitung sebagai tunjangan bulanan yang tidak di uang kan.


Tian teringat Anna yang masih berada di UKS.


"Maaf pak, boleh saya ambilkan makan siang untuk adik yang sakit?" tanya Tian pada pak Yayat.


"Biar kami saja yang mengantar makan siangnya, apa anak itu di UKS?" tanya pak Yayat.


"Iya pak," jawab Tian.


"Baiklah, saya yang akan mengantar makan siangnya" ucap pak Yayat ramah.


"Baiklah pak" ucap Tian mengalah.


Setelah mengisi kotak nasi pak Yayat berjalan menuju ruang UKS, sampai diruang UKS pak Yayat terkejut melihat siapa yang berbaring di kasur UKS.


"Anna?" ucap pak yayat kaget dengan suara lantang.


Mendengar ada yang memanggil namanya Anna terbangun dan duduk di atas kasur dengan kaki menginjak lantai, Anna merasa sudut mata kirinya sedikit bengkak dan masih sedikit sakit.


"pak Yayat" ucap Anna lembut.


"Kamu kenapa?" tanya pak Yayat sambil mendekat kearah Anna dan meletakkan nasi kotak itu di atas meja di samping Anna.


Anna merasa perhatian pak yayat seperti perhatian yang diberikan almarhum Ayahnya, jika Anna sakit, ayahnya selalu membawakan Anna makan kekamar dan menyuapi Anna, mengingat kenangan itu membuat Anna sedih dan meneteskan air matanya.


"Kenapa menangis? apa masih sakit?" tanya pak Yayat yang melihat bengkak di bagian sudut mata Anna.


Adnan yang sudah berada diruang UKS mendengar ucapan pak Yayat, langsung berjalan mendekati Anna mengambil obat oles yang tadi ia letakkan di atas meja.


"Maaf seharusnya obat ini sering di oles, biar bengkaknya cepat hilang dan tidak sakit lagi." ucap Adnan sambil mengoles kembali obat disudut kiri mata Anna.


Anna yang mendapat sentuhan lembut dari tangan Adnan merasa malu dan merasakan getaran halus dihatinya, reaksi obat setelah dioles kedua kalinya tidak sepanas olesan pertama, Anna tidak perlu lagi menutup kedua matanya.


**apa kakak ini yang tadi merawat Ku?** batin Anna.


Pak Yayat yang mengenal Adnan tersenyum melihat perhatian yang diberikan Adnan pada Anna, Pak Yayat kenal betul dengan Adnan dia adalah anak tunggal dari pemilik yayasan Mutiara Hati, sangat menyayangi kedua orang tua dan kerabatnya, namun cuek dan dingin terhadap orang yang tidak dikenal atau tidak diinginkannya, melihat perlakuan Adnan terhadap Anna, pak Yayat yakin jika Anna adalah orang yang spesial di hati Adnan.


Pak Yayat dulu adalah juru masak di rumah Adnan, sedangkan istrinya bekerja sebagai pengasuh Adnan, Adna merupakan Anak semata wayang dari Abi Zakaria dan Ummi Salma, orang tua Adnan menikah di usia yang sudah hampir kepala empat, karena itulah orang tua Adnan tidak ingin anaknya pacaran, mereka ingin Adnan mengenal dan menilai wanita dengan baik, kemudian dijadikan istri agar secepatnya memberikan mereka cucu.


Karena Adnan sudah tidak memerlukan pengasuh lagi dan anak-Anak Pak Yayat juga sudah tumbuh besar, Pak Yayat memutuskan untuk bekerja diluar, kerena kebaikan hati orang tua Adnan Pak Yayat bisa mendapatkan pekerjaan tetap, menjadi juru masak di Asrama di bawah naungan Yayasan yang dimiliki orang tua Adnan.


"Den"


Belum sempat Pak Yayat melanjutkan kalimatnya, Adnan sudah melihat kearahnya dengan memberi kode agar diam.


Pak Yayat paham dengan kode itu, apalagi selama tiga tahun ini identitas Adnan tidak pernah diketahui warga sekolah, tentu saja itu sengaja dilakukan oleh Abi dan Ummi Adnan agar anaknya tidak mendapat perlakuan khusus, bersekolah dengan nyaman dan meraih prestasi dengan kemampuannya sendiri.


"Terimakasih sudah mengantarkan nasinya pak." ucap Adnan santun.


"Sudah jadi pekerjaan saya." ucap pak yayat tersenyum.


"Anna kamu makan dulu ya," ucap Adnan lembut sambil menyodorkan kotak nasi ke tangan Anna.


"Pak yayat, bisa tolong suapi Anna" ucap Anna sambil menoleh kearah Pak Yayat.


Mendengar permintaan Anna Pak Yayat kaget, pak Yayat tidak pernah menyuapi anak perempuan selama ini.


"Ba,.baiklah" jawab pak yayat sedikit gemetar.


"Anna teringat Ayah, biasanya kalau Anna sakit ayah selalu menyuapi Anna." ucap Anna lirih.


Pak Yayat mendekat dan duduk didepan Anna sedangkan Adnan duduk di kasur tidak jauh dari Anna.


"Nantik pulang ke asrama, Anna telpon saja Ayah, suruh datang, biar Anna cepat sehat" ucap Pak Yayat.


"Ayah Anna sudah meninggal pak, sudah dua tahun yang lalu." ucap Anna dengan mata mengembun.


"oh maaf, Bapak tidak tahu," ucap pak Yayat.


Adnan yang mendengar ucapan Anna merasa sedih, Adnan juga semakin penasaran dengan kehidupan Anna, ingin mengenal Anna lebih jauh dan ingin melindungi Anna sepenuhnya.


**aku yang akan menjaga dan menyayangimu mulai saat ini Anna, aku juga akan menjadi orang yang mengisi hati mu ** batin Adnan.


"Kakak tidak makan?" tanya Anna lembut menatap Adnan.


Mendengar Suara Anna, Adnan sadar dari lamunannya.


"Kakak makannya nanti saja," jawab Adnan.


"Apa Anna boleh izin pulang kak?" tanya Anna pada Adnan.


"Anna tinggal dimana?"


"di asrama"


"Sebaiknya tidak usah pulang, Anna istirahat saja di UKS, kegiatan untuk anak baru masih ada," jawab Adnan tidak mau memenuhi keinginan Anna.


"Tapi, mata Anna masih sakit." jawab Anna.

__ADS_1


"Anna di UKS saja, ingat obatnya nantik di oles lagi ya," jawab Adnan lembut.


Baru beberapa sendok pak Yayat menyuapi Anna, Adnan merasa risih dengan pemandangan itu, tidak rela Anna bermanja dengan orang lain.


"Maaf pak Yayat, bukankah Bapak harus menjaga kantin?" tanya Adnan agar pak Yayat segera pergi.


"oh, iya, maaf ya nak Anna Bapak harus pergi, di kantin lagi ramai, kasian istri bapak kerja sendiri." ucap pak Yayat yang paham keinginan Adnan.


Pak Yayat meletakkan nasi kotak itu di kasur diantara Adnan dan Anna duduk.


Adnan mengambil nasi itu.


"Apa masih mau disuapi?" tanya Adnan.


"Tidak usah, Anna makan sendiri saja" jawab Anna.


Padahal Anna merasa malu kalau Adnan yang menyuapinya.


"Baiklah, makanlah sendiri, kamu harus pandai menjaga diri, jangan karena ingin mengulang kenangan masa lalu kamu Lalai dengan sikap waspada." ucap Adnan sambil menyerahkan nasi kotak itu pada Anna.


"Anna rasa Pak Yayat orang baik, kami sama-sama tinggal di asrama." jawab Anna tidak mau di anggap salah menilai orang dan sedikit kesal.


"Kakak hanya mengingatkan, dimana rumah Anna?" tanya Adnan mulai menyelidiki.


"Jauh, tiga jam dari kota ini." jawab Anna.


"Boleh sebutkan, lokasi pastinya?" tanya Adnan.


"Tidak mau, untuk apa Anna kasih tau Kakak, Anna belum kenal kakak" jawab Anna waspada terhadap Adnan.


Mendengar Anna mengatakan belum mengenalnya Adnan tersenyum.


"Apa kamu tidak ikut berbaris tadi?" tanya Adnan mencoba mengingatkan.


"Anna berbaris paling akhir." jawab Anna ketus.


Sekarang Adnan paham kenapa Anna bisa tidak mengenal dirinya bahkan sedikit ketus.


"Baiklah, lanjutkan makan mu, kakak juga sudah lapar, Kakak mau ke kantin dan sholat, Anna mau ikut sholat?" tanya Adnan lembut.


"Kakak duluan saja, nanti Anna menyusul." jawab Anna.


Anna melanjutkan makannya kembali setelah Adnan meninggalkannya, Anna merasa nyaman bicara dengan Adnan, Anna seolah menemukan sosok abang yang perhatian pada adiknya pada diri Adnan, sikapnya yang sabar, santun dan penuh perhatian dapat dirasakan Anna.


Setelah selesai makan Anna ke mesjid untuk sholat, Anna tidak bisa sholat jamaah karena sudah terlambat, walaupun sudah dioles obat sudut mata kiri Anna masih terlihat gembung dan merah, Anna juga merasa malu dengan keadaannya, Anna berjalan menunduk menuju kamar mandi tempat wudhu wanita.


Adnan yang sedang memasang sepatu di teras mesjid dapat melihat Anna jalan menunduk.


"Kakak" ucap Anna saat melihat siapa yang ada didepannya.


"kenapa jalan dengan wajah ditunduk, kamu malu?" goda Adnan.


Sadar saat ini wajahnya jelek Anna menundukkan kembali wajahnya.


"Udah tau masih aja nanya." jawab Anna ketus.


Adnan tertawa mendengar kejujuran Anna.


"Gak usah malu, kamu masih terlihat cantik." goda Adnan.


Wajah Anna memerah mendengar ucapan Adnan, untung saja Adnan tidak bisa melihatnya, Anna berlari meninggalkan Adnan.


Adnan merasa lucu melihat sifat malu Anna, Adnan sedikit yakin kalau Anna tidak memiliki orang yang spesial, tapi Adnan masih harus memastikannya.


Setelah selesai sholat Anna ingin sekali pulang ke asrama, tapi Anna ingat peraturan asrama tidak boleh pulang selama jam sekolah.


Anna memutuskan berbaring didalam mesjid.


Kegiatan masa orientasi siswa kembali dimulai, siang ini mereka membuat acara adu penampilan, bebas, dari masing-masing kelompok, kelompok yang tidak bisa menampilkan keunggulannya mendapat hukuman, jalan jongkok mengelilingi tempat acara berlangsung, tentu saja masing-masing kelompok tidak ingin di hukum, kelompok Anna tampil dengan nyanyian dan goyangan yang membuat heboh suasana, tentu saja kegiatan ini tidak dilalui Anna.


Setelah acara penampilan bebas itu, kegiatan untuk hari ini berakhir, para siswa diperbolehkan pulang kerumah masing-masing.


Tian sebagai ketua kelompok ingin memastikan kondisi Anna dan mengantarnya pulang.


Tian berjalan ke UKS, setelah sampai di UKS Tian tidak menemukan Anna, Tian masuk ke ruang OSIS menemui ketua OSIS.


"Ketua, apakah Anna sudah diantar pulang?" tanya Tian.


Adnan diam, mengingat sesuatu.


"Apa Anna tidak di UKS?" tanya Adnan.


"Aku sudah lihat, Anna tidak ada di sana." jawab Tian


"Biar aku cari dia." ucap Adnan meninggalkan Tian diruang OSIS dengan beberapa orang rekan lainnya.


Iqbal yang berada di ruang OSIS menghampiri Tian.


"kemana Adnan?" tanya Iqbal.


"Mencari Anna." jawab Tian.

__ADS_1


Iqbal mengerutkan keningnya, "Siapa dia?" tanya Iqbal.


"Orang yang spesial buat ketua." jawab Tian.


"Serius Lo !" tanya Iqbal kaget tidak percaya.


"Kita liat aja, Aku masih menyelidiki." jawab Tian.


*****


Adnan mencari Anna di mesjid, ia menemukan gadis itu tertidur di saf sholat wanita masih menggunakan mukenah, Adnan mendekati Anna yang tengah tidur, Adnan menowel hidung Anna, Anna tidak bergerak masih dengan tidur pulas nya.


Adnan tersenyum melihat Anna yang tidur pulas.


"Anna" ucap Adnan memanggil Anna.


Tidur Anna mulai terusik, Anna menggeliat dan merubah posisinya dari tidur miring menjadi telentang, Adnan dapat melihat dengan jelas sudut mata kiri Anna sudah tidak terlalu berbeda dengan sudut mata kanannya.


"Sudah puas tidur siangnya Anna?" tanya Adnan yang masih duduk disebelah Anna.


Mendengar suara yang begitu dekat terdengar di telinga nya, Anna membuka matanya, Anna menoleh kesamping kanan, pandangan mereka bertemu, Anna langsung duduk dari posisi tidurnya.


"Kenapa disini kak?" tanya Anna.


"Kenapa tidak tidur di UKS?" Adnan malah balik bertanya.


"Disini lebih nyaman Kak," jawab Anna.


"Kamu tahu Anna, murid baru yang tidak mengikuti aturan yang sudah ditetapkan panitia OSIS harus dihukum, apa kamu sudah mengetahui kesalahan mu?" tanya Adnan memasang wajah tegas membuat Anna takut.


"Maaf kak," ucap Anna.


"Katakan kesalahanmu." gertak adnan dengan suara tegas.


"Seharusnya Anna tidur di UKS." jawab Anna dengan suara pelan dengan wajah di tunduk.


"Oke, sekarang bersiaplah, kakak harus menghukum mu." gertak Adnan lalu pergi keluar mesjid meninggalkan Anna.


Anna segera melipat mukenah nya, memperbaiki jilbab dan bergegas memasang sepatu di teras mesjid, Adnan berjalan duluan, Anna melihat kemana Adnan pergi dan segera menyusulnya.


Anna terus mengikuti Adnan dengan rasa takut yang luar biasa, mereka melewati lapangan tempat upacara, Anna bisa melihat di sekeliling bangunan sudah tidak ada orang bahkan suara orang pun sudah tidak terdengar, Anna semakin cemas air mata Anna berlinang, takut kalau Adnan menghukumnya dengan berat, Anna terus berusaha menetralkan pikiran nya, tapi jantungnya tidak mau berkompromi.


Adnan sampai di teras ruang OSIS, Adnan menoleh kebelakang, dilihatnya wajah Anna yang pucat, karena detak jantung Anna yang tidak normal membuat langkah kaki Anna semakin melemah, masih ada beberapa langkah lagi untuk sampai dihadapan Adnan, Anna sudah tidak sanggup berjalan, langkah Anna terhenti, Anna terduduk lemah ditempatnya berdiri, Adnan yang melihat Anna melemah langsung berlari menghampiri Anna.


"Anna kamu kenapa," ucap Adnan merangkul pundak Anna.


Anna tidak menjawab, penglihatannya mulai lemah, hingga akhirnya Anna ambruk tak sadarkan diri.


Adnan meraih tubuh Anna, menggendongnya dengan dua tangan sejajar ke depan, Adnan membaringkan Anna di kasur UKS, Adnan meraih tangan Anna yang terasa dingin.


Adnan mengambil minyak kayu putih, menggosok-gosok telapak tangan Anna yang dilumuri dengan minyak kayu putih secara bergantian agar cepat panas dan mengoleskan minyak kayu putih di hidung Anna agar Anna cepat sadar dari pingsannya, belum ada tanda Anna akan sadar. Adnan terus berusaha membuat telapak tangan Anna panas dan memanggilnya agar cepat sadar.


Adnan hampir putus asa, Adnan takut jika terjadi hal buruk pada Anna.


Adnan sangat menyesal dengan perlakuannya yang membuat Anna pingsan.


padahal Adnan hanya berniat mengancam Anna.


Adnan menangis karena Anna belum juga sadar.


Adnan meraih tubuh Anna dan memeluknya erat, Adnan membuka resleting baju belakang Anna dan menumpahkan banyak minyak kayu putih di punggung Anna berharap tubuh Anna segera panas dan sadar.


Adnan kembali menaikkan resleting baju Anna.


tidak menunggu lama.


kesadaran Anna mulai membaik, tangan Anna yang dingin sudah terasa panas, kepala Anna yang tadinya terkulai di bahu Adnan mulai bergerak, Adnan menyadari pergerakan Anna. Adnan berangsur merenggangkan pelukannya.


Walau belum sadar sepenuhnya tapi Anna dapat merasakan panas tubuh Adnan, tangan kiri Adnan menahan punggungnya sedangkan dengan kanan adnan menahan kepala belakang Anna yang tersandar di dada kanan Adnan.


"Kakak," ucap Anna dengan suara pelan.


"Maafkan kakak Anna," ucap Adnan menyesal dan masih memeluk Anna.


"Jangan hukum Anna," ucap Anna menangis.


"Tidak, kakak tidak akan menghukum mu lagi," ucap Adnan yang juga menangis.


Lama keduanya berpelukan, sampai akhirnya Anna kuat mengangkat kepala dan mampu menahan tubuhnya untuk tidak bersandar lagi.


"Apa kamu sudah kuat untuk pulang?" tanya Adnan.


Tidak ada jawaban dari Anna, Anna hanya menundukkan kepalanya.


"Anna, apa kamu bisa memaafkan kakak?" tanya Adnan.


Anna mengangguk.


"Terimakasih Anna," ucap Adnan sambil memegang kepala Anna.


*****

__ADS_1


__ADS_2