Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Tidur di rumah Ibu


__ADS_3

Jam tiga dini hari Adnan terbangun karena udara yang semakin dingin, dinginnya udara di rumah Anna hampir sama dengan suhu AC yang dibuat tinggi. bahkan suhu dingin di rumah Anna terasa sampai ke tulang.


"Dek bangun."


Anna tidak bergerak.


Adnan ******* bibir Anna membuat Anna terbangun dan kaget dengan serangan dadakan dari suaminya.


"Pindah tidur yok, Kakak kedinginan."


Walaupun masih mengantuk Anna tetap duduk dan mengikuti kemauan suaminya.


Adnan mengangkat kasur miliknya, memindahkan kasur itu ketempat tidur Anna. kamar Anna tidak sedingin ruang tamu. Adnan memasang alas kasur. Anna mencari selimut tebal yang ada dikamar Ibu. membawa selimut itu ke kamarnya.


tempat tidur Anna sangat pas dengan ukuran tubuh mereka berdua. Anna menyelimuti Adnan dan dirinya dengan selimut tebal. rasa dingin Adnan mulai berkurang. Adnan tidak bisa tidur, milik nya yang tersembunyi ingin masuk ke goa sempit milik Anna.


"Dek, Kakak mau ibadah."


"Kakak mau ditemani kekamar mandi?"


Adnan tersenyum mendengar jawaban Anna.


"Kakak mau ibadah di atas kasur."


Anna baru paham maksud suaminya. Anna tersenyum dan mengangguk. Anna mengecup bibir Adnan sebentar. Adnan yang dalam mode On langsung membalas serangan Anna. tidak memberikan celah untuk Anna memimpin permainan. bahkan Anna dibuat mabuk kepayang.


Permainan mereka kali ini terasa nikmat, tidak menahan rasa sakit dan mereka bermain dengan leluasa. Adnan juga sudah bisa merasakan gunung kembar milik Anna. membuat Anna tidak bisa melupakan bagaimana rasa nikmat gunung kembarnya dimainkan Adnan.


Permainan mereka kali ini lebih lama dari malam sebelumnya, udara yang dingin, rumah yang sunyi membuat mereka benar-benar hanyut dalam permainan yang menguras tenaga.


Adnan berhasil menanam bibit unggulnya, berharap permainan kali ini bisa mencetak generasi penerus yang sudah sangat dinantikan orang tua Adnan.


Masih ada satu jam lagi menjelang waktu subuh, Adnan mengajak Anna untuk tidur kembali, mereka tidur dengan tubuh polos yang ditutup dengan selimut tebal. Adnan memeluk Anna.


Setelah sholat subuh Anna ke dapur untuk membuat sarapan pagi, Adnan ikut ke dapur.


"Kak Anna mau buat goreng terong, kakak suka?"


"Suka, dicampur apa?"


Anna memeriksa kulkas ibu, ada cumi kering di kulkas.


"Kakak bisa makan cumi kering?"


"Belum pernah coba, ayok kita masak saja."


Mereka masak dengan berbagi tugas, Adnan mengiris terong dan cumi kering yang dipotong dua. Anna memblender cabe dan bawang. Adnan menggoreng terong dan cumi. Adnan juga yang menggoreng cabe sampai masakan mereka pagi ini selesai dimasak.


Anna merebus air panas, membuatkan Adnan Teh hangat.


Di rumah Anna tidak ada kursi dan meja makan. dapur Anna juga terasa sempit hanya berukuran 3 x 5 meter. motor Anna juga diparkir di pintu masuk dapur.


Adnan memindahkan kasur Ibu kekamar. merapikan kembali dan mereka menata makan pagi diruang tamu. mereka makan dengan lahap, Adnan menyukai olahan masakan yang mereka buat pagi ini.


"Kakak lupa menelpon Abi, mereka pasti suka kalau diajak makan di rumah ini."


"Kakak telpon saja, tapi ini tinggal sisa, apa kita buat masakan baru?"


"Tidak usah, ini masih cukup untuk mereka bertiga."

__ADS_1


Adnan menelpon Abi, meminta Abi untuk datang kerumah Anna dan merasakan masakan pertama mereka.


Abi dan Ummi segera datang, mereka makan dengan lahap, bahkan bang Danu dan Sepupunya ikut makan dan menghabiskan terong goreng mereka.


"Anna, kita tangkap ikan di sungai yok?" bang Danu mengajak Anna, Danu masih ingat bagaimana serunya menangkap ikan bersama keluarga Anna.


"Anna gak boleh banyak gerak, kami lagi program punya beby. biar Abi dan Ummi bisa mengendong cucu secepatnya." jawab Adnan


Abi dan Ummi tersenyum mendengar jawaban Adnan.


Danu tampak kecewa tidak bisa mengajak Anna untuk menangkap ikan.


"Bang Danu pergi saja menangkap ikan bersama sepupunya. nanti ikan yang didapat akan Anna masak."


"Anna tidak boleh masak, biar kakak yang masak." Jawab Adnan yang tidak setuju Anna banyak bekerja.


"Abi sama Ummi akan ikut bersama Danu mencari ikan, kalian di rumah saja." Abi tampak semangat mencari ikan.


Abi menelpon Kakek Anna, mengajaknya menangkap ikan. Kakek Anna setuju, Kakek dan paman membawa semua peralatan menangkap ikan. mereka berangkat berdua kerumah Anna.


Nenek, Ibu dan Lusi masih sibuk mengurus rumah, menyusun piring dan melepas kepergian keluarga yang mulai meninggalkan rumah Nenek pagi ini.


Mereka menanyakan Anna dan suaminya. Ibu menjawab Anna dan suaminya berada di rumah mereka mengunjungi kuburan ayah Anna pagi ini.


Jam sembilan pagi, Ibu, Nenek, Lusi dan Arkan pergi kerumah Anna. mereka ingin melihat kondisi Adnan. mereka takut Adnan tidak bisa tidur di rumah kecil Anna.


Adnan tampak segar dan sepertinya tidak kekurangan tidur. Adnan menyalami Ibu, Nenek dan tante Lusi. Adnan mengendong Arkan yang dari kemaren sore ingin digendong olehnya.


"asar" ucap Arkan


"Pasar jauh Arkan, besok saja. tunggu pasar yang dekat."


"Ada di desa lain, lumayan jauh."


"Ayok kita ke pasar, Adnan juga mau membeli sesuatu."


Adnan masih mengendong Arkan dan mengambil kunci mobil Abi yang terparkir di rumah Anna. Adnan menelpon Abi minta izin menggunakan mobil Abi untuk pergi ke pasar.


Adnan mengajak semuanya ikut, Nenek menolak. Nenek ingin menemani Ummi menangkap ikan bersama yang lain.


Mereka berempat berangkat ke pasar. diperjalanan Adnan melihat toko perabot. Adnan mengajak semuanya untuk turun dahulu.


"Bu, Adnan ingin beli meja dan kursi makan. boleh?"


"Iya, tapi yang kecil saja. dapur ibu sempit."


Adnan tersenyum mendengar jawaban Ibu Adnan membeli meja dan kursi empat. kemudian Adnan ingat Tv di rumah Anna sangat kecil dan mungkin sudah rusak.


"Bu kita beli Tv juga ya."


Ibu tampak salah tingkah dengan tawaran kedua Adnan, Ibu merasa segan menghabiskan uang menantunya.


"Jangan khawatir Bu, Adnan masih punya uang."


Ibu mengangguk.


Adnan membeli Tv dan bufet untuk menempatkan Tv.


Adnan melakukan pembayaran dengan mentransfer uang kepada pemilik toko, Adnan meminta semua barangnya diantar ke alamat rumah Ibu.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di pasar. Adnan menggenggam tangan Anna. mengikuti Tante Lusi yang menggendong Arkan. Arkan menunjuk tempat mainan mobil. Arkan berjalan sendiri memilih mainan yang ia inginkan. Arkan mengambil satu mobil besar yang bisa ia mainkan dan duduk di atasnya.


Lusi menolak mengabulkan permintaan Arkan.


"Beli saja tante, biar Adnan yang bayar."


Adnan kembali mentransfer uang kepada penjual mainan.


Adnan melihat toko perhiasan, walaupun Ummi memiliki toko perhiasan Adnan sangat jarang ke sana. bahkan Adnan tidak tahu harga emas saat ini.


Adnan melihat Ibu yang tidak memakai perhiasan seperti istrinya, yang sudah memakai perhiasan dari toko Ummi. perhiasan Anna tidak terlihat tertutup lengan baju dan jilbab Anna. Anna hanya terlihat memakai cincin pernikahan mereka.


Adnan mengajak Ibu ke toko perhiasan. Adnan meminta Ibu mencoba gelang,kalung dan cincin yang cocok untuk ukurannya.


Ibu menolak, Ibu tidak ingin Adnan membelikan perhiasan untuk dirinya.


"Ibu, ayolah pilih. Ibu sudah memberikan putri semata wayang Ibu untuk Adnan jaga, sekarang Adnan hanya ingin memberikan Ibu hadiah. tolong jangan menolak."


Ibu terharu mendengar ucapan Adnan yang terdengar sangat tulus untuk menjaga Anna. Ibu luluh dan memilih perhiasan yang diminta Adnan. Adnan kembali membayar dengan transferan.


Mereka makan sate di pasar, selama di pasar Adnan selalu melindungi Anna agar tidak bersenggolan dengan pengunjung pasar lainnya. Ibu membayarkan sate yang mereka makan.


"Kak Anna mau beli buah."


"Kakak saja yang beli, Anna mau buah apa?"


"Lengkeng sama buah pir."


"Tunggu disini sama Ibu, kakak belikan sebentar."


Adnan pergi membeli buah yang tidak jauh dari penjual sate tempat Anna menunggu Adnan.


Untung Adnan memiliki uang tunai lima ratus ribu. Adnan membelikan buah yang Anna minta dan membeli anggur. Adnan ingat keluarga Anna suka buah anggur.


Mereka segera pulang. perabot yang dibeli Adnan sudah sampai di rumah Anna.


Adnan membawa semua buah yang ia beli kedalam rumah dan meletakkannya diruang tamu.


Adnan menyusun meja makan di dapur Ibu, kemudian menyusun bufet dan Tv diruang tamu.


Anna mencarikan tempat untuk buah-buahan yang dibelikan Adnan. Arkan sibuk main dihalaman rumah Anna dengan mobil barunya.


Ibu segera memasak nasi karena sebentar lagi mereka akan makan siang. rombongan Abi dan Kakek pulang kerumah Anna dengan membawa ikan sungai yang banyak. ikan yang mereka tangkap lumayan besar. ikan sudah dibersihkan tinggal diolah dijadikan masakan.


Bang Danu dan sepupunya membuat api unggun, Mereka ingin membakar ikan yang baru didapat. kakek membuatkan tangkai pemanggang ikan, ikan dipanggang menggunakan tangkai kayu yang dibuat banyak, sebanyak ikan yang akan dipanggang.


Danu, paman dan sepupunya sibuk memanggang ikan. Ibu dan tante lusi membuat asam pedas dan goreng ikan di dapur. Anna dan yang lainnya duduk diruang tamu mereka menonton Tv yang baru dibeli dan menikmati buah yang dibeli Adnan.


Mereka makan diruang tamu, mereka makan dengan lahap dan hampir menghabiskan semua masakan yang terhidang.


Semuanya menikmati kebersamaan mereka. rumah panggung Anna terasa panas, Adnan lupa membeli kipas angin. Anna membuka semua jendela rumahnya dibantu Adnan, udara yang masuk kerumah Anna terasa segar dan nyaman membuat penghuni rumah merasa kantuk.


Adnan membantu Ibu membereskan ruang tamu agar mereka bisa bersantai diruang tamu. Adnan tidak mengizinkan Anna bekerja terlalu banyak. apalagi Anna memakai baju gamis dan jilbab panjang, Adnan tidak ingin Anna kepanasan dan capek.


Sore hari Abi dan Ummi pamit pulang, mereka kembali ke kota dan meninggalkan Anna dan Adnan dikampung, menghabiskan masa libur Adnan.


Malam ini Adnan kembali mengajak Anna tidur di rumah Ibu. Ibu juga tidur di rumahnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2