
Rombongan Ummi Salma sampai dikediaman Nenek Anna. Nenek yang selalu berada di rumah menyambut kedatangan Ummi Salma dan rombongannya.
"Selamat datang Ummi, alhamdulillah kita bertemu lagi." ucap nenek menyambut Ummi didepan rumahnya.
Mereka bersalaman, Ummi mencium pipi kanan kiri Nenek. Nenek merasa senang dengan keramahan Ummi Salma yang tidak segan menciumnya walaupun Nenek hanya memakai pakaian rumahan yang terlihat kusam.
"Saya juga senang bisa berkunjung lagi." jawab Ummi Salma.
"Anna tidak ikut?" tanya Nenek saat semua orang sudah keluar dari mobil dan Nenek tidak melihat Anna.
Adnan menyalami Nenek dan mencium tangannya.
Abi menyatukan kedua telapak tangannya, Nenek juga berbuat begitu.
"Anna tidak ikut. Saya kesini bersama keluarga dan ini anak kami yang bernama Adnan." jawab Ummi memperkenalkan Adnan.
Saat bersalaman bersama Adnan Nenek tidak fokus melihat Adnan. Nenek mencari keberadaan cucu tersayangnya. Setelah Ummi Salma menyebut nama Adnan. Nenek melihat jelas wajah Adnan dan penampilannya.
"Sangat tampan, kulit bersih dan tangannya lembut." ucap Nenek dihatinya.
Adnan tersenyum melihat Nenek, tinggi Nenek hanya sebahu Adnan.
"Kamu tinggi dan tampan." ucap Nenek tidak bisa menahan ucapannya untuk memuji makhluk sempurna yang ada dihadapannya.
Semuanya tertawa mendengar ucapan Nenek.
"Kemana yang lain?" tanya Ummi.
"Ira masih di kebun, Kakek dan Ibrahim sedang bekerja tapi sebentar lagi pulang. kalau Lusi pergi main bersama anaknya." jawab nenek menyebutkan keberadaan semua Anggota keluarganya.
"Ayo masuk. jauh-jauh dari kota masa kita hanya ngobrol diluar." ucap Nenek sambil menarik tangan Ummi Salma agar mengikutinya masuk kedalam rumah.
Ummi salma tersenyum. Abi memberi kode kepada Danu untuk menurunkan semua barang yang mereka beli tadi.
"Aduh kenapa masih bawa buah tangan yang banyak seperti ini?" tanya Nenek kaget dengan roti dan jajanan yang diturunkan Danu.
Adnan membawa buah anggur dan jeruk. meletakkannya dimeja tamu Nenek.
Saat diperjalanan tadi, Adnan melihat penjual aneka buah-buahan dipinggir jalan. Adnan meminta Danu menepikan mobilnya. Adnan turun dari mobil, memilih dan membayar sendiri buah yang ia pilih.
Ummi dan Abi kagum dengan kepedulian Adnan terhadap keluarga Anna.
Nenek melihat bungkusan di atas meja. Nenek membuka bungkusan itu dan terharu melihat banyaknya buah anggur dan jeruk yang berada dalam bungkusan itu.
"Buah jeruk dan anggur dibeli sendiri oleh Adnan, semoga keluarga Nenek suka." ucap Ummi Salma secara tidak langsung memuji anaknya.
"Suka, alhamdulillah semua di rumah ini menyukai buah anggur dan jeruk." ucap Nenek terharu.
Adnan tersenyum mendengar jawaban Nenek.
Mereka duduk di kursi tamu Nenek. Nenek membuatkan teh hangat untuk menjamu tamunya.
"Silahkan diminum. kalau ada yang mau mandi silahkan langsung kekamar mandi. biar tidak antri." ucap Nenek memberi peluang tamunya untuk tidak canggung lagi.
Abi dan Ummi saling menatap.
"Ummi menginap disini kan?" tanya Nenek memastikan Ummi menginap di rumahnya malam ini.
"Iya." jawab Ummi Salma tersenyum karena harapannya untuk menginap langsung terkabul.
"Syukurlah tadi saya sudah masak banyak, entah mengapa saya memiliki firasat akan ada yang datang makanya saya masak banyak." ucap Nenek membuat Ummi Salma senang mendengarnya.
"Silahkan dilanjutkan minumnya. saya ke dapur dulu menambah memasak nasi." ucap Nenek ingin mempersiapkan makan malam mereka dengan baik.
Ummi salma ikut menyusul Nenek ke dapur.
Abi menyuruh Danu untuk mandi dahulu dan membawa pakaian ganti kekamar mandi. Danu mengikuti perintah Abi, mengambil baju ganti dan handuk di mobil lalu segera kekamar mandi.
"Ini rumah Nenek Anna." ucap Abi saat hanya ada Adnan bersamanya diruang tamu.
Adnan mengangguk dan melihat sekeliling ruangan.
__ADS_1
"Rumahnya nyaman Bi, Adnan suka disini." jawab Adnan dengan wajah kagum.
"Malam hari hanya tidur pakai kasur tipis, tidak ada AC dan kipas angin." ucap Abi menakuti Adnan.
"Dulu waktu di pondok Adnan juga tidur di kasur tipis, gak pakai AC dan kipas." jawab Adnan membuat Abi nya tertawa.
"Jangan lihat Hp kalau lagi ngumpul bersama keluarga Anna, mereka semua tidak suka memegang Hp." ucap Abi mengingatkan Adnan.
"Untuk apa lihat Hp, Anna gak bisa dihubungi dan sekarang Adnan sedang kumpul dengan dua keluarga besar." jawab Adnan membuat Abi kagum dengan jawabannya.
"Rasanya baru kemaren Abi mengendong mu, sekarang kamu terlihat dewasa." batin Abi dan tersenyum melihat Adnan.
"Sekarang kamu siap-siap untuk mandi. nantik kamu yang jadi iman sholat." ucap Abi mengingatkan Adnan.
"Oke Bi." jawab Adnan sambil berdiri dari duduknya dan pergi ke mobil mengambil pakaiannya yang belum dibawa Danu kedalam rumah.
Kamar mandi sedang digunakan Danu. Adnan memilih melihat dapur Nenek yang luas. Nenek dan ibu duduk dilantai dapur sambil bercengkrama. Adnan meletakkan baju gantinya dan handuk di atas kursi yang berada di dapur Nenek.
"Mau mandi Adnan?" tanya Ummi.
"Iya Mi." jawab Adnan.
Adnan melihat pintu keluar di dapur Nenek.
"Nek, boleh lihat keluar?" tanya Adnan menunjuk pintu dapur Nenek yang sedang terbuka.
"Boleh, lihatnya sampai di teras saja. biar kaki kamu tidak kotor." jawab Nenek.
Adnan berjalan kearah pintu dapur.
"Ini ada sendal." ucap Adnan melihat sendal jepit jelek. yang sudah lama digunakan, berada didepan pintu dapur Nenek.
"Jangan dipakai, sendalnya jelek dan kotor." jawab Nenek tidak enak Adnan menggunakan sendal jepit milik Nenek dan Kakek.
"Gak papa Nek, yang penting bisa melindungi kaki. Adnan pakai ya?" ucap Adnan meminta izin.
Nenek mengangguk, "anak orang kaya, tidak jijik memakai sendalku yang jelek dan kotor. mereka sangat pandai mendidik anak." batin Nenek.
Adnan melihat-lihat pekarangan rumah belakang Nenek yang cukup luas.
Adnan tersenyum melihat ada yang melihatnya.
Ibu Anna pulang dari kebun dan langsung membawa motor metik nya kearah belakang rumah Nenek.
Ira hampir hilang keseimbangan. Ira tidak fokus melihat jalan yang dipenuhi pasir. Ira terpana melihat pemuda tampan yang berada dibelakang rumah Ibunya.
Ira turun dari motor metik nya. Adnan sudah tahu yang datang itu adalah Ibu Anna. Adnan mendekati Ibu Anna dan menjulurkan tangannya.
Ira membalas uluran tangan Adnan. Adnan meraih tangan Ira dan menciumnya. Ira kaget dengan perlakuan pemuda tampan itu yang menghormatinya bahkan tidak segan mencium tangannya yang sedikit kotor.
"Kamu siapa?" tanya Ira.
"Saya Adnan Bu, anak Ummi dan Abi." jawab Adnan.
"O, pantas tadi saya rasanya kenal dengan mobil yang diparkir. Anna ikut pulang?" tanya Ira.
"Tidak, hanya kami sekeluarga yang datang." jawab Adnan.
Ira merasa khawatir karena sudah dua hari Anna tidak menelponnya. biasanya Anna selalu menelpon setiap hari.
"Kenapa dibelakang? Ayok masuk." ucap Ira mengajak Adnan masuk kerumah.
"Ya Bu." jawab Adnan.
Adnan mengikuti Ira yang sudah masuk kedalam rumah. Ummi melihat Ira datang, Ummi berdiri dan menyusul Ira untuk bersalaman dan mencium pipi kanan kiri Ira.
"Aduh, Ummi saya habis dari kebun. Bau." ucap Ira tidak enak Ummi menciumnya.
Ummi dan Nenek tertawa.
"Jangan begitu, saya kagum dengan Ira dan juga rindu. kamu perempuan hebat. sudah jam lima sore kamu baru kembali dari kebun." Jawab Ummi menyanjung Ibu Anna.
__ADS_1
"Adnan, ini Ibu Anna, salam dulu." ucap Ummi melihat Adnan masuk ke dapur.
"Sudah, kami sudah bersalaman." jawab Ira tertawa kecil. sambil menoleh kebelakang sebentar dan melihat ummi kembali.
"Ya allah, ganteng sekali anak Ummi dan Abi, apa mungkin Anna hanya menganggap dia sebagai kakak?" batin Ira. yang kagum dengan Adnan dan sifatnya yang santun.
Danu selesai menggunakan kamar mandi. Adnan melihat Danu yang keluar dari kamar mandi.
"Ummi, Nenek, Ibu. Adnan pakai kamar mandi dulu ya." ucap Adnan meminta izin untuk undur diri.
"Iya." ucap mereka serentak.
"Ummi ke depan saja, nasinya tidak perlu ditunggu, biarkan saja nantik masak sendiri." ucap nenek tidak enak jika Ummi terus berada di dapur bersamanya.
"Baiklah, saya juga mau ambil baju ganti." jawab Ummi meninggalkan Nenek dan Ira.
Nenek segera keluar mengambil sendal jepitnya, menggosoknya dengan bros kain dan mencucinya menggunakan kran air yang ada diluar dapur, agar terlihat bersih walaupun sudah jelek karena sudah lama dibeli.
"Buk Adnan itu ternyata sangat ganteng." ucap Ira dengan ekspresi kagum. Ira ingat, minggu lalu mereka menebak wajah Adnan saat Anna pulang bersama Ummi, Abi dan Danu.
"Betul, kulitnya putih mulus dan lembut." jawab Nenek.
"Kenapa Ibu menggosok sendal jelek ini?" tanya Ira.
"Tadi sendal ini dipakai Adnan. Ibu malu kalau nanti masih dipakai, sendalnya kotor. kalau jelek tidak bisa dihindari lagi." jawab Nenek membuat Ira tertawa.
"Aduh Buk. aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Adnan itu menjadi menantu kita. bisa-bisa rumah dan isi nya harus kita ganti. malu, rumah jelek begini punya menantu yang putih bersih." ucap Ira menghayal, keduanya tertawa.
"Anna kenapa tidak pulang?" tanya Nenek teringat cucunya.
"Entahlah, sudah dua hari Anna tidak memberi kabar." jawab Ira sedih.
"Jika kamu mau melihat Anna, ikut rombongan Ummi saja besok pagi." ucap Nenek memberi saran.
"Nantik aku pertimbangkan, aku tanya Ummi barangkali Ummi tahu Alasan Anna tidak pulang." jawab Ira tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan.
***
Semua keluarga Anna sudah berkumpul di rumah. mereka sholat magrib berjamaah di rumah Nenek. Adnan menjadi imam sholat.
Nenek dan Ira semakin kagum dengan Adnan, Adnan terlihat lebih agamis saat ini dibandingkan saat pertama bertemu tadi. Adnan memakai baju koko lengan panjang memakai peci dan kain sarung.
Arkan yang baru berusia dua tahun tampak akrab bersama Adnan. Arkan tidak segan mendekati Adnan dan duduk di pahanya setelah selesai sholat. Adnan juga memegang punggung Arkan agar tidak oleng.
Saat Adnan mengganti kain sarungnya Arkan dengan setia menunggu Adnan. setelah menggunakan celana panjang. Adnan mengendong Arkan ke dapur. semua orang sudah berada di dapur untuk makan malam bersama.
"Arkan sini nak duduk dekat ayah." ucap Ibrahim mengajak Arkan bersamanya.
Arkan menggeleng dan memilih duduk dipangkuan Adnan.
"Abang Adnan nya mau makan, nantik main lagi sama bang Adnan ya." ucap Ibrahim yang sudah berada di samping Arkan dan ingin membawanya duduk disampingnya.
Arkan mengangguk, membuat semua orang yang ada di dapur tertawa melihatnya.
Mereka makan bersama dengan lahap, sesekali bicara yang membuat suasana semakin hangat.
Setelah makan semua laki-laki berkumpul diruang tamu Nenek duduk lesehan di atas tikar.
Arkan kembali duduk di paha Adnan dan sibuk memainkan mainan mobil kecilnya.
Lusi mencuci piring bersama Ira. Nenek dan Ummi membersihkan dapur dan duduk berdua di kursi yang berada di dapur.
"Apa Ummi tahu kenapa Anna tidak pulang?" tanya Nenek.
"Iya saya tahu, nantik kita bicara didepan bersama Ira dan Kakek." jawab Ummi memberi kode agar hanya mereka berlima saja yang bicara didepan.
"Baiklah saya akan menyuruh Ibrahim membawa Adnan, Danu, Lusi dan Arkan melihat pasar malam di kecamatan." ucap Nenek. agar mereka lebih leluasa bicara.
Ummi tersenyum mendengar jawaban Nenek yang paham dengan maksud ucapannya.
...----------------...
__ADS_1
jangan lupa like & komen
terimakasih sudah membaca