
Setelah bel istirahat berbunyi, Anna memberanikan diri mengunjungi kelas Adnan. Anna berdiri di samping pintu kelas yang dapat dilihat oleh murid kelas Adnan. Anna melakukan ini karena ingin memperbaiki kesalahannya telah membuat Adnan cemburu.
Anto telah lama mengganggu Anna, tapi Anna tidak pernah menceritakannya kepada Adnan, membuat Adnan salah sangka.
Anna juga merasa bersalah karena cincin yang diberi Adnan sudah ia lepas dan diberikan kepada orang tua angkatnya, padahal sebelumnya Anna sudah berjanji tidak akan melepas cincin itu.
Adnan yang mendapat kunjungan pertama dari Anna merasa sangat bahagia. Adnan segera menemui Anna, murid lain yang melihat Anna berkunjung ikut keluar.
Mereka dikelilingi empat orang murid laki-laki yang ingin menyapa Anna.
"Wah adik ini bawa bekal, ajak kita makan ya?" goda salah seorang teman kelas Adnan.
"Cantik, namanya siapa?" tanya yang lain.
Adnan yang berada didepan Anna langsung menyembunyikan Anna dibelakangnya.
"Jangan ganggu adik ku, sana pergi!" ucap Adnan mengusir teman-temannya.
"Boleh gak aku daftar untuk jadi imam adiknya?" tanya teman Adnan.
Adnan tersenyum sinis mendengar pertanyaan temannya, bagi mereka mungkin itu gurauan tapi Adnan merasa hatinya bagai ditusuk seribu jarum.
"Jangan harap, karena aku yang akan menjadi suaminya nanti." jawab Adnan tegas.
Jawaban Adnan membuat mereka terdiam dan tidak berani melanjutkan candaannya, mereka meninggalkan Adnan dan Anna.
Adnan memutar badannya menghadap Anna.
"Kenapa menundukkan wajah?" tanya Adnan.
"Anna takut kak." jawab Anna.
"Mereka hanya usil, jika ada kakak Anna tidak perlu takut." ucap Adnan yang menatap Anna lembut.
"Iya kak." jawab Anna melihat wajah Adnan.
Adnan mengajak Anna ke ruang OSIS, mereka menghabiskan bekal sarapan tadi pagi.
"Kak Anna mau minta maaf, sebenarnya dari awal Anna masuk sekolah bang Anto sudah mengenal Anna. dia sempat meminta nomor Hp Anna, tapi Anna gak kasih. trus cincin dari kakak terpaksa Anna lepas, karena orang tua Angkat Anna tidak memperbolehkan memakai cincin itu." ucap Anna menjelaskan semua yang mengganjal dihatinya.
"Masalah Anto Kakak bisa memaklumi, karena Anna belum mengenal kakak dan kita belum saling terbuka. kedepannya apapun yang terjadi Anna harus menceritakannya sama kakak, bisa?" tanya Adnan.
"Iya kak." jawab Anna.
"Untuk masalah cincin, Ummi Inah sudah memberitahu kakak dan kedua orang tua kakak. justru kakak yang seharusnya minta maaf, karena memaksa Anna memakai cincin itu dan membuat Anna berstatus tunangan. seharusnya kakak melamar Anna dengan cara yang tepat dan diketahui oleh kedua keluarga.
sekarang cincin itu dipegang oleh Ummi kakak." jawab Adnan yang menyembunyikan bahwa orang yang mereka bicarakan saat ini adalah Ummi dan Abi nya sendiri.
"Apa orang tua kak Adnan marah, karena orang tua angkat Anna mengembalikan cincin itu?" tanya Anna sedikit khawatir.
"Mereka tidak marah, justru kakak yang dimarahi karena gagal melindungi Anna dari kejahatan Anto, mereka menyuruh kakak saat ini hanya menjadi kakak yang baik untuk Anna. mereka tidak mau kakak gagal lagi untuk melindungi Anna." jawab Adnan mengiba.
Anna merasa orang tua Adnan sangat peduli padanya dan juga sangat baik, mereka tidak tersinggung dengan perbuatan orang tua angkat Anna yang mengembalikan cincin pembelian anaknya.
Sementara Adnan menahan tawa. karena berhasil meyakinkan Anna, hingga Anna tidak curiga mereka membicarakan orang yang sama.
"Anna bisakah kita memulai semuanya dari awal? kita harus saling terbuka walaupun status kita saat ini hanya kakak adik!" tanya Adnan.
__ADS_1
"Ya." jawab Anna singkat.
keduanya saling melempar senyum bahagia.
"Bagaimana kasus bang Anto kak?" tanya Anna.
"Anto tidak bisa ditahan, sekarang Anto dirawat di rumah sakit jiwa. kita harus hati-hati, Anna jangan pergi keluar asrama sendirian. jika ada perlu kabari kakak." ucap Adnan. memperingatkan Anna.
Anna mengangguk paham.
"Kak, kenapa kak Iqbal gak kesini?" tanya Anna.
"Mungkin Lagi sibuk nemani pacarnya." jawab Andan yang mengetahui Iqbal sudah memiliki pacar lagi.
Anna tertawa mendengar jawaban Adnan.
"Pacar kak Iqbal itu namanya Lasmi. dia teman sekamar Anna." ucap Anna mengetahui Iqbal sedang dekat dengan temannya Lasmi.
"Oh, baguslah, paling tidak uang jajan Iqbal tidak terkuras banyak, karena pacarnya tidak bisa di ajak shoping." ucap Adnan.
Adnan mengetahui kehidupan Iqbal merasa kasihan jika Iqbal masih menemukan wanita yang hanya menyayanginya saat Iqbal memiliki uang. Iqbal laki-laki yang tidak pelit, namun tidak pintar mengelola keuangannya. Iqbal sering meminjam uang pada Adnan, hanya untuk mentraktir pacarnya makan ditempat yang di inginkan pacarnya.
Jika hutang Iqbal sudah banyak, sebagai bayarannya Iqbal harus menemani Adnan tidur dirumahnya saat kedua orang tua Adnan pergi keluar kota memeriksa kondisi perkebunan dan pabrik mereka.
"em, berarti kak Adnan juga bahagia dong, Anna tinggal di asrama." ucap Anna.
"No. justru kakak maunya Anna keluar dari asrama dan tinggal di rumah kakak, Anna mau pindah?" tanya Adnan.
"Gak mau." jawab Anna sedikit ngegas kerena kaget dengan tawaran Adnan.
Adnan tertawa mendengar jawaban Anna yang begitu cepat menjawab pertanyaannya.
Anna hanya tersenyum malu, mendengar ucapan Adnan.
Bel berbunyi. Anna pamit untuk pergi ke kelasnya yang berada diseberang ruang OSIS. Adnan melihat Anna yang berjalan melewati lapangan upacara sampai masuk ke kelas nya.
***
Jam terakhir belajar. Anna dipanggil keruangan Kepala Sekolah. Anna merasa takut, ini kali keduanya Anna masuk ke ruang kepala sekolah.
"Ada apa pak?" tanya Anna saat sudah berhadapan dengan kepala sekolah.
"Ada teman bapak yang mau ketemu Anna." jawab pak Darusman.
"Siapa?" tanya Anna.
"Orangnya sedang ke toilet, Anna tunggu sebentar ya." ucap pak Darusman.
Anna mengangguk, tidak lama menunggu pintu ruangan pak Darusman dibuka oleh seseorang.
"Halo Anna, masih ingat bapak?" tanya orang yang baru datang.
Anna menoleh ke sumber suara yang menyapanya.
"Pak Zamzami?" ucap kaget mengetahui siapa yang ingin bertemu dengannya.
Anna langsung berdiri dan menyalami pak Zamzami yang masih berdiri di pintu.
__ADS_1
"Apa kabar Anna?" tanya pak Zamzami.
"Baik pak," ucap Anna tersenyum.
"kamu masih ingat dengan keponakan bapak yang pernah bapak sebut mengajar disini?" tanya pak Zamzani.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Nah, ini dia," ucap pak Zamzami, saat pak Arip datang ke ruang Kepala Sekolah.
"Anna! jadi dia yang satu kecamatan dengan kita?" tanya pak Arip pada pak Zamzami.
Pak Zamzami mengangguk.
"Ayo kita duduk." ucap pak Darusman mengajak semua tamu nya duduk di kursi tamu.
Mereka semua duduk dan saling bercengkrama.
Adnan yang telah menyelesaikan tugasnya diperbolehkan pulang duluan. Adnan segera ke kelas Anna. saat sampai dikelas Anna, Adnan tidak melihat Anna di kursi nya. tas Anna masih di atas meja. Adnan memberanikan diri masuk ke kelas Anna dan menemui guru yang berada kelas Anna.
"Maaf buk mengganggu, kenapa Anna tidak ada di kursi nya?" tanya Adnan.
"Oh, tadi Anna dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, kamu lihat saja ke sana." ucap Buk Endang yang saat itu masuk dikelas Anna.
"Terimakasih Buk, saya akan ke sana." ucap Adnan.
Adnan segera keruangan kepala Sekolah. Adnan takut terjadi hal buruk, sehingga Anna dipanggil Kepala Sekolah.
"Selamat sore pak," ucap Adnan saat dipersilahkan masuk Oleh Kepala Sekolah.
Adnan melihat Anna, Pak Arip dan satu laki-laki yang tidak dikenalnya.
"Duduklah Adnan." ucap Kepala Sekolah mempersilahkan Adnan duduk.
Adnan segera mengambil tempat duduk disebelah Anna.
"Saya mencari Anna pak, apa Anna berbuat kesalahan hingga dipanggil ke ruangan bapak?" tanya Adnan.
"Teman bapak dari luar kota ingin bertemu Anna, ini orangnya." jawab pak Darusman sambil memperkenalkan Pak Zamzami.
Mereka tidak lama diruang Kepala Sekolah karena bel jam pulang sekolah sudah berbunyi. Adnan dan Anna pamit untuk pulang.
Pak Zamzami dan Pak Arip juga pamit untuk pulang. Mereka bersalaman dengan pak Darusman dan melanjutkan pembicaraan diparkiran kendaraan roda empat didepan bangunan sekolah.
"Apa maksud paman memperkenalkan Anna pada ku?" tanya pak Arip.
Pak Zamzami tertawa mendengar pertanyaan keponakannya.
"Kamu memang guru yang hebat, bisa menebak gerakan paman. kamu akan lebih hebat jika segera melepas masa lajang mu. dekati lah Anna, tunggu dia tamat sekolah. paman pernah bertemu semua keluarganya, mereka orang baik." jawab pak Zamzami.
pak Arip terdiam mendengar ucapan Pamannya. pak Arip tinggal bersama pak Zamzami semenjak dia sekolah SMA. orang tua pak Arip meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, semenjak itu pak Arip diasuh dan disekolahkan oleh pak Zamzami.
"Ingat umur mu, adik mu sudah berkeluarga. Paman juga ingin melihat kamu memiliki keluarga, pikirkanlah ucapan paman." ucap pak Zamzami sambil menepuk pundak pak Arip.
"Baiklah paman." jawab pak Arip.
Pak Zamzami tersenyum mendengar jawaban keponakannya. pak Zamzami segera memasuki mobilnya dan meninggalkan pak Arip yang melihat kepergiannya.
__ADS_1
"Anna? dia memang cantik, tapi apa mungkin dia mau menerima ku? setidaknya aku harus berusaha dulu." ucap Pak Arip bermonolog.
...----------------...