
Seperti biasa keluarga Adnan sarapan pagi bersama mbok Iyem dan keluarganya.
"Mi, Adnan sarapan disekolah ya." ucap Adnan yang baru datang di ruang makan.
"Ya, Ummi udah siapkan bekal sarapan Adnan dan Anna, nantik dimakan ya." ucap Ummi sambil menyerahkan kotak bekal untuk mereka.
"Adnan bawa satu aja Mi, nantik makannya sama Anna." jawab Adnan.
"Ummi udah siapkan dua, isinya juga beda." ucap Ummi masih menyodorkan dua kotak bekal pagi ini.
Adnan meraih keduanya.
"Ummi gak pengertian banget sih, makan satu berdua Mi biar romantis." jawab Adnan.
"Eh, Anna bakal tambah kurus karena harus berbagi makanan sama kamu. bawa keduanya! satu untuk Anna satu untuk kamu, jangan minta bagian Anna." ucap Ummi memperingatkan Adnan.
"Usus Adnan kecil Mi. tulang Adnan nih yang besar tinggi, makanya badan Adnan kek gini. porsi makan Adnan sama dengan Anna." ucap Adnan membela diri.
Abi yang duduk disebelah Ummi tersenyum mendengar perdebatan istri dan anaknya.
Adnan menyalami Ummi dan Abi nya kemudian berangkat sekolah.
Jeni baru selesai memakai seragam sekolahnya dikamar. jeni keluar kamar dan segera bergabung dimeja makan, Jeni tidak melihat Adnan, jika Adnan tidak dimeja makan artinya Adnan sudah berangkat sekolah.
"tidak sarapan lagi, aku jadi penasaran berapa sih uang jajan Adnan." batin Jeni.
Setelah menyelesaikan sarapannya Jeni berangkat sekolah.
Dimeja makan tinggallah mereka berempat.
"Tuan, jika ada waktu kami mau bertanya beberapa hal setelah sarapan ini." ucap pak Joko menatap Abi Zakaria.
"Oh, ya kami ada waktu, nantik kita bicara diruang tamu saja." jawab Abi Zakaria
Setelah sarapan pagi Ummi dan Abi duduk diruang tamu, mbok Iyem menyelesaikan tugas beres-beres ruang makan dan dapur. pak Joko sudah berada diruang tamu bersama Abi dan Ummi.
"Begini Tuan, tadi malam anak kami datang kekamar, katanya nyonya menawarkan untuk merenovasi rumah kami, apakah Tuan dan Nyonya tidak mengizinkan kami bekerja di rumah ini lagi?" tanya pak Joko dengan sedikit gugup.
Abi menatap Ummi, mengisyaratkan agar Ummi yang menjawab pertanyaan pak Joko.
"Kita tunggu Iyem dulu ya." jawab Ummi agar suami istri itu bisa mendengar pembahasan mereka pagi ini.
Pak Joko mengangguk, tidak lama mbok Iyem tiba diruang tamu. mbok Iyem duduk disebelah suaminya.
"Begini pak Joko dan Iyem, saya menawarkan renovasi rumah kepada Jeni karena saya merasa Jeni pasti sudah tidak betah dikamar kecil itu. kamar itu dibuat tidak permanen. kami membuat kamar itu karena tidak ingin Jeni yang sudah remaja masih harus tidur sekamar dengan orang tuanya.
sekarang Jeni sudah dewasa.
kami hanya berniat untuk membantu pak Joko merenovasi rumah, selama pak Joko dan Iyem mau bekerja dan masih bekerja dengan baik di rumah ini. kami tidak akan memecat kalian." jawab Ummi membuat Pak Joko dan istrinya paham.
Abi tersenyum, merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Ummi Salma.
"istriku memang cerdas." batin Abi Zakaria.
Pak Joko dan mbok Iyem yang mendengar jawaban Ummi Salma merasa bersyukur memiliki majikan seperti Ummi Salma dan Abi Zakaria, mereka turun dari kursi dan sujud menghadap Ummi dan Abi.
"Pak Joko, Iyem. jangan seperti ini, duduklah. ini memang sudah rezeki kalian, kami hanya perantara saja." jawab Ummi sambil mengangkat bahu mbok Iyem.
Pak Joko dan Mbok Iyem segera duduk di kursi dan menghapus air mata mereka.
"Sekarang buatlah ukuran rumah yang kalian inginkan, kalau bisa gambar sendiri bentuk rumah itu. jika sudah selesai segera berikan pada kami, supaya kami bisa cepat mengerjakannya." ucap Abi Zakaria memastikan ucapan istrinya benar dan akan segera direalisasikan.
"Baiklah Tuan, kami mengucapkan banyak terimakasih Tuan, Nyonya. semoga Tuan dan Nyonya selalu sehat dan dalam lindungan Allah." ucap Pak Joko yang masih menghapus air mata di pipinya.
"Apa ada lagi yang ingin kalian bicarakan?" tanya Abi.
"Tidak Tuan." ucap Pak Joko.
"Baiklah kami harus pergi ke Toko dan kantor travel." ucap Abi Zakaria.
Pak Joko dan Mbok Iyem mengangguk paham. majikan mereka tidak pernah berada di rumah seharian, karena memiliki usaha yang harus diawasi.
Abi merangkul Ummi menuju parkiran, mereka selalu romantis walaupun sudah berumur 57 tahun.
**
Pagi ini Adnan menunggu Anna di gang asrama, karena Adnan datang kepagian.
"Kak Adnan?" teman sekamar Anna menyapa Adnan yang sudah berdiri di gang.
"Iya, Anna nya mana?" tanya Adnan.
"Dibelakang kak, tadi masih salaman sama Ummi dan Bunda." jawab Tery.
"Ummi sama Bunda suka lama kalau bersalaman dengan Anna." Lasmi menambahkan.
Ucapan Lasmi membuat Adnan penasaran.
"Kami duluan ya kak." ucap Velisia.
"Ya, silahkan." jawab Adnan.
Belum jauh mereka berjalan, Anna datang.
"Kak." sapa Anna dengan senyum cantiknya.
"Adik kakak segar banget pagi ini, lagi bahagia?" tanya Adnan.
"Iya dong, setiap hari Kamis Ummi dan Bunda selalu ngasi Anna uang jajan." jawab Anna sambil tertawa kecil.
"Kalau gitu kakak juga mau ikut kasih Anna uang jajan, kakak ngasih setiap hari Senin ya." ucap Adnan tidak mau kalah dari Ummi dan Bunda nya.
"Kak Adnan Kan udah belikan Anna Hp, pakaian, bedak, jajan, trus besok mau belikan oleh-oleh untuk keluarga Anna, udah banyak kakak ngasih nya." jawab Anna tidak enak menerima uang dari Adnan.
"Anna kan udah jadi tanggungan kakak, itu semua belum banyak, mau ya besok terima uang dari kakak?" ucap Adnan memohon.
"Iya deh, tapi ngasih nya gak boleh banyak." jawab Anna.
"Iya, kalau 1 juta cukup?" tanya Adnan.
Anna yang selama ini hidup bersama keluarganya belum pernah pegang uang jajan sebanyak itu. Pertanyaan Adnan membuat mulut Anna terbuka lebar membentuk huruf O.
Adnan menutup mulut Anna. "Jelek." ucap Adnan dan menurunkan tangannya.
Anna mengedipkan matanya, tersadar dari syok dadakannya.
"Mau dipakai buat apa uang sebanyak itu kak?" tanya Anna.
Adnan tertawa mendengar pertanyaan Anna.
"Pantas kamu kurus, uang satu juta aja pakai bingung menghabiskannya." ucap Adnan.
__ADS_1
"Anna gak kurus kak, kakak tu yang kelebihan gizi." balas Anna.
kembali Adnan tertawa mendengar ucapan Anna yang berhasil membalas ejekannya.
"Biar Anna gak pusing, sekarang bilang uang jajan untuk Anna, maunya berapa?" tanya Adnan.
"Seratus Ribu aja kak." Jawab Anna cepat.
Adnan kembali tertawa mendengar ucapan Anna.
"Sini tas nya." ucap Adnan meraih ransel Anna.
"Mau apa kak?" tanya Anna melepas tasnya diperiksa Adnan.
Adnan melihat isi dalam tas Anna dan memperhatikan tubuh Anna.
"Ada dompet?" tanya Adnan.
Anna menggeleng.
"Trus uang jajannya disimpan dimana?" tanya Adnan.
"Disaku rok." jawab Anna.
"Besok simpan uangnya di dompet, jangan disaku." ucap Adnan menyerahkan ransel Anna.
"Belum pernah punya dompet kak, dulu uang jajan Anna tiap pagi dikasih Ibu 10.000. kalau ada sisa masukkan ke celengan. sekarang ada Bunda sama Ummi yang kasih uang jajan tiap hari Kamis 100.000. uang nya gak habis." jawab Anna.
"Hemat banget adik kakak ni." ucap Adnan mengusap kepala Anna sebentar.
"Tiap hari kakak yang bayarkan jajan, makanya uang Anna gak habis." jawab Anna.
"Sekarang uang Anna ada berapa?" tanya Adnan.
"Kalau uang kes ada 350.000, trus Ibu ada titip ATM tapi Anna belum pernah lihat berapa isinya." jawab Anna.
"Semua uangnya dibawa kesekolah tiap hari?" tanya Adnan.
"Gak, sekarang bawak 100.000 yang dikasih Ummi sama Bunda, sisanya ditinggal di lemari asrama." jawab Anna.
🎶 bel masuk berbunyi.
"Aduh kelamaan ngobrol jadi lupa sarapan. ada titip sarapan dari Ummi, Anna bawa ke kelas ya, nantik kita sarapan sama-sama diruang OSIS." Ucap Adnan sambil mengeluarkan kotak sarapan untuk Anna dari dalam tasnya.
Anna mengangguk, mengambil kotak itu dan menyimpannya dalam tas.
"Makasih ya kak." ucap Anna tersenyum.
"Iya, yok segera ke kelas." ucap Adnan sambil meraih pergelangan tangan Anna, mengajak Anna lari bersamanya.
Sampai dikelas Anna yang sudah terbiasa sarapan pagi mengintip isi kotak yang diberikan Adnan.
"Gurunya belum masuk, sarapan dulu deh." batin Anna.
Anna mengeluarkan kotak bekalnya dan membukanya.
"Wah, enak bagi dong." ucap Hengki ketua kelas yang melihat isi kotak sarapan Anna.
"Yah silahkan, ambil aja." ucap Anna.
Teman sekelas Anna yang mendengar Anna menawarkan makanan pada Hengki langsung ikut mengelilingi Anna. meminta bagian,
Jam pelajaran dimulai, menjelang istirahat ada empat jam pelajaran yang harus dilalui. pada jam pelajaran ketiga Konsentrasi belajar Anna mulai terganggu karena perutnya minta di isi.
Anna memberanikan diri untuk izin keluar sebentar. setelah mendapat izin dari guru Anna berlari menuju kelas Adnan.
Adnan yang sedang fokus belajar tidak melihat keberadaan Anna yang berdiri didepan jendela kelas.
Iqbal yang duduk dibelakang Adnan menowel punggung Adnan menggunakan pena.
"Apa?" Tanya Adnan melihat Iqbal.
Iqbal memberi kode menunjuk jendela.
Adnan kaget melihat wajah Anna yang terlihat pucat.
"Izin keluar sebentar pak." ucap Adnan
"Ya silahkan." jawab pak guru.
Adnan segera menemui Anna, mengajak Anna menjauh dari jendela.
"Kenapa wajah Anna pucat?" tanya Adnan.
"Anna lapar kak." jawab Anna.
Adnan segera meraih pergelangan tangan Anna mengajaknya keruang OSIS. kelas Adnan tidak jauh dari ruang OSIS, kotak sarapan Adnan juga sudah diruang OSIS.
"Cepat makan." ucap Adnan setelah membuka kotak bekalnya.
Anna makan dengan lahap menghabiskan semua sarapan Adnan. Adnan menyodorkan gelas berisi air yang tersedia diruang OSIS. Anna segera minum.
"Udah kenyang?" tanya Adnan.
"Udah, tapi kepala Anna sakit, rasanya berdenyut." jawab Anna.
"Apa karena telat makan?" tanya Adnan.
"Gak tau, belum pernah kek gini." jawab Anna.
Anna merasa perutnya tidak bisa menerima makanan yang telah masuk kedalam perutnya, Anna merasa mual, Anna berlari menuju kamar mandi yang berada diruang OSIS. Anna memuntahkan semua yang dimakannya.
Adnan yang mendengar Anna muntah, langsung pergi ke kelas, meminta Izin kepada guru dan meminjam mobil Melinda untuk membawa Anna berobat.
"Kalau darurat aku aja yang nyetir." ucap Melinda.
"Iya betul, biar kamu yang mengurus Anna dibelakang." ucap pak guru yang mengetahui tujuan dan alasan Adnan izin.
Teman sekelas Adnan melihat kekhawatiran di wajah Adnan, mereka saling bertanya apa yang terjadi? siapa yang sakit?
setelah Adnan dan Melinda meninggalkan kelas pak guru memberi tahu jika Anna muntah dan harus dibawa berobat.
"Waduh pak, jangan-jangan Adnan menghamili Anna." ucap salah satu teman sekelas Adnan yang mengetahui hubungan Adnan dan Anna.
Pak guru kaget mendengar ucapan dari muridnya.
"He. kalau ngomong mikir dulu, mereka tidak mungkin melakukan itu, Anna itu tinggal Di asrama." jawab Iqbal membela Adnan.
"Sebaiknya dipastikan pak, jangan sampai sekolah kita mendapat malu." jawab siswa yang lain.
"Sudah tenang, berita seperti ini tidak boleh dikembangkan, bapak harap tidak ada yang membicarakan ini diluar kelas. bapak akan pastikan keadaan Anna. jika ada yang menyebar gosip diluar kelas ini maka bapak pastikan pelakunya akan dihukum skor karena telah memfitnah teman sendiri. paham!" ucap pak guru agar teman-teman Adnan lebih dewasa dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
"Paham pak." ucap semua murid.
Setelah mendapat kabar tempat Anna berobat. Pak guru pergi menyusul mereka.
***
Anna yang telah memuntahkan semua isi perutnya tampak lemah dan keluar dari kamar mandi. Adnan segera mengendong Anna. Melinda tanggap menuju parkiran dan menyetir mobilnya membawa Adnan dan Anna menuju klinik pengobatan terdekat.
Sampai di klinik Adnan mengendong Anna dan membaringkannya di kasur pasien untuk diperiksa dokter.
"Kenapa?" tanya dokter.
"Tadi muntah dok." jawab Adnan.
Dokter memeriksa Anna.
"Asam lambungnya tinggi, mau di pasangkan infus?" tanya dokter.
"Ya dok." jawab Adnan.
Anna terbaring lemah, seperti biasa jika sakit Anna akan selalu teringat Ayahnya, Ayah yang selalu menemani Anna jika sakit, menyuapinya makan agar Anna cepat sehat. air mata Anna keluar dari sudut matanya.
"Tenang saja adik cantik, pasang infus nya gak sakit kok." ucap suster yang menyangka Anna takut dipasang infus.
"Jangan takut ya, biar Anna cepat sehat." ucap Adnan menenangkan Anna agar mau di infus.
Anna mengangguk dan menghapus air matanya.
Setelah dipasang infus dan mendapat suntikan obat. Pak guru datang menghampiri Adnan.
"Kamu yang akan menjaga Anna disini?" tanya Pak guru.
"Iya pak." jawab Adnan.
"Baiklah, Bapak harus kembali kesekolah Melinda juga." ucap Pak Guru yang sudah mengetahui penyakit Anna dari dokter.
Pak Guru dan Melinda pamit meninggalkan mereka berdua.
"Maaf ya, karena kakak Anna terlambat sarapan." ucap Adnan menyesal membuat Anna sakit.
"Bukan salah kakak, Anna yang salah. tadi sampai dikelas Anna membuka kotak makannya. teman Anna yang lihat isi kotak itu memintanya hingga Anna gak dapat bagian." jawab Anna menyesal tidak mendengarkan Adnan yang memintanya sarapan bersama diruang OSIS saat jam istirahat nanti.
"Besok jangan telat sarapan lagi, paginya langsung ke kantin aja. kakak akan mencari Anna di kantin." ucap Adnan tidak mau Anna sakit lagi.
"Iya." ucap Anna.
"Apa tangannya sakit?" tanya Adnan yang melihat Anna masih mengeluarkan air mata.
"Gak." ucap Anna.
"Trus kenapa masih nangis?" tanya Adnan.
"Ingat Ayah." jawab Anna yang masih menangis.
Adnan teringat Abi nya, Adnan menjauh dari Anna menelpon Abi nya. saat Adnan akan menelpon Abi, rasa takut menyelimutinya. takut Abi memarahinya lagi karena ulahnya yang membuat Anna terlambat sarapan.
Adnan telah siap menerima konsekuensinya. Adnan menelpon Abi, menceritakan semua kejadian yang menimpa Anna dan meminta Abi untuk menjenguk Anna. Abi memarahi Adnan ditelpon dan memutuskan sambungan telpon Adnan.
"Ternyata begini rasanya punya adik, sering dimarahi jika berbuat salah." batin Adnan.
Tidak menunggu lama, Abi dan Ummi sampai di klinik tempat Anna dirawat.
Adnan berniat menyapa Abi, tapi Abi memasang wajah kesal membuat Adnan tidak berani mendekatinya. Adnan memilih berada diruang tunggu.
"Anna?" ucap Ummi yang langsung mencium pipi Anna.
Abi mengusap kepala Anna yang tertutup jilbab.
Perlakuan orang tua Angkat Anna membuat tangis Anna menjadi kencang.
"Udah sayang, jangan nangis lagi, Abi sama Ummi ada disini." ucap Ummi yang menghapus air mata Anna.
"Anna mau sarapan?" tanya Abi yang sudah membawa bubur sumsum dan bubur ayam ke klinik.
Anna mengangguk, tangisnya juga mereda.
"Bisa duduk?" tanya Ummi
Anna mengangguk.
Ummi membantu Anna untuk duduk, Abi duduk disebelah kanan Anna dan menyuapi Anna.
Anna menghabiskan bubur nya.
"Terimakasih Abi, Ummi. Maaf tadi Anna nangisnya kencang, Anna teringat Ayah dan Ibu." ucap Anna dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Kami paham sayang," ucap Ummi ikut duduk di kasur dan memeluk Anna.
"Siapa yang mengabari Ummi dan Abi?" tanya Anna.
"Tadi Bunda Yani yang telpon, katanya Adnan menelponnya mengabarkan Anna sakit dan dirawat." jawab Abi berbohong.
"Oh iya, mana yang nama Adnan itu sayang?" tanya Ummi bersandiwara.
"Mungkin diluar Mi." ucap Anna tidak bisa melihat Adnan karena ruangannya ditutup kain pembatas.
Adnan mendengar percakapan mereka. Adnan memberanikan diri masuk ketempat Anna dirawat.
"Saya Adnan." ucap Adnan ikut bersandiwara.
"Terimakasih ya nak sudah membawa Anna berobat." ucap Ummi.
Adnan mengangguk.
"Ternyata kamu laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat perhatian, terimakasih." ucap Abi tersenyum melihat Adnan.
Adnan ikut tersenyum mendengar pujian dari Abi nya.
"Yes, akhirnya dapat pengakuan sebagai kakak yang baik." batin Adnan.
Setelah mendapat penanganan yang baik selama empat jam Anna diperbolehkan pulang.
Adnan yang tidak membawa motor ke klinik ikut menumpang di mobil orang tua Angkat Anna.
"kamu didepan sama supir." ucap Abi saat Adnan akan masuk ke mobil.
Adnan pasrah, niat hati ingin duduk di samping Anna gagal sudah.
Anna duduk ditengah ditemani Ummi dan Abi di kursi tengah. mereka mengantar Anna ke asrama. sedangkan Adnan diturunkan disekolah.
...----------------...
__ADS_1