
Tamu undangan sudah mulai berdatangan. Anna dan Adnan sepakat tampil dihadapan tamu setelah sholat zuhur. Kedua keluarga setuju dengan keputusan mereka.
Setelah solat zuhur kedua pengantin berjalan beriringan menuju pelaminan yang sudah ditata dengan cantik dan mewah. tamu undangan sangat antusias melihat pengantin muda yang terlihat cantik dan tampan.
Anna bersyukur memiliki suami dan mertua yang sangat baik. keluarga Anna tidak dapat memperkirakan berapa dana yang dihabiskan Ummi untuk pesta anak dan menantu mereka. mulai dari sewa tempat, hidangan yang disajikan, pelaminan yang tampak mewah dan mereka juga kembali menggunakan baju seragam keluarga yang dibayarkan Ummi.
Selama di pelaminan Adnan selalu memberikan perhatian kepada Anna, menanyakan kondisi Anna, Adnan takut Anna merasa pusing dan kelelahan karena harus sering berdiri menyalami dan berfoto bersama keluarga, tamu terdekat dan teman-teman mereka yang hadir.
Banyak dari tamu undangan yang tidak dikenal Anna, semuanya banyak dari kenalan Abi dan Ummi.
Teman kuliah Adnan datang bersama rombongan, semuanya laki-laki. membuat Adnan bingung harus menempatkan Anna dimana. Adnan tidak mau ada laki-laki lain yang berfoto di samping Anna. Adnan meminta Ibu ikut berfoto dan berdiri di samping Anna.
semua teman Adnan memuji kesetiaan Adnan. Adnan juga nampak sangat menjaga Anna, teman Adnan tahu selama ini Adnan sudah memiliki pujaan hati. setelah puas berfoto mereka pamit untuk pulang. Adnan tidak mengizinkan Anna bersalaman dengan semua tamu laki-laki, begitu juga dengan Adnan yang tidak mau bersalaman dengan tamu perempuan.
"Kak, ada Ustad Faiz sama keluarganya trus ada Aini juga."
Adnan mengenal Ustad Faiz dan keluarganya tapi tidak dengan Aini.
"Siapa Aini?"
"Dia sahabat Anna saat di pondok. kenapa mereka bisa datang bersamaan ya?"
"Kakak tidak tahu, nanti saat salaman Anna tanya saja."
"Anna boleh ke meja mereka kak?"
"Jangan, gak enak sama tamu yang mau bersalaman, biarkan mereka yang menemui kita."
Anna mengangguk.
"Bang Iqbal sama Lasmi mana kak? udah hampir jam tiga tapi mereka belum datang."
"Tadi Kakak lihat Iqbal dan Lasmi, sepertinya mereka yang sedang duduk membelakangi kita, mereka sedang ngobrol dengan manajer Abi."
"Yang mana orangnya?"
"Itu yang pakai baju batik warna merah hati lengan pendek. Iqbal duduk didepannya pakai baju couple abu-abu sama Lasmi."
"Oh jadi itu mereka. tapi kenapa gak menghadap kita, tega betul."
Adnan mencium pipi Anna.
"Jangan sedih, mungkin mereka sedang bicara serius."
"Gak sabaran bangat nih pengantinnya, didepan tamu masih sempat ciuman."
Ustad Faiz dan Aini sudah berada di samping Adnan yang duduk bersama Anna.
Anna merasa malu karena ulah suaminya dilihat Ustad Faiz. mereka berdiri.
Aini langsung menghampiri Anna dan memeluk Anna. Ustad Faiz dan Adnan memberikan peluang untuk pasangan mereka melepas rindu.
"Kenapa bisa sama Ustad Faiz?" tanya Anna.
"Kami sudah menikah dua minggu lalu." Jawab Aini.
Anna bahagia mendengar sahabat terbaik nya yang sudah lebih dulu menikah darinya.
"Selamat ya, kok gak ngundang?"
"Kami cuma akad dan doa syukuran."
"Trus sekarang kamu tinggal dimana?"
"Tinggal di pondok, kami tinggal di perumahan yang berada dilingkungan pondok."
"Kenapa gak serumah dengan Ummi Zahra?"
"Kata Ustad Faiz biar bisa mandiri dan gak ada yang ganggu."
"Gak ada yang ganggu, maksudnya?"
"Nailah suka gedor-gedor pintu kamar kami, jadi gak fokus ibadah batin."
Anna dan Aini tertawa dengan menutup mulut mereka agar suara mereka tidak terdengar.
"Jadi kamu sudah dikasih nafkah batin?" tanya Anna.
"Udah, selesai akad malamnya langsung tancap."
__ADS_1
Jawaban Aini membuat Anna semakin sulit menahan tawanya. Adnan memeluk Anna agar Anna bisa mengontrol diri, menahan kepala Anna agar tersandar di dadanya.
"Bahas apa sih dek? ketawa sampai pegang perut."
"Maaf kak, tapi Anna gak papa kok."
Adnan kembali melepas pelukannya.
"So sweet, Ustad pengen kayak mereka." ucap Aini manja.
Ustad Faiz meraih tangan istrinya dan memberikan pelukan seperi yang diminta Aini.
"Kalian harus cepat nyusul kami, jangan cuma tampil mesra. kami baru menikah dua minggu Alhamdulillah sudah diberi amanah." ucap Ustad Faiz sambil mengusap perut istrinya.
Anna dan Adnan sama-sama terkejut dengan berita yang disampaikan ustad Faiz.
"Wah selamat ya Aini. jaga baik-baik, semoga kami juga secepatnya diberi amanah." ucap Anna ikut mengusap perut sahabatnya yang sudah tidak diusap Ustad Faiz.
Adnan bahagia mendengar ucapan Anna, ternyata Anna sudah menyiapkan diri untuk menjadi istri dan ibu muda. awalnya Adnan takut jika Anna belum siap menjadi ibu. mendengar Anna berkata seperti itu membuat Adnan tidak ragu lagi untuk menanamkan bibit unggul nya di rahim Anna.
Mereka bersalaman dan foto bersama. Ummi Zahra juga menyusul bersama Abi Yahya dan Nailah, Abi Zakaria dan Ummi Salma ikut kembali ke pelaminan untuk melakukan foto bersama.
***
"Jadi pemilik PT tempat kita bekerja adalah Adnan?" tanya Iqbal kepada manajer yang ia temui di pesta bersama Lasmi.
"Iya, dua tahun lalu Abi Zakaria sudah memberikan pengumuman kepada semua manajer dan kepala Divisi, jika Adnan yang akan meneruskan kepemimpinan. tapi sekarang Adnan masih sibuk kuliah, karena itu Abi masih menghandle PT."
"Pantas saja Adnan tidak pernah mau menerima uang dari ku." Ucapan Iqbal membuat manajer tertawa.
"Kamu ini aneh, masa kamu teman akrabnya tidak tahu. Bahkan kemaren kamu dimintakan izin cuti untuk menemaninya menjelang pernikahannya. kamu kira karyawan biasa bisa izin cuti dadakan seperti itu?"
"Jadi kemaren saat saya izin bapak sudah tahu?"
"Sudah, Abi yang menelpon saya, tanpa kamu beritahu pun saya akan tetap keluarkan surat izin cuti kamu."
Iqbal mengusap wajahnya karena merasa dibodohi oleh keadaan. Iqbal ingin membalas kebaikan Adnan karena selama sekolah Iqbal telah banyak menghabiskan uang Adnan. Sepertinya Adnan mengetahui niatnya karena itu Adnan selalu menolak pemberian yang Iqbal tawarkan. Iqbal ingat Adnan pernah menyampaikan. "Kamu cukup menjadi sahabat terbaik ku."
Sekarang Iqbal paham maksud ucapan Adnan. Adnan tidak membutuhkan materi, Adnan hanya membutuhkan kesetiaan dari seorang teman.
"Baiklah Adnan, aku akan selamanya menjadi teman baik mu. terimakasih sudah mau berteman dengan Ku manusia yang tak berpunya ini. walaupun mungkin selama hidup aku akan terus menggunakan uang dari mu." batin Iqbal.
"Sekarang Anna pasti sudah tahu." jawab Iqbal.
Mereka melihat ke pelaminan, Adnan dan Anna sudah tidak di pelaminan, karena mereka sudah pergi mengganti pakaian.
***
Kakek yang masih mengenali para petinggi PT tempatnya bekerja juga terkejut dengan berita yang didengarnya dari petinggi PT yang hadir di resepsi cucunya.
Bahkan para petinggi PT terlihat menyegani Kakek karena mereka mengetahui hubungan dekat antara kakek dan pemilik PT.
"Ya Allah, kok bisa cucu kita dapat orang sehebat mereka." ucap Nenek yang dari tadi ikut menemani Kakek menemani para petinggi PT. makan.
"Entah la, semua sudah ditakdirkan. Kakek bersyukur anak perempuan kita memiliki suami yang baik dan sekarang cucu perempuan kita juga Alhamdulillah memiliki suami dan keluarga yang baik." jawab Kakek yang hampir meneteskan air matanya.
Kakek mengingat bagaimana hubungannya bersama Abi yang selama ini memang diperlukannya sebagai teman baik walaupun Abi lebih tua. Kakek tidak menyangka bisa menemukan orang sebaik Abi dan tidak sombong padahal Abi tahu jika Kakek adalah karyawannya.
Kakek sempat mempertanyakan uang pesangon yang ia terima kepada Bendahara PT. karena menurut Kakek uang yang ia dapat sangat banyak tidak seperti orang yang lebih dulu pensiun darinya. tapi Bendahara PT. tidak mau memberi penjelasan.
"Ini sudah rezeki bapak, terima saja dan tanda tangani."
hanya itu yang dijawab Bendahara PT. saat Kakek mempertanyakan nya.
Sekarang kakek tahu, pasti uang itu sengaja dilebihkan Abi untuknya.
***
Adnan dan Anna sudah kembali ke pelaminan, Iqbal dan Lasmi menghampiri mereka.
"Selamat bro atas pernikahan kalian."
"Terimakasih, buruan nyusul. jangan pacaran lama-lama, langsung halalkan aja."
"Aku sih mau, tapi Lasmi mau kuliah dulu."
"Pepet aja terus, sampai dia gak bisa nolak."
"Maksudnya, bukak segel duluan?"
__ADS_1
"Idih otak nya ngeres. kelamaan pacaran gak baik. mending langsung lamar, nikahi. kasih hantaran yang banyak, kalau kamu berhasil menikahi Lasmi dalam tiga bulan ke depan, aku akan kasih hadiah."
"Hadiahnya apa?."
"Cek 100 juta. sanggup gak? waktunya cuma tiga bulan. kalau lewat nominalnya akan dikurangi."
"Cius 100 juta?"
"Iya, jangan lama-lama nabung dosa, nikah aja duluan. kalau Lasmi mau tetap lanjut kuliah kasih izin aja."
Iqbal tampak semangat dengan tawaran yang Adnan berikan.
"Oke minggu depan aku akan langsung datangi orang tua Lasmi. doakan semoga aku sukses dan bisa menikahi Lasmi."
"Sip. aku akan doa kan. kabari jika berhasil."
"Aman Bos." ucap Iqbal yang langsung memeluk Adnan.
"Kok panggil Bos?"
"Maaf aku baru tahu ternyata gaji yang aku terima uangnya dari kamu. dasar teman ajaib, bikin aku malu saja. kalau aku tahu kamu Bos mana berani menawarkan diri mentraktir mu."
Adnan tertawa mendengar penjelasan Iqbal. mereka melepas pelukannya.
"Jangan panggil Bos gak enak, kita seumuran dan juga sahabat. kerja yang baik, kami hanya mempekerjakan karyawan yang loyal, rajin dan jika hak mu tidak sesuai sampaikan kepada kami, agar kami tidak memakan keringat karyawan."
Iqbal tertegun mendengar jawaban Adnan.
"Kamu benar-benar Bos yang baik. pantas selama ini kamu tidak pernah terlihat kekurangan uang. tidak pernah mau menerima uang yang aku pinjam, bayarannya selalu menginap di rumah mu."
Adnan dan Iqbal tertawa bersamaan. disaat yang bersamaan Lasmi dan Anna juga saling mengobrol.
"Anna kamu beruntung sekali memiliki suami yang kaya raya."
"Alhamdulillah, aku juga baru tahu tadi malam tentang pekerjaan kak Adnan."
"Tadi malam selain pembicaraan ada aksi lain gak?"
"Kasih tau gak ya? hehe." Anna tidak memberi jawaban atas pertanyaan Lasmi.
"Gak seru, bagi pengalaman dong."
"Males, mau pengalaman langsung nikah aja sama bang Iqbal. kasian bang Iqbal lo, masa ke kota cuma untuk jumpa pacar. udah capek perjalanan jauh bukannya dapat ibadah malah dapat dosa karena belum halal."
"Aku mau kuliah dulu."
"Aku juga rencananya mau kuliah, apa salahnya kuliah dengan status istri."
Lasmi memikirkan ucapan Anna, ada keinginan untuk Lasmi segera menyusul Anna. tapi Lasmi malu menyampaikannya pada Iqbal, takut dibilang plin-plan.
"Terserah bang Iqbal aja deh, kalau bang Iqbal mau ajak nikah aku gak akan nolak lagi. lagian tempat kerja bang Iqbal juga inshaallah aman, karena Bos nya sahabat sendiri."
Anna kaget mendengar jawaban Lasmi.
"Jadi bang Iqbal kerja dan tinggal di perumahan PT. milik Abi?"
"Iya, kami baru tahu tadi saat ketemu manajer pabrik tempat bang Iqbal kerja."
"Syukurlah, nantik kita bisa saling bertemu jika kalian sudah menikah."
Lasmi dan Anna saling berpelukan. mereka juga melakukan foto bersama.
***
Jam lima lewat sepuluh menit, sore itu keluarga Anna pamit pulang ke kampung. mereka juga ingin mempersiapkan acara syukuran atas pernikahan Anna. mereka tahu Adnan tidak bisa izin lama untuk kuliahnya.
"Adnan kalian datangnya tidak usah terlalu pagi, acara syukuran nya kami buat besok malam. jadi kalian bisa santai berangkat dari sini." ucap Ibu saat bicara bersama Adnan.
"Baiklah Bu, Inshaallah kami akan berangkat siang." jawab Adnan.
Mereka bersalaman, Ibu memeluk Anna, begitu juga dengan Nenek dan Tante Lusi. Kakek dan paman memeluk Adnan.
Mereka kerumah Ummi Inah dan Bunda Yani dulu untuk mengambil pakaian yang sudah menjadi tempat tinggal mereka satu minggu ini.
...----------------...
terimakasih sudah memberi like dan komen yang mendukung, membuat author lancar menulis dan tetap semangat.
untuk view sesuai imajinasi masing-masing pembaca aja , 😊
__ADS_1