
Seperti biasanya saat disekolah Adnan akan bersama Anna, jam istirahat kali ini Adnan mengajak Anna ke perpustakaan, Mereka hanya membawa satu botol minuman dingin karena tadi pagi mereka sudah sarapan di kantin.
Anto terus mengawasi mereka saat di kantin, menatap Adnan dan Anna secara bergantian, Anna ingin memberitahu Adnan tentang Anto yang selalu menatap mereka, tapi Anna takut itu hanya perasaannya saja.
Anna merasa nyaman berada di perpustakaan, walaupun Anna belum menemukan bacaan yang ia sukai, setidaknya selama Adnan berada disampingnya bisa membuat Anna nyaman.
Adnan membuka botol minuman dan memberikannya kepada Anna.
"Anna gak haus kak," ucap Anna.
"Oh, gak papa kalau kakak minum duluan?" tanya Adnan.
"gak papa, minum aja." ucap Anna tanpa banyak berfikir.
Adnan meminum minuman itu, melihat Adnan minum Anna menjadi haus, Adnan dapat melihat mata Anna yang tertarik untuk minum.
Adnan kembali menyodorkan botol minum itu kepada Anna.
tanpa malu Anna meraih botol itu dan meminumnya.
"Katanya gak haus," ucap Adnan berbisik menggoda Anna dengan suara kecil agar tidak mengganggu pengunjung yang lain, saat ini pengunjung pustaka agak sepi hanya ada beberapa orang yang duduk di kursi baca dan mereka juga duduk berjauhan dari Adnan dan Anna.
Anna tersenyum mendengar ucapan Adnan dan meletakkan botol minuman itu diantara mereka.
"Hausnya datang setelah liat kak Adnan minum." ucap Anna berbisik membalas ucapan Adnan.
Adnan tertawa mendengar bisikan dari Anna.
"Anna gak jijik minum dari bekas kakak?" tanya Adnan masih berbisik.
"Gak, kemaren kakak juga minum bekas Anna." ucap Anna yang membalas bisikan Adnan.
Adnan tertawa mendengar jawaban Anna tanpa mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Kenapa kemaren pergi setelah lihat kakak minum?" tanya Adnan yang masih berbisik.
Anna yang reflek ingin menjawab pertanyaan Adnan dengan cepat, tiba-tiba tidak bisa menahan tubuhnya, membuat hidung dan bibir Anna menempel sempurna di pipi Adnan, kejadian itu membuat tubuh Adnan menegang dan merasakan sensasi luar biasa pada pipinya yang berisi itu.
Bagai mendapat durian runtuh, Adnan yang selama ini berusaha menahan diri agar tidak menyentuh Anna tanpa aba-aba dan rencana mendapatkan ciuman lembut dari bibir Anna.
Anna dengan cepat merubah posisi duduknya, Anna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Anna sangat malu, Anna berharap tidak ada yang melihat kejadian itu, setelah lama menutup wajahnya Anna menurunkan tangannya, apalagi bel tanda masuk sudah berbunyi.
Selama Anna menutup wajahnya Adnan tidak berani bersuara, karena Adnan yakin suaranya akan bergetar jika dipaksakan untuk berbicara, dan itu akan membuat dirinya malu, Adnan berusaha menormalkan jantungnya yang memompa dengan cepat.
Setelah mendengar bel berbunyi Adnan mengajak Anna untuk segera meninggalkan perpustakaan.
Anna berjalan duluan, meninggalkan Adnan yang berjalan dibelakangnya, Adnan paham Anna malu saat ini karena mungkin inilah pertama kalinya Anna mencium laki-laki, Adnan tahu Anna tidak sengaja melakukannya, tapi Adnan bersyukur dia menjadi laki-laki pertama yang mendapat ciuman dari Anna, Adnan berjalan dengan senyum yang menawan tanpa menghiraukan orang yang menatapnya dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Mutia.
Mutia merasa kesal karena Adnan dan Anna semakin lengket, bahkan Adnan sengaja datang ke kelas Anna hanya untuk mengajak Anna ke kantin saat jam istirahat dan saat jam makan siang.
Mutia tidak berani berkata kasar lagi pada Anna semenjak dia tau Anna adalah anak angkat dari pemilik yayasan yang ia tempati sekarang. Mutia hampir putus asa untuk memisahkan Anna dan Adnan.
"Anna" Adnan memanggil Anna agar Anna menghentikan langkahnya.
"Terimakasih" ucap Adnan sambil tersenyum melihat Anna.
Wajah Anna langsung merah merona menahan malu, Anna berlari menuju kelasnya, meninggalkan Adnan yang masih tersenyum melihat Anna lari meninggalkannya.
***
Mutia tidak bisa fokus belajar, Mutia izin pada guru untuk ke toilet, Mutia pergi ke kantin, Mutia memesan jus dan duduk di sana.
"Tumben disini saat jam belajar." ucap Anto sambil menyerahkan jus Mutia.
"Lagi kesal, mau nyegerin otak dulu." ucap Mutia.
"Kamu tinggal di asrama kan?" ucap Anto.
__ADS_1
"ya, kenapa?" tanya Mutia.
"Apa kamu mengenal Anna?" tanya Anto.
"Tentu saja kenal, dia wanita yang banyak kejutan." ucap Mutia.
"Kejutan, apa itu?" tanya Anto penasaran.
"Awal masuk asrama dia sudah begitu dekat dengan pengurus, dia berhasil meluluhkan hati Adnan laki-laki yang selama ini tidak pernah pacaran disekolah dan hanya fokus dengan prestasi, terakhir aku baru tahu ternyata Anna adalah anak angkat dari pemilik yayasan asrama kami." ucap Mutia dengan menghela nafas panjang.
"Wah, ternyata kamu sangat mengenal Anna, dan yang kamu katakan semua seperti penggemar yang secara diam-diam mengagumi idolanya, apa dia tidak memiliki kelemahan?" tanya Anto.
"Aku bukan penggemar Anna, bagaimana pun aku adalah kakak kelas bagi Anna, aku tidak ingin membuat dia menilai ku sebagai kakak kelas yang jahat, apalagi kami tinggal di asrama." ucap Mutia.
"Aku tahu kamu menyukai Adnan, apa kamu tidak mau bersaing dengan Anna?" tanya Anto.
"Aku tidak berkeinginan untuk bersaing dengannya, aku hanya ingin Adnan bisa melihat dan memperhatikan ku dengan perasaannya, tapi itu tidak akan pernah terjadi, Adnan memiliki hati dan pilihan sendiri, aku tidak bisa memaksa." ucap Mutia merasa tidak ada harapan untuk terus bertahan dengan perasaan yang dimilikinya untuk Adnan.
"Apa kamu menyerah?"
"Ya, aku harus ikhlas, aku harus fokus untuk ujian kelulusan ku, aku masih punya cita-cita yang harus ku gapai." ucap Mutia yang sudah menghabiskan minumannya.
"Ini uang nya, terimakasih telah menemani ku." ucap Mutia pada Anto.
Mutia segera ke kelas untuk belajar kembali.
Anto tampak puas dengan informasi yang ia dapat dari Mutia.
*** jadi kamu memiliki orang tua angkat yang kaya Anna, wajar saja kamu menolak ku, tapi aku juga tidak akan izinkan laki-laki itu mendekati mu*** ucap Anto yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Anto sadar, dirinya memiliki pekerjaan tetap berkat izin dari pemilik yayasan yang kenal baik dengan Pak Yayat, Pak Yayat merupakan paman dari Yanto dan Anto, berkat pekerjaan tetap yang mereka jalani saat ini mereka bisa keluar dari kesulitan ekonomi bahkan mereka sudah bisa membangun rumah dikampung dengan pekerjaan mereka sebagai penjual di kantin Sekolah.
Selama ini Anto selalu berhasil mendapatkan wanita yang menjadi incarannya, walaupun hubungan mereka hanya bertahan beberapa minggu, ada kepuasan tersendiri bagi Anto jika perempuan yang dia inginkan menerima dirinya untuk menjadi pacar walaupun hanya bertahan dalam hitungan hari.
__ADS_1
Yanto yang mengenal adiknya dan mengetahui Anna adalah targetnya saat ini, Anna perempuan yang baik dan ramah, Yanto tidak menginginkan Anto menjadikan Anna sebagai target koleksi Anto, walaupun selama pacaran Anto tidak pernah melakukan hubungan yang dapat merusak fisik pacarnya, Anto hanya akan mengajak pasangannya untuk berfoto dan Anto akan mencetak foto-foto itu dan ditempel didinding kamarnya, itu sudah membuat Anto puas dan Anto seperti kecanduan untuk melakukan hal itu, padahal usia Anto sudah seharusnya untuk menikah.
...----------------...