
"Kakak siapkan dengar cerita Anna?" tanya Anna saat mereka masih menggunakan seragam sekolah setelah pulang sekolah dan baru selesai sholat ashar.
Anna duduk di tempat duduk panjang yang dibuat permanen dari semen di samping mesjid.
"Siap Tuan putri." jawab Adnan membungkukkan badannya seperti memberi hormat pada Putri raja.
Anna tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Adnan.
"Jangan kek gitu, Anna gak bisa mulai cerita kalau kakak gak serius." ucap Anna merengek.
"Mau carita apa sih? bikin kakak penasaran aja." ucap Adnan yang masih berdiri didepan Anna.
"Kakak duduk disini!" ucap Anna menepuk tangannya sebelah kanan ke tempat duduk.
Adnan mengikut dan duduk disebelah kanan Anna.
"Kalau Anna cerita, jangan kasih tanggapan pakai emosi ya." ucap Anna memberi syarat.
Ucapan Anna membuat Adnan menebak-nebak apa yang ingin disampaikan Anna.
"Iya, janji." ucap Adnan tidak mau terlalu lama Anna untuk memulai ceritanya.
Setelah Adnan berjanji Anna memulai ceritanya.
"Kemaren waktu Anna mau pulang ke asrama dari kampung, Abi ditelpon anaknya. kata Ummi Anak mereka saat ini di Bandung, usianya delapan belas tahun, namanya Febrian. Ummi mau memperkenalkan Anna sama abang Febrian. Tapi Anna gak mau. Anna jadi takut kalau terlalu dekat dengan Ummi dan Abi. takut hutang budi dan..." Anna tidak melanjutkan ceritanya.
"Dan, Takut dijodohkan dengan anak mereka?" jawab Adnan menyambung cerita Anna.
Anna mengangguk.
Adnan tertawa melihat Anna menganggukkan kepalanya.
"Kakak kenapa tertawa?" tanya Anna yang heran melihat Adnan tidak merasa takut kehilangannya.
Adnan sadar Anna tidak mengetahui Ummi telah membohonginya. orang yang dimaksud Ummi adalah dirinya Sendiri.
"Maaf, kalau untuk perjodohan sepertinya tidak mungkin. karena mereka sudah tahu hubungan kita. tidak mungkin mereka menjodohkan Anna dengan Febrian." jawab Adnan tidak ingin Anna menjauhi Ummi dan Abi nya karena masalah ini.
"Kalau.." Ucapan Anna terpotong.
"Nanti Kakak akan minta nomor Hp pemilik yayasan dari Bunda Yani. kakak akan bilang sama mereka agar tidak memperkenalkan Anna pada anaknya dan menyampaikan kepada mereka, bahwa Anna hanya milik Adnan." Ucap Adnan tidak ingin Anna khawatir lagi untuk hubungan mereka.
Anna tersenyum mendengar jawaban Adnan.
"Oke kak, lanjut cerita kedua. tadi pagi setelah apel pagi Anna dipanggil pak Arip keruangan nya." Ucap Anna mengambil nafas, takut jika poin kedua membuat Adnan emosi.
Adnan hanya diam dan menunggu Anna melanjutkan ucapannya.
"Pak Arip menawarkan diri untuk mengantar Anna pulang kampung dan menyimpan nomor Hp Anna." ucap Anna sambil memperhatikan wajah Adnan.
"Trus jawaban Anna apa?" tanya Adnan.
"Anna gak jawab. takut jawaban Anna membuat pak Arip marah, seperti Anto yang tidak terima jawaban Anna." jawab Anna.
Adnan paham, Anna masih trauma terhadap perlakuan Anto padanya.
"Besok biar kakak yang bicara dengan Pak Arip. Anna pulang dengan pemilik yayasan saja. jika mereka tidak bisa mengantar, Anna gak usah pulang." jawab Adnan yang tidak rela pak Arip mengantar Anna pulang kampung.
Anna mengangguk paham dan bersyukur Adnan menanggapi ceritanya dengan kepala dingin.
"Trus yang terakhir, Anna mau bilang makasih untuk kado kemaren." ucap Anna terlihat bahagia.
"Suka dengan kadonya?" tanya Adnan.
__ADS_1
"Suka, udah Anna gunakan." jawab Anna.
"Mana? coba lihat." ucap Adnan.
Anna membuka tasnya dan mengambil kado yang diberikan Adnan dan memberikan ke tangan Adnan.
Adnan melihat kado yang diberikannya sudah digunakan Anna, Anna menyimpan kartu pelajar dan kartu ATM di dompet imut yang dibelikan Adnan.
Adnan teringat untuk memberikan Anna uang jajan setiap senin. Adnan mengambil dompet didalam tasnya. memasukkan uang dua ratus ribu kedalam dompet Anna.
"Kak Adnan?" ucap Anna heran Adnan masih memasukkan uang kedalam dompetnya.
"Maaf kakak lupa, kemaren kakak udah janji mau kasih uang jajan setiap hari senen." jawab Adnan dan menyerahkan kembali dompet itu kepada Anna.
"Tadi pagi kakak kemana?" tanya Anna yang baru ingat mereka tidak bertemu tadi pagi.
"Kakak bangun kesiangan. gara-gara kemaren sore dapat ciuman dadakan dari calon istri." jawab Adnan mengingatkan ulah Anna yang membuatnya susah tidur dan bangun kesiangan.
Anna tersenyum mendengar jawaban Adnan.
"Jangan pernah cium yang lain ya." ucap Adnan mengingatkan Anna.
Anna tertawa mendengar ucapan Adnan.
"Itu hadiah karena kakak terlalu baik." jawab Anna.
"Kalau ada yang lain berbuat baik, apa akan dapat hadiah ciuman juga?" tanya Adnan.
"Gak. Itu hadiah cuma untuk calon suami." jawab Anna malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Adnan tertawa melihat Anna yang menutup wajahnya.
"Jadi gak sabar pengen cepat lulus dan cepat selesai kuliah." jawab Adnan masih menggoda Anna.
Anna membuka tangan yang menutup wajahnya. terlihat wajah putih Anna merona karena malu dan bahagia.
"Sebentar, ada yang mau kakak tanyakan." ucap Adnan menahan tas ransel Anna karena Anna sudah melangkah untuk pergi.
Anna memutar badannya dan menghadap Adnan yang masih duduk.
"Apa tanggapan Ibu tentang kakak?" tanya Adnan.
"Ibu sama nenek cuma diam gak kasih respon." jawab Anna.
"Maaf, kemaren Hp kakak dipegang bang Doni, bang Doni yang miskol nomor Anna. katanya gak sengaja terpencet." jawab Adnan.
"Oh. Anna bersyukur kakak cuma miskol." jawab Anna.
"Apa kakak terlalu menganggu jika menelpon Anna?" tanya Adnan.
"Kalau Anna dikampung Anna takut angkat telpon dari kakak atau yang lainnya." jawab Anna.
"Kalau Anna di asrama?" tanya Adnan.
"Untuk apa nelpon, kita sering jumpa." jawab Anna.
"Kalau kakak lulus dan gak sekolah disini lagi. boleh nelpon Anna?" tanya Adnan.
"Boleh." jawab Anna.
"Kakak mau kuliah dimana setelah lulus?" tanya Anna.
"Dulu pengennya ke inggris tepatnya di London. tapi karena kejadian Anna yang dirawat kemaren membuat kakak ragu untuk kuliah jauh. kakak juga teringat Ummi dan Abi yang sudah berumur, takut terjadi apa-apa dengan mereka sementara kakak jauh dari mereka." jawab Adnan masih belum bisa menetapkan pilihannya.
__ADS_1
Anna merasa terharu Adnan begitu memikirkan dirinya dan kedua orang tuanya.
"Anna juga sempat ragu untuk sekolah disini. karena Anna lihat wajah Ibu sedih saat mengetahui Anna lulus. tapi Ibu akhirnya tetap mendukung Anna dan mengantar Anna kesekolah." jawab Anna menceritakan perpisahan nya dengan ibunya yang hanya berjarak tiga jam perjalanan.
"Menurut Anna kakak harus bagaimana?" tanya Adnan ingin mendengar pendapat Anna.
"Tanya sama Ummi dan Abi kakak, jika mereka ikhlas melepas kakak kuliah jauh. Anna ikut mendukung." jawab Anna tidak ingin pendapatnya diprioritaskan Adnan.
"Jika kakak kuliah dimana pun, apa Anna akan siap menunggu kakak?" tanya Adnan lebih mendalam untuk hubungan mereka.
"Insyaallah Anna akan tunggu." jawab Anna walaupun hatinya terasa sedih membayangkan perpisahan nantinya bersama Adnan.
"Terimakasih, Kakak juga akan berusaha cepat menyelesaikan kuliah agar kita tidak terpisah lagi." jawab Adnan tersenyum melihat Anna.
"Besok jangan tunggu kakak untuk sarapan, makan atau yang lainnya. karena kakak banyak kegiatan yang tidak terduga." ucap Adnan mengingatkan Anna.
"Iya kak." jawab Anna dengan suara pelan dan hampir menangis karena hari ini Anna sudah merasakan Adnan tidak bisa bersamanya lagi seperti dua minggu lalu.
Anna menundukkan wajahnya Agar Adnan tidak melihat air matanya yang menggenang.
Adnan berdiri dari duduknya. Adnan mengusap kepala Anna sebentar.
"Pulanglah, Sudah hampir jam lima." ucap Adnan yang sebenarnya juga berlinang air mata.
Anna mengangguk dan memutar badannya, berjalan pelan dan meninggalkan Adnan tanpa menoleh lagi kebelakang.
Adnan melihat gerakan tangan Anna yang mengusap air matanya.
"Semoga kita berjodoh dan tetap bahagia dengan hubungan jarak jauh nantinya." batin Adnan yang terus melihat Anna berjalan hingga Anna memasuki asramanya.
***
" Ummi besok jangan bahas Febrian lagi saat bersama Anna." ucap Adnan saat mereka duduk bertiga diruang keluarga setelah sholat isya.
"Ummi gak sengaja menciptakan Febrian, habisnya kamu nelpon Abi saat kami bersama Anna." jawab Ummi tidak mau disalahkan.
"Iya Adnan juga minta maaf, gara-gara Adnan Ummi harus mengarang cerita." jawab Adnan tidak menyalahkan Ummi sepenuhnya.
"Apa yang dikatakan Anna pada mu tentang Febrian?" tanya Ummi penasaran.
"Anna mau menjaga jarak dari Ummi dan Abi, Anna takut Ummi dan Abi menjodohkannya bersama Febrian." jawab Adnan.
"Aduh, gak bisa gitu. Abi gak mau jaga jarak dengan Anna, dia kan anak perempuan Abi satu-satunya." jawab Abi tidak mau kehilangan Anna.
"Iya, makanya besok jangan bahas Febrian lagi sama Anna, apalagi pakai menawarkan untuk memperkenalkan Anna sama Febrian." jawab Adnan membuat Ummi dan Abi nya mengerti.
"Iya, Ummi janji gak akan membalas atau berniat mempertemukan Anna sama febrian lagi." jawab Ummi tidak mau Anna menjauh darinya.
"Adnan kekamar dulu Ummi, Abi." ucap Adnan berdiri dari duduk nya dengan gerakan malas.
"Kemana tenaga dan semangat mu?" tanya Abi yang melihat gerakan malas Adnan.
"Capek Bi, mau rebahan dikamar." ucap Adnan melihat Abi nya.
"Ya sudah, cepat istirahat." ucap Abi tidak mau menahan Adnan.
Adnan berjalan dengan lesu menuju kamarnya. Adnan masih memikirkan jawaban Anna yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan Adnan kepada kedua orang tua nya. padahal Adnan berharap Anna menahannya untuk tidak pergi jauh.
...----------------...
Jangan lupa Like 👍🏼
Tambahkan sebagai bacaan favorit ♥️
__ADS_1
Komen
selamat membaca semoga suka.