Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Tawaran untuk Jeni


__ADS_3

Setelah meninggalkan ruangan Kepala Sekolah Adnan menemani Anna ke kelas untuk mengambil tas. sudah tidak ada orang dikelas. Adnan yang masih penasaran dengan apa yang dibicarakan Anna diruang kepala sekolah, mengajak Anna untuk duduk di kelas itu.


"Kenapa Anna bisa dipanggil kepala Sekolah?" tanya Adnan.


"Pak Zamzami ingin ketemu Anna. dulu kami pernah bertemu saat paman Anna membeli mobil pak Zamzami. ternyata pak Zamzami berteman dengan Pak Darusman, makanya Anna disuruh kekantor Kepsek." jawab Anna.


"Trus tadi bicara apa saja?" tanya Adnan.


"Bapak itu memperkenalkan Anna dan pak Arip. ternyata Pak Arip itu keponakannya. trus katanya kalau Anna pulang kampung bisa pulang dengan pak Arip." jelas Anna.


Adnan teringat pak Arip selalu menggunakan motor kesekolah. terbayang olehnya jika Anna dibonceng oleh pak Arip jika Anna ikut pulang ke kampung dengannya.


"Trus Anna mau pulang kerumah sama pak Arip?" Tanya Adnan.


"Gak lah, mana berani pulang kampung dibonceng Laki-laki, walaupun pak Arip yang ngantar." jawab Anna jujur.


Adnan tersenyum mendengar jawaban Anna.


"Kalau kakak yang ngantar mau?" tanya Adnan.


"Kak Adnan kan laki-laki juga. Anna udah janji mau pulang kampung sama pemilik yayasan asrama, sabtu ini insyaallah Anna akan pulang." jawab Anna.


Adnan tampak kecewa, karena Anna masih belum berniat memperkenalkan nya pada keluarga dikampung.


"Kak, jangan marah ya, kakak kan tau alasan Anna. gak mungkin Anna ngajak kak Adnan kerumah." ucap Anna memohon pengertian Adnan.


Adnan tersenyum melihat tingkah manja Anna.


"Iya kakak gak marah, tapi besok angkat telpon kakak ya, kakak mau lihat keluarga Anna." ucap Adnan.


Anna tampak berfikir. " Gak bisa kak, soalnya kalau lagi ngumpul sama keluarga Anna gak enak kalau pegang Hp. apalagi Ibu suka periksa Hp Anna, jadi jangan telpon Anna ya. nantik Anna akan kasih kabar kakak kalau Anna udah sampai rumah atau udah kembali ke asrama, maaf ya." ucap Anna sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


"Ya deh, ayok pulang." ucap Adnan lesu, karena tak satupun keinginannya disetujui Anna.


Dalam perjalanan pulang mereka tidak saling bicara. saat sampai di gang perbatasan sekolah dan asrama, Adnan menghentikan langkahnya dan memegang tas ransel Anna. menahan Anna untuk berdiri ditempat.


"Besok bawa oleh-oleh apa untuk keluarga dikampung?" tanya Adnan membuka pembicaraan.


"Cemilan sama Buah aja." jawab Anna.


"Besok kakak yang beli ya, Anna tunggu di asrama aja, sekalian kakak mau lihat Anna berangkat." ucap Adnan.


"Emang kakak tau buah dan cemilan yang mau Anna beli?" tanya Anna.


"Maunya buah apa?" tanya Adnan.


"Buah melon, cemilannya wafer sama jajanan jelly." jawab Anna.


Adnan mengangguk paham. "kapan kakak boleh kerumah?" tanya Adnan yang tidak sabaran ingin berkunjung.


Anna tersenyum, "kalau udah halal." jawab Anna dengan malu-malu.


Jawaban Anna membuat hati Adnan serasa ditaburi kelopak bunga yang banyak. Adnan tersenyum lebar. jawaban Anna memberinya semangat untuk terus mengisi hati Anna. Adnan yakin sekarang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Oke, sabar ya, Inshaallah setelah kakak selesai kuliah kita akan segera halal." jawab Adnan membuat Anna tersipu malu dan berbunga-bunga.


"Anna pulang kak!" ucap Anna sambil berlari meninggalkan Adnan. Adnan tertawa melihat tingkah Anna yang selalu lari saat mereka dalam suasana bahagia.


***


"Mi, boleh Adnan ikut Ummi dan Abi lihat perkebunan?" tanya Adnan, saat mereka duduk santai setelah sholat isya di Musholla keluarga.


"Jangan dulu, Ummi sama Abi mau kerumah Anna. kalau kamu ikut bisa ketahuan kita." jawab Ummi Salma.


"Ngapain ikut, cuma berangkat satu malam buat kamu capek aja. besok kalau udah libur sekolah baru ikut. sekalian kita memantau perkebunan dan acara makan bersama karyawan seperti biasa." jawab Abi Zakaria.


"Adnan mau lihat tempat tinggal Anna Bi." jawab Adnan jujur.


Kedua orang tua Adnan tersenyum, "kami sudah tahu pasti ini yang kamu inginkan, pakai alasan lihat perkebunan segala." jawab Abi.

__ADS_1


Ummi tertawa mendengar jawaban suaminya.


"Kamu di rumah aja, Anna biar kami yang ngurus." kembali Abi menegaskan.


Adnan mengangguk pasrah. merasa tidak ada lagi yang harus dibahas Adnan pamit kepada kedua orang tuanya untuk segera ke kamar.


kamar Adnan berada dilantai dua. ada dua kamar dilantai itu, hanya satu yang ditempati. satunya untuk anak Laki-laki paman atau untuk teman-teman Adnan jika menginap di rumah Adnan. lantai atas juga dilengkapi dengan ruang santai menonton Tv atau bermain game. dan teras kecil untuk melihat pemandangan. sedangkan kamar Abi dan Ummi berada dilantai bawah berhadapan dengan ruang keluarga dan ruang kerja Abi.


Jeni berada di tangga menunggu Adnan. Jeni tidak memiliki izin dari keluarga Adnan untuk naik kelantai atas, karena itu adalah area Adnan.


"Hai," sapa Jeni saat Adnan menaiki tangga.


"Ada apa?" tanya Adnan, dengan tatapan kurang senang.


"Aku ada tugas sekolah, tolong dong?" ucap Jeni memohon.


"Biasanya kamu ngerjain tugas sendiri, kenapa sekarang minta bantuan ku?" tanya Adnan.


"Pelajarannya tambah sulit." jawab Jeni tidak mau misinya gagal.


"Ya sudah, tunggu aku diruang keluarga, bawa buku tugas mu ke sana." jawab Adnan.


Jeni sedikit kecewa, karena niatnya hanya ingin berdua bersama Adnan dilantai atas gagal.


Jeni terpaksa mengikuti perintah Adnan. Jeni duduk diruang keluarga, saat itu Abi dan Ummi yang dari Mushola ikut duduk diruang itu.


"Jeni, tumben duduk disini?" tanya Ummi.


Jeni tersenyum malu.


"Saya mau minta tolong Adnan untuk mengerjakan tugas sekolah." jawab Jeni dengan santun.


"Oh, trus Adnan nya mana?" tanya Ummi.


"lagi dikamar, katanya akan segera turun." jawab Jeni.


Tidak begitu lama menunggu, Adnan sampai diruang keluarga.


Jeni memperlihatkan tugasnya, tanpa berniat mengajari Jeni. Adnan mencari sendiri jawaban tugas Jeni. Jeni menikmati melihat wajah tampan Adnan, Ummi Salma dapat melihat sikap Jeni yang terkesan ingin mendekati Adnan.


"Wah, bisa gawat kalau dibiarkan." batin Ummi.


"Jeni setelah lulus mau kerja atau kuliah?" tanya Ummi agar Jeni tidak fokus melihat Adnan lagi.


"Rencananya kerja Mi," jawab Jeni melihat Ummi Salma.


"Apa kamu masih betah tinggal dikamar itu Jeni?" tanya Ummi.


"sebenarnya saya rasa kamar itu sudah sangat sempit Mi, bisakah saya pindah kekamar atas Mi?" jawab Jeni tanpa malu meminta kamar khusus untuk dirinya.


"Ummi tidak bisa memberikan kamar itu untuk mu, kalian sudah dewasa dan tidak memiliki hubungan darah.


begini saja, jika kamu setuju. Ummi akan merenovasi rumah mu, jadi kamu bisa tinggal di rumah mu sendiri." jawab Ummi Salma mencoba merayu Jeni agar berkeinginan pindah dari rumahnya.


"Saya akan tanya ibu dan bapak dulu Mi," jawab Jeni tersenyum.


"Baiklah, jika sudah ada jawabannya tolong beri tahu Ummi, agar Ummi bisa segera merenovasi rumah mu." ucap Ummi dengan senyum puas diwajahnya.


"Nih, tugas mu sudah selesai." ucap Adnan sambil menyerahkan buku tugas Jeni.


"Terimakasih." jawab Jeni dengan senyum manisnya.


Adnan berdiri berniat meninggalkan Jeni dan kedua orang tuanya.


"Sebentar Adnan, saya akan buatkan minum untuk mu," ucap Jeni berusaha menahan Adnan.


"Tidak usah, aku punya air dikamar. aku juga mau tidur." jawab Adnan yang sudah melangkahkan kakinya meninggalkan ruang keluarga.


Abi dan Ummi ikut berdiri meninggalkan Jeni.

__ADS_1


***


"Bi, Ummi rasa Jeni suka sama Adnan." ucap Ummi saat keduanya sudah di atas tempat tidur.


"Trus?" tanya Abi.


"Ummi kurang suka dengan Jeni, Ummi hanya ingin Anna yang jadi menantu kita." ucap Ummi.


"Oh, jadi Ummi menawarkan renovasi rumah agar jeni tidak tersinggung dan tidak mengetahui niat Ummi untuk menjauhkan dia dari Adnan?" tanya Abi yang mengetahui kenapa istrinya bisa menawarkan renovasi rumah Jeni.


"Betul, Abi setuju kan dengan rencana Ummi?"


"Abi setuju, apalagi ini demi kebaikan anak dan calon menantu kita." jawab Abi tersenyum dengan ide cemerlang istrinya.


***


Jeni menemui kedua orang tua nya yang sudah berbaring ditempat tidur.


"Pak, Buk, tadi Ummi Salma menawari Jeni untuk merenovasi rumah kita. kita setuju saja ya, Jeni gak mau lagi tinggal dikamar kecil itu." ucap Jeni memohon kepada kedua orang tuanya.


"Kalau rumah kita direnovasi, apa kamu bisa tinggal di sana sendiri?" tanya pak Joko.


"Bapak sama Ibu keluar saja dari pekerjaan ini, lagian Jeni malu pak, kalau teman-teman jeni tahu bapak sama ibu kerja jadi pembantu." jawab Jeni.


"Ya Allah, Jeni. seharusnya kamu bersyukur dengan bekerja bapak sama ibu, kami bisa menyekolahkan mu disekolah kejuruan, kamu belum tentu bisa memiliki pekerjaan yang penghasilannya seperti kami." ucap mbok Iyem yang kecewa dengan anaknya.


"Pokoknya Jeni mau nya rumah kita direnovasi. jika rumahnya sudah selesai, Jeni akan tinggal di rumah itu. terserah bapak sama Ibu mau ikut tinggal atau tetap disini." ucap Jeni dengan nada tinggi.


Jeni meninggalkan kedua orang tuanya.


"Pak bagaimana ini, apa Ummi sama Abi mau menyuruh kita berhenti bekerja?" tanya Mbok Iyem pada suaminya.


"Entah la buk, besok pagi kita tanyakan saja pada Ummi Salma dan Abi Zakaria." jawab pak Joko, menenangkan istrinya.


"Walaupun pekerjaan kita dipandang rendah, setidaknya selama bekerja di rumah ini kita bisa memiliki tabungan, tidak seperti pekerjaan jualan keliling yang dulu kita jalani, badan capek,kadang jualan hanya pulang modal." ucap mbok Iyem mengingat sulitnya kehidupan mereka sebelum bekerja di rumah Adnan.


"Jeni sudah besar. dia pasti bisa jaga diri, lagian rumah kita juga sudah lapuk. tidak mungkin selamanya kita tinggal di rumah ini, kita terima saja tawaran ummi Salma." ucap pak Kasim yang menimbang tawaran dari ummi Salma.


"Baiklah besok pagi kita tanyakan pada ummi Salma." jawab mbok Iyem.


***


"halo bang, apa sudah ada kabar dari tempat servis Hp Anna?" tanya Adnan menelpon bang Didi di kamar nya.


"Oh iya, abang lupa. Hp nya sudah selesai diperbaiki tadi sore abang ambil. Hp nya langsung kasih sama Anna atau gimana ni?" tanya Didi.


"Jangan kasih Anna bang, abang simpan aja dulu, besok pulang sekolah Adnan ambil Hp itu." jawab Adnan.


"Ya deh, tapi besok kesini bawa makanan ya." jawab Didi mengharap kebaikan Adnan.


"Ya bang, mau dibawakan apa?" tanya Adnan.


"Bakso Jumbo dua porsi ya." tawar Didi.


"Aku gak suka bakso bang." jawab Adnan.


"Tau, baksonya untuk abang sama bang Doni. besok kamu ke sini nya sore aja, pulang sekolah mandi, ganti baju. baru kesini." ucap Didi.


"Kita ngumpul? ada acara apa bang?" Tanya Adnan yang penasaran.


"Bang Doni mau tinggal diluar, katanya ngekos di area kampus, besok hanya abang yang jadi satpam disini." Jawab Didi.


"Oh, bang Didi gak ikut kuliah?" tanya Adnan.


"Gak, Abang mau kerja aja," jawab Didi.


"Oke deh bang, Besok aku belikan pesanan Abang." ucap Adnan mengakhiri percakapan mereka.


Adnan bersyukur bang Didi belum memberikan Hp itu pada Anna. sebelum Hp itu diserahkan pada Anna, Adnan ingin melihat galeri Hp Anna. melihat wajah keluarga Anna. Adnan yakin Anna menyimpan foto keluarganya di Hp itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2