Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Ketakutan Anna


__ADS_3

Istirahat siang dimulai dari jam 11.40 sampai 13.00, seperti biasanya Adnan akan mengunjungi kelas Anna dan mengajak Anna untuk menghabiskan waktu istirahat siang bersamanya, waktu sholat zuhur 12.05 mereka memilih sholat dulu baru makan siang.


"Kenapa gak lepas sepatu Dek?" tanya Adnan.


"Lagi gak sholat Kak." ucap Anna malu.


"Oh, tunggu kakak di situ aja." ucap Adnan sambil menunjuk tempat duduk panjang terbuat dari semen dibawah pohon mangga di samping Masjid.


Anna mengangguk dan segera ketempat yang ditunjuk Adnan.


Murid SMA xx memiliki Kesadaran yang tinggi untuk sholat, mereka tidak harus dipaksa dan di awasi oleh guru lagi, sementara untuk sholat Ashar mereka bisa memilih untuk sholat disekolah atau di rumah masing-masing.


Anto dapat melihat Anna dengan jelas, karena letak Masjid tepat berada di sebelah kanan kantin.


Anna melihat kedatangan Ummi Inah dan Bunda Yani, mereka memakai mukenah.


Anna menghampiri mereka.


"Bunda, Ummi." Anna menyapa mereka.


"Anna, kenapa tidak membuka sepatu?" tanya Bunda.


"Anna lagi gak sholat Bunda, Bunda Anna boleh izin ke asrama?" tanya Anna.


"Ada perlu apa ke asrama?" tanya Bunda.


"Anna baru datang bulan belum pakai pembalut, Anna mau izin untuk mengambil pembalut, boleh?" tanya Anna.


"Saat jam sekolah, anak asrama dilarang pulang ke asrama, jika Anna ke sana, artinya Anna melanggar peraturan, Anna beli pembalut di koperasi saja, Anna bisa minta izin menggunakan kamar mandi kak Lara." ucap Bunda memberikan solusi kepada Anna.


"Anna sehat?" tanya Ummi.


"Sehat Ummi." ucap Anna tersenyum.


"Baguslah, biasanya ada yang merasa kesakitan saat menstruasi, Ummi hanya khawatir jika Anna sakit, maaf ya sayang kami tidak bisa memberimu izin ke asrama." ucap Ummi Inah.


"Tidak apa-apa Ummi, Bunda, itu juga untuk kedisiplinan Anna, Anna ke Koperasi dulu Ummi, Bunda." ucap Anna pamit pada keduanya.


"Iya sayang, hati-hati ya." ucap keduanya kompak.


Anna segera pergi ke Koperasi, Adnan yang selesai mengambil wudhu tidak melihat Anna ditempat yang ia tunjuk tadi, saat itu azan sedang dikumandangkan, Adnan memilih memasuki mesjid dan berniat mencari Anna nanti saja setelah selesai sholat.


Anna membeli pembalut di Koperasi yang dijaga oleh kak Lara, Anna meminta izin menggunakan toilet khusus pegawai koperasi yang terletak didalam kamar mereka.


"Untung ****** ******** masih bisa dipakai." ucap Anna saat dikamar mandi.


"Kak, Anna bisa nitip ini dulu gak? nantik setelah pulang sekolah Anna ambil." ucap Anna sambil memperlihatkan pembalut yang iya beli pada Lara.


"Oh, boleh, Anna tinggal diasramakan?" ucap Lara memastikan.


"Iya kak." jawab Anna.


"Nantik ingat untuk mengambilnya ya." ucap Lara mengingatkan Anna sambil menyimpan pembalut itu didalam laci meja.


Anna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Anna ke Mesjid dulu ya kak." ucap Anna pamit.


"Loh kan lagi gak sholat ngapain ke Mesjid?" tanya Lara.


"Nunggu teman kak." jawab Anna sambil tersenyum lebar.


"O" ucap Lara sambil mengangguk paham.


Anna melewati kantin untuk pergi ke Mesjid.


"Anna makan yok?" ucap Lasmi yang duduk di kantin bersama dua orang teman sekelasnya.


Anna mendekati tempat duduk Lasmi tanpa harus masuk ke kantin.


"Kamu gak sholat?" tanya Anna.


"Udah selesai, gak pakai zikir dan doa, udah keburu lapar." ucap Lasmi yang sudah siap untuk menyantap makan siangnya.


"Duluan aja ya, Aku mau ketemu Kak Adnan dulu." jawab Anna sambil meninggalkan Lasmi dan teman-temannya.


***


Adnan yang sudah berdiri diluar mesjid mencari keberadaan Anna, Adnan melihat kedatangan Anna yang setengah berlari kearahnya.


"Dari mana Dek?" tanya Adnan.


Anna hanya senyum tidak menjawab pertanyaan Adnan.


"Udah makan?" tanya Adnan.

__ADS_1


"Belum." ucap Anna.


"Yok makan," ucap Adnan sambil memegang kepala Anna sebentar.


Keduanya berjalan beriringan dengan menjaga jarak yang tidak terlalu jauh, setelah sampai di kantin mereka berpisah karena harus antri menurut jenis kelamin dan makan di barisan kelas masing-masing, seperti biasa, Adnan akan memilih tempat duduk yang bisa melihat wajah Anna saat makan.


Anto yang merencanakan sesuatu merasa puas, karena Adnan mengambil tempat duduk paling pinggir sehingga mudah untuknya melancarkan aksinya. Anto lewat membawa teh es pesanan murid kelas dua belas (XII) yang posisinya tidak jauh dari Adnan.


"Ah, maaf." ucap Anto karena air minum yang ia bawa terjatuh dan membasahi bahu adnan, membuat baju putih seragam Adnan basah.


Adnan menatap Anto, "lain kali hati-hati bang." ucap Adnan.


Adnan sebenarnya kesal, karena ia tidak memiliki baju ganti.


Anna yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan berniat menghampiri Anto, tapi karena Adnan sudah memberi maaf pada Anto, Anna kembali duduk dan melanjutkan makannya, Anna Memperhatikan Anto, Anna merasa Anto sengaja melakukannya.


Adnan memperhatikan Anna yang dari tadi hanya melihat Anto, Adnan merasa cemburu karena Anna begitu memperhatikan Anto.


saat Anna melihat Adnan, Adnan memasang wajah kesal, Adnan segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan kantin.


Anto merasa puas, berhasil menjahili Adnan dan membuat Adnan meninggalkan kantin.


Anto melihat Anna yang masih makan bersama teman satu angkatannya, Anto berjalan mendekati tempat duduk Anna.


"Ada yang mau pesan minuman?" tanya Anto sambil tersenyum melihat Anna.


Anna hanya menggeleng, teman Anna yang duduk disebelah Anna pergi begitu saja, tidak menjawab tawaran Anto, Anto merasa beruntung karena ada celah untuk dirinya bisa duduk disebelah Anna.


Anto segera duduk disebelah Anna.


"Maaf bang Anna mau lewat." ucap Anna.


"Makan saja dulu Anna kenapa harus buru-buru." ucap Anto.


Karena Anto tidak memberi peluang untuk Anna lewat, Anna memutar badannya dengan mengangkat kedua kakinya melewati kursi panjang yang hanya ada satu orang disebelahnya.


Anna berhasil keluar dari duduknya dan berniat meninggalkan Anto yang masih duduk di kursi nya. Suasana kantin sudah mulai sepi hanya ada sekitar 50 orang saat itu.


Anto menahan tangan Anna, membuat Anna terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apa hak mu memegang tangan ku!" ucap Anna menahan kemarahannya.


Anto tertawa mendengar ucapan Anna yang biasanya sopan memanggilnya dengan sebutan Abang, kali ini memanggilnya dengan ucapan kamu. Anto berdiri dari duduknya.


Anna ketakutan, telapak tangannya terasa dingin dan nafasnya berat, Anna berusaha tenang dan ingin melawan Anto, Anna belum pernah mendapat perlakuan kasar dari laki-laki yang pernah dikenalnya, Anna pikir laki-laki seperti Anto akan menerima dan mengerti atas jawaban yang pernah ia sampaikan.


"Lepaskan." ucap Anna dengan nada tinggi.


Ucapan Anna didengar oleh seluruh yang ada di kantin termasuk Yanto dan pak Yayat.


Yanto dan pak Yayat segera ketempat Anna.


"Anto, lepaskan tangan Anna!" ucap Yanto memarahi Adiknya.


Anto malah menarik tangan Anna semakin kuat dan membuat Anna semakin dekat dengannya.


Anna meringis kesakitan.


Yanto meraih bahu Anto dan menariknya, sedangkan pak yayat menahan tangan Anna yang dipegang Anto agar Anna tidak ikut tertarik oleh Anto sehingga pegangan Anto bisa terlepas dari tangan Anna.


Anto melakukan perlawanan dan terjadi perkelahian antara dua orang adik kakak itu, Anna yang sudah terlepas dari cengkraman Anto merasakan sakit dipergelangan tangannya, Anna menangis melihat perkelahian yang terjadi didepan matanya, Anna belum pernah menemukan situasi seperti ini, Anna sangat shock dan terpukul, dunia Anna yang selama ini dilalui dengan aman dan nyaman tiba-tiba harus melihat pertengkaran yang hebat karena dirinya.


Pak Yayat melerai Anto dan Yanto bersama pegawai kantin lainnya.


sedangkan murid yang berada di kantin menjaga jarak dari perkelahian itu, mereka tidak mau terkena imbas, apalagi Anto terlihat sangat marah dan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar Yanto.


Adnan kembali ke kantin untuk menjemput Anna. Adnan kaget dengan situasi yang kacau balau itu, terdapat pecahan piring dilantai dan meja kursi yang tidak beraturan lagi.


Anna masih menangis ada beberapa siswi yang menenangkan Anna, sedangkan Anto sudah ditahan oleh pegawai kantin, Anto terlihat seperti orang kehilangan akal sehat, walaupun wajahnya lebam tapi dia masih tertawa.


Yanto terlihat lebih tenang ditemani pak Yayat dan Istrinya.


"Ada apa ini?" tanya Adnan sambil berlari kearah Anna.


Anna langsung memeluk Adnan dan menangis dengan kuat menumpahkan semua ketakutannya.


Anto yang melihat Adnan memeluk Anna langsung meradang, petugas kantin yang tadinya memegang Anto dibuat terpelanting olehnya.


Anto berlari kearah Adnan dan hendak menghajar Adnan yang sedang memeluk Anna.


"Awas!" pekik murid perempuan yang melihat Anto berlari menuju Adnan.


Murid laki-laki yang melihat Anto menuju Adnan langsung menghadang Anto, sehingga terjadi perkelahian yang sengit.


Anto kembali dilumpuhkan kali ini pak yayat menelpon polisi, pak Yayat tidak ingin Anto menyakiti Adnan yang merupakan anak dari pemilik yayasan dan orang yang telah banyak berjasa membangun dan menyumbang di SMA xx.

__ADS_1


Polisi segera datang dan menangkap Anto.


Kedatangan polisi di SMA xx membuat seluruh warga sekolah heboh, mereka mencari-cari informasi apa yang terjadi, apalagi Polisi mendatangi sekolah mereka dan langsung menuju kantin sekolah.


Semua yang berada di kantin menjadi saksi dan menceritakan kejadian yang terjadi di kantin. sedangkan Anna sudah dibawa Adnan ke ruang UKS untuk mengobati pergelangan tangan Anna yang terlihat merah dan memar.


"Apa Anna sudah diobati?" tanya buk Endang yang mendatangi ruang UKS.


"Sudah Buk." jawab Adnan.


"Apa Anna bisa ke ruangan Kepala Sekolah?" tanya Buk Endang.


Anna mengangguk.


"Baiklah, sekarang ayo ikut Ibu." ucap Buk Endang sambil merangkul bahu Anna.


Adnan ikut mengiringi mereka.


Di ruang Kepala Sekolah sudah ada pak yayat, Yanto dan berapa orang murid perempuan yang duduk dekat Anna saat di kantin dan beberapa orang murid laki-laki yang menolong Adnan.


Kepala Sekolah meminta Anna untuk menceritakan kejadian yang terjadi di kantin.


Anna menceritakan dari awal Anto yang mendekatinya, pernyataan cinta Anto yang di tolak Anna, sikap Anto yang belakangan ini suka memperhatikan Anna dan Adnan, siang ini Anna merasa Anto sengaja menumpahkan teh es di baju Adnan membuat Adnan meninggalkan kantin, kemudian Anto memaksa Anna untuk menerima cintanya lagi, Anna ketakutan apalagi Anto memegang pergelangan tangan Anna dengan kuat, saat itulah Pak Yayat dan bang Yanto datang menolong Anna.


Carita Anna membuat Kepala Sekolah paham akar masalahnya.


Adnan yang mendengar cerita Anna merasa menyesal telah meninggalkan Anna di kantin sendirian, apalagi Adnan pergi dengan wajah kesal karena menganggap Anna memberi perhatian lebih pada Anto.


Setelah mendengar cerita dari Anna, Pak Yayat dan Yanto, Kepala Sekolah mengambil keputusan kejadian ini memang terjadi disekolah, tapi ini adalah urusan antara Anto,Yanto dan Pak Yayat, merekalah yang akan berurusan di kantor polisi.


Kepala Sekolah mengizinkan pak Yayat dan Yanto untuk kembali ke kantin, sedangkan murid perempuan dan laki-laki dipersilahkan untuk masuk kelas masing-masing.


Anna dan Adnan masih ditahan oleh Kepala sekolah.


"Tadi Bapak mendengar Anna menolak Anto dengan alasan Anna telah bertunangan dengan Adnan, Apakah memang kejadiannya seperti itu?" tanya Pak Darusman sambil tersenyum.


Anna bingung tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Pak Darusman.


"Iya pak, Saya melamar Anna dan menyuruh Anna memakai cincin tunangan, tapi itu hanya antara Saya dan Anna, Orang Tua kami tidak tahu." jawab Adnan memberanikan diri.


"Oh, jadi hanya antara kalian, Bapak harap walaupun kalian sudah memiliki hubungan seperti itu, Kalian jangan mengumbar kemesraan disekolah, apalagi melakukan hal yang tidak pantas." ucap Pak Darusman mengingatkan.


"Tenang saja pak, kami akan menahan diri, kami juga sudah sepakat akan membangun hubungan yang positif, kami ingin meraih prestasi disekolah ini." ucap Adnan.


"Bagus itu," ucap Pak Darusman.


"Apa tangan mu masih sakit Anna?" kembali pak Darusman bertanya.


"Sudah tidak sakit pak, tapi rasanya tangan Anna sangat lemah belum sanggup untuk menulis." jawab Anna.


"Ya sudah, Anna tenangkan diri di UKS dulu, nantik saat jam pulang Anna baru boleh pulang." ucap pak Darusman.


"Apa kami sudah boleh keluar pak?" tanya Adnan.


" Ya, silahkan." jawab pak Darusman.


Adnan mengajak Anna keluar dan mengantar Anna ke ruang UKS.


***


Mereka duduk di atas tempat tidur UKS.


"Anna maaf ya, tadi kakak meninggalkan Anna di kantin sendirian, tadi kakak pergi menemui bang Doni, kakak meminjam bajunya." ucap Adnan.


Anna melihat baju yang dipakai Adnan, ternyata benar nama di baju itu tertulis Doni, Anna tertawa melihat nama yang tertulis di baju yang dipakai Adnan.


Adnan merasa bahagia melihat Anna tertawa.


"Jangan takut lagi ya, kakak pastikan Anto tidak akan bisa berjualan di kantin lagi." ucap Adnan meraih kepala Anna dan menciumnya sebentar.


Anna tersenyum dan mengangguk.


"Halo, maaf ganggu ya." ucap Melinda yang datang menemui mereka bersama Tian.


"Ketua, kami di tugas kan oleh pak Arip untuk menjaga Anna." ucap Tian.


"Oh, ya sudah, selamat bertugas dan tolong jaga Adik kesayanganku." ucap Adnan sambil menepuk pundak Tian.


"Beres Bos." ucap Tian.


Adnan meninggalkan ruang UKS dan kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.


Tian dan Melinda mengajak Anna bercengkrama dan mereka saling meng akrab kan diri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2