Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Saling memafkan


__ADS_3

Setelah transaksi jual beli mobil dilakukan, saatnya untuk berpamitan dengan penjual mobil tuan Zamzami.


"Siapa nama mu nak?" ucap Zamzami saat bersalaman dengan Anna.


"Anna, pak." jawab Anna singkat.


Bagi kaum Adam tidak akan pernah puas memandang wajah Anna yang cantik, apalagi saat Anna tersenyum seolah menambah nilai plus diwajahnya, wajah yang masih natural hanya dipoles bedak tabur tipis tanpa memakai pencerah bibir, tetap saja mampu memikat kaum Adam.


"Masih sekolah? kelas berapa?" kembali tuan Zamzami bertanya, sambil melepas salamannya.


" Masih kelas 1, SMA xx" ucap Anna santun.


"Wah, kebetulan sekali, Bapak punya keponakan yang baru 2 tahun bertugas menjadi guru di sana, namanya Arip Prayoga, besok biar Bapak kenalkan kamu dengannya, kamu tahu Anna saat kita berada jauh dari keluarga dan hidup di rantau orang mereka yang berasal satu daerah dengan kita akan terasa seperti saudara, Bapak harap kalian bisa berhubungan baik nantinya, boleh bapak minta nomor hape Anna?" ucap pak Zamzami dengan penuh harap.


"Baiklah," ucap Anna sambil menyebutkan nomor ponselnya.


"Kami senang sekali Pak, akhirnya Anna memiliki orang yang mungkin bisa menjadi tempatnya meminta tolong nanti," ucap Ibrahim bijak.


Zamzami tersenyum mendengar ucapan Ibrahim.


"Kamu tahu Anna, sekolah itu sangat bergengsi sangat sulit bagi anak-anak Desa seperti kita lolos di sekolah itu, mungkin kamu lah satu-satunya murid yang lolos dari kecamatan kita tahun ini, kamu harus belajar yang baik, betah dan siap bersaing di sana." ucap pak Zamzami menyemangati.


"Inshaallah, terimakasih Pak atas nasehatnya." ucap Anna sambil melebarkan senyumnya.


Wajah cantik, kulit putih mulus, tatapan teduh,ditambah senyum yang manis membuat pak Zamzami memiliki rasa sayang kepada Anna sebagai anak yang harus ia jaga, pak zamzami mengelus kepala Anna sebagai wujud sayangnya.


padahal mereka baru bertemu tapi rasa sayang terhadap Anna tumbuh begitu cepat di hati pak Zamzami.


***semoga engkau bisa menjadi bagian dari keluarga kami nak*** begitulah doa yang dipanjatkan pak Zamzami saat ini.


Setelah semua bersalaman, Anna dan keluarga sudah berada dalam mobil yang baru mereka beli.


"Sekarang jam 11.10 masih ada waktu 1 jam lagi menjelang sholat Jum'at," ucap Paman.


"Paman, Anna mau ke Toko Buku dulu." ucap Anna.


"Baiklah." ucap Ibrahim.


Tidak berapa lama mereka sampai di Toko Buku, semuanya ikut masuk ke toko itu.


Paman berjalan sendiri di dalam toko, begitu juga dengan kakek, keduanya berjalan terpisah di dalam toko, seolah mereka mencari kebutuhan masing-masing.


Sementara Anna jalan berdampingan dengan Ibunya, mereka menuju Rak buku tulis yang memajang berbagai bentuk,ukuran dan merek buku tulis.


Anna memilih buku tulis bertulis Campus,. buku yang lumayan tebal, lebih panjang dari buku tulis biasa tentu saja sangat cocok untuk anak SMA.


"Bu ambil 1 kodi ya." ucap Anna pada Ibunya.


"Iya" ucap Ira singkat.


"Anna juga perlu perlengkapan menulis Bu."


"Ayo kita ke sana," ucap Ira sambil menarik tangan Anna menuju rak alat tulis.


"Bu enak ya belanja di Toko, kita bisa tau harganya, bisa pilih-pilih barang juga."


"Iya, tapi kita tidak bisa belanja seperti ini setiap saat Anna."


"Iya bu Anna paham." ucap Anna sambil tersenyum kearah Ibunya.


"Ibu harap kamu tidak malu hidup sederhana." ucap Ira sambil mengusap kepala Anna.


"Ibu, Anna bahagia dengan yang kita miliki sekarang, doakan Anna semoga tidak silau dengan kehidupan dunia." ucap Anna sambil menyandarkan kepalanya dipundak Ira.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk mu Anna, Ibu hanya tidak ingin sifat dan gaya hidupmu berubah karena tinggal di kota." ucap Ira sambil memegang bahu Anna.


"Ibu jangan pernah bosan menasehati Anna ya, jangan biarkan Anna tersesat, jika perbuatan Anna salah tolong segera nasehati Anna." ucap Anna masih dalam rangkulan Ibunya.


"Sudah, cepat pilih alat tulisnya." ucap Ira sambil melepas rangkulannya.


"Bu, Anna ambil pena nya 2 ya, pensil, rol, penghapus, tipe x, kotak pensil, mm, sepertinya sudah Bu." ucap Anna sambil berjalan ke arah kasir.


" Anna, kita lihat sepatu juga ya." ucap Ira.


"Ya bu, kita titip belanja di kasir dulu ya." ucap Anna.


Saat mereka hendak meninggalkan kasir ternyata Paman dan Kakek sudah berdiri dibelakang mereka, masing-masing membawa barang yang mereka cari, Kakak membawa Tas ransel sedangkan Paman membawa sepatu sekolah.


"Anna apa kamu suka ini?" ucap keduanya serentak.


Anna begitu bahagia melihat Tas ransel pilihan Kakeknya sangat cantik warna hitam dipadukan abu-abu, begitu juga dengan sepatu pemberian Paman sangat cocok di kaki Anna.


"Terimakasih Kakek, Paman." ucap Anna terharu.

__ADS_1


"Ini Kakek yang bayar." ucap Kakek pada petugas kasir.


"Baik pak, kita hitung belanja buku dulu ya." ucap petugas kasir ramah.


Ira mengeluarkan uang pembayaran untuk alat tulis yang telah dipilih Anna.


kini petugas kasir menghitung harga Tas ransel pilihan Kakek dan sepatu pilihan Paman, setelah membayar kedua barang itu, Kakek menyerahkannya kepada Anna.


"Anna ini dari kakek dan Paman, semoga kamu semakin rajin belajar, bisa menyelesaikan belajarmu sampai lulus di Sekolah itu."ucap Kakek sambil mengusap bahu Anna.


"Anna kamu jangan merasa rendah diri dengan teman-temanmu nanti, ingat kamu masih punya keluarga, hidup di kota seorang diri itu sulit, paman harap kamu tidak sembarang bergaul, pandai lah dalam memilih teman." ucap Ibrahim menasehati Anna.


"Baik paman, Kakek, doakan Anna mampu menjalani ini semua, semoga Anna tidak mengecewakan keluarga semuanya." ucap Anna haru.


"Ayok pulang, Waktu sholat jum'at sudah dekat." ucap Ira.


"Sepertinya tidak cukup waktu untuk sholat Jum'at di Desa, kita cari mesjid disini saja ya Yah," ucap Ibrahim pada Kakek sambil berjalan menuju parkiran mobil.


"Iya, disini saja, nantik setelah sholat kita makan dulu baru pulang." ucap Kakek.


Semuanya sudah selesai sholat tentu saja Anna dan ibunya sholat setelah kaum Adam selesai sholat Jum'at.


Saat ditempat belanja dan makan siang Anna beberapa kali mengambil foto kebersamaan mereka, tentu saja ini merupakan persiapan Anna jika rindu keluarga Anna bisa melihat foto mereka.


****


Sampai di rumah Nenek, terlihat Lusi sedang menyuapi Arkan tengah duduk di teras rumah Nenek.


Melihat Ibrahim keluar dari mobil, Arkan berlari ke arah nya, tubuh pendek berisi itu langsung dipeluk Ibrahim dan menciumnya.


"Makannya sudah selesai Nak?" tanya Ibrahim sambil berjalan kearah Lusi yang sudah berdiri dari duduknya.


"Makannya sudah habis, tapi belum minum." jawab Lusi.


"Minum dulu jagoan." ucap Ibrahim, menyodorkan gelas berisi minuman ke mulut Arkan.


"Mas, ajak kita jalan - jalan ya." pinta Lusi.


"Hari ini Mas gak bisa, sekarang harus segera perusahaan, tadi hanya izin sebentar, hari minggu saja kita jalan-jalannya sekalian ngantar Anna sekolah." ucap Ibrahim sambil menurunkan Arkan dari gendongannya.


Ibrahim masuk kedalam rumah mengambil kunci motor yang ia gantungkan di dinding ruang tamu.


"Ayah kerja dulu ya Nak." ucap Ibrahim sambil mengusap kepala Arkan yang sudah digendong Lusi.


Ibrahim pergi tanpa melihat wajah istrinya yang sudah menegang karena menahan marah.


Lusi masuk kerumah, diruang Tamu sudah duduk Nenek, Kakek, Ira dan Anna, Lusi ikut bergabung dan duduk bersama mereka, sedangkan Arkan dibiarkan main sendiri dilantai ruang tamu.


"Lusi, mobil yang kami bawa tadi adalah mobil yang dibeli Ibrahim, kamu harus tahu, mobil itu dibeli dengan cara meminjam uang dari Ira, bapak harap kamu mendukung Ibrahim untuk membayar hutang tiap bulannya, karena uang itu untuk biaya sekolah Anna, apa kamu bisa memahami ini Lusi?" tanya Kakek dengan wajah serius.


"Baik Yah, Lusi paham." ucap Lusi sambil menundukkan kepala.


"Jika ada masalah jangan pergi dari rumah, kamu harus berfikir jernih, kamu juga sudah punya anak." ucap Nenek tegas.


"Apa ada masalah dengan Ibrahim yang tidak kami ketahui Lusi?" apa dia menyakiti fisik mu?" tanya Ira


"Ya bicara lah." ucap Kakek.


"Tidak, Ibrahim tidak pernah menyakiti fisik ku." ucap Lusi.


"Apa masalah mu pergi dari rumah hanya karena Ibrahim belum mampu membelikan mu mobil?" tanya Nenek.


"Iya" jawab Lusi sedikit malu dan masih menunduk.


"Lusi, usia pernikahan kalian masih baru, kamu tahu keuangan Ibrahim, kenapa kamu tidak bisa bersabar? apa yang membuatmu begitu berkeinginan dengan mobil?" jawablah ucap Kakek.


"Tetangga kita sudah banyak yang memiliki mobil, mereka suka pamer," ucap Lusi dengan wajah di tunduk.


" Ya Allah, seharusnya kamu tidak usah terusik dengan hal begitu Lusi, kamu tahu hubungan rumah tangga akan lebih kuat jika saling mengerti,saling memahami, bukan menonjolkan ego masing-masing." ucap Nenek dengan nada sedikit tinggi.


"Jangan paksakan kehendak mu lagi Lusi, jangan sampai karena keinginan konyol mu bisa membuat Ibrahim bertindak nekat." ucap kakek.


"Maksud Ayah?" tanya Lusi dengan wajah masih menunduk.


"Jangan sampai Ibrahim di pecat dari pekerjaannya karena tuntutan darimu, kamu masih ingatkan Ibrahim menerima mu karena perjodohan dari ku." ucap Kakek.


"Jangan biarkan Ibrahim menyesali pernikahan ini." ucap Nenek tegas.


Ucapan Nenek dan Kakek menusuk di hati Lusi, karena iri hatinya dia melupakan perasaan suami dan mertuanya, bagaimanapun membeli mobil bukanlah hal yang mudah untuk keluarga Ibrahim, apalagi mengandalkan keluarga Lusi, Lusi menyadari kebodohannya, untung saja Suami dan Mertuanya masih bisa menerimanya kembali, air mata Lusi mengalir deras menyesali kebodohannya.


"Ayah, Ibu, maafkan Aku." ucap Lusi sambil duduk dilantai.


"Juga untuk kak Ira dan Anna, maafkan aku, aku terlalu egois, aku terlalu mengikuti nafsu dunia, karena aku uang Anna terpakai." ucap Lusi dengan suara terbata-bata menahan tangisnya.

__ADS_1


"Uang Anna dipinjam Ibrahim, Dia juga sudah berjanji akan menggantinya dengan cara cicilan, kamu harus mendukung keputusan Ibrahim." ucap Ira lembut, sambil memegang bahu Lusi agar duduk kembali di kursi.


"Kami sudah memaafkan mu, karena itulah Ibrahim membawa mu kembali." ucap Nenek.


"Semoga kamu tidak kembali berbuat seperti ini lusi." ucap Kakek tegas.


"Iya." jawab Lusi singkat.


Lusi bersyukur memiliki keluarga yang mampu membimbingnya, menyadarkannya dan memaafkan kesalahannya.


***terimakasih tuhan, engkau telah membuang dendam dan kesombongan ku ini, kini aku sadar mereka orang yang sangat baik, mereka Tidak mengabaikan ku, aku berjanji akan berubah***doa Lusi dihatinya.


**Mungkin inilah yang dimaksud harus pandai memilih Teman** batin Anna.


Anna bersyukur memiliki teman-teman yang baik, yang mengerti keadaannya, teman-temannya juga tidak memaksa Anna untuk memiliki apa yang mereka miliki, mereka bersedia meminjamkan Anna barang yang baru mereka beli walaupun hanya sebentar.


Tiba-tiba Anna merasa rindu dengan teman-teman satu kelasnya dulu yang berjumlah 30 orang, sudah dua minggu ini mereka tidak bertemu, semenjak pengumuman Kelulusan Anna tidak lagi bertemu dengan teman-temannya mereka sibuk mengurus urusan masing -masing, dari 30 teman sekelasnya Anna hanya dekat dengan Puja, Indri dan Lala mereka akan selalu bersama selama disekolah.


"Bu, Anna kerumah Lala dulu ya." ucap Anna pamit kepada Ibunya.


"Pergilah." ucap Ira.


Anna pun berpamitan dengan Nenek,Kakek dan Lusi.


Rumah Lala tidak jauh dari rumah Nenek, Ayah Lala juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Ibrahim sedangkan Ibu Lala bekerja di rumah mengurus ternak ayam potong milik mereka sendiri.


"Assalamualaikum" ucap Anna.


"Waalaikummussalam" ucap Lala.


"Anna" ucap Lala histeris.


Semenjak Ayah Anna meninggal, Anna sudah tidak pernah lagi berkunjung kerumahnya, mereka hanya berkumpul di sekolah, apalagi rumah Anna jauh dari rumah Lala,


kedua sahabat itu saling berpelukan.


"Kamu melanjutkan sekolah dimana Anna?" tanya Lala.


"Aku melanjutkan sekolah di kota, SMA xx." ucap Anna.


"Wah kamu hebat, bisa sekolah di kota, Pasti enak sekolah di sana." ucap Lala semangat.


Anna tersenyum mendengar ucapan Lala.


"Lala aku sudah beli Hape, bisa minta nomor hape mu, tapi janji ya jangan ganti-ganti nomor, biar kita bisa saling menghubungi." ucap Anna.


"hehehe, Anna, semenjak aku punya hape aku juga gak pernah ganti nomor, justru kamu yang gak setia, gak mau beli hape, kami sampai kesusahan menghubungi mu, kamu tahu kita sudah ada grup WhatsApp kelas, sini nomor hape mu." ucap Lala.


Anna tersenyum malu, ternyata hanya dirinya yang tidak bergabung digrup WhatsApp kelasnya,.


"ini." ucap Anna sambil menyebutkan nomor hapenya.


**kring, kring**


kini hape anna sibuk dengan notifikasi WhatsApp grup kelas nya, maklum Anna salah satu bintang kelas yang baru bergabung digrup itu.


Lala juga mengambil fotonya dan Anna kemudian ia kirim digrup WhatsApp, sekarang mereka sama-sama sibuk dengan hape masing-masing saling membalas pesan WhatsApp yang masuk.


Tidak terasa sudah jam 16.40 Anna pun pamit untuk pulang.


Ponsel Anna berbunyi.


"Assalamualaikum Bu, ada apa?" tanya Anna.


"Kapan pulang Anna?"


"Ini sudah mau pulang Bu"


"Anna tolong beli ayam potong dulu ditempat Lala, 2 ekor, nantik Paman mu yang membayarnya saat pulang kerja."


"Baiklah Bu"


"Apa ayamnya langsung dipotong Bu?"


"Tidak usah, bawa saja hidup-hidup."


"Baiklah Bu."


"Assalamualaikum Bu." Anna mengakhiri panggilan dari Ibunya.


"Lala Ibu menyuruhku untuk membeli ayam, nantik Paman yang bayar, ayamnya dibawa hidup-hidup saja.". ucap Anna menyampaikan pesan Ibunya.


"Baiklah, biar aku tangkap dan timbang dulu." ucap Lala.

__ADS_1


Lala sudah terbiasa menolong ibunya mengurus ayam, apa lagi semenjak libur sekolah Lala semakin mahir dalam mengurus ayam-ayamnya.


...----------------...


__ADS_2