Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Belanja di mall


__ADS_3

Tiga puluh menit diperjalanan akhirnya Adnan memarkirkan mobilnya diparkiran Mall, Anna sedikit kaget dengan tempat yang mereka datangi, niat Anna hanya untuk membeli bedak dan pembersih wajah di toko pinggir jalan.


Apalagi uang yang dibawa Anna hanya dua ratus ribu, Anna sengaja tidak mengambil uang yang ada di ATM nya, karena menurut nya harga bedak yang dia inginkan tidak mungkin mahal, Anna merasa cemas, apalagi Anna yang mengajak Bunda untuk menemaninya, jika bersama teman di Desa nya Anna akan membelikan temannya minuman atau mengisi minyak motor temannya jika Anna menumpang, sekarang mereka berada di Mall, Anna larut dalam pikirannya sendiri.


Semua sudah keluar dari mobil mereka tampak bahagia kecuali Anna, pikiran Anna masih kacau karena harapannya tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan Anna pusing sendiri dengan pikirannya.


"Anna kenapa? sepertinya tidak suka datang kesini," tanya Bunda Yani yang sudah memperhatikan Anna dari tadi.


"Kenapa harus ke Mall Bunda, Anna cuma mau beli bedak, di apotik juga ada bedak yang akan Anna beli," ucap Anna lembut takut menyinggung hati Bunda Yani.


"Kita ada empat orang lo dek, kakak mau beli baju, Bunda sama Ummi mau beli Tas, biar satu tempat lebih enak belanja disini," ucap Adnan yang sudah berada di samping Anna.


"Tapi Anna yang ngajak Bunda, Anna gak bawa uang banyak," ucap Anna menundukkan wajahnya.


Mereka paham dengan maksud ucapan Anna, Ummi dan Bunda tersenyum melihat kearah Adnan mengisyaratkan agar Adnan menenangkan adik nya itu.


"Anna, kita kan adik kakak, Bunda sama Ummi juga keluarga kita, masa iya adik kakak yang masih sekolah ini harus mikirin uang saat belanja sama keluarga, Anna tenang saja semua yang Anna beli disini kakak yang bayar, Anna tidak boleh nolak, tidak boleh membantah ucapan kakak, sekarang angkat kepalanya kita langsung belanja," ucap Adnan sambil mengusap kepala Anna.


Anna merasa bahagia mendengar ucapan Adnan, tapi Anna merasa tidak enak jika belanjanya dibayarkan Adnan.


"Anna belanja pakai uang sendiri aja kak, Anna gak mau uang tabungan kakak berkurang karena Anna," ucap Anna yang sudah menatap Adnan.


"Dengar ya dek, kakak ini anak tunggal, orang tua kakak sudah mengizinkan kakak untuk memberikan Anna apa saja, dengan catatan tidak menuntut kembali apa yang sudah kakak berikan, cuma nambah satu tanggungan tidak akan menghabiskan uang kakak dek," ucap Adnan.


Anna tertegun mendengar ucapan Adnan, ternyata Adnan benar-benar serius dengan yang di ucapkan nya, bahkan Adnan sudah berniat menjadikan Anna tanggungannya.


Anna teringat teman-teman di Desanya sering curhat tentang kelakuan pasangan mereka tidak ada yang berbuat seperti Adnan, Anna jadi penasaran dengan kehidupan Adnan, Anna takut perbedaan kehidupannya dengan Adnan bisa membuatnya terjebak, takut jika Adnan berbuat semaunya jika Anna sudah tunduk kepadanya, seperti film-film yang selama ini banyak ditonton Anna.


pikiran Anna kembali kacau.


Bunda yani dan Ummi Inah yang tidak jauh dari mereka dapat melihat ekspresi wajah Anna yang terlihat banyak kekhawatiran.


Bunda Yani mendekati Anna.


"Anna jangan berpikiran buruk tentang Adnan, keluarga Adnan semuanya baik, kamu harus berprasangka baik, niat Adnan tulus, kedua orang tuanya juga sudah tau tentang hubungan kalian, bahkan Bunda dan Ummi harus jadi pengawas kalian."


kemudian bunda yani berisik di telinga Anna


((Adnan tidak boleh menyentuh Anna sebelum halal, Bunda dan Ummi disuruh mengawasi kalian bahkan kami juga dapat gaji dari pekerjaan ini)) ucap Bunda yani sambil tersenyum melihat Anna setelah berbisik.


Mendengar ucapan bunda Yani, Anna ikut tersenyum, Anna merasa malu ternyata hubungan mereka juga di awasi oleh kedua orang tua Adnan, Bunda dan Ummi.


Anna merasa bahagia ternyata Adnan dan kedua orang tuanya sudah menerima Anna apa adanya, walaupun mereka belum mengenal Anna.


Melihat Anna tersenyum Adnan menjadi penasaran apa yang dibisikkan Bunda Yani, tapi Adnan tidak mau ambil pusing dengan apa yang disampaikan Bunda Yani, melihat Anna tersenyum Adnan sudah bahagia dan tidak mau mengkhawatirkan hal yang tidak penting lagi.


"Gitu dong dek, senyum, ayok segera belanja," ucap Adnan sambil menarik tangan Anna.


"Adnan, ingat janjinya sama Abi!" ucap Bunda Yani menyadarkan Adnan.


Mendengar ucapan bunda Yani Adnan segera melepas pegangannya dari tangan Anna dengan ekspresi malu karena ketahuan melanggar janji.


Bunda dan Ummi tertawa melihat ekspresi Adnan, sedangkan Anna tersenyum malu.


mereka berjalan bersama menuju tempat belanja di Mall itu karena Adnan yang akan membayarkan belanja Anna tentu saja Adnan akan ikut kemanapun Anna pergi, sedangkan


Ummi dan Bunda berjalan berdua melihat keperluan mereka ditempat belanja yang sama dengan Adnan dan Anna.


Anna mendapat masukan dan keterangan produk kecantikan dari SPG bagian kosmetik, setelah mendengarkan penjelasan SPG Anna memutuskan untuk membeli produk kecantikan berlebel halal, ada BPOM nya dan cocok untuk usianya, Adnan mendukung keputusan Anna dan segera membayar belanja Anna.


"Dek kalau rasanya cocok jangan ganti-ganti pruduk ya, bahaya lo kalau suka ganti produk." ucap Adnan mengingatkan Anna.


"Iya, Anna coba dulu, kalau cocok Anna beli lagi besok." ucap Anna.


"Gak usah Anna yang beli, besok kabari kakak kalau memang cocok, biar kakak yang belikan." ucap Adnan mengusap kepala Anna sebentar.


Anna tersenyum melihat Adnan, "terimakasih kak," ucapnya.


"Jangan makasih dulu, kakak belum puas belanjain adik kesayangan kakak ini, ayok kita beli pakaian untuk Anna, jangan lihat harga, kalau Anna suka langsung ambil aja, ayok." ajak Adnan menarik lengan baju Anna.

__ADS_1


Sebenarnya Anna sangat suka belanja di tempat yang sudah diberi lebel harga, Anna tidak susah lagi bertanya dengan penjual, tinggal menyesuaikan dengan isi dompet, tidak seperti belanja di pasar di Desa Anna, harus ditanyakan dulu harganya, jika sudah ditanya harga segan untuk langsung pergi, jika harga tidak sesuai isi kantong nego dulu, menurut Anna lebih banyak menghabiskan waktu dengan cara belanja seperti itu.


Adnan setia menemani Anna melihat lihat pakaian, tanpa sepengetahuan Anna Adnan memperhatikan ukuran tubuhnya yang sesuai dengan pakaian yang menurut Adnan cocok dipakai Anna, Adnan mengambil beberapa potong baju dan Rok tanpa sepengetahuan Anna dan memberikannya pada Pramuniaga yang berjaga.


"Kenapa belum ada yang diambil dek?" tanya Adnan.


"Anna ragu kak, semuanya bagus," ucap Anna jujur.


"Ya udah, ambil aja semuanya." ucap Adnan serius.


"Gak boleh kak, beli seperlunya aja, walaupun banyak duit harus hemat, Anna juga anak tunggal, tapi Ayah sama Ibu selalu membiasakan Anna beli secukupnya aja, kalau bajunya udah kusam atau robek dijadikan kain lap atau dijadikan orang-orang sawah, ditempatkan di kebun kami, jadi Anna gak punya baju menumpuk di lemari." ucap Anna


Penjelasan Anna membuat Adnan kagum, ternyata Anna tidak boros dalam belanja pakaian, didikan orang tua Anna juga sangat baik padahal Anna anak tunggal.


"Trus Anna beli apa?" tanya Adnan.


Anna tampak berpikir.


"Anna beli jilbab aja kak," ucap Anna girang.


"Warna jilbab harus bisa dipadu dengan baju atau rok dek, jadi beli baju dulu ya, nantik kita cari jilbab." ucap Adnan meyakinkan Anna.


Anna setuju dengan ucapan Adnan, Anna mengambil baju model tunik dan celana kain longgar.


"Suka celana dek?" tanya Adnan.


"Suka, apa lagi kalau lagi keluar rumah sama Ibu Anna harus pakai celana, Ibu gak bisa bonceng Anna kalau duduk miring, kalau di rumah baru pakai rok," ucap Anna mengingat Ibu nya yang selalu menyuruh ganti rok jika menaiki motor dengannya.


Mendengar ucapan Anna, Adnan paham apa lagi yang harus ia belikan untuk Anna, Adnan kembali mengambil celana warna lain dan menyerahkannya pada pramuniaga.


"Mbak semuanya tolong dibawa ke kasir, nantik saya bayar, jangan sampai ketahuan." Adnan menunjuk Anna yang berjalan agak jauh darinya.


Pramuniaga itu mengangguk paham dan berjalan duluan meninggalkan Adnan.


Bunda yani dan Ummi Inah sudah berada di kasir, Anna melihat mereka dan segera menyusul.


"Sudah selesai belanja nya Bunda, Ummi? tanya Anna sambil tersenyum.


"Oo, ya sudah, ayok temani Ummi makan." ucap Anna.


Adnan yang sudah dekat dengan mereka dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Oke, kita makan dulu, cari jilbab setelah makan ya dek?" ucap Adnan menatap Anna.


"Oh, Anna belum selesai belanja?" tanya Bunda yani.


"Udah Bunda." ucap Anna tidak mau merepotkan Bunda dan Ummi dengan menunggunya selesai belanja.


"Kalau memang belum selesai belanja, biar Bunda sama Ummi saja yang makan, Anna sama Adnan belanja aja." ucap Ummi Inah bijak.


"Anna ikut Bunda sama Ummi aja." ucap Anna jujur.


"Ya udah ayok semuanya makan," ucap Adnan.


Setelah membayar belanja Anna, Adnan membawa semua barang belanja yang ia beli dan barang belanjaan Ummi dan Bundanya.


"Kak, kok bisa punya banyak belanjaan, tadi Anna gak lihat kakak ngambil belanja." ucap Anna sambil berjalan keluar menuju tempat makan.


Adnan hanya tertawa tidak menjawab pertanyaan Anna.


Setelah sampai di restoran mall, mereka diberikan daftar menu hidangan yang disediakan restoran itu.


Ummi, Bunda dan Adnan mereka bertiga sudah hapal selera masing-masing, mereka menunggu Anna memberikan jawaban pesanannya.


Anna membaca satu persatu tulisan yang ada didaftar menu yang diterimanya.


Anna sedikit pusing dengan nama menunya, akhirnya memilih nasi goreng udang.


"Ya ampun, cuma pesan nasi goreng udang kenapa harus pakai lama sih dek?" ucap Adnan

__ADS_1


sedikit kaget dengan tingkah Anna.


Adnan berfikir Anna akan memesan banyak makanan karena terlalu lama membaca daftar menu.


Anna tersenyum malu.


"Anna belum pernah makan di mall kak, kata ayah makan di mall cuma bikin pusing, namanya aneh-aneh, ternyata benar, Anna juga takut salah pesan, takut gak sesuai selera bisa mubazir.". ucap Anna polos.


Ummi, Bunda dan Adnan yang mendengar ucapan Anna tertawa.


"Trus Anna kalau ke mall ngapain aja?" tanya Adnan penasaran.


"Dulu waktu sekolah SD Anna di ajak Ayah sama Ibu pergi main aja di mall, kalau udah puas main, kami makan di rumah makan." ucap Anna jujur.


"Bunda juga suka makan di rumah makan, tindakan Anna sudah bagus, kalau baru masuk restoran kita memang harus memilih dan menilai menu yang sesuai selera, jangan sampai tidak termakan." ucap Bunda memuji Anna.


Karena Anna belum mengenal menu restoran itu Adnan sengaja memesan beberapa menu, agar Anna bisa mencoba dan mencicipi setiap menu yang dipesan, ide Adnan untuk mengenal makanan favorit Anna ternyata berhasil, Anna menyukai semua menu yang dipesannya, Anna makan tanpa malu, membuat Adnan, Ummi Inah dan Bunda Yani ikut makan dengan lahap.


Tanpa sepengetahuan Adnan dan Anna, Bunda Yani merekam kebersamaan mereka saat makan, kemudian mengirim rekaman itu kepada Ummi salma.


Selesai makan mereka segera menuju tempat sholat yang tersedia di mall, Adnan yang selesai sholat ashar lebih dulu dari Bunda, Ummi dan Anna langsung bergegas menuju toko yang menjual jilbab, Adnan mengingat warna baju yang ia belikan dan yang Anna pilih tadi, Adnan membeli dua helai jilbab segi empat dan empat helai jilbab sarung dengan berbagai model.


Selesai belanja Adnan kembali ke Musholla, Bunda, Ummi dan Anna sedang memakai sendal, Adnan tau kalau menunggu mereka selesai sholat pasti tidak cukup waktu untuk membeli jilbab Anna, sementara mereka harus cepat pulang karena kegiatan Asrama akan dimulai saat azan magrib.


"Kakak beli apa? tanya Anna melihat Adnan membawa tentengan.


"Maaf ya, kakak beli dan pilih sendiri jilbab untuk Anna," ucap Adnan sambil tersenyum.


Anna tersenyum bahagia, Anna merasa beruntung memiliki kakak seperti Adnan yang sangat peduli dan memanjakannya.


"Makasih kak" ucap Anna bahagia.


"Baguslah kalau jilbabnya sudah kamu belikan, kita bisa segera pulang, Ummi takut terlambat sampai Asrama." ucap Ummi sambil melihat Adnan.


"Ayok kita segera pulang," ucap Bunda Yani.


Mereka segera berjalan menuju parkiran, Adnan membawa semua belanja, badan Adnan yang tinggi berisi terlihat lucu menenteng banyak belanja.


Bunda Yani dan Ummi Inah berjalan didepan, sedangkan Adnan dan Anna berjalan dibelakang mereka.


"Kak Anna bantu bawa barangnya ya," ucap Anna menawarkan bantuan.


"Gak usah, ini gak berat, lain kali kita makan di mall lagi ya, biar Anna cepat berisi." ucap Adnan tersenyum menggoda Anna.


"Anna gak kurus kak, nanti kalau Anna gendut baju Anna gak ada yang muat." ucap Anna tertawa.


"Bagus dong, kita bisa sering belanja, kalau butuh apa-apa kabari kakak ya, jangan sungkan, mulai hari ini semua keperluan Anna kakak yang nanggung." ucap Adnan serius.


"Gak boleh kak, Anna masih ada orang tua, nantik Ibu Anna marah kalau kakak terlalu banyak bantu Anna."


"Gak mungkin marah dek, kalau perlu kakak kirim aja sekalian uang belanja untuk Ibu, boleh?" tanya Adnan.


"Jangan kak, nantik Ibu mikirnya Anna gak sekolah dengan baik," ucap Anna sedikit panik dengan tawaran Adnan.


Adnan tertawa melihat ekspresi wajah Anna yang terlihat panik.


"Santai dong dek, masa ditawari kasi uang belanja aja panik." ucap Adnan heran dan berhenti berjalan, Anna pun ikut berhenti.


"Anna tidak mau terlalu banyak hutang budi, Anna tidak mau seperti Anak lain yang putus sekolah karena salah jalan." ucap Anna


"Anna, jangan khawatir, tidak ada yang namanya hutang budi dan kakak tidak akan membuat Anna putus sekolah, justru kakak mau Anna berpendidikan tinggi, tapi besok kuliahnya didalam negeri aja ya," ucap Adnan tersenyum melihat Anna.


"Anna juga gak berharap kuliah diluar negeri." ucap Anna jujur.


"Baguslah, kita bisa nikah saat Anna kuliah, tidak jauh dari keluarga dan bisa program punya anak juga," ucap Adnan menggoda Anna.


Wajah Anna merona, menahan malu, Anna heran dengan pikiran Adnan yang sangat jauh, seolah sudah menyusun rencana dengan matang untuk masa depannya dan Anna.


Anna berjalan laju, meninggalkan Adnan yang masih dengan ekspresi bahagianya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2