
Setelah sholat isya, Anna duduk di atas tempat tidurnya sambil menunggu jam masuk kelas malam. Anna mengulang kosakata dan pelajaran yang diajarkan Ummi Zahra tadi sore.
"Anna." Fitri memanggil Anna.
"Ya, ada apa?" tanya Anna.
"Bisa temani aku mengantar pakaian kotor? tanya Fitri.
"Dimana tempatnya? apa boleh malam ini ke sana?" tanya Anna takut keluar pondok apalagi hari sudah malam.
Anna takut melanggar aturan pondok karena tidak boleh keluar sembarangan, Anna teringat pesan kak Adnan yang melarangnya pergi keluar dan membuatnya khawatir. Abi juga berpesan agar Anna tidak mengecewakannya.
"Cuma kerumah satpam, kita tidak dilarang ke sana. lagian pagar depan pondok selalu dijaga satpam mana mungkin kita bisa keluar." jawab Fitri meyakinkan Anna.
"Oh, baiklah." jawab Anna dan segera turun dari tempat tidurnya.
"Bawa baju kotor mu, biar besok kita bisa sama-sama mengambilnya." ucap Fitri mengingatkan Anna.
"Aku mau cuci baju sendiri, setelah dicuci baru di antar untuk disetrika." jawab Anna.
"Oh, ya sudah, ayok kita pergi."ucap Fitri.
Setelah keluar dari asrama mereka bertemu Aini.
"Mau kemana kalian?" tanya Aini.
"Mau mengantar baju kotor." jawab Fitri.
"Aku ikut." ucap Aini menawarkan diri.
"Ayok." jawab Anna dan Fitri bersamaan.
Mereka bertiga berjalan kerumah Satpam yang melayani jasa cuci dan setrika pakaian santriwati. Ada dua rumah Satpam yang berhadapan langsung dengan rumah pemilik pondok. jarak antara rumah pemilik pondok dan satpam sekitar 80 meter. ada pohon Mangga dan pohon Matoa diantara dua rumah yang saling berhadapan itu. kiri kanan rumah pemilik pondok dan satpam terdapat tembok pembatas, untuk menjaga keamanan santriwati dan guru yang tinggal di komplek asrama.
Sebelum melawati pagar pertama mereka mengisi daftar bepergian dulu dimeja piket. didepan kantor pondok yang dijaga guru piket.
Santriwati diizinkan keluar dengan tujuan kerumah Satpam sampai jam 21.00 setiap harinya. lewat dari jam itu santriwati tidak diberi izin untuk keluar dengan tujuan dan alasan apapun.
"Kamu sudah mengantar baju kotor Aini?" tanya Fitri.
"Tidak aku hanya minta di setrika kan, aku mencuci sendiri." jawab Aini.
"Kenapa tidak langsung cuci saja?" tanya Fitri.
"Biar lebih hemat." jawab Aini.
"Kamu diberi uang jajan berapa setiap bulan?" tanya Fitri pada Aini.
"Tidak tentu, tapi selalu cukup untuk biaya setrika dan kebutuhan jajan ku, sampai orang tua ku datang berkunjung lagi." jawab Aini.
__ADS_1
"Apa kamu pernah kekurangan uang?" Tanya Fitri pada Aini.
"Tidak." jawab Aini.
"Kalau Anna pasti belum tau uang bulanan nya, dia baru dua hari disini. jajanan didalam lemari nya masih banyak." ucap Fitri yang melihat isi lemari Anna, saat Anna membukanya.
Lemari Anna yang hanya tiga rak satu rak paling bawah diisi dengan bungkusan jajanan yang dibelikan Danu kemaren dan tempat Anna meletakkan piring nya, Rak kedua Anna berisi hanger, stok peralatan mandi, bedak dan kotak khusus tempat pakaian dalam. Rak ketiga Anna berisi baju dan jilbab Anna. untuk buku selalu disimpan didalam tas dan ditempatkan di atas tempat tidur.
"Wah besok bisa dapat jajan gratis dari Anna kalau lagi lapar." ucap Aini menggoda Anna.
"Boleh, asalkan kamu mengajari ku mempelajari buku pondok setiap hari." jawab Anna sambil tertawa.
"Jatah jajannya juga tiap hari dong?" tanya Aini sambil tertawa.
"Iya." Jawab Anna.
Anna tidak mempermasalahkan stok jajannya habis. Anna masih ada uang untuk membelinya. Uang dari kak Adnan, Ummi Inah, Bunda Yani masih tersimpan di dompet Anna. kemaren Ummi Salma juga menyelipkan uang jajan untuk Anna sebanyak lima ratus ribu.
Dengan uang itu bisa Anna gunakan untuk mendapatkan Ilmu dari teman-temanya.
"Aku juga mau jadi guru mu." ucap Fitri tidak mau tidak kebagian jajan dari Anna.
"Boleh, besok kita mulai belajarnya, aku akan sering bertanya." jawab Anna.
"Dan kami bersedia menjawab." ucap Fitri dan Aini bersamaan.
Anna membaca tulisan kecil yang ditempel di dinding rumah satpam. informasi harga cucian dan setrika dalam satuan kilo gram yang ditempel di dinding itu.
"Syukurlah tidak mahal." batin Anna.
Mereka segera pulang menuju gerbang asrama. Saat mereka hampir sampai di gerbang asrama, Ada mobil masuk menuju rumah pemilik pondok, mereka sempat menghentikan langkahnya melihat mobil yang masuk. mereka tidak bisa melihat siapa yang berada dalam mobil itu karena cahaya lampu mengenai mata mereka. orang yang duduk didalam mobil itu melihat mereka bertiga.
Mereka segera masuk ke kawasan asrama. Anna dan Aini memiliki jadwal belajar malam. mereka mengambil tas dan segera ke kelas untuk belajar malam ini.
Belajar malam ini dibimbing oleh ustadzah yang tinggal dilingkungan pondok, Anna masih belum menguasai membaca buku pondok yang menggunakan tulisan Arab dan tidak memiliki baris. Anna hanya fokus mendengarkan ustadzah menjelaskan dan mencatat penjelasan ustadzah kadang memakai bahasa Arab kadang memakai bahasa Indonesia.
Ustadzah menunjuk santriwati untuk membaca buku pegangan mereka secara bergantian. Anna menundukkan kepalanya agar ustadzah tidak menunjuk nya sampai pelajaran malam itu berakhir.
Pelajaran telah selesai Anna dipanggil menghadap Ustadzah dan santriwati yang lain boleh keluar kelas.
Anna dan ustadzah saling berhadapan dimeja ustadzah. Anna diminta untuk mengambil kursi agar bisa duduk didepannya.
"Kamu lulusan Tsanawiyah?" tanya Ustadzah.
"Tidak, saya lulusan SMP." jawab Anna.
"Di pondok ini semuanya Lulusan Tsanawiyah, sehingga mereka bisa melanjutkan sekolah ditingkat Aliyah. Apa kamu tidak kesulitan belajar?" tanya Ustadzah.
"Saya kesulitan. bahkan saya belum sanggup melihat buku pegangan yang diberikan pondok." jawab Anna.
__ADS_1
"Kamu ingin lanjutkan belajar disini atau pindah?" tanya ustadzah.
"Saya mau lanjut. saya akan berusaha." jawab Anna.
"Baguslah, jangan merasa takut jika disuruh membaca, kamu harus berani mencoba." ucap ustadzah memberi Anna motivasi untuk terus belajar.
"Bisakah saya belajar pribadi di rumah ustadzah?" tanya Anna.
Ustadzah tampak berpikir dan mempertimbangkan pertanyaan Anna.
"Bisa, saya akan luangkan waktu untuk mu." jawab ustadzah.
Anna tersenyum mendengar jawaban ustadzah.
"Saya minta diajarkan setiap hari jum'at sampai minggu setelah sholat asar, ustadzah bisa?" tanya Anna
"Ya, baiklah." jawab ustadzah.
Anna merasa senang karena bisa memiliki Guru privat untuk pelajaran pondok yang belum dikuasainya.
Ustadzah mempersilahkan Anna untuk keluar terlebih dahulu. Anna mengangguk. Anna mengambil tas nya dan segera keluar dari kelas.
Aini duduk di tangga paling bawah menunggu Anna keluar dari kelas. Anna melihat Aini dan menghampirinya.
"Aku kira kamu sudah pulang, ayok pulang." ucap Anna yang sudah berdiri di samping Aini.
Aini merangkul pundak Anna. mereka terlihat akrab dan saling menyayangi. keduanya berjalan menuju asrama.
"Apa yang kamu bahas bersama ustadzah?" tanya Aini.
"Ustadzah memotivasi ku agar giat belajar. aku juga minta ustadzah untuk mengajari ku setiap hari jum'at, sabtu dan minggu sore." jawab Anna.
"Kamu tidak ada waktu libur kegiatan sore?" tanya Aini.
"Untuk sementara tidak dulu, nantik kalau kamu belanja keluar kasih tau ya, aku mau nitip." jawab Anna.
"Baiklah. jangan terlalu memaksa diri, hasilnya tidak akan baik." ucap Aini.
"Ya, aku hanya ingin mencoba dan berusaha." jawab Anna.
Bagi Anna menyerah bukanlah solusi dari pilihannya setelah pindah sekolah. bagaimana pun semua pilihan pasti memiliki resiko yang harus siap ia dijalani. Anna hanya perlu mengasah kemampuannya. berusaha sebaik mungkin walaupun kategori juara kelas yang diimpikannya mungkin tidak akan pernah ia dapatkan selama belajar di pondok.
...----------------...
jangan lupa like.
komen
tambahkan jadi bacaan favorit.
__ADS_1