Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Siapa dia?


__ADS_3

Ustad Faiz yang baru saja mengisi kajian di Mesjid tidak jauh dari pesantren milik Abi nya. Setelah acara selesai, Ustad Faiz segera pulang kerumah. Ustad Faiz menggunakan mobil milik Abi nya.


Abi Yahya pernah menawarkan untuk membelikan mobil untuk Ustad Faiz, tapi ustad Faiz menolaknya. Ustad Faiz berencana membeli mobil sendiri dengan uang hasil kerja kerasnya.


Ustad Faiz tidak mau lagi membebani Abi dan Ummi nya untuk memenuhi keperluannya. mobil Abi Yahya juga jarang digunakan karena itu Ustad Faiz masih bisa menabung dan menahan diri untuk tidak secepatnya membeli mobil.


Ustad Faiz melihat tiga santriwati yang keluar malam itu, sudah jadi pemandangan umum bagi Ustad Faiz melihat beberapa orang santriwati yang keluar malam hanya untuk mengantar baju kerumah satpam yang ada didepan rumahnya.


Ustad Faiz mengenali wajah kedua santri yang ia lihat malam ini, tapi tidak dengan satu santri yang melindungi matanya dengan tangannya karena silau cahaya lampu mobilnya.


Ustad Faiz hanya melihat bagian hidung dan bibirnya. bibir yang berwarna merah muda. sangat cantik untuk dilihat.


Lama Ustad Faiz baru keluar dari mobilnya. Ustad Faiz mengingat bagaimana warna bibir santriwati yang cantik itu. ingin rasanya Ustad Faiz segera menemukan santriwati yang ia lihat malam ini.


Selama mengajar Ustad Faiz tidak pernah memperhatikan dengan jelas warna bibir santriwatinya. Ustad Faiz hanya fokus melihat wajah Santriwati yang ia tunjuk untuk menjawab pertanyaan darinya.


Ustad Faiz masuk kerumah, Ummi dan Abi nya sedang duduk bercengkrama diruang keluarga.


"Kamu sudah selesai mengisi pengajian Faiz?" tanya Abi.


"Sudah Bi, Abi dan Ummi belum tidur?" tanya ustad Faiz sambil duduk di kursi ikut berkumpul bersama kedua orang tuanya.


"Kami baru saja menerima telpon dari Abi Zakaria, Katanya dia belum sempat mengantar syarat pindah Anna dalam waktu dekat ini. kemungkinan hari minggu depan dia baru sempat datang." jawab Abi Yahya.


"Sepertinya dia tidak mementingkan urusan pendidikan anak angkatnya." jawab Ustad Faiz.


"Jangan berpikir begitu. surat pindah Anna sudah ditangannya, dia hanya perlu mengantar. menurut Abi dia sangat peduli dan perhatian dengan anak angkatnya." jawab Abi Yahya.


"Kapan kamu mau bertemu Anna?" tanya Ummi Zahra.


"Kenapa harus cepat bertemu dengannya? setiap hari sabtu aku selalu masuk dikelas satu B Aliyah. tadi pagi dia yang tidak masuk dikelas yang aku ajarkan. dia hanya santriwati biasa. kenapa kita harus memberikan perhatian khusus padanya." jawab Ustad Faiz masih menolak bertemu Anna.


"Ummi tidak memaksa. Ummi hanya ingin kamu mengenalnya, agar kamu tidak memberinya hukuman. santriwati banyak yang takut kepada mu. kamu terlalu keras menghukum mereka." jawab Ummi Zahra.


mengingatkan Ustad Faiz agar tidak menghukum Anna.


"Istirahatlah kamu pasti capek." ucap Abi Yahya tidak ingin mendengar perdebatan Istri dan anaknya.


"Baiklah. aku kekamar dulu." jawab Ustad Faiz segera berdiri dari duduknya kekamar untuk istirahat.


Setelah ustad Faiz ke kamar nya, Abi melanjutkan obrolan bersama istrinya.

__ADS_1


"Ummi jangan jodohkan Faiz. biarkan dia menemukan jodohnya sendiri." ucap Abi saat hanya mereka berdua di ruangan itu.


"Ummi tidak berniat menjodohkan Abi. Ummi hanya takut Faiz memberi hukuman kepada Anna, Faiz selalu memberikan hukuman fisik kepada santriwati yang bersalah. Ummi takut Anna mendapat hukuman darinya. Apalagi jika Ummi Salma dan Abi Zakaria sampai mengetahui Anna dihukum." jawab Ummi Zahra menyampaikan kekhawatirannya.


Abi terdiam mendengar ucapan istrinya.


Memang selama tiga bulan mengajar Ustad Faiz termasuk keras menghukum santriwati yang bersalah. hukuman yang diberikan selalu memukul telapak tangan santriwati dengan Rol. sehingga telapak tangan yang dipukul merah dan membuat Santriwati kesakitan.


Ustad Faiz berusia 23 tahun. masih sangat muda dan belum berkeinginan untuk segera berumah tangga. Ustad Faiz masih mencari pasangan hidup yang tepat. karena itu ustad Faiz tidak mau terlalu buru- buru memutuskan orang yang akan menjadi pendamping hidupnya nantik. walaupun teman-teman ustad Faiz sudah banyak yang menjodohkannya dengan perempuan yang mereka kenal baik.


Ustad Faiz memiliki wajah yang tidak bosan untuk dilihat. manis dan terlihat berwibawa. Santriwati yang baru mengenal Ustad Faiz saat awal masuk suka menatap wajah Ustad Faiz. membuat Ustad Faiz jengkel dan merasa tidak nyaman ditatap lama oleh santriwati. Ustad Faiz sengaja memberi hukuman kepada santriwati yang selalu memandangnya saat belajar. Ustad Faiz akan memberikan mereka pertanyaan yang sulit agar santriwati itu mendapat hukuman dan tidak lagi melihatnya dengan tatapan aneh.


"Siapa yang bersama Aini dan Fitri malam ini, aku ingin melihat wajahnya, warna dan bentuk bibir yang sangat cantik. membuatku sulit melupakannya." Ucap Ustad Faiz seorang diri, saat sudah di kamar nya.


Ustad Faiz mengenal Aini karena Aini termasuk santriwati yang berprestasi jika belajar bersamanya, Ustad Faiz juga mengenal Fitri merupakan santriwati yang sangat sulit memahami pelajarannya. tapi Ustad Faiz tidak bisa membayangkan siapa perempuan yang bersama mereka. menurut Ustad Faiz perempuan itu sangat cantik.


***


Hari minggu pagi santriwati bergotong membersihkan asrama dan kebun. Buk Ani membagi anak asuhnya dalam dua kelompok. kelompok pertama membersihkan pekarangan perkebunan dan kelompok kedua membersihkan asrama.


Anna dan Fitri mendapat tugas membersihkan kebun sayur kangkung dan tomat yang sudah ditanam diarea perkebunan santriwati. mereka bersama teman satu kelompoknya mencabut rumput liar yang tumbuh diantara sayur kangkung dan tomat, memberi pupuk dan menyiramnya.


Mereka bergotong-royong setiap minggu sebelum jam 9.00 pagi. karena jam 09.30 santriwati akan kembali belajar


"Baik Buk, Fitri dimana ember nya?" tanya Anna karena di kebun tidak ada ember untuk mengangkat Air.


"Kamu pinjam ember di rumah masak, nantik kembalikan lagi." jawab Fitri.


"Oh. baiklah." jawab Anna


Anna segera kerumah juru masak meminjam ember. Anna dipinjamkan ember ukuran 10 liter.


"Ingat untuk mengembalikan, siapa namamu?" tanya juru masak yang sudah memegang pena.


"Anna." jawab Anna.


"Kelas berapa?" tanya juru masak lagi


"Kelas satu B tingkat Aliyah." jawab Anna.


"Ember ini harus kamu kembalikan sendiri, kalau tidak kamu kembalikan kamu akan diberi denda." ucap juru masak mengingatkan Anna agar bertanggung jawab.

__ADS_1


Anna mengangguk, mengambil ember itu dan segera pergi mengisi air dekat mesjid.


"Hay. kamu membersihkan apa?" tanya Aini yang sedang menunggu ember nya penuh terisi air.


"Aku mau menyiram tanaman di kebun." jawab Anna.


"Oh, Aku membersihkan kaca jendela asrama. aku duluan ya." ucap Aini pamit karena ember nya telah penuh.


"Iya. hati-hati." jawab Anna.


Anna sendirian menunggu ember nya penuh terisi air. Anna melihat laki-laki datang. Anna tidak melihat wajahnya, Anna hanya melihat ia menggunakan celana dan sendalnya kotor.


setelah ember nya penuh Anna segera membawa ember itu pergi.


Ustad Faiz tidak bisa melihat wajah Anna, karena Anna menunduk dan hanya melihat ember nya yang sedang di isi air.


"Sombong sekali santriwati itu. dia tidak melihat siapa yang datang." batin ustad Faiz.


Ustad Faiz segera mencuci kaki dan sendalnya yang kotor. Ustad Faiz baru saja membersihkan selokan disekitar mesjid, mengeluarkan tanah dan pasir yang hampir memenuhi selokan.


"Assalamualaikum Ustad." sapa seseorang pada ustad Faiz.


"Waalaikummussalam." jawab ustad Faiz menoleh kearah suara yang memberinya salam.


"Eh Ustad Gibran. cepat sekali datang, mau ikut gotong royong dulu?" tanya Ustad Faiz pada temannya yang juga mengajar di pondok.


"Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan. jadi saya datang kesini lebih awal." jawab Ustad Gibran.


Ustad Gibran mengajar di pondok Fatimah selama dua hari, hari minggu dan hari selasa. Ustad Gibran mengajar hanya ditingkat Aliyah kelas satu dan dua Aliyah mengajarkan dua bidang studi pondok.


Ustad Gibran merupakan lulusan universitas negeri di kota itu dengan jurusan pendidikan agama islam. ustad Gibran mengajar pelajaran Fiqih dan Tahfiz.


Setelah membersihkan sendalnya Ustad Faiz mengajak Ustad Gibran untuk kerumahnya.


Ustad Gibran bertemu Abi Yahya. Abi Yahya mengingatkan Ustad Gibran agar tidak memberi hukuman untuk Anna. karena Anna santriwati baru dan masih belajar membaca kitab pondok. Ustad Gibran mengangguk paham dengan apa yang disampaikan Abi Yahya.


"Seharusnya dia tidak diberi kelonggaran, masa hanya karena anak angkat sahabat Abi. dia tidak bisa dihukum. enak sekali dia." batin Ustad Faiz.


Ustad Faiz jengkel karena Abi Yahya menasehati semua Ustad dan Ustadzah yang mengajar dikelas Anna, agar tidak menghukum Anna.


...----------------...

__ADS_1


Tetap Like ya,.


Terimakasih.


__ADS_2