
Ibrahim mengajak Lusi dan Arkan untuk bersiap ke pasar malam yang ada di desa tetangga mereka. Setelah selesai bersiap, mereka keluar dari kamar.
"Adnan kita lihat pasar malam yok." ucap Ibrahim mengajak Adnan.
"Boleh Bi?" tanya Adnan melihat Abi nya.
Adnan selalu meminta ijin pergi kemanapun. baik diajak atau pergi sendiri. jika Ummi dan Abi nya tidak memberi ijin maka Adnan tidak akan pergi.
"Pergilah, jangan pulang terlalu malam." jawab Abi memberi izin.
Adnan sangat bahagia karena kali ini Abi tidak menyebut jam untuk pulang.
Danu ikut pergi bersama mereka.
Sekarang tinggallah Ummi, Abi, Kakak, Nenek dan Ira di rumah itu.
Suasana yang diharapkan Ummi sudah terwujud. mereka bisa bicara sebagai orang tua dari kedua belah pihak tanpa ada yang mengganggu.
Ummi merasa deg degan khawatir jika pendekatan yang mereka lakukan tidak diterima dengan baik. dengan menghembus nafas panjang Ummi memulai pembicaraan.
"Begini, hari kamis lalu Anna menghubungi kami. mengajak kami bertemu dengannya di asrama. Anna menyampaikan kepada kami dia ingin sekolah di pondok pesantren khusus perempuan. kami merasa bersyukur Anna memiliki keinginan untuk sekolah di pondok pesantren." ucap Ummi memulai pembicaraan.
Ira, Nenek dan Kakek terkejut mendengar ucapan Ummi Salma.
"Sebaiknya Anna tetap di SMA saja. jika pindah sekolah, Kami tidak sanggup untuk membayar biaya awal masuk sekolah lagi." jawab Ira, tidak mendukung keputusan Anna karena kendala keuangan.
Ummi tersenyum mendengar jawaban Ira.
"Kami sudah menganggap Anna anak sendiri. kami sudah membayar uang pendaftaran dan uang sekolah pondok untuk enam bulan. sekarang Anna sudah tinggal di pondok pesantren." jawab Ummi membuat Ira, Nenek dan Kakek bertambah kaget.
"Kenapa Anna tidak menghubungi kami? apa masalahnya? kenapa sampai harus pindah sekolah?" tanya ira terlihat khawatir dan cemas.
"Anna tidak memiliki masalah. Anna hanya ingin memperdalam ilmu agama. jadi kami mohon, kalian tidak usah khawatir dan berpikir yang buruk tentang Anna." jawab Ummi Salma tidak mau memberitahu alasan sebenarnya Anna pindah.
"Jika tidak keberatan kita bisa menjenguk Anna besok, Kalian bisa menginap di rumah kami." ucap Abi mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang.
Abi juga takut mereka menolak dan bersikeras tidak mendukung keputusan Anna.
"Saya tidak bisa ikut, saya kerja dan belum minta izin." jawab Kakek.
"Sebenarnya bagus jika Anna memang punya niat memperdalam ilmu agama. tapi kami merasa tidak enak jika Ummi yang harus repot mengurus dan membiayai Anna." jawab Ira.
Ummi dan Abi merasa mendapat angin segar, karena Ira bicara seperti itu.
"Kami tidak merasa keberatan membiayai sekolah Anna, kami ikhlas. kami hanya punya satu anak laki-laki. dengan adanya Anna kami bisa memiliki anak perempuan." jawab Ummi dan tersenyum.
"Ummi maaf sebelumnya. Apakah Anna hanya menganggap Adnan sebagai kakaknya? Atau apakah Anna ingin sekolah di pondok karena memiliki tujuan tertentu, seperti Anna berharap lebih dari sekedar anak angkat?" tanya Ira, curiga Anna menyukai Adnan dan memanfaatkan kebaikan keluarga Adnan.
Ummi dan Abi tertawa kecil mendengar ucapan Ira. Mereka tidak menyangka jika keluarga Anna berfikir Anna memanfaatkan kebaikan mereka untuk mendapatkan Adnan.
"Kenapa kamu bisa menuduh Anna seperti itu Ira?" tanya Ummi.
"Saya melihat Anna sangat senang menyebut nama Adnan sewaktu dia pulang kemaren. saya harap Ummi tidak memberikan peluang jika memang Anna tidak pantas untuk Adnan." ucap Ira yang merasa rendah diri, melihat perbedaan penampilan kehidupan mereka.
"Bagaimana kalau malam ini kami melamar Anna untuk Adnan?" jawab Ummi membuat Ira, Nenek dan Kakek kaget tidak menyangka Ummi begitu terus terang.
"Ummi jangan bercanda, bagaimana mungkin Anna kami, bisa Ummi lamar untuk Adnan?" tanya Nenek yang merasa semuanya mustahil.
"Baiklah kami tidak perlu berlindung lagi. sebenarnya Adnan lah yang telah mempertemukan kami bersama Anna. Adnan yang terlebih dahulu mencintai Anna. Anna tidak mau melanggar janjinya pada Ira dan Nenek. karena itu Anna memilih sekolah di pondok pesantren agar tidak bertemu Adnan dan Anna bisa fokus sekolah." jawab Ummi menceritakan kebenarannya.
__ADS_1
Ira, Nenek dan Kakek tersenyum mendengar ucapan Ummi. mereka tidak menyangka Anna bisa dicintai Adnan dan dia beruntung memiliki calon suami dan mertua yang akan selalu menyayangi nya.
Ira hampir menangis mendengar ucapan Ummi. Ira bersyukur Anna masih bisa menahan diri terhadap Adnan yang menurut Ira tidak mungkin untuk Anna.
"Terimakasih Ummi dan Abi, telah membiayai dan mau menerima Anna." Jawab kakek merasa senang dan tidak perlu khawatir lagi untuk calon suami cucunya.
"Untuk saat ini biarlah Anna sekolah dulu. Kami tidak menolak lamaran Ummi. kami berharap Ummi mau menunggu Anna untuk menyelesaikan sekolahnya dulu." ucap Nenek memberi kejelasan atas pertanyaan lamaran Ummi.
"Alhamdulillah," ucap Ummi dan Abi bersyukur keluarga Anna tidak menolak niat baik mereka.
"Terimakasih, kami akan menunggu Anna selesai sekolah. setelah itu kami akan datang untuk melamar Anna." jawab Ummi Salma dengan senyum bahagia diwajahnya begitu juga dengan Abi.
"Sebenarnya kami khawatir jika kalian menolak lamaran kami, syukurlah kita bisa memiliki satu pandangan yang baik untuk anak-anak kita." ucap Abi merasa bahagia tidak memiliki beban dan keraguan lagi untuk hubungan Adnan dan Anna.
Ira, Nenek dan Kakek tersenyum mendengar ucapan Abi.
"Baiklah, untuk lamaran insyaallah setelah Anna Lulus kami akan datang untuk melamarnya. saya harap pembicaraan kita malam ini kita rahasiakan dulu dari siapapun. termasuk dari Anna dan Adnan. agar mereka bisa fokus sekolah dulu." Ucap Ummi Salma mengajak Ira, Kakek dan Nenek untuk bekerjasama merahasiakan pembicaraan mereka malam ini.
"Baiklah, kami akan merahasiakan ini." jawab Kakek. Ibu dan Nenek mengangguk membenarkan ucapan Kakak.
Ummi mengeluarkan Hp dari dalam Tasnya.
"Ini dari Anna. Anna menyuruh saya memberikannya pada mu." ucap Ummi sambil meletakkan Hp didepan Ira.
Ira mengambil Hp itu dan tersenyum.
"kapan Anna bisa ditelpon." Tanya Ira
"Hari kamis, tapi harus Anna dulu yang menghubungi nanti baru kita bisa menelponnya." jawab Abi.
"Kalau untuk berkunjung kapan?" kembali Ira bertanya.
"Untuk jadwal berkunjung bisa setiap hari dari setelah sholat ashar sampai menjelang azan magrib. karena anak-anak di pondok tidak memiliki kegiatan belajar sore." jawab Abi.
"Setelah ujian Pondok selesai dan anak-anak telah menerima rapor." jawab Abi.
"Artinya Anna hanya bisa pulang sekali dalam enam bulan" ucap Nenek.
"Ya." Jawab Abi.
"Baiklah kalau tidak ada halangan minggu depan saya akan menjenguk Anna dan menginap di rumah Ummi." ucap Ira.
"Iya, baiklah. kami senang mendengarnya." jawab Ummi.
Mereka saling menyimpan nomor kontak ponsel masing-masing, agar lebih mudah menjalin silaturrahmi dan saling memberi kabar jika ada berita bahagia atau duka.
***
Adnan mengelilingi tempat bermain pasar malam seorang diri. Adnan tertarik untuk ikut main gelang. Adnan mendatangi tempat Paman, Danu yang duduk menunggui Lusi menemani Arkan bermain mandi Bola.
"Paman kita main gelang yang di sana yok!" ucap Adnan mengajak Ibrahim yang sedang menunggui Lusi dan Arkan main mandi bola.
"Cuma menghabiskan duit, hadiahnya juga kecil-kecil." jawab paman.
"Kita gak cari hadiah paman, untuk seru-seruan aja." jawab Adnan.
Ibrahim nampak enggan untuk bermain, bagaimana pun tujuan Ibrahim membawa Adnan ke pasar malam hanya untuk menghibur Adnan agar tidak suntuk berada di rumah semalaman. Ibrahim tidak berniat menghamburkan uang, karena Ibrahim memiliki tanggungan keluarga dan hutang bulanan yang harus ia bayar.
Danu juga tidak tertarik untuk bermain tentu saja alasannya ekonomi.
__ADS_1
"Kalau Adnan yang bayarkan gelangnya bang Danu dan Paman mau kan ikut main?" tanya Adnan tidak kehabisan akal agar bisa merasakan permainan gelang itu.
"Oke." jawab keduanya.
Ibrahim memberi kode kepada Lusi untuk pergi ke depan, Lusi mengangguk.
Adnan berjalan duluan, Paman dan Danu berjalan dibelakangnya. tinggi mereka hampir sama, ukuran badan juga terlihat hampir sama hanya saja perut Adnan masih rata tidak seperti perut Danu dan Ibrahim yang terlihat menonjol.
"Dulu sewaktu masih belum berkeluarga saya juga suka main gelang. sekarang rasanya sayang kalau harus mengeluarkan uang untuk permainan seperti ini." ucap Paman saat berjalan beriringan bersama Danu.
"Betul, apalagi saya hanya bekerja sebagai supir pribadi Abi. memang gajinya setara dengan karyawan perusahaan. kalau untuk bermain menyenangkan diri sendiri rasanya tidak seru lagi. tapi kalau ada yang menawarkan gratis, rugi kalau ditolak." jawab Danu, membuat paman Ibrahim tertawa.
Adnan tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
Adnan membeli gelang, dengan membayar 10.000 mendapat 4 gelang. Adnan membeli dengan bajet 300.000, Adnan memberikan 40 gelang kepada Paman dan 40 gelang untuk bang Danu dan 40 untuknya.
Paman melongo mendapat begitu banyak gelang.
"Gunakan dengan baik-baik, kita kumpulkan hadiahnya." ucap Danu yang melihat ekspresi Paman yang heran dengan banyaknya gelang yang dibeli Adnan.
"Apa Ummi dan Abi nya tidak marah Adnan menghabiskan uang sebanyak ini untuk main?" tanya Ibrahim pada Danu.
"Ini belum seberapa. Ayok konsentrasi main." ucap Danu mengajak Ibrahim untuk segera main.
Mereka menguasai tempat bermain gelang itu. jika gelang berhasil masuk kedalam kayu yang bertulis huruf abjad, mereka akan mendapat hadiah. dua orang petugas bersiap mengambil gelang yang mereka lempar dan langsung menyiapkan hadiah.
Mereka mulai bermain. mereka tidak peduli dengan ada atau tidak hadiah yang mereka dapat. mereka hanya fokus memasukkan gelang kedalam kayu yang tertancap dimeja yang posisinya sengaja dibuat miring kebawah.
Mereka bermain sambil tertawa lepas, mengundang perhatian pengunjung lainnya untuk menonton permainan mereka. Apalagi Adnan berada dipinggir kiri, membuat mereka kagum dengan kulit putih dan wajah ganteng Adnan, yang berbeda dari dua pemain lainnya.
Setelah menghabiskan semua gelang. dua petugas pemilik permainan itu menyerahkan dua kantong besar hadiah mereka bertiga. Danu mengambil kedua kantong itu. mengantarnya ke mobil Abi yang mereka bawa ke pasar malam.
Adnan masih belum puas bermain. Adnan mengajak paman Danu untuk ikut melempar bola kasti untuk merobohkan susunan Keleng kosong. jika berhasil menjatuhkan semua kaleng kosong mendapat hadiah. 3 bola kasti dengan nilai tukar uang 25.000. Adnan kembali menukar uang 100.000, mereka mendapat jatah bola masing-masing 6 bola kasti.
Hadiah kali ini juga besar yaitu boneka besar yang seukuran tinggi Arkan bahkan ada yang lebih besar dari itu. Paman berhasil memenangkan satu hadiah boneka besar.
Danu datang ketempat mereka bermain. Adnan kembali menukar uang 100.000 dengan 12 bola kasti, kali ini Danu ikut bermain. masing-masing mendapat 4 bola kasti. bola kasti terakhir Adnan mengenai susunan kaleng kosong dan Adnan mendapat satu hadiah boneka besar.
Adnan begitu bahagia mendapatkan boneka itu. Adnan membawa boneka itu menuju parkiran mobil. paman Ibrahim juga bahagia bisa memberikan boneka besar untuk istrinya. selama ini paman belum pernah mendapatkan hadiah sebesar ini saat bermain di pasar malam.
Danu tersenyum melihat kedua teman bermainnya yang mendapat hadiah.
"Bang Danu, kayaknya di plastik besar tadi juga ada boneka. nantik boneka itu untuk bang Danu aja." ucap Adnan tidak enak melihat Danu tidak membawa boneka pulang.
"Oke, kita lihat isi plastik besar itu." ucap Danu sambil membuka bagasi belakang mobil Abi.
Benar saja ternyata ada satu boneka ukuran sedang yang masuk kedalam plastik hadiah itu.
"Wah kamu hebat juga, bisa melihat hadiah yang mereka masukkan." ucap Danu.
"Gak boleh terlalu fokus satu hal bang. main juga harus pakai pertimbangan." ucap Adnan mengajari Danu agar tetap jeli melihat semua hal.
"Benar-benar anak Abi dan Ummi, udah ganteng cerdas lagi. beruntungnya Anna bisa memiliki hati mu." ucap Danu didalam hatinya, mengetahui hubungan Anna dan Adnan.
...----------------...
Tetap beri like ya 😊
komen dan ajak teman yang lain
__ADS_1
untuk baca novel ini,.
Terimakasih,. 🙏🏻