Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Malam perpisahan


__ADS_3

Malam ini Anna dan Ibu tidur di rumah Nenek, tentu saja Anna dan Ibunya harus pulang ke rumah dulu untuk mandi dan berganti baju.


Jam 19.00 Ibrahim sudah siap dengan acara bakar ayamnya, ayam yang sudah dibersihkan tadi sore sudah dibumbui siap untuk dipanggang.


Semuanya Lusi yang menyiapkan, Lusi tidak ingin malas lagi ke dapur, dia ingin menjadi menantu dan istri yang baik, apalagi mertuanya sudah tua.


Ibrahim sedang asik mengipas ayam panggang, sementara Lusi menyiapkan tempat untuk mereka makan di teras belakang.


Nenek yang melihat perubahan Lusi merasa bahagia, Nenek berharap semoga ini awal yang baik untuk kebaikan mereka semua.


"Masih lama masak ayamnya Ibrahim?" tanya kakek dari ruang makan.


"Baru dibakar Ayah, apa ayah sudah lapar?" tanya Ibrahim yang berada di dapur luar rumah tempat Nenek biasa merebus air minum.


"Iya." jawab Kakek singkat sambil memegang perutnya.


Nenek dan Lusi yang melihat Kakek mengelus perut tertawa.


"Ayah makan saja dulu, lauk dan nasi sudah Lusi siapkan di teras belakang, kita makan di teras malam ini." jawab Lusi.


"Ooo, pantas saja meja makan kosong." jawab Kakek sambil berjalan ke teras belakang sekalian melihat Ibrahim yang sedang mengipas ayamnya.


''Nenek," ucap Anna yang baru datang bersama Ibunya.


"Cepat sekali datangnya, ayamnya masih dipanggang Paman."ucap Nenek.


"Anna mau tolong Paman Nek." ucap Anna.


"Dimana yang lain Buk?" tanya Ira.


"Lusi, Arkan dan Ayah mu sudah di teras belakang," jawab Nenek yang saat ini duduk di kursi makan.


"Ayo kita ke sana" ucap Ira.


Semuanya sudah berkumpul di teras belakang, Kakek yang sudah lapar akhirnya makan duluan.


Anna kembali mengambil foto dan merekam kebersamaan mereka malam ini.


Ayam panggang buatan Paman akhirnya selesai dipanggang, mereka makan dengan lahap, ponsel Anna tidak berhenti berbunyi dari awal mereka datang, Ira mereka terganggu dengan bunyi itu, walaupun ponsel berbunyi Anna tidak menghiraukannya, karena bagi Anna saat bersama keluarga tidak boleh sibuk dengan hape.


"Anna kenapa hape mu terus berbunyi?" tanya Ira.


"Itu pesan dari teman-teman Anna, nantik Anna baca." Jawab Anna.


"Kecilkan saja suaranya." jawab Ira.


"Ya Bu." ucap Anna sambil mematikan nada ponselnya.


"Maklum kak, anak muda." jawab Ibrahim.


"Kakak paham, tapi semenjak Anna pulang dari rumah Lala, hape Anna lebih sering berbunyi." ucap ira merasa terganggu dengan bunyi hape Anna.


"Begitulah kak, apa lagi Anna baru punya hape, wajar saja dikeroyok teman-temannya." bela Ibrahim.


yang lain masih meneruskan makannya tanpa terganggu dengan perdebatan dua beradik itu.


Setelah acara makan selesai dan perlengkapan makan dibersihkan mereka berkumpul diruang keluarga sambil menonton tv, duduk lesehan di atas tikar sambil berbaring malam ini terasa lebih hangat karena semuanya saling bercengkrama.


"Gak ada acara perpisahan dengan teman-teman Anna?" tanya Lusi.


"Udah disekolah kemaren." jawab Anna.


"Bukan itu, maksud tante kayak kita malam ini, acara makan-makan sekeluarga karena Anna akan masuk sekolah." jawab Lusi.


"Ini bukan perpisahan Lusi, ini tu syukuran kita." ucap Ibrahim.


"Ooo, aku kira ini acara perpisahan karena Anna sekolah dan tinggal di Kota." ucap Lusi malu.


"Sabtu Minggu Anna bisa pulang, untuk apa pakai acara perpisahan." ucap Ibrahim menjelaskan.


"Jam berapa kita mengantar Anna ibrahim?" tanya Kakek.


"Kalau jam 7 pagi ayah bisa?" tanya Ibrahim pada Kakek.


"Ayah jam 7 baru ganti shif jaga, tapi yang lain siap-siap aja, jadi saat ayah pulang tinggal Ayah yang siap-siap." ucap Kakek menjelaskan.


"Baiklah." ucap Ibrahim.

__ADS_1


"Barang untuk dibawa sekolah sudah disiapkan Anna?" tanya Paman.


"Sudah, tinggal dimasukkan dalam tas Paman." jawab Anna.


"Hari minggu pagi Paman bawa mobil ke rumah Anna biar mudah nyusun barang nya ya." ucap Ibrahim.


"Jalan ke rumah Anna kan kecil Paman, mana bisa bawa mobil." ucap Anna.


Ibrahim tertawa mendengar jawaban Anna.


"Kamu kira paman ini supir amatiran?" jawab Ibrahim sambil tersenyum kearah Anna.


Sebenarnya jalan ke rumah Anna bisa dilewati mobil, Anna ingat kata-kata pak Wawan yang waktu itu berkata dia menunggu dipinggir jalan saja karena jalan ke rumah Anna sempit.


"Syukurlah kalau Paman bisa jemput barang-barang Anna ke rumah, jadi Anna sama Ibu gak susah lagi ngantar barang bawaan ke rumah Nenek." ucap Anna dengan bahagia.


Hari semakin larut, rasa kantuk mulai menghampiri mereka, akhirnya Kakek dan Nenek memutuskan untuk lebih dahulu masuk kamar, disusul Paman dan tante Lusi.


Sedangkan Ira dan Anna masih fokus menonton.


"Anna boleh ibu lihat hape Anna?" tanya Ira.


"Boleh Bu, ini." ucap Anna sambil memberikan hapenya pada Ibu.


Ira mulai membuka pesan WhatsApp Anna,


hampir semua chat yang dibaca Ira memberikan ucapan selamat pada Anna, tidak ada chat yang membuat Ira khawatir.


"Anna maaf ya, ibu bukak WhatsApp Anna." ucap Ira.


"Gak papa Bu, lagian untuk apa Anna pakai rahasia dari Ibu." ucap Anna tulus.


"Kamu harus pandai jaga diri ya, jangan mudah tergoda dengan lawan jenis, kamu masih kecil, Ibu harap Anna bisa fokus sekolah dulu." ucap ira menasehati Anna.


"Ibu, Anna juga gak ada niat untuk pacaran, Anna akan jaga diri, Ibu jangan terlalu khawatir." jawab Anna.


"Ibu hanya punya kamu Anna, karena kamu Ibu bisa melakukan banyak hal, kamu adalah penyemangat Ibu, tolong jangan buat ibu kecewa." ucap Ira penuh harap.


"Iya Bu, doakan Anna selalu dijalan yang benar ya Bu," ucap Anna manja.


Anna memeluk Ibunya, agar lebih tenang, tanpa sadar mereka tertidur didepan Tv.


******


Waktu terasa cepat berlalu, Anna dan keluarganya sudah berada di gerbang SMA xx.


Satpam menghampiri mobil mereka.


"Mohon maaf, mau kemana? tanya satpam ramah.


"Kami mau mengantar cucu untuk masuk Asrama." ucap Kakek yang duduk disebelah Ibrahim.


"Ooo, didepan langsung belok kiri saja pak, nantik ada gerbang, itu khusus parkir asrama, silahkan." ucap satpam menjelaskan.


"Ooo, terimakasih ya," ucap Kakek dan Ibrahim bersamaan.


Setelah tiba diparkiran Asrama hanya ada beberapa mobil di area parkir,mungkin mereka datang terlalu awal, jadwal pertemuan siswa baru jam 15.00, sedangkan saat ini masih jam 14.04, mereka turun dari mobil dan berjalan menuju asrama.


Mereka menghampiri Satpam yang duduk di lorong masuk asrama.


"Atas nama siapa?" tanya satpam.


" Anna fitri andini'


"Anna di rumah Putih, lantai 1, kasur nomor 2 dan lemari nomor 2, posisi bangunan ada disebelah kiri lorong ini." ucap Satpam sambil menyerahkan kunci lemari.


"Apa keluarga boleh masuk?" tanya Ibrahim.


"Untuk awal ini boleh pak, silahkan." ucap Satpam mempersilahkan masuk.


"Wah, Mas elit sekali sekolah di sini, semua bangunan bertingkat, ada satpam di setiap gerbang." ucap Lusi kagum dengan bangunan sekolah SMA xx.


"Iya Mas juga gak nyangka, semoga Anna aman dan betah di sini." ucap Ibrahim sambil berjalan memperhatikan bacaan yang tertulis di dinding bangunan.


Sebelah kiri dari lorong masuk ada empat bangunan terpisah berjejer lurus, bangunan pertama bertulis rumah biru, bangunan kedua rumah pink, bangunan ketiga bertulis rumah putih, disebelah rumah putih bertulis rumah pengurus disebelah rumah pengurus terdapat pagar besi tinggi, dari pagar besi itu bisa melihat lalu lalang kendaraan dijalan raya. halaman asrama tidak begitu luas ada taman bunga dan jejeran kursi santai tepat dibawah pohon mangga yang rimbun, dibelakang kursi santai ada bangunan bertingkat yang membelakangi asrama.


Setelah menemukan rumah putih mereka segera menuju pintu lantai bawah, gedung dua lantai itu berukuran 10x10, dilantai satu terdapat dua ruangan, ruang tidur dan kamar mandi, setelah pintu dibuka terlihat tempat tidur sudah berjejer lima di kiri dan lima di kanan, di samping tempat tidur aja lemari yang sudah diberi nomor sesuai dengan nomor tempat tidur, sedangkan ditengah ruangan disediakan meja dan kursi sebanyak sepuluh buah, di sudut belakang bagian kiri dan kanan ruangan terdapat pintu menuju kamar mandi.

__ADS_1


.


"Wah, kamu yakin biaya bulanan Anna cuma 1.500.000, Nak?" tanya Nenek pada Ira.


"Iya kemaren tertulis di brosur nya begitu buk, saat registrasi kemaren kami juga bayar segitu" jawab jawab Ira.


"Tapi ini bangunan dan fasilitasnya mewah sekali, semoga saja tidak ada perubahan biaya." ucap Nenek.


Setelah melihat ruangan dan menyusun barang bawaan Anna mereka mulai berjalan-jalan keluar untuk melihat bangunan yang lain.


Jalur kanan pintu masuk asrama ada bangunan bertulis "Rumah masak" bangunan dua lantai ini digunakan untuk tempat stok bahan masak dan dapur, sedangkan lantai atasnya dijadikan rumah para juru masak, Tenaga Kebersihan dan Satpam asrama.


Disebelah rumah masak terdapat mesjid yang lumayan besar.


Didepan halaman rumah masak dan mesjid terdapat bangunan yang panjang berupa koperasi sekolah yang menyediakan jajanan, alat tulis sekolah dan kebutuhan lainnya, dinding bangunan koperasi dikelilingi kaca putih dan terdapat pintu mengarah ke rumah masak, tentu saja memudahkan orang-orang yang berada di asrama mudah untuk berbelanja, disebelah koperasi terdapat kantin sekolah lengkap dengan meja kursi makannya, dinding kantin sekolah sengaja dibuat setinggi pinggang dewasa sehingga mereka dapat melihat jejeran kursi panjang yang tertata rapi di sana.


"Wah, Anna beruntung sekali kamu bisa sekolah disini." ucap Lusi.


"Iya aku juga gak nyangka asramanya bagus sekali." ucap Ira.


"Jadi, kemaren saat registrasi Anna dan kakak belum lihat asrama ini?" tanya Lusi.


"Kemaren kami masuk dari gerbang depan, jadi kami hanya liat bangunan yang ada di depan saja." ucap Ira.


"Wah, berarti Kakak udah liat semua bangunan disini, pasti lorong antara koperasi dan bangunan itu jalan menuju kelas Anna, Mas aku boleh kebangunan depan gak?" ucap Lusi pada Ibrahim.


"Mau ngapain? tu ada satpam yang jaga, tanya saja." jawab Ibrahim.


Lusi yang sangat penasaran akhirnya memberanikan diri menghadap satpam di lorong tengah pemisah bangunan kelas dan komplek asrama.


Arkan yang berada di gendongan Kakek merengek menunjuk arah koperasi, tentu saja tujuannya untuk membeli jajanan.


"Pak, saya boleh melihat bangunan yang ada didepan? tanya Lusi pada satpam.


"Boleh, silahkan Buk, tapi tidak di izinkan masuk ke ruangan ya," ucap Satpam ramah.


"Iya saya cuma berdiri diujung lorong itu saja, saya hanya ingin lihat bangunan yang ada di depan." ucap Lusi.


Anna, Ibu dan nenek duduk di kursi santai di depan asrama, sedangkan Arkan, Kakek dan Ibrahim masuk ke koperasi untuk memenuhi permintaan Arkan.


Ibrahim dapat melihat Lusi yang sedang berjalan melewati lorong pemisah kelas dan asrama, saat lusi sudah berada agak jauh dari lorong lusi lagi-lagi terperangah melihat bangunan sekolah itu yang tertata rapi ada taman mini didepan setiap bangunan menambah keindahan area itu.


"Ngapain disini sendirian?" ucap Ibrahim mengagetkan Lusi.


"Loh, Mas kenapa bisa ada disini, lewat mana? tanya Lusi.


"Lewat pintu la, tu,." ucap Ibrahim sambil menunjuk pintu koperasi.


"Oh, ternyata koperasi ini ada dua pintu masuk, satunya dari asrama, pintu satu lagi dari arah sekolah." ucap Lusi.


"Bentar Mas, foto dulu yuk."


"Kayak gak ada tempat bagus aja tuk foto." jawab Ibrahim.


"Mas, aku gak pernah ngerasain sekolah SMA, foto dulu yok, biar ada kenangan disekolah SMA." ucap Lusi sambil tersenyum.


"Ya udah, jangan banyak-banyak." ucap Ibrahim mengalah.


Akhirnya mereka berfoto dengan beberapa pose.


Anna yang sedang duduk bersama Ibu dan Nenek dapat melihat orang-orang yang mulai berdatangan, mereka juga diantar oleh keluarga.


"Anna, itu ada yang masuk rumah putih lantai bawah, berarti itu kawan sekamar Anna." ucap Ira sambil memperhatikan orang-orang yang datang, ada yang naik kelantai atas ada yg dilantai bawah.


"Iya Bu, nanti saja Anna kenalannya, mereka juga sedang bersama keluarga." ucap Anna memperhatikan orang-orang yang datang.


Untuk naik kelantai dua asrama putih, asrama biru dan asrama pink, mereka menggunakan tangga dari luar bangunan terbuat dari semen yang menempel pada dinding asrama.


...*** Diberitahukan kepada peserta didik baru yang menempati rumah putih agar segera berbaris didepan asrama putih karena acara akan dimulai,...


...dan kami harapkan orang tua siswa agar mendampingi anaknya dalam berbaris***...


Anna dan Ira segera mengambil tempat untuk berbaris setelah mendengar pengumuman dari arah rumah pengurus.


Ibrahim dan Lusi yang mendengar pengumuman langsung bergegas menunju arah suara, mereka melihat Anna dan Ira sudah berdiri didepan asrama putih, sedangkan Nenek,Kakek dan Arkan duduk di atas kursi di bawah pohon mangga, Ibrahim dan Lusi bergabung bersama mereka.


Terlihat empat orang panitia keluar dari rumah pengurus, keempatnya memakai pakaian yang longgar dan menggunakan jilbab.

__ADS_1


Anna merasa kagum dengan penampilan panitia asrama.


...----------------...


__ADS_2