
di rumah tampak Abi dan Umi sedang duduk santai menonton Televisi.
Adnan segera mengganti pakaian dan ikut duduk bersama kedua orang tuanya.
"Abi kenapa gak bilang mau acara kunjungan ke asrama?",. tanya Adnan
"kenapa?, biasanya setiap kunjungan kamu juga gak ikut",. jawab Abi Zakaria
"kali ini boleh Adnan ikut Bi?",.. tanya Adnan
Abi menoleh ke Ummi Salma, menunggu jawaban dari istrinya.
"Kamu gak papa kalau diketahui Anna sebagai anak pemilik yayasan?, Abi sama Ummi sih setuju aja kalau Adnan ikut",. jawab Ummi Salma
Adnan berfikir, Adnan teringat Anna yang menolak untuk bertemu kedua orang tuanya saat hari pertama mereka jumpa.
"waktu Adnan pertama jumpa Anna, Adnan udah ngajak Anna untuk ketemu Abi sama Ummi, awalnya Anna mau ikut, tapi setelah Adnan bilang Adnan gak boleh pacaran, harus milih perempuan yang tepat untuk jadi istri, Anna jadi takut, Anna takut disuruh nikah cepat, menurut Abi bagusnya bagaimana?" ucap Adnan.
Mendengar penjelasan Adnan, Abi dan Ummi nya tertawa.
"Jangan-jangan cuma kami yang mengetahui hubungan mu dengan nya, apa Anna tidak bertanya apa pekerjaan kami?" tanya Abi pada Adnan.
"Kami belum pernah membahas keluarga." jawab Adnan.
Abi dan Ummi sama- sama saling pandang.
"Kok kayaknya Anna tidak tertarik dengan kehidupan mu." ucap Abi.
"Kalau gitu kamu gak usah ikut, biar Ummi selidiki masalah ini," jawab Ummi salma yang penasaran dengan kepribadian Anna.
"Trus kamu pernah tanya tentang keluarganya atau dia tinggal dimana?" tanya abi pada Adnan.
"Anna pernah bilang dia Anak yatim, dia juga anak tunggal, selalu naik motor sama ibunya, kalau alamatnya Anna tidak mau sebutkan pastinya dimana, dia cuma bilang rumahnya jauh, 3 jam dari kota." jawab Adnan sambil mengingat apa yang pernah di ucapkan Anna.
"Benar-benar pelit informasi tentang dirinya ya," ucap Ummi Salma.
"Bukan pelit, Anna itu ke kota untuk menuntut Ilmu, dia kan bilang tidak mau pacaran, mau fokus belajar, anak kita aja yang ambil kesempatan duluan, pakai acara umumkan ke orang di sekolah Anna tunangannya." ucap Abi Zakaria.
Mendengar ucapan Abi Adnan tertunduk malu, ketahuan aksi nekatnya untuk tidak melepaskan Anna, yang semula hanya pengen jadi kakak adik sekarang teman-teman sekolah dan teman asrama Anna tahu kalau mereka adalah tunangan.
"Betul juga," ucap Ummi.
"Kamu kalau mau ngasih perhiasan untuk calon istri itu yang bagus dan mahal dong, masa cuma emas putih 2 gram," ucap ummi yang mengetahui jenis cincin yang di ambil Adnan dari toko perhiasan milik mereka.
Lagi-lagi Adnan dibuat malu, ketahuan ngambil perhiasan dari toko perhiasan Ummi Nya.
"Adnan kan gak tau soal perhiasan Mi, kalau emas kuning gak boleh dipakai disekolah, jadi Adnan ambil yang putih aja," jawab Adnan membela diri.
Toko perhiasan mereka di jaga oleh orang kepercayaan Ummi yang sudah bekerja selama 10 tahun bernama Pak Tedi, pak Tedi sudah be keluarga dan tinggal di lantai dua toko perhiasan itu, Adnan menghubungi pak Tedi pagi-pagi sekali sebelum ia sampai di sekolah.
"kamu kasih yang mahal pun belum tentu Anna akan tahu barang itu mahal, dasar bocah." batin Ummi.
"Jadi besok keputusannya bagaimana? kamu ikut atau tidak?" tanya Abi.
"Adnan di rumah aja Bi, takut ketahuan sama yang lain kalau Adnan anak Abi," jawab Adnan tersenyum.
"Ya baguslah, jika kamu sudah mengambil keputusan". jawab Abi.
__ADS_1
Sore ini Adnan menelpon Bang Didi, berharap ada informasi tentang Hp Anna yang selesai diperbaiki.
"Ada kabar dari tempat servis Hp Anna bang?" tanya Adnan.
"belum ada kabar dari tempat servis, mungkin besok pagi baru selesai diperbaiki," jawab Didi.
Adnan merasa kesal dengan jasa servis yang memperbaiki Hp Anna, karena tidak mau komunikasi nya terputus Dengan Anna, Adnan pergi ke Mall pusat belanja jenis HP terbanyak di kota itu.
Setelah memikirkan selera dan tipe Anna yang tidak suka boros Adnan memilih Hp dengan harga standar untuk usia anak sekolah.
Setelah Hp di setting dan dilakukan pembayaran, Adnan segera pulang, Adnan berencana malam minggu ini menemui Anna di parkiran asrama.
***
Setelah mendapat izin dari Bunda Yani Adnan segera pamit kepada kedua orang tua nya untuk pergi ke asrama.
"Jika Bunda Yani sudah izinkan kamu, pergilah," ucap Abi Zakaria.
Seperti pertemuan mereka sebelumnya, jika Adnan berkunjung dia hanya bisa menemui Anna diparkiran Asrama dan di awasi bang Didi.
"Kak Adnan?" ucap Anna sedikit kaget karena malam ini malam minggu dan Adnan menemuinya.
Apalagi tadi Bunda yani hanya bilang ada tamu diparkiran sedang menunggu Anna, saat Anna sedang kumpul bersama teman-teman asramanya.
Mereka duduk di gazebo parkiran, ditemani bang Didi, walaupun Didi hanya sibuk dengan Hp nya.
Adnan menyerahkan sebuah kotak kecil di atas nya ada coklat silverqueen yang panjang, hingga menutup gambar pada kotak kecil itu.
Anna segera meraih pemberian Adnan.
Adnan tersenyum mendengar ucapan Anna.
"bukak dulu, liat isi nya," ucap Adnan.
Anna segera membuka kotak Hp itu, Anna melihat itu bukan Hp nya yang rusak.
"Kak Adnan belikan Anna Hp baru?" tanya Anna
"iya, tapi gak mahal." ucap Andan.
Anna mengeluarkan Hp itu dari kotaknya.
"Anna gak perlu yang mahal kak,"
ucap Anna sambil memperhatikan Hp barunya, setelah melihat jenis Hp itu dengan ukuran ram dan memory nya Anna berucap.
"Kak Adnan bohong, ini mahal kak, Anna baru dua minggu lalu lihat harga Hp di konter sama Ibu, ini harganya hampir 6 juta, kok bisa harga segitu kakak bilang murah?" tanya Anna yang mulai penasaran dengan keuangan Adnan.
"Untuk adik kesayangan Kakak harga segitu gak mahal," ucap Adnan.
"Tapi Anna gak mau terlalu banyak habiskan duit kak Adnan, kasian orang tua kak Adnan yang susah payah kerja, masa kakak main kasih sama Anna aja," ucap Anna tidak mau menjadi beban orang tua Adnan.
Adnan bingung sendiri harus bilang apa, memang selama ini Adnan hanya menerima transfer dana setiap bulan tanpa harus menolong Abi dan Ummi bekerja, tapi dengan prestasi belajar yang Adnan berikan sudah membuat kedua orang tuanya puas dan memang hanya itulah saat ini yang menjadi tuntutan kedua orang tua Adnan.
setiap kali Adnan berprestasi disekolah nya orang tua Adnan akan memberikan transfer yang banyak, Adnan juga di didik agar bisa memanfaatkan uang kiriman dari orang tua nya dengan baik, jika ada keperluan atau urusan biaya sekolah Adnan tidak perlu melapor lagi pada orang tuanya karena Adnan akan menggunakan uang di rekening nya sendiri untuk membiayai semua keperluannya.
"Boleh kakak cerita?" tanya Adnan.
__ADS_1
"ya" jawab Anna.
"Kakak memanggil kedua orang tua kakak dengan sebutan Abi dan Ummi, usia mereka saat ini 57 tahun. mereka terlahir dari keluarga berkecukupan, tapi orang tua kakak tetap memiliki usaha sendiri, kakak anak mereka satu satunya.
dulu setelah lulus sekolah dasar, kakak sekolah di pondok pesantren hingga lulus setara SMP, selama di Pondok Pesantren kakak selalu diberi uang bulanan dan kedua orang tua kakak hanya berkunjung satu kali dalam sebulan, kakak sadar uang yang mereka berikan setiap bulan lebih banyak dari teman-teman kakak yang ada di Pondok, karena itu kakak juga harus menunjukkan, kakak bisa membahagiakan mereka dengan prestasi dan tidak menghamburkan uang mereka begitu saja, setelah lulus di Pondok kakak melanjutkan sekolah ke SMA xx, Abi selalu mentransfer uang bulanan kakak sampai sekarang dan di penghujung sekolah SMA kakak bertemu Anna, kedua orang tua kakak juga merestui kita, apa salahnya jika uang itu kita gunakan bersama, selagi itu masih dalam tahap kewajaran orang tua kakak tidak akan marah.
apa Anna masih merasa keberatan dengan yang kakak berikan untuk Anna?" tanya Adnan.
Mendengar cerita Adnan, Anna tahu Adnan memiliki sisi kehidupan yang berbeda darinya, Anna merasa kehidupan Adnan sangat sempurna dan Anna bersyukur Adnan bersedia berbagi kesempurnaan itu dengannya, Anna sangat bahagia, bisa mengenal orang seperti Adnan.
"Kak, maaf, Anna tidak bisa berbuat seperti kak Adnan, Anna tidak berani memberitahu tentang kakak pada Ibu, Anna takut Ibu kecewa karena Ibu inginnya Anna tetap berprestasi, jika Ibu tahu tentang kak Adnan sekarang dan nantik setelah ujian sekolah ternyata Anna tidak bisa mendapat rangking, Anna takut Ibu akan kecewa, bolehkah jika kita seperti ini saja?" tanya Anna.
"Boleh, itu tidak akan merugikan siapa pun, Kakak akan bantu Anna agar dapat rangking kelas, targetnya mau rangking berapa?" tanya Adnan.
"Mau nya satu kak." jawab Anna sambil memperlihatkan gigi putihnya dengan wajah bahagia.
"oke, kita Akan kerjasama, tapi permintaan Anna untuk tidak menemui, mendekati Anna selama disekolah kita hapus ya," pinta Adnan.
Anna tersenyum malu.
"Anna mau minta maaf sama kak Adnan, karena tidak mempertimbangkan perasaan kak Adnan sebelum membuat permintaan itu, Anna juga menyesal telah membuat permintaan seperti itu, maafkan Anna ya kak" Ucap Anna sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
tingkah Anna membuat Adnan gemes.
Adnan hampir saja menyentuh tangan Anna.
"em, udah lama ngomong, apa gak haus?" tanya Didi yang merusak suasana.
Keduanya sadar ternyata mereka tidak hanya berdua di tempat itu, Adnan segera meraih botol minum yang ada di samping Didi, membuka tutupnya lalu memberikannya pada Anna.
setelah Anna minum Adnan meraih botol itu dan meminumnya juga.
Anna yang belum pernah berbagi botol minuman dengan lawan jenis tidak bisa menstabilkan Jantungnya.
"Kak terimakasih ya Hp nya, Anna mau kedalam dulu untuk nelpon Ibu," ucap Anna berlari meninggalkan Adnan yang masih memegang botol minumnya.
"Anna kenapa bang, kok wajahnya tegang gitu?" ucap Adnan menyadari perubahan wajah Anna.
"Mungkin dia malu, lihat kamu minum bekas minumannya." ucap Didi.
"Kenapa harus malu?" tanya Adnan.
"Emang kamu gak merasa aneh minum bekas dari bibir Anna?" tanya Didi.
"Minuman ini berasa lebih manis bang," jawab Adnan sambil tersenyum nakal.
"Sialan, kalau gak ada abang, kamu pasti udah pegang Anna," ucap Didi menggoda Adnan.
Adnan tertawa mendengar ucapan Didi.
"Kalau gitu lampiaskan nya kesini Aja ya," ucap Adnan sambil bergelayut di lengan Didi.
"Boleh, sekalian aja kita kekamar abang." jawab Didi menantang, membuat Adnan kesal dan melepaskan rangkulannya.
Didi tertawa berhasil membuat Adnan marah.
...----------------...
__ADS_1