Bingkai Hati Anna

Bingkai Hati Anna
Jadi sopir


__ADS_3

Kegiatan masa orientasi siswa (MOS) untuk peserta didik baru dihari ketiga ini dilakukan dikelas masing-masing, wali kelas mereka yang memandu kegiatan pagi ini, wali kelas Anna adalah kak Endang, tentu saja kalau disekolah Anna akan memanggilnya Buk Endang.


Setelah memperkenalkan diri, Buk Endang mengeluarkan infokus dari dalam lemari kelas, Anna merasa takjub dengan fasilitas kelas dan media yang digunakan Buk Endang, kelas Anna juga dipasang AC, Anna sangat nyaman berada dikelasnya, Buk Endang memperlihatkan jadwal pelajaran yang akan mereka lalui setiap minggu nya.


"Oke siswa siswi semuanya silahkan catat jadwal pelajarannya dibuku masing-masing, setelah mencatat jadwal kita akan melakukan pemilihan Ketua Kelas dan dilanjutkan dengan pembagian jadwal piket kelas," ucap Buk Endang.


Teman sekelas Anna sangat antusias mengikuti perintah Buk Endang.


selesai mencatat, kelas Anna menjadi heboh karena pencalonan ketua kelas yang mendapat banyak masukkan dari semua murid sebagai calon ketua kelas.


Buk Endang memutuskan yang menjadi calon hanya tiga orang, teman sekelas Anna berjumlah dua puluh orang terdiri dari delapan perempuan dan dua belas laki-laki, akhirnya pilihan calon tertuju pada Ragel sebagai calon pertama, calon kedua Hengki dan calon ketiga adalah Nindi.


"Oke, ketiga calon ini akan kita pilih untuk menjadi ketua, sekretaris dan bendahara kelas. Ibu harapkan semua yang ada didalam kelas ini menulis jawaban, sebutkan nama dan jabatan untuk masing-masing calon ini, calon yang mendapat pilihan jabatan terbanyak akan dinyatakan menang dan memegang jabatan tersebut, apa semuanya bisa paham?" ucap buk Endang bijak.


"Paham buk," ucap mereka kompak.


Kertas jawaban masing-masing siswa dikumpulkan didepan meja wali kelas.


Buk Endang menunjuk Anna untuk menuliskan nama ketiga calon dipapan tulis dan menulis jabatan pilihan yang sudah di tulis oleh seluruh siswa siswi yang dibacakan oleh buk Endang sendiri.


Setelah dihitung, untuk ketua kelas dimenangkan oleh Hengki, untuk sekretaris dimenangkan oleh Ragel, sedangkan untuk bendahara dimenangkan Nindi.


Setelah memberikan ucapan selamat kepada semua calon, kelas kembali heboh karena mereka memilih hari peket kelas sesuai keinginan masing-masing.


Buk Endang kembali menenangkan kelas, Buk Endang menanyakan siswa siswi yang bersedia piket dari hari senen sampai jumat, hanya ada beberapa siswa yang dipindahkan hari piket nya karena petugas piket harus dibagi sama banyak selama hari sekolah, sedangkan hari sabtu dijadikan hari kegiatan sekolah dan tidak menggunakan petugas piket kelas.


Tindak terasa sudah jam 09.30 saatnya siswa siswi istirahat.


Anna dan teman-teman perempuan sekelas nya kompak ke kantin, begitulah Anna menjaga dirinya agar tetap bisa fokus menuntut ilmu, Anna tidak mau memberi peluang pada murid laki-laki untuk mendekatinya.


Anna dan tujuh temannya duduk saling berhadapan dimeja yang sama.


"Anna, tu tunangan mu juga duduk di kantin," ucap Rara yang kemaren mendengar jawaban dari Adnan kalau Anna adalah tunangannya.


"Serius udah tunangan?" ucap teman Anna yang lain kompak.


Belum sempat Anna menjawab.


Rara yang duduk disebelah kiri Anna, meraih tangan kiri Anna, " Ni lihat" ucap Rara memperlihatkan cincin putih yang melingkar dijari manis Anna.


" Wah," ucap teman Anna heboh.


mengundang perhatian penghuni kantin.


"Ada apa sih heboh banget," ucap Hengki sang ketua kelas yang baru saja lewat dimeja mereka.


"Ketua, teman kita ini udah gak bisa diganggu ya, karena udah ada yang punya," ucap Kiana teman satu kelas Anna sambil memegang pundak Anna yang duduk disebelah kanan Anna.


"Maksud nya apa?" tanya Hengki.


"Anna udah tunangan," ucap Rara dengan suara keras.


Ucapan Rara dapat didengar oleh beberapa orang yang tidak jauh dari meja Meraka, Adnan dan beberapa teman-teman rekan OSIS nya yang tidak jauh dari meja mereka dapat mendengar apa yang dihebohkan olah murid kelas sepuluh itu.


"Aduh, jantung ku, baru juga mau pedekate, ternyata udah ada yang curi star duluan," ucap Hengki memegang dadanya, memancing tawa teman perempuan sekelasnya.


Sedangkan Anna hanya cengengesan tersipu malu, tidak mungkin berkata tidak, apalagi Adnan berada tidak jauh dari mereka juga sedang melihat ke arahnya.


"Halo" ucap Adnan menghampiri meja tempat Anna dan teman-taman nya duduk.


"Halo juga kak," ucap mereka kompak yang mengenal Adnan sebagai ketua OSIS.


"Tolong jaga tunangan Kakak ya," ucap Andan sambil menatap Anna, Anna pun menatap Adnan dengan perasaan malu.


"Oke kak," jawab teman Anna kompak.


"Serius, Anna tunangannya kak Adnan?" tanya Hengki.


"Iya" ucap Adnan percaya diri.


"Kalau dengan ketua OSIS mana kuat untuk bersaing, aku kalah jauh," ucap Hengki dengan ekspresi kecewa memegang dadanya.


Tingkah Hengki kembali membuat tawa teman sekelasnya.


Hengki meninggalkan meja kelompok Anna dan duduk bersama siswa laki-laki lainnya tidak jauh dari tempat duduk Anna dan teman-temannya.


Teman semeja Anna merasa malu didatangi ketua OSIS, apalagi Adnan adalah tunangan Anna, membuat teman Anna tidak berani bicara lagi.


mereka juga merasa Anna dan Adnan adalah pasangan yang serasi.


Adnan tahu Anna sangat malu saat ini, karena hubungannya diketahui oleh semua teman sekelasnya.


"Anna ikut kakak yok," ajak Adnan.


Kiana yang duduk dipinggir masuk, berdiri, memberikan peluang untuk Anna keluar dari duduknya.


"Anna duluan ya," ucap Anna pamit meninggalkan teman-temannya.


"Jangan mojok ya, sekolah kita di awasi cctv" ucap Rara mengundang tawa yang lainnya.


Anna tersenyum malu dan meninggalkan temannya.

__ADS_1


Adnan jalan duluan di ikuti Anna, Adnan masuk ke ruang koperasi yang menjual berbagai cemilan, minuman dan kebutuhan harian anak-anak yang tinggal di asrama. Adnan membeli beberapa roti, cemilan dan minuman dingin.


setelah belanja Adnan menuju ke ruang OSIS.


"Kak, kenapa kesini, Anna malu," ucap Anna yang berdiri didepan Adnan ketika keduanya sudah dekat ke ruang OSIS.


"Kita ke ruangan UKS Dek, bukan ke ruang OSIS," ucap Adnan sambil berjalan mendahului Anna dan masuk ke ruang UKS.


"Siapa yang sakit?" batin Anna, kemudian menyusul Adnan masuk keruang UKS.


"Duduk dek," ucap Adnan yang sudah duduk duluan di kursi UKS dan meletakkan cemilan yang ia beli di atas meja.


Anna melihat kearah tempat tidur yang tidak ada penghuni.


"Tidak ada yang sakit, kenapa kita kesini kak?" tanya Anna.


"Di Ruang OSIS katanya malu," ucap Adnan sambil membuka botol minumannya dan memberikan pada Anna.


Anna langsung meminum minuman pemberian Adnan.


"Pelan-pelan minumnya, jangan dihabisin, rotinya belum dimakan ucap Adnan," menahan botol minuman Anna menghentikan Anna yang sedang minum.


Aksi Adnan membuat minuman yang diminum Anna meleleh membasahi dagu Anna.


Adnan meraih tisu dan membersihkan dagu Anna.


Anna yang sudah gugup dari tadi bertambah gugup, tubuhnya menegang, merasakan usapan lembut dari Adnan yang dialas tisu.


Adnan yang awalnya hanya reflek membersihkan dagu Anna mendadak menjadi salah tingkah melihat bibir merah Anna yang terlihat menggoda, dada Adnan berdebar kuat, ingin sekali Adnan merasakan bibir Anna yang terlihat menantang itu.


Adnan teringat pesan Abi Zakaria, Adnan langsung melepas tangannya dari dagu Anna.


"Maafkan kakak dek," ucap Adnan menundukkan wajahnya menetralkan jantungnya yang dag dig dug.


"Sebaiknya kita keruangan OSIS saja kak," ucap Anna yang menyadari banyak godaan jika hanya mereka berdua saja.


"Baiklah," ucap Adnan.


Keduanya berjalan memasuki ruang OSIS, setelah merasakan debaran jantung mereka normal, Adnan dan Anna memakan roti yang dibeli Adnan dan menawarkan pada rekan-rekannya yang ada di ruangan OSIS.


Walaupun diawal masuk ruang OSIS mereka mendapat ledekan dari rekan-rekan Adnan setidaknya mereka tidak berdebar seperti saat berdua, keduanya bahkan kompak membalas ledekan teman-teman Adnan.


"Ternyata sulit memenuhi janji sama Abi," ucap Adnan saat hanya ada Iqbal diruang OSIS duduk agak jauh dari mereka.


"Mungkin karena kebiasaan kakak," jawab Anna santai sambil mengunyah cemilannya.


"Ngomong apa sih dek," ucap Adnan sedikit ngegas.


Adnan menatap Anna yang masih asik mengunyah Tanpa merasa bersalah atas apa yang di ucapkan nya.


keduanya saling menatap.


"Dengarkan kakak baik-baik, jangan pernah samakan kakak dengan laki-laki lain, Anna adalah cinta dan perempuan pertama yang Kakak pegang dan tidak akan pernah kakak lepaskan, Anna juga yang membuat kakak selalu ingin menyentuh tubuh ini, tapi bukan untuk pemuas nafsu.


kalau masih bicara sembarangan Kakak akan mendatangi keluarga Anna, Kita nikah." ucap Adnan dengan jelas dan penuh keseriusan.


Anna dapat mendengar dengan jelas apa yang disampaikan Adnan, melihat raut wajah Adnan, Anna yakin Adnan tidak main-main dengan ucapannya, padahal mereka baru kenal tiga hari tapi Adnan sangat yakin menjadikan Anna istrinya, jantung Anna berdebar kencang, mulut Anna tidak bisa berkata, ada banyak pertanyaan dalam pikiran Anna, tapi Anna takut salah berucap apa lagi Adnan sudah mengancamnya.


Iqbal yang melihat perlakuan Adnan kepada Anna langsung berdiri dari duduknya dan mendekati meja mereka.


"ciieee menikmati banget tu pegang pipi adik cantiknya," goda Iqbal menyadarkan Adnan yang lagi-lagi memegang Anna.


Adnan melepaskan tangannya dari wajah Anna, Adnan melihat kearah Iqbal.


"Ganggu orang aja," ucap Adnan kesal.


"Jangan marah, ketua, ini siapa?" tanya Iqbal ingin menguji keberanian Adnan mengakui perasaannya.


"Namanya Anna, dia tunangan dan calon istri ku" ucap Adnan percaya diri seolah mengetahui niat Iqbal bertanya.


"Cieee, kemaren sok jaim, akhirnya punya pacar juga menjelang lulus," ucap Iqbal menggoda.


"T u n a n g a n." ucap Adnan menekankan.


"Cius tunangan, kapan acaranya?" tanya Iqbal tak percaya.


"Angkat tangannya dek," ucap Adnan melihat Anna, Adnan juga mau Anna menunjukkan hubungan mereka pada teman baiknya ini.


Anna mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan cincin yang iya pakai.


"Wih, sekali kecantol langsung sikat, yakin bisa setia?" goda Iqbal.


"Maksudnya?" tanya Adnan.


"Baru kenal tiga hari status udah langsung tunangan, gue aja yang pengalaman gak berani lamar anak orang, masak baru kenal tiga hari udah jadi tunangan, jangan-jangan Anna terpaksa pakai cincin dari Lo," ucap Iqbal menyudutkan Adnan.


"Kak Adnan gak maksa Anna, Anna suka cincinnya," ucap Anna membela Adnan.


Sebenarnya apa yang disampaikan Iqbal membuat Adnan sedikit terkejut. **terpaksa** itulah kata-kata yang membuat Adnan terenyuh, Adnan belum pernah memperlakukan perempuan dengan istimewa, Adnan takut caranya berbuat bisa menyakiti Anna, apalagi cara Adnan mencintai Anna mungkin sedikit posesif.


"Terimakasih, tolong tinggalkan kami," ucap Adnan dengan wajah serius.

__ADS_1


Iqbal tidak berani membantah ucapan Adnan, Iqbal langsung keluar dari ruang OSIS.


Anna sedikit bingung dengan sifat Adnan yang menyuruh Iqbal pergi dan lagi-lagi mereka hanya berdua di ruangan itu.


"Anna maafkan kakak, mungkin kakak terlalu memaksa Anna, tidak memahami keinginan Anna, jika kakak salah, tolong Tegur, kakak tidak mau perbuatan kakak menghancurkan impian kakak." ucap Adnan dengan wajah memohon.


"Anna tidak merasa terpaksa kak, tapi sebaiknya kita menjalani hubungan ini atas dasar kakak adik saja, supaya kita lebih santai menjalaninya," ucap Anna.


"Apa menurut Anna kakak terlalu kaku?"


"Kakak terlalu cepat bertindak," ucap Anna spontan.


Adnan merasa yang dikatakan Anna benar, entah mengapa sulit sekali baginya untuk santai menjalani hubungannya dengan Anna.


"Apa Anna punya solusi agar hubungan kita bisa santai dan kakak tidak selalu merindukan kebersamaan dengan Anna?"


"Kakak simpan saja nomor hape Anna, hubungi Anna saat kakak perlu saja,"


"Baiklah, sini kakak simpan nomor hape Anna" ucap Adnan sambil mengetik nomor Anna di hapenya.


"Kita boleh bawa hape kesekolah kak?" tanya Anna.


"Boleh, tapi tidak di gunakan saat jam belajar, jika ketahuan guru akan mendapat poin catatan kesalahan, trus harus ingat, jangan simpan video atau gambar tidak senonoh di HP, karena ada pemeriksaan HP dadakan," ucap Adnan menjelaskan.


"Ooo, Anna kira tidak boleh bawa hape."


Adnan tertawa mendengar ucapan Anna,.


"Sekolah kita gak kaku dengan peraturan dek," ucap Adnan memegang kepala Anna sebentar.


"Apa Anna ada saran lagi untuk hubungan kita?" tanya Adnan.


"Saat jam sekolah kita jangan sering ketemu, kita harus fokus belajar dan bergaul dengan teman yang lain, tapi tetap jaga perasaan masing-masing. menurut Anna begitu saja supaya hubungan kita santai," ucap Anna.


"Kakak jadi gak yakin Anna belum pernah pacaran, belajar dari mana sih trik seperti itu?" tanya Adnan penuh selidik karena tidak percaya Anna bisa memberikan solusi seperti orang yang sudah berpengalaman.


Anna tertawa melihat Adnan.


"Itu cara Anna biar bisa ngilangin perasaan mendalam terhadap laki-laki yang bisa menarik hati Anna semenjak SMP," ucap Anna sambil tertawa.


"Ooo, jadi adik kakak ini ternyata sudah bisa tertarik dengan lawan jenis semenjak SMP," ucap Adnan tersenyum.


"Ih, kayak kakak gak pernah tertarik sama perempuan aja," ucap Anna membalas.


"Banyak sih yang terang -terangan bilang suka sama kakak, tapi hati kakak gak merespon, malah ada yang pingsan depan kakak tapi kakak gak niat nolong malah nyuruh Iqbal yang bawa dia ke UKS" ucap Adnan jujur.


"Trus kenapa saat Anna sakit kakak datang ke UKS malah kakak yang ngobati Anna?" tanya Anna penasaran.


"Saat liat Anna dihari pertama sekolah hati kakak udah bergetar, pengen liat Anna terus, saat Anna digendong Tian, kakak merasa tertarik untuk melihat siapa yang dibawa Tian, makanya kakak masuk UKS, reflek aja kakak langsung cari obat dan ingin menjaga Anna," ucap Adnan jujur dengan perasaannya.


Anna merasa terharu mendengar kejujuran Adnan.


"Oke, kakak akan coba melakukan saran dari Anna, semoga kakak bisa, semoga kita berjodoh, saling mencintai dan saling membahagiakan,aamiin," ucap Adnan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan wajah bahagia.


Anna tertawa melihat Adnan dan mengikuti gerakan Adnan sambil berucap "Aamiin".


keduanya sama-sama tertawa bahagia.


Adnan seolah menemukan kembali jati dirinya, mulai bisa mengontrol diri dan berlaku santai saat bersama Anna.


***


Setelah pulang sekolah Anna langsung menemui Bunda Yani.


"Bunda jadi temani Anna belanja?" ucap Anna sopan.


"Jadi, ni bunda udah siap, Anna ganti baju dulu ya," ucap Bunda.


"Memangnya tempat belanjanya jauh bunda? Anna cuma mau beli bedak," ucap Anna tidak tau tujuan.


"Ummi juga ikut Anna, masa Anna cuma ngajak Bunda," ucap Ummi Inah yang keluar dari kamarnya.


"Kalau ummi ikut, kita bonceng tiga?" tanya Anna yang terbiasa menggunakan motor kemana-mana dengan ibu nya.


Ummi dan Bunda tertawa mendengar ucapan Anna.


"Anna kita naik mobil sayang," ucap Bunda Yani dan tertawa kembali.


"Oh, ya baiklah Anna ganti baju dulu," ucap Anna sebenarnya masih penasaran.


Setelah mengganti pakaian Anna segera keluar Asrama dan menemui Ummi dan Bunda yang sudah duduk di kursi tamu rumah pengurus.


Ketiganya berjalan menuju parkiran mobil dibelakang Asrama, Adnan sudah siap dengan gayanya yang rapi, memakai baju kaos dan topi dipadu dengan celana jeans panjang, terlihat lebih dewasa dan santai.


melihat Bunda, Ummi dan Anna yang mendekati mobilnya Adnan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk mereka.


"Kak Adnan?" ucap Anna sedikit kaget apalagi ini pertama kalinya bagi Anna melihat Adnan memakai baju selain seragam sekolah, Adnan terlihat sangat tampan.


"Kakak jadi supir dek," ucap Adnan tersenyum kearah Anna.


Pakaian Anna terlihat sederhana dan juga tidak modis, jilbab yang digunakan Anna juga jilbab sekolah, tapi Adnan tidak mempermasalahkan itu, karena bagi Adnan lebih baik jika dia bisa memenuhi kebutuhan Anna, Adnan juga ingat Anna adalah anak yatim tentu sangat menguntungkan bagi Adnan bisa memanjakan Anna dan menjadikan Anna sebagai tanggungannya.

__ADS_1


Ummi Inah yang lebih tua duduk didepan menemani Adnan sedangkan Anna dan bunda Yani duduk dibelakang.


...----------------...


__ADS_2