Bos Ajaib

Bos Ajaib
10. Elo Mau Dijodohin? Gue Mah Ogah!


__ADS_3

Setelah gagal ketemu dua hari yang lalu karena macet dan hujan, siang ini Jaka mengabarkan kalau dia sedang tugas luar kantor dan akan jemput aku ke kantor sore ini.


Aku sih senang, karena kalau di jemput atau di antar tandanya uang transport aku kan utuh. Enggak perlu mikir, supirnya tahu jalan gak ya? Argonya sesuai gak ya? Sedangkan kalau naik Grab car atau gojek kepikirannya mobilnya bersih atau enggak ya dalamnya? Supirnya enak enggak ya nyetirnya? Aaah pokoknya banyak deh pertanyaannya.


Aku yang sudah tidak memegang pekerjaan alias sudah siap cabut kapan pun Jaka ngabarin, hanya bermain games di ipad di depan komputer yang memang sudah aku matikan.


Tapiiii... Jaka baru ngabarin kalau dia sudah dibawah saat jam 6 sore, padahal janjiannya dia sampai kantorku jam 5 sore. Sebel sih, tapi ya sudahlah, mungkin macet.


Saat aku ke bawah, aku melihat cowok yang dari tampilannya sesuai dengan foto yang di kasih Jaka sedang ngobrol dengan Mas Malik.


"Hai Jak, sudah lama?" tanyaku sambil bersalaman dengan Jaka.


"Lumayan, sudah satu jam. Saya keenakan ngobrol, jadi telat ngabarin kamu."


"Ngobrol sama Mas Malik?" tanyaku menyelidik.


"Iya. Dari tadi ngobrol berdua aja, " sahut Jaka.


"Ooh, ya sudah yuk, pulang sekarang saja ya." Aku tidak mau berlama - lama saat ada si bos. Apalagi pas makan malam tempo hari aku menceritakan sedikit soal perjodohan ini dan aku menyebut nama Jaka.


"Ayooo. Mas Malik saya pamit dulu ya," kata Jaka.


"Mas, saya duluan ya." Aku menambahkan.


"Oke. Hati - hati ya kalian." Jawab Mas Malik.


"Kita makan dulu yuk, baru saya anter kamu pulang." Jaka memberikan ide yang sudah aku tunggu - tunggu. Aku mengangguk dengan semangat, tidak lupa pakai senyum.


"Pancious Pancake ya?" Aku langsung meminta tempat makan sebelum ditanya oleh Jaka. Mohon maaf nih, sama aku enggak ada basa basi jaga image.


"Siap. Pilihan tempat di setujui." Jaka menjawab sambil tersenyum dan melirikku manis. Halah!


Begitu mobil meluncur di jalan raya aku langsung mewawancarai Jaka mengenai obrolannya dengan Mas Malik.


"Jak, kenapa tadi begitu sampai enggak langsung ngabarin sih? Gue kan nungguin diatas," protesku.


"Iya tadi begitu turun dari mobil, ketemu Mas Malik. Dia nanya mau ketemu siapa, setelah aku bilang mau ketemu kamu, dia langsung nebak nama gue. Emang elo cerita apaan tentang gue, sampai dia tahu nama gue. Kalian dekat?"


"Hah? Aaih, Mas Malik itu bos gue. Terus waktu mama minta gue ketemuan sama elo di weekend yang akhirnya batal itu karena harus ke Lombok, mama kan enggak percaya. Akhirnya gue minta bantuan Mas Malik buat ngomong sama mama, kalau gue memang ada tugas kantor." Aku memilih untuk terbuka sama Jaka, daripada nantinya ada salah paham.


Aku melanjutkan cerita. "Pas masuk kantor, Mas Malik nanya, kenapa nyokap gue sampai tidak percaya. Jadinya gue cerita deh. Kalau dekat, gue merasa enggak dekat sih. Biasa aja sama si bos."


"Ooh, gue pikir elo sahabatan gitu. Dia sih bilang kamu ada di timnya dia."

__ADS_1


" Iya, gue di timnya dia. Dia bos, gue anak buah." kataku.


Kami pun sampai di Plaza Indonesia. Setelah ngasih kunci ke valet parking, kami pun menuju ke Pancious Pancake yang berada di lantai 3A.


Saat ini kami sedang melihat - lihat menu dari buku yang baru di kasih oleh pelayan.


"Jak, minumnya Fresh Fruit Cocktail aja ya? Kita sharing, kan satu porsinya untuk beberapa orang. Mau ya?" Aku merayu Jaka biar dia setuju dengan kemauanku.


"Iya boleh." Lagi - lagi dia tersenyum manis. Yiiiihaa!


"Makanannya elo yang milih deh, gue apaan aja terserah elo. Kan elo sudah setuju minuman pilihan gue. Biar adil."


"Oke! Bagaimana kalau sharing juga? Jadi kita pesan pasta sama pancake yang sweet. Terus kita minta piring tambahan buat kita makan. Kalau kurang kita tambah lagi menu yang lain. Setuju enggak?" Jaka memberikan ide dilengkapi keterangan apa yang dia inginkan.


"Setuju, pakai banget!"


"Eh elo ada alergi enggak? Terus doyan seafood enggak?" tanya Jaka.


"Jawaban pertama enggak punya alergi, jawaban kedua gue doyan seafood. Jadi pilihan menu elo, apapun itu, gue setujui." Aku menjawab sambil tersenyum. Kayak Jaka tadi, dia kan bolak balik senyum. Jadi ini hanya membalas kebaikannya yang sudah senyum ke aku tadi.


"Mbak, kami mau pesan seafood marinara, banana fritters kami pilih dengan pancake, sama fresh fruit cocktail. Sama kita minta piring tambahan untuk kita makan ya Mbak." Jaka memesan menu makan kami dengan runut yang kemudian di bacain lagi sama pelayannya untuk memastikan pesanan kami.


"Jaka," ujarku untuk memulai percakapan dan negosiasi.


"Yap! Kenapa Chel?"


"Boleh. Elo dulu deh yang ngomong," katanya.


" Gue enggak suka dengan ide orang tua kita. Kalau elo gimana?"


"Gue sampai saat ini belum bisa kasih jawaban. Kita baru ketemu beberapa menit. Dua jam juga belum kan?" Jaka memulai kalimat pembuka tentang perjodohan ini.


"Kenapa gitu?"


"Sebentar. Sejak tadi kita ketemu, lalu percakapan di mobil hingga saat ini, gue merasa nyaman sama elo."


"Gimana kalau kita temenan saja? Pleaseee Jaka, gue mohon." Aku pun memasang ekspresi wajah memelas.


Jaka hanya membalas dengan tersenyum yang lagi - lagi manis.


"Rachel, santai saja kenapa sih? Sudah enggak usah dipikirin. Kamu tenang saja." Jaka komentar dengan entengnya.


"Tenang - tenang! Tahu - tahu nanti elo dateng sama keluarga elo ngelamar gue lagi!" kataku dengan emosi dan kejudesanku yang hakiki ke Jaka.

__ADS_1


Jaka tertawa terbahak - bahak dengan suaranya yang keras. Kayaknya nih cowok puas banget deh kalau lihat dari tertawanya yang lepas gitu. Belum pernah di selepet nih cowok.


Situasi mencair setelah pelayan datang membawa pesanan minuman dan piring- piring yang di minta Jaka tadi.


Tanpa permisi, aku langsung menuang minumanku ke gelas pendek yang dibawain pelayan tadi. Aku langsung menenggaknya sampai habis. Saat ini aku males ngomong, karena ternyata keinginan Jaka enggak sejalan dengan keinginan aku. Aku lebih memilih bermain dengan ponsel.


"Chel, ibu gue terus nanyain apa gue sudah menghubungi elo setelah dia kasih nomor elo. Kita berdua ketemu saat ini kan alasannya sama karena nyokap."


Aku diam dan tetap menatap ke ponselku. Dia pasti membela diri, untuk nyoba perjodohan ini. Aaah lama - lama minta setelin lagu Siti Nurbaya milik Dewa 19 juga deh sama mbak pelayannya.


"Rachel," panggil Jaka. Untungnya pelayan datang dengan membawa menu pasta kami. Setelah sang pelayan meletakkan diatas meja, aku langsung mengambilnya. Tanpa bicara.


"Rachel, kita sambil ngobrol ya. Ya sudah, gini deh, gue mau tahu planning elo gimana?" tanyanya. By the way, Jaka dewasa juga ya? Tapi kok dia masih single ya? Kan biasanya cowok manis banyak juga yang ngejar ya?


Oh iya, aku belum cerita fisiknya si Jaka ini ya. Dia tuh tinggi, sekitar 180 cm, kulitnya agak kecokelatan, suaranya agak serak - serak gitu, penampilannya sederhana, tapi rapi, dan memperhatikan penampilan. Bukan tipe cowok branded premium gitu.


"Tadinya gue mau kita ketemu terus membahas penolakan perjodohan ini dengan nyaman biar silaturahmi tetap bagus. Gue senang berteman, tapi gue juga gak suka di paksa - paksa, di jodohin kayak gini. Terserah elo sih sekarang, tapi gue juga bisa nekat."


Aku bicara sambil makan dan Jaka pun mendengarkan sambil makan. Untungnya pancake datang saat aku selesai bicara. Jadi aku bisa konsentrasi memotong pancake jatah aku.


"Ya sudah, kita berteman saja ya. Tapi cara kita harus halus ya menyampaikan ke orang tua kita, jangan frontal. Niat mereka kan baik. Tapi kalau menurut gue, kita mencoba bersahabat saja, jadi nanti mereka enggak terlalu kaget. Gimana?" tanya Jaka. Bijak yah ternyata cowok satu ini.


"Boleh," kataku sambil mengangguk. "Nanti semua kerjasama ini harus selalu dikomunikasikan ya. Biar enak gitu ke para nyokap," aku menambahkan.


"Sip," sahut Jaka.


Aku pun baru sadar kalau matanya terlihat menarik. Et dah!


***


.


.


.


...**Sebelum lanjut,...


...jangan lupa tinggalin** jejak 🤩🤩🤩...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2