
Saat lagi serius menatap layar komputer, bunyi ponselku menggangguku. Hhmmm aku mendapat whatsapp dari Mas Malik.
Mas Malik :
Nanti pulang sore saja. Kita bicarain permasalahan kita tadi
Rachel :
Masalah apa ya Mas?
Mas Malik :
Dek!
Rachel :
Mas!
Mas Malik :
Jangan iseng kenapa sih?
Rachel :
Siapa yang iseng?
Mas Malik :
Kamu!
Rachel :
Aduh! Apaan sih? Enggak jelas gini sih Mas?
Mas Malik :
Pokoknya kita pulang sore. Enggak boleh nolak
Rachel :
TERSERAH
Mas Malik :
Kok nulisnya huruf besar sih? Marah sama Mas?
Rachel :
'Nggak boleh nolak'.
Kamu ini bos saya, apa pacar Rachel saat nulis whatsapp? Nggak niat ada diskusi gitu? Tapi ya sudah lah. Emang sikap bos saya yang ngeselin itu ada di pacarnya Rachel. Nasib oh nasib 😥😥
Aku menulis dengan kata 'saya' dan 'Rachel' yang membedakan kalau satu resmi satunya nggak. Yang biasa aku ucapkan ke dia.
Mas Malik :
🤣🤣🤣
Namanya juga laki - laki Dek. Gak papa ya sayang? Nanti Mas jemput deh. CU 😘😘
Rachel :
__ADS_1
Lah, kok jadi ganjen sih? 🙄🤔😲
Jemput? Mau jemput di kubikel aja pamer.
OMG🥵
Whatsapp aku hanya dibaca doang, enggak dibales sama yayang bebeb. Yiha yiha yiha, yayang bebeb. Aneh nggak sih?
Saat mau kembali ngerjain desain, aku baru nyadar kalau Kak Bertha lagi marahin si sulung, Rendy. Suka aneh dan lucu aja lihat emak satu ini marahin anak via ponsel, kayak lagi marahin ponselnya.
"Kenapa lagi Kak?" tanyaku ketika Kak Bertha selesai menelepon.
"Biasaaa.. Keluhannya selalu sama. Menunda ngerjain tugas sekolah. Rendy dapat tugas dari gurunya minggu lalu, hari Minggu kemarin sudah diingetin sama papinya buat beli kebutuhannya di toko buku waktu kita ke mol, dia jawab sudah lengkap. Eh tadi bilang masih kurang ini, itu." Curhat Kak Bertha dengan wajah emosi.
Emang ya, perjuangan jadi wanita karir, saat anak dapat tugas sekolah tapi senang nunda - nunda mengerjakannya. Dirumah yang mantau sama yang dipantau galakan yang di pantau. Bisa buat stres.
"Ya udah, Kakak nanti pulang cepet aja. Sudah aman belum desain elo Kak?" tanyaku. Yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Iya, udah, pulang aja atau langsung mampir toko buku dulu Kak. Kasihan Rendy pasti bingung." Sahut Mas Kelana.
"Gemes gue. Lagi susah diatur nih anak gue." Keluh Kak Bertha.
"Kak, cobain pakai kondisioner deh. Rambut gue susah diatur, pakai kondisioner jadi gampang di atur dan lembut loh. Siapa tahu nanti Rendy bisa mudah diatur juga kalau pakai kondisioner." Aku berusaha membantu memberikan ide keren ke Kak Bertha.
"Ya Allah... Mas Malik kok bisa jatuh cinta sama elo ya Chel? Sengklek elo kadang gak ketulungan." Mas Kelana tahu - tahu komplain. Yang lain sih seperti biasa, bisanya cuma ketawa.
Indra malah sambil ketawa melempari aku dengan kacang kulitnya. Pernah lihat monyet di kebun binatang yang dilemparin kacang sama pengunjung nggak? Nah! Seperti itu deh situasi aku sama Indra kalau lagi dilempari kacang. Daaaan disini akulah yang jadi monyetnya 😭.
Kalau aku kumpulin, kacang kulit hasil lemparannya bisa jadi sudah sekilo. Habiiis, hobi banget nimpuk aku pakai kacang kulit.
"Wooy! Gue cuma kasih ide buat Kak Bertha, kok elo berdua yang protes sih?!" Karena kesal, aku bicara dengan suara agak tinggi.
"Noh! Calon bini elo Mas, error! Bener kata Kak Bertha, dipikirin lagi deh. Syukur - syukur sebelum janur kuning yang mau dipakai tumbuh." Protes Mas Kelana sambil memberi saran.
"Ya udah kalau Mas Malik mau mikir lagi nggak papa kok. Cowok agak bule bermata cokelat yang tadi kenalan tinggal di telepon. Gitu aja kok ribet. Hilang satu ada yang lain kok. Siapa takut?" Ujarku dengan muka sebel mulut monyong.
"Ancuuuuur. Elo tetep jadi temen gue ya Chel. Bahagia gue temenan sama elo." Indra tahu - tahu komentar sambil kasih dua jempol.
Tadi dilempar kacang kulit, sekarang minta selalu diakui sebagai teman. Susah emang kalau jadi selegram.
"Lah, yang komentar kan Kelana, kenapa jadi ngambek ke Mas sih?" tanya Mas Malik. Haduuuh, mentang - mentang sudah go public hubungan kita, bahasainnya kayak lagi bukan di kantor.
"Maaf, saya rasa Anda bos saya, bukan pacar saya," ucapku yang langsung buang muka dan berusaha menatap ke layar komputer.
Capek juga main drama di kantor ya? Lama - lama aku ngelamar ke Miles Films ah, siapa tahu bisa jadi salah satu pemeran di AADC3 jadi temannya Rangga. Haduh! Jadi kebayang gantengnya Nicholas Saputra nih.
Aku berusaha tutup kuping dengan menggunakan air phone sambil mendengarkan musik dari sportify, enggak mau dengar ocehan mereka lagi.
Nanti kalau desain aku belum ada kemajuan si bos bisa marah dan nyinyir lagi. Sstt.. Mereka lagi membicarakan aku loh. Aku harus kuat iman untuk tidak tergoda ngoceh.
***
Saat serius mendesain dan memilih jenis huruf, tahu - tahu ada Mas Malik di depan kubikelku.
"Ngapain Mas? Saya lagi serius nih, belum kelar desainnya. Jangan ngasih kerjaan tambahan dulu ya."
"Yuk, pulang." Ajaknya.
"Iih, tahu nggak? Bos saya galak, nggak enak ah pulang sore, nanti diomelin. Lagi pula malu sama matahari Mas, dia aja belum pulang, masa kita mendahului sih?"
"Rachel, ikut saya ketemu klien sekarang. Desainnya kamu save dulu dan komputer dimatikan." Kalau Mas Malik sudah bersabda, tidak ada yang bisa membantahnya. Suaranya serius, seperti lagi nggak mau diajak bercanda.
__ADS_1
"Oke bos!" Sahutku.
"Bertha, kamu pulang sekarang. Urus anak kamu dulu, dia butuh kamu. Kerjaannya di sambung besok. Jangan membantah," kata Mas Malik ke Kak Bertha.
"Serem bener deh kalau sudah ada kata jangan membantah. Sama seperti pacar saya, suka ngomong gitu juga ke saya, Mas. Mas kenal gak sama pacar saya?" tanyaku jail sambil membereskan printilan untuk diletakkan di tempatnya.
"Mulai gesrek Ndra temen elo tuh," teriak Mas Kelana.
"Untung pacarnya tabah," sahut Mas Malik.
"Eh, kenal ya sama pacar saya?" ucapku ke Mas Malik.
"Kenal. Yang gantengnya nggak ketulungan itu kan?" Jawab Mas Malik penuh percaya diri.
"Hah? Bukan! Pacar saya mah nggak ada ganteng - gantengnya Mas. Ogah saya sih pacaran sama cowok ganteng, takut di pepet cewek bule nantinya."
"Wahahahahaha.. Bahas terus Chel. Jangan kasih kendor," kata Mas Kelana memprovokasi.
"Sudah sudah. Yuk berangkat sekarang, biar bisa ketemu matahari sebentar." Ajak Mas Malik begitu melihat urusan aku sudah kelar.
"Mas Kelana, Indra, gue duluan ya. Jarang - jarang kan si bos cabut jam segini. Malah belum ada dalam sejarah. Jadi tahu sekarang, dia pulang malem sebenarnya selama ini ngintipin gue," komentar aku ke teman - teman tim gesrek.
"Hahahaha sudah ah Chel, pulang deh sana! Enggak kelar - kelar nanti," kata Indra ketawa sambil melihat aku.
Aku dan Mas Malik ke bawah bareng sama Kak Bertha. Dan kami berpisah di parkiran.
Saat di mobil, Mas Malik menanyakan aku, "Capek nggak, ngoceh mulu? Hari ini kayaknya senang ya kamu?"
Senang dari Kuwait! Tadi jelas - jelas cemburu, dibilang senang.
"Iya senang, pacar saya bibirnya di kecup sama cewek lain di depan mata saya."
"Waah tandanya, besok - besok boleh dong di kecup kalau nggak ada kamu." Nih cowok yang lagi nyetir belum pernah dicium buaya kayaknya.
"Boleh. Boleh ditinggalin juga ceweknya selamanya dan nggak ketemu lagi. Sayonara!" jawabku datar, tapi penuh emosi.
"Kita bahas di apartemen ya sayang. Mau makan malam apa? Kita pesan dari luar saja lauknya."
"Apa aja, tapi mau bebek goreng yang garing."
"Oh, kita mampir di Bebek Kaleyo saja dulu kalau gitu."
"Okeh. Pesannya porsinya yang banyak Mas, biar kalau nambah masih ada."
"Iya sayang."
***
.
.
...Guys.. Habis ketawa jangan lupa like-nya ya ✌🥰😁...
.
.
.
Bersambung
__ADS_1