
"Senin tlah tiba! Senin tlah tiba! Hore.. Hore.. Hore!"
"Wooy, seneng banget kayaknya?" Mas Kelana langsung mengomentari aku yang lagi bersenandung di kubikelku.
"Iya dong, kerjaan dah beres, minggu depan cuti, hari ini kemungkinan besar dapat oleh-oleh dari Kak Bertha." Aku menjawab dengan cengiran yang merekah.
Indra dan Sherin mereka sedang ngerumpi di depan mataku. Entah apa yang dibicarakan, dari tampangnya Sherin dia terlihat serius. Dua anak ini lama-lama jadi dekat. Asal enggak jatuh cinta saja sih, kasihan Yaya yang kelihatan sudah cinta banget sama Indra. Kok tahu? Tahu dong, karena Yaya rajin teleponin Indra, terus Indra jawabnya selalu mesra kalau di telepon Yaya. Hahahaha... Indra sudah jadi cowok bucin.
"Ceilee.. yang hidupnya sudah tenang, yang tinggal leha-leha." Saat Mas Kelana sedang komentar, Kak Bertha masuk dengan muka segar nan ceria.
"Naah yang ditunggu datang." Aku langsung teriak senang. Kangen juga sama emak satu ini.
"Haai semuanya. Bertha datang, bawa oleh-oleh beli di Jakarta," katanya sambil menuju kubikelnya.
"Yeee.. Sama juga boong Kak," sahutku dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih.
"Hahahaha.. Padahal tadi sudah ada yang senang bakalan dapat oleh-oleh tuh Kak," ucap Indra, dan yang lainnya pun mentertawakan aku. Aku hanya manyun mendengar ejekan mereka.
"Puas loh ya, pada ngetawain gue," protesku.
"Hahaha.. Gue tuh kebetulan lagi mau makanan tradisional, nah jadi gue bawain pempek. Kan lumayan buat cemilan kita seharian, sisanya simpan di kulkas, buat besok-besok." Kak Bertha bicara sambil memamerkan plastik besar yang dia bawa.
"Wooow.. Kak Bertha, Sherin suka banget sama pempek. Asyik," kata Shiren senang.
Sebenarnya bukan Sherin saja yang senang, kita semua juga senang. Karena memang kalau lagi ada perayaan, pempek adalah salah satu menu yang kerap ada. Mood bahagiaku kembali muncul, karena membayangkan makan pempek.
"Hai Mas, apa kabar? Senang dong habis weekend," sapaku saat melihat Mas Malik baru masuk ruangan kami.
"Ngapain kamu tanya kabar saya? Yakin ingin mendengar kabar kesenangan saya? Atau berharap mendengar keluhan saya kalau saya sakit? Iya?"
Aku bengong mendengar jawaban panjangnya kali ini. Muka bahagia nan ceria aku kembali susut. Hilang entah kemana.
__ADS_1
"Wooy! Jangan bengong!" Kak Bertha berusaha menyadarkanku. Ketika aku melihat sekeliling, semua lagi menatap diriku, tapi si bos sudah enggak ada dihadapan kita.
"Mana orang yang gue sapa tadi Kak? Dia masih hidupkan?" tanyaku.
"Dah masuk keruangannya," jawab Kak Bertha lagi.
"Dia kenapa lagi sih Kak? Minggu lalu dah asyik loh padahal. Kenapa sekarang nyinyir lagi?" Aku menanyakannya ke Kak Bertha, tapi suaraku enggak pelan, jadi semuanya bisa dengar.
"Gue rasa, kalau dia kondisinya kayak tadi, meskipun dengerin stand up Bintang Emon gue yakin enggak bakalan ketawa," ujarku menambahkan.
"Mungkin dia hubungin elo terus enggak dapat tanggepan dari elo. Makanya dia kesal," jawab Indra.
"Kagak ada Ndra!" tangkisku.
"Kok Mas Malik bisa jahat gitu sih ngomong ke Mbak Rachel. Kan Mbak ngomongnya baik-baik," Sherin nanya tapi tampangnya bengong dan enggak ketahuan ngomong sama siapa.
Tak lama setelah berkata begitu, Sherin meninggalkan kami tanpa kata-kata. Daaaaan Shiren ngetok ruangannya Mas Malik dong!
"Gila! Mau ngapain dia datengin serigala lagi nyolot gitu?" tanyaku.
"Tapi emang bener ya, kenapa dia bisa gitu cuma sama elo ya? Sehina apa sih lo, Chel?" tanya Mas Kelana yang sepertinya enggak perlu jawaban. Yaa, akukan bukan wanita hina.
"Sama Sherin enggak ya?" tanya Kak Bertha ke kita semua.
"Antara enggak atau belum." Mas Kelana menjawab sambil mendatangi mejanya Kak Bertha dan bongkar pempek.
"Kok menurut gue, yang Sherin curhatin minggu lalu soal naksir cowok itu, kayaknya Mas Malik deh," ujarku memberikan pendapat.
"Feeling gue sih gitu juga Chel, tapi gue enggak berani ngomong. Mau lihat perkembangannya," kata Mas Kelana.
"Indra tuh yang tahu. Kayaknya dia curhatnya sama elo ya Ndra?" tanyaku kepo.
__ADS_1
"Kasih tahu enggak ya?" jawab Indra yang malah membuat pertanyaan lagi.
"Tapi nekat juga ya, dia langsung masuk setelah si bos nyinyir gitu sama gue," ucapku.
"Mungkin mentalnya dari titanium," jawab Mas Kelana.
"Nggak mungkin lah, gue yakin sih, Sherin pasti nangis darah kalau jadi Rachel, yang sering dapat ujaran kebencian." Kak Bertha mengungkapkan pikirannya secara hiperbola.
Aku hanya nyengir menanggapi ucapannya. Kebetulan juga pas pintu ruangan Mas Malik terbuka dan Sherin keluar. Mungkin dia keluar karena sebentar lagi waktunya rapat.
Hari ini rapat dengan personil lengkap. Tapi Sherin disini seperti tim hore saja, karena dia tidak terlibat pembuatan desain. Ya iyalah, dia lebih ke persoalan foto, gimana sih loh Chel?
Saudara-saudara sekalian, dimanapun kalian berada.. Ternyata hidup itu adil ya? Seadil yang saat rapat Indra kena semprot sama Mas Malik. Bukannya aku senang ya, tapi jujur ini mengagetkan. Karena selama ini yang kena semprot keseringan aku.
Kok bisa Indra kena semprot? Iyaa! Jadi ceritanya desain yang sayurituenak, Indra ada salah masukin foto. Sebenarnya sih cuma ketukar, tapi kena kata-kata pedas juga dia.
"Kamu masa buat gini aja sampai ketuker fotonya? Warnanya juga ada yang melenceng ini." Mas Malik menunjuk ke layar proyektor pada desain yang dia maksud dengan laser pointer.
"Elo kenapa sih Ndra? Gue jadi males lihat halaman berikutnya."
Desain Mas Kelana hanya diminta di revisi sedikit, tanpa kena semprot. Sedangkan desain aku, lolos tanpa harus revisi.
Saat membahas job berikutnya untuk kami, muka Mas Malik seperti habis kesambet dedemit, tampangnya judes. Tapi kami mencoba untuk tidak cari gara-gara sampai rapat selesai.
"Kak, pempek dibagi-bagi deh. Jangan lupa si bos dikasih. Kayaknya dia lagi mens deh!" Indra langsung buka suara ketika kita sudah duduk di kubikel masing-masing.
"Hahaha iya, dia kayak cewek datang bulan ya. Chel, jamu botolan kalau elo datang bulan masih ada enggak? Coba kasih deh, biar marahnya enggak ke kita semua." Kak Bertha menambahkan, yang aku balas dengan cengiran.
"Andaikata anak buah bisa PHK-in bosnya, gue bakalan melakukannya deh!" kata Indra yang masih sewot, enggak terima di nyinyirin.
"Hellloo.. Apa kabar gue yang sudah jadi makanan rutin di nyinyirin? Elo yang jarang aja sudah sesewot ini. Santai Ndra, ada yang lebih parah dari elo. Tapi, welcome to the club ya!" Hiburku ke cowok yang lagi main ponsel sambil manyun itu.
__ADS_1
"Asal elo tahu ya Ndra, kalau semudah itu PHK-in orang, itu yang akan gue lakukan dari dulu," ujarku bersemangat.
***