Bos Ajaib

Bos Ajaib
55. Indraaaaa! Resek Loh!


__ADS_3

"Chel, setelah gue pikir, ingat, amati, memang sudah beberapa hari ini atau sudah beberapa minggu ini, sikap si bos sudah berubah ya. Itu semua karena elo ya?" Indra yang mulutnya gatal kembali nyenggol kejadian di pantry.


"Apaan sih Ndra? Elo ngomong apa? Sudah deh, jangan berfikir macam - macam. Jangan ngomong sesuatu yang elo sendiri masih meraba." Nasehatku agar kejadian tadi enggak bocor ke teman - teman lainnya.


"Tapi gue dengar ada kata sayang yang diucapkan oleh si bos, Chel." Indra tetap keukeuh dengan argumentasinya.


"Ya udah, elo tanya saja sama bos elo tuh."


"Kalau gue bisa tanya sama elo kenapa harus nanya ke yang lain?"


"Indraaaa," teriakku gemas. "Awas ya, kalau beredar gosip enggak jelas," aku mengancamnya.


"Ampun Chel, elo sama si bos juga sudah sama - sama gede, ngapain juga ditutupin. Wajar kok kalau kalian saling jatuh cinta, sama kayak gue ke Yaya. Aah, gue jadi kangen bini gue deh tuh."


"Auk ah! Gue mau ngedesain Ndra, jangan ganggu gue," ucapku putus asa.


Kemudian ruangan terasa hening. Mas Malik yang berjalan masuk ke ruangannya pun hanya terdengar dari langkahnya. Tidak lama kemudian, baru deh tim gesrek masuk ke ruangan dan langsung ke kubikel masing - masing.


Saat sedang sibuk dengan mouse, ponselku berbunyi nada whatsapp masuk.


Mas Malik :


Nanti pulangnya jangan terlalu malam ya. Sore saja.


Mas Malik :


Saya mau tes kamu masuk parkiran motor Gandaria City.


Rachel :


Hah? Kok?


Mas Malik :


Iya, kalau di mol Gancit, menuju parkiran motornya turun dan naiknya agak terjal, saya mau lihat kelihaian kamu.


Rachel :


Oh Okay. No problemo. Tapi tadi Indra introgasi Rachel, dia dengar Mas nyebut kata 'sayang' tadi. SEBEL sama kamu deh.


Mas Malik :


Ya udah, kalau sebel nanti Mas nya boleh kok di cium.


Rachel :


M I M P I... BYE...


Rachel :


Saya harus kerja dulu. Bos saya nyebelin orangnya. Jangan ganggu saya. Nanti ketemu di bawah aja

__ADS_1


Setelahnya aku tidak mendapat balasan whatsapp lagi dari Mas Malik.


***


Saat ini aku sudah di Gandaria City. Ternyata Mas Malik ngajak ke bioskop, dan merayu aku untuk nonton.


Satu sifat yang sudah aku hafal dari pacarku ini (uhuk uhuk, risih ngomongnya euy), dia keras kepala kalau sudah punya keinginan. Jadilah kami nonton setelah debat dan aku ngomel - ngomel dengan intonasi yang nyebelin sambil monyong. Ternyata nggak ngaruh saudara - saudara, apapun yang aku lakukan.


Aku menatap layar bioskop yang masih gelap.


"Jangan ngambek dong," bujuk Mas Malik yang terdengar seperti setengah tertawa.


"Nggak ngambek kok," kataku sambil menyeruput Hazelnut Frappuccino yang tadi aku beli di Starbucks.


"Adek." Telunjuk Mas Malik memencet pipiku.


"Jangan colek-colek!" Aku menoleh dan telunjuk Mas Malik malah


mendarat di hidungku. Mas Malik tersenyum, sedangkan aku terdiam.


"Sekali - kali kita nonton dong. Sejak kita dekat dan jadian kita belum pernah nonton berdua loh."


"Jangankan nonton berdua Mas, nonton bareng - bareng aja kita juga enggak pernah." Mas Malik pun menarik jarinya.


"Nah, apa lagi?"


"Rachel enggak suka nonton di bioskop Mas. Kalau mau pipis repot, terus nanti pas balik banyak bagian terlewat."


Mas Malik tertawa.


"Padahal Mas senang nonton."


"Ya, kita bisa nonton di rumah Mas. Kalau mau pipis tinggal di pause, jadi enggak ada bagian cerita yang tertinggal," kataku santai. Aku mulai memakan kacang sukro sambil menikmati trailer film yang ditayangkan.


"Hhmmm oke deh, asal kamu selalu menemani saat Mas nonton."


"Hhmmm." Aku tidak berkomentar lagi karena film sudah dimulai.


Akhirnya kami selesai menonton. Aku mengajak Mas Malik makan dulu sebelum pulang.


"Mas, tukang ojek isi bensin dulu ya. Lapar nih!"


"Yuk! Mas juga lapar pakai banget. Di dalam cuma makan kacang sukro sama minta minuman kamu yang beli di Starbuck." Mas Malik jawab omonganku dengan nada bossy agak sedikit nyinyir.


"Heh, Fernando temannya Salvador! Kita tadi di dalam itukan nonton, bukan mau makan. Sebenarnya maunya apa sih?" tanyaku kesal. Kirain setelah jadi pacar, enggak ngomong nyelekit lagi.


"Yaaah, jadi Juleha lagi." Mas Malik bicara sambil senyum dan merangkul bahuku.


"Mas, enggak usah rangkul- rangkul dong. Berat tahu?!" Intonasi suaruku sudah mulai terdengar kesal. Gini nih, punya pacar suka nyebelin, senangnya ngaduk - ngaduk emosi aku.


"Berat apa takut ketahuan sama orang yang kita kenal?"

__ADS_1


"Dua - duanya Mas!"


"Kalau ketahuan papa mama kita langsung disuruh nikah nggak Dek?"


"Langsung di kurung dikamar tahu!" Aku ngomongnya sok serius. Ya kali, sudah layak punya anak masih di kurung dikamar.


"Waah asyik dong kalau kita dikurung berdua. Kamu sudah siap Dek?" Mas Malik bertanya dengan muka jail dan nada menggoda. Iiih.. Nyebelinnya kumat.


"Mas! Kamu salah minum obat ya? Tadi kita dikantor sudah ketangkep basah sama Indra, itu aja Rachel belum siap. Ini cari gara - gara lagi. Bisa - bisa langsung resign nih punya bos kayak gini."


"Eh, kamu sudah punya rencana resign? Mas setuju tuh."


"Hah?" Kok dia malah ngedukung aku resign sih?


"Iya, nanti biar Mas aja yang kerja, kamu dirumah aja. Istri Mas enggak boleh capek."


"Mas, kita bukannya baru bahas, kalau mau nikah nunggu Reyka stay di sini? Dan itu tahun depan. Alasan Rachel akan resign karena bosnya ngawur. Karena kemungkinan bosnya bakalan ngintilin terus, kayaknya mending ikut Reyka deh." Aku ngomong ngaco sekalian. Andaikata ada buku tutorial tentang meluruskan cara pandang pasangan yang gesrek, bakalan aku beli deh.


"Yakin ikut Reyka? Nanti kangen loh sama bos gantengmu."


"Kayaknya di Belanda banyak cowok ganteng deh. Jadi monmaap nih, mantan bos di tempat kerja? Sudah lupa tuh!" Aku jawab dengan nada tengil nan sombong.


"Yaaa, Adek kok jahat sama Mas sih?"


"Bodo!" Aku jawab dengan nada judes.


"Iih, mulutnya jangan monyong gitu ah! Bikin gemes tau!" Mas Malik bicara sambil gandeng tangan aku ke salah satu restoran yang tidak terlalu ramai.


Saat kami sudah duduk dan memesan makanan, aku langsung ngomong, "Mas, please.. Rachel nggak nyaman loh ini. Dari tadi di kantor, terus Mas ngomong ngaco kayak tadi, Rachel nggak suka Mas. Tolong ya pengertiannya." Nada suaraku pun memelas.


"Iya.. Iya.. Maaf ya. I love you Adek." Mas Malik bicara sambil ngasih kiss bye dong pakai senyum pula. Padahal lagi duduk berhadapan loh. Norak ya? Baru nyadar aku punya bos norak kayak gini. Fuuih, tapi lagi - lagi aku harus mengakui kalau aku mencintainya.


Begitu makanan terhidang, kami langsung makan. Tanpa ngobrol kecuali soal makanan yang kami santap. Selanjutnya kami memutuskan langsung pulang.


"Dek, kamu Mas boncengin saja. Sudah malam."


"Terserah. Kan yang mau tes Mas Malik."


"Iya. Weekend kita beli motor. Mas sudah tambahin saldo di ATM yang kamu pegang."


"Hhmmm, sekarang Rachel lagi latihan jadi sosialita ya? Belanja mahal dari uang pasangan." Aku berkata sambil nyengir dan dibalas tatapan sayang dari si ganteng. Liliiiin... Aku meleleh sepertimu.


***


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2