Bos Ajaib

Bos Ajaib
18. Gagal Refreshing


__ADS_3

Hari ini aku semangat untuk mengikuti tour yang diadakan pihak hotel. Tidak banyak yang ikut memang, hanya tujuh orang termasuk denganku. Tapi malah menjadikan peserta tour semakin dekat.


Tour hari pertamaku diawali dengan ke Puncak Lawang untuk menyaksikan keindahan panorama birunya Danau Maninjau dari ketinggian.


Di sini aku menyicil membeli oleh-oleh seperti gula saka yang terbuat dari tebu lalu ada juga Kacang Barandang yang rasanya renyah dan manis.


Setelah dari Puncak Lawang dilanjutkan menuju Kota Bukittinggi. Nah, disini kami dapat melihat keindahan Ngarai Sianok. Untungnya, cuaca sedang cerah sehingga kami para peserta tour juga dapat melihat keindahan pemandangan dengan latar Gunung Singgalang dan Marapi. Para peserta bergantian saling memotret dengan keindahan alam disini.


Yang membuat aku suka, disini kami juga diajak menelusuri Lobang Jepang serta mendengarkan cerita tentang sejarah yang terjadi di dalamnya. Sangat menarik!


Tour hari pertama sungguh menyenangkan dan aku tidak menyesal dengan pilihan aku. Kami pulang ke hotel menjelang malam. Aku memutuskan untuk makan malam di hotel saja. Capek juga seharian jalan, kalau ditambah harus nyari makan malam diluar sendirian.


Saat di lobi sepulang dari tour, lagi-lagi aku ketemu si bos. Aku pura-pura enggak lihat. Bergaya layaknya anak yang sombong dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala. Malas aku ngobrol sama si bos.


"Neng, mau kemana Neng. Abang ada disini, kok pura-pura enggak lihat sih?" Ooh Tuhan, kenapa punya bos gesrek kayak gini sih? Lagian, dia kok tahu sih kalau aku pura-pura enggak lihat?


"Eh Mas Malik. Maaf Mas, saya enggak lihat, mau buru-buru ke kamar. Badan lengket banget." Aku menjawab dengan kebohonganku.


"Malam ini ada acara?" tanyanya dengan nada serius. Ngomong-ngomong, si bos ini kayak bunglon deh. Tadi manggil aku dengan nada menggoda, sekarang nada serius. Iya kan? Kayak bunglon kan ya?


"Enggak ada Mas, mau istirahat." Aku sudah mulai membayangkan nikmatnya tidur.


"Kita makan malam diluar yuk! Saya sama kakak saya mau makan malam di Ongkrongan Tugasari. Yuk, nyobain, enak kok menu-menunya disana."


"Wah maaf Mas, saya enggak bisa," ujarku.


"Kenapa enggak bisa? Kamu katanya enggak ada acara. Jangan suka jual mahal deh," katanya. Tuh, nawarin tapi buntutnya kalimatnya bikin emosi.


Sebuah ajakan yang menggiurkan sebenarnya. Apalagi pasti dibayarin. Tapi harga diriku sepertinya memberontak. Terima enggak, terima enggak, terima enggak?


Bukannya matre ya, tapi penawaran ini bisa menghemat keuanganku saudara-saudara. Kan bisa buat nambahin beli oleh-oleh. "Seperti apa Ongkrongan Tugasari itu?" aku menanyakan dengan nada sok enggak minat.


"Tempat makan malam yang menjual aneka menu makanan Padang. Bukanya mulai pukul enam malam. Yuk ikutan. Enggak usah basa basi, saya tahu kamu lapar dan tertarik," kata Mas Malik.


"Hhmmm , boleh deh. Tapi saya mandi dulu ya Mas."


"Oke. Mandi yang wangi ya! Saya juga mau ke kamar dulu kok, sekarang. Yuk, nanti saya telepon kamu kalau sudah siap ya."


"Iya Mas." Eh, tadi nyuruh aku supaya wangi? Kan.. kan.. kan.. Aneh kan?

__ADS_1


Kami pun berjalan ke arah lift. Menuju lantai masing-masing. Jangan nanya lantai kamarnya si bos ya, apalagi nanya nomer kamarnya. Pamali aku nanya-nanya detail soal itu ke bos, nanti disangka aku naksir lagi. Tidaaaaak!


***


Aku dikenalkan dengan kakaknya si bos saat di lobi ketika mau pergi ke tempat makan malam kami. Namanya Ravelino.


Kami pergi dengan mobil kantor kakaknya Mas Malik. Aku enggak tahu apa pekerjaannya, tapi dari pembicaraan selama di mobil kedua kakak beradik ini diskusi tentang pekerjaan yang tidak berhubungan dengan desain. Tapi tentang perkebunan.


Saat ini kami sudah di Ongkrongan Tugasari.


Oh iya, pengumuman nih! Kakaknya si bos itu tipe papa-papa ganteng loh. Aku ngebayangin dia pakai jas dan dasi terus bawa tas kerja, wuuuiiihh dijamin cewek-cewek pasti pada mangap.


Ini aja, cuma pakai kaos berkerah warna putih, celana jeans selutut, dan sepatu kets nike sudah membuat aku meleleh. Untungnya aku enggak ileran kalau lihat cowok ganteng. Kan malu kalau ileran di depan dia, apalagi ada si bos.


"Makan yang bener! Jangan ngeliatin abang saya terus."


Aku tidak sadar kalau membayangkan Bang Ravel sambil menatap wajahnya. Ya, maaf.


Aku langsung berpaling melihat Mas Malik yang masih menatap aku dengan tatapan menusuk. Tampangnya sudah kayak cowok yang marah ke pasangannya gitu. Aku membatin, 'Sapa loh? Resek amat. Suka-suka gue lah.'


"Apa? Iyakan kamu bengong lihatin abang saya? Saya belum buta kok." katanya, saat kami saling menatap.


"Hahahaha anak buah kamu lucu dan pemberani ya," kata Bang Ravel. Aku ngikutin panggilan nama abangnya seperti Mas Malik memanggilnya.


"Jangan berharap kamu bisa ambil hati abang saya. Mimpi itu namanya," kata Mas Malik dengan nada suara kesal.


"Ya, kalau saya tidak bisa ambil hatinya, minimal saya bisa ambil hikmahnya kok Mas."


"Hahahahahaha.. Lik, kamu pasti ketawa terus punya anak buah humoris seperti Rachel."


"Apaan Bang, saya di bully terus sama adiknya Abang," Aku langsung melaporkan kelakuan adiknya.


Bang Ravel itu orangnya lebih friendly, enggak seperti adiknya yang nyebelin dan ketus.


"Dasar tukang ngadu!" Mas Malik terdengar ngedumel seperti anak-anak yang lagi kesel sama saudara kandungnya.


"Kenapa? Takut diomelin sama abangnya ya? Ah cengeng!" jawabku nantangin.


Eh si bos, malah sibuk buka ponsel. Weits, dia narsis juga? Buka aplikasi instagram, terus masukin foto ke story. Sayangnya, fotonya enggak jelas, tapi yang pasti suasana di tempat makan ini.

__ADS_1


"Lik, kamu jadinya mau pulang kapan?" tanya Bang Ravel.


"Belum tahu Bang. Gue mau menikmati keindahan kota Padang dulu."


"Lho, Mas Malik bukannya besok pulang?"


"Nggak," jawab Mas Malik sambil menatapku.


What? Enggak salah denger nih? Dia mau stay di sini? Alamak! Cutiku bakal enggak sesuai khayalanku ini sih.


"Rencananya besok mau ngapain?"tanya Bang Raven.


"Gue kayaknya mau ke Kelok Sembilan lalu ke Lembah Harau."


Aku langsung berhenti mengunyah, menatap Mas Malik. "Terus ke Istana Basa Pagaruyung.." kata Mas Malik masih berbicara dengan Bang Ravel.


Aku menatap Mas Malik bengong. Jidat jenongku pun ikut berkerut.


"Habis itu ke Danau Singkarak."


Bahuku merosot, mataku menatap kedua cowok yang ganteng ini dengan tatapan datar."


"Woow, sounds good," kata Bang Ravel. "Kalau kamu besok rencananya mau apa Rachel?"


Aku menyipitkan mata ke arah Mas Malik dan Bang Ravel bergantian dengan mulut berisi makanan.


Mereka berdua terlihat santai, tapi tangannya tetap sibuk dengan makanan mereka sambil menatapku, menunggu jawaban. Sebenarnya... yang tadi dikatakan Mas Malik harusnya jawabanku. Jadi aku harus jawab apa sekarang? Nasib... nasib.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2