
Akhirnya aku bisa snorkeling. Pagi-pagi, sebelum ada gangguan dari tuan muda, aku langsung ke pantai.
Bermain air ketemu dengan ikan-ikan yang cantik, merupakan salah satu refreshing yang paling aku gemari. Setiap liburan ke pantai, aku selalu membawa baju renang dan baju menyelam yang dilengkapi dengan scuba diving mask.
Memang, benda-benda itu belum tentu aku pakai, tapi untuk jaga-jaga kalau ada keinginan nyebur seperti sekarang ini aku sudah siap dengan fasilitas pribadi.
Sekitar satu setengah jam aku snorkeling, aku lantas memutuskan untuk kembali ke penginapan. Setelah mengenakan kimono handuk aku pun melangkah ke penginapanku. Aku belum sarapan. Jadi... aku lapeeeer.
Mendekati penginapan, aku melihat Mas Malik sudah ada di teras penginapanku, sedang duduk sambil makan. What? Dia bawa makanan ke tempatku?
"Hai Mas, ngapain pagi-pagi sudah diteras penginapan orang?" tanyaku dalam keadaan wajah masih ada tetes air pantai.
"Kamu mandi dulu deh, habis itu kita makan bareng," perintahnya.
"Enggak ah, habis mandi saya mau tidur," ucapku asal. Kesel aja, pagi-pagi sudah digangguin. Kapan aku santainya? Kapaaaan? Kan bosen lihat tampang si bos terus. Emang sih, ganteng, tapikan aku dah illfeel sama dia.
"Rachel, saya tahu loh, jam segini kamu enggak akan bisa tidur. Sana cepat mandi, nanti kalau kamu kedinginan, bisa masuk angin." Mas Malik bicara seperti seorang ayah yang nasehati anaknya.
Aku hanya bisa cemberut dan menghentakkan kakiku sebelum melangkah ke pintu untuk membuka kunci penginapan. "Mas jagain didepan kan? Pintunya enggak saya kunci. Kalau mau pergi pamit ya, banyak barang berharga disini," kataku sok tua.
"Saya tahu kok. Kamu juga termasuk berharga buat saya." jawabnya tenang sambil menggigit donat kampung yang bertabur gula halus.
"Hhmmm. Gombal!" ujarku yang lantas masuk ke penginapan.
Setelah selesai mandi dan berias, aku pun bergabung dengan Mas Malik di teras. "Mas makanannya cuma segini?" Tanyaku sambil mengambil donat yang sudah terhidang. Aku mengambil donat karena melihat Mas Malik mengambil donat, padahal ada beberapa jenis jajanan pasar yang dibawa sama si bos.
"Kurang banyak?" tanya si bos.
"Iyalah. Kan saya habis nyelem, jadi laper. Kalau mau ngasih jangan nanggung," pintaku dengan muka cemberut.
"Aih, kamu kebiasaan deh... "
"Kebiasaan apa?"
"Protes terus ke saya," kata Mas Malik.
Aku pun nyengir dengar ucapannya. Iya ya, emang aku protes terus ya?
Mas Malik hanya tersenyum. Kami pun makan aneka kudapan yang dia bawa sambil melihat keindahan pantai tanpa ada yang dibicarakan lagi selama beberapa saat.
__ADS_1
"Rachel, nanti kamu ada rencana apa?"
"Kenapa emangnya Mas?"
"Kalau belum punya rencana, kita jalan lagi yuk! Ketempat kemarin juga enggak apa-apa, sama ke tempat lainnya. Tapi kalau kamu sudah ada rencana, ya sudah saya enggak akan ganggu kamu." Mas Malik tumben ngomongnya pasrah gitu. Jadi aneh, diluar kebiasaannya.
"Enggak ada rencana kok Mas. Emang mau apa, kok balik lagi kesana?"
"Saya mau foto seperti kamu. Foto yang di instagram kamu keren, saya jadi bangga bisa motret dengan hasil yang keren. Nanti fotoin seperti itu ya."
"Hah? Iih kok centil sih? Jangan ikutan gaya anak muda. Bapak-bapak tuh enggak pantes gaya seperti saya," ujarku ngeledek Mas Malik. Lagian, mana mungkin dia enggak bisa motret nyari komposisi yang bagus. Lulusan DKV di Jerman gitu loh.
"Eeh, saya kan belum punya anak. Lagian saya masih muda kok."
"Muda dilihat dari atas Monas ya?" ledekku.
"Eeh.. Mau jalan-jalan kapan? Kasih tahu aja ya Mas, nanti saya temanin," ujarku menambahkan. Kasihan juga dia belum narsis layaknya selegram. Sampai ngiri gitu sama aku.
"Habis ini gimana? Kamu mau cari makanan lagi? Kita bisa ke warung yang disana," Mas Malik mengatakan sambil menunjuk sebuah tempat.
"Boleh Mas. Ini kita beresin dulu ya, biar enggak ada semut."
"Yuk!" Dia menyetujui dan langsung merapihkan cemilan yang dia bawa, seperti donat, lemper, tahu isi, pastel, dan macem-macem deh pokoknya. Heran, nemu saja dia jajanan pasar seperti ini.
Setelah dari warung membeli minuman botol untuk bekal selegram tanah tumpah darahku ini, aku pun mengajak ngobrol Mas Malik. "Mas, inget klien kita yang namanya Sambodo gak?"
"Oh yang dipanggil Bodo?"
"Enggak kok. Dia kalau dipanggil nengok." Jawabku sambil menatap Mas Malik. Aku heran, yang namanya Sambodo itu orangnya ramah, kalau dipanggil pasti nengok.
"Nama panggilannya, Neng Rachel!Nama panggilan. Nick name-nya dia itu Bodo." Mas Malik terlihat gemas sambil tertawa. Iiih cakep deh!
"Ooh. Mana saya tahu Mas. Saya kalau manggil dia selalu nama lengkap. Kirain saya, maksudnya Mas Malik tadi tuh, dia bodo amat gitu kalau dipanggil. Hahahaha kalau dipikir-pikir, saya lucu ya Mas." Kini aku mentertawakan diriku sendiri atas kesalahpahaman ini.
Mas Malik pun tertawa terbahak-bahak. Aku tahu, kali ini dia mentertawakan ke-bodoh-anku.
"Chel, saya mau di foto disana ya." Mas Malik menunjuk suatu tempat dengan latar pepohonan.
"Baik Tuan, laksanakan. Jangan lupa kacamata hitam dipakai. Pas banget deh tampangnya..." Aku membuat kalimat yang tidak selesai, takut orangnya tersinggung.
__ADS_1
"Maksudnya pas banget itu gimana Chel?" Mas Malik malah penasaran dengan kalimatku. Tapi dia pun menuruti permintaanku untuk mengenakan kacamata hitam.
"Enggak Mas. Nanti deh. By the way tangannya tolong pegang ke pohon deh Mas." Aku mengarahkan gayanya.
"Eaah! Cukup. Coba di cek dulu Mas ini." Aku menyodorkan ponselku yang tadi mengabadikan gayanya sambil senyum-senyum.
"Racheeeel! Kenapa saya kayak anak hilang yang ketakutan gini?Hapus fotonya! Pengarahan gaya ngaco!" Katanya sambil protes dengan muka sebel.
"Hahahaha..." Aku mentertawakannya.
Aku memotretnya saat dia belum siap, mulutnya pas mangap karena pas bicara, dan tangannya memegang pohon tapi pas enggak bagus gayanya. Perfect untuk bahan olok-olok deh pokoknya.
"Ini, kamu foto saya lagi begini. Saya bisa menjadi pengarah gaya untuk diri sendiri kok, enggak perlu bantuan kamu." Mas Malik pun bergaya. Kali ini aku memotretnya dengan serius, takut juga kalau sering ngerjain si bos.
Selanjutnya kami ke Pulau Penyu lagi. Sesuai rencana, aku yang motret dia. Tapi kadang si bos iseng foto aku secara candid. Terserahlah ya, yang penting aku sudah main air tadi pagi, jadi enggak penasaran lagi. Sudah tenang.
"Chel, kamu tadi kenapa nanyain Bodo?" tanyanya sambil bermain air.
"Enggak Mas. Saya kasihan, Sambodo itu masih kerja kan Mas?" tanyaku.
"Iya. Kasihan kenapa?"
"Waktu itu, saya ketemu dia dengan istrinya. Terus istrinya bilang, dia lagi jual televisi dan kulkas untuk nambahin biaya hidup." Aku berkata dengan nada khawatir.
Kalian tahu enggak, Mas Malik langsung terbahak-bahak. Jahat ya? Temannya lagi kesusahan malah dia ketawain.
"Chel, istrinya Bodo itu, memang usahanya toko kelontong gitu, dia jualan alat elektronik, diantaranya televisi dan kulkas." Mas Malik menjelaskan setelah tidak terbahak-bahak lagi, tapi masih ada sisa ketawanya.
"Lah, saya fikir karena kehidupannya sekarang susah, dia jual televisi dan kulkas yang dia punya. Dia jelasinnya enggak lengkap iih."
Sebel deh, untuk kedua kalinya aku terdengar bodoh. Semua ini gara-gara Sambodo!
***
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung