Bos Ajaib

Bos Ajaib
76. Sherin Kembali Bergabung


__ADS_3

Kenapa sih, weekend itu terasa cepat? Sekarang sudah hari Senin lagi. Aku kembali lagi ngantor dengan tim gesrek.


Aku berangkat di jemput Mas Malik. Eh ya, aku sudah cerita belum sih? Kalau sejak denganku Mas Malik tuh kalau ngomong sudah nggak nyelekit lagi. Indra tadi pun bicara sama aku di depan semua, "tahu gitukan si bos disuruh jadian aja dari dulu sama Rachel. Kasihan sampai emosi anak orang, tahunya naksir. Ribet banget sih tinggal bilang cinta."


"Wooy! Jangan ngomongin calon suami gue ya!" Aku cemberut karena Indra terus menggoda aku setelah acara lamaran. Bahkan bukan cuma Indra doang deng, Mas Kelana juga. Kalau Kak Bertha mah tipe wanita bijaksana, yang bertugas menenangkan aku kalau aku sudah sewot sama dua kuntilanang ini.


"Uhuy! Calon suamiii. Mana tahan," kali ini dari mulut Mas Kelana.


"Mas jangan gitu, Rachel kan sekarang juga sudah berani kecup - kecup si bos. Woow! Si bos di kecup anak buahnya," Indra bicara dengan ekspresi menggoda dan suaranya pun dibuat - buat gitu.


Aku hanya bisa nyengir mendengar ocehan Indra. Kalau dipikir - pikir, kok bisa ya, aku jadian sama si tuan muda tanpa penolakan ini? Aah sudahlah biarkan saja perasaan yang bicara, kita ngerjain desain lagi, nanti akan ada rapat.


"Selamaat pagiiii semuanya." Sherin datang keruangan dengan senyum mengembang sambil membawa tas belanjaan. Lah, masih pagi sudah sempet belanja? Keren nih cewek.


Hari ini, Sherin kembali bergabung dengan kami. Hihihihi jadi bingung sendiri deh, kalau bisa kerja dibawah bareng timnya, kenapa harus diatas ya?


"Pagiiii.. " jawab kami kompak.


"Habis belanja Rin?" tanya Kak Bertha yang ternyata fokus matanya sama denganku.


"Ooh ini kemarin nitip sama Diana, anak marketing yang habis belanja sabun."


"Hah sabun Sher? Kok nitip kalau cuma beli sabun?" tanya Indra penasaran.


"Iya. Ini sabun aroma buah, belum banyak yang jual. Sherin beli macem - macem aroma rasa buah. Total Sherin beli delapan keharuman." Sherin menjelaskan sambil tersenyum.


"Ada delapan rasa Sher?" tanyaku yang ikut penasaran.


"Iya Mbak. Sherin penasaran, mau dicoba semua."


"Waah kok menarik sih Rin, aroma buah?" tanya Mas Kelana.


"Eh, Mas Kelana mau nyoba? Ini Sherin beli yang aroma duren dua, satu buat Mas Kelana aja deh. Takut jadi banyak lalat kalau Sherin pakai," kata Sherin sambil memberikan satu botol sabun cair.


Kami pun tertawa. Ya kali, pakai sabun beraroma buah, binatang akan hinggap ke tubuh kita. Apa kabar sabun yang mengandung madu? Tawon akan nempel gitu di badan? Woow!


"Waaah, Sherin kayaknya sudah ketularan sengklek nih. Wecome the club Rin, terutama sama Rachel, kalian sejenis." Kata Indra sambil sedikit teriak sambil tertawa.


"Ndra, elo macem - macem gue laporin calon suami gue ya." Aku mengancam Indra sambil memainkan cincin lamaran. Maksudnya biar Indra inget kalau calon suamiku ada di dalam ruangan sebelah, yang hanya beberapa langkah dariku.


"Waah Mbak Rachel sudah punya calon suami ya? Kapan lamarannya?" Sherin langsung bertanya dengan suara kerasnya.

__ADS_1


Kami, tim gesrek saling bertatapan.


Disaat bersamaan Mas Malik keluar dari ruangannya. "Ada apa sih ribut - ribut? Desain sudah pada dikerjain belum?" tanyanya tanpa ekspresi.


"Hehehehe, Maaf Mas. Ini Sherin kaget, nggak tahunya Mbak Rachel sudah punya calon suami," lapor Sherin ke Mas Malik.


"Waah.. kok nggak bilang - bilang Chel? Kapan lamarannya?" Mas Malik bicara sambil menghampiri kubikelku.


"Tuuh kan! Mbak Rachel diem - diem nih. Masa Mas Malik juga nggak tahu," tanya Sherin.


Lagi - lagi kami tim gesrek saling bertatapan.


"Chel cerita dong. Diam - diam aja nih." Mas Malik bicara dengan muka datarnya.


"Saya harus cerita apa Mas? Yang pasti calon suami saya nggak seperti bos saya yang nyebelin itu deh."


"Woow! Saya jadi mau kenalan dengan calon suami kamu Chel. Pasti ganteng ya? Kamu kan manis, mana mau sama cowok yang standar, iya kan? Iya lah, cewek biasanya gitu, kan?" Mas Malik asyik nyerocos nggak jelas.


Tim gesrek? Sibuk senyum - senyum. Jarang - jarang juga kan ada pertunjukan kayak sekarang. Si bos emang lagi error.


"Weits, tidak bisa Mas! Nanti Mas Malik malah naksir dia. Terus saya nikahnya sama siapa, kalau kalian saling suka? Sebenarnya siih.. nggak ganteng Mas. Saya nggak mau Mas sama cowok ganteng, nanti dipepet cewek bule. Iya kalau cuma dipepet, kalau terus di kecup? Nangis saya Mas."


Langsung terdengar suara tertawa Indra dan Mas Kelana. Aku yakin, mereka masih ingat kejadian si bulbul ngecup Mas Malik di depan mata kita. Mas Malik hanya tersenyum sambil geleng - geleng.


"Waaah, Rachel sih sudah nggak nge-date - nge-date lagi. Dia sekarang sibuk ngurusin pernikahan, biar bisa segera halal Rin," kata Indra.


"Ooh gitu," kata Sherin.


"Chel, saya nggak mau tahu ya. Kamu harus kenalin calon suami kamu ke saya. Selama belum dikenalin, kamu akan saya ganggu, biar calon kamu cemburu." Ancam Mas Malik.


"Iiih, Mas Malik serem banget sih?" Sherin komentar dengan suara pelan.


"Iya gampang Mas. Sudah ah, saya mau buat laporan desain saya dulu, buat rapat nanti." ujarku dan dijawab dengan jempol sama Mas Malik yang kemudian berjalan ke kubikel Mas Kelana. Entah apa yang mereka dibicarakan disana.


Aku pun langsung sibuk dengan desainku. Saat aku sedang serius, Kak Bertha mencolekku dan berbisik, "Chel, biasanya motor elo di cucinya pakai sampo apa? Ini si Abang minta gue beliin sampo buat mobil."


"Waah ngaco loh Kak! Buat apaan motor dan mobil dibeliin sampo?"


"Ya biar bersih lah Chel." Kak Bertha bicara sambil melirik sekeliling karena ternyata Mas Malik masih di kubikelnya Mas Kelana.


"Tapi kan Kak, motor sama mobil nggak punya rambut, ngapain di sampoin? Mereka juga nggak mungkin kutuan kan?" tanyaku sok polos.

__ADS_1


"Racheeeeel..." teriak Kak Bertha refleks karena gemas. Yang lain yang mendengar teriakan Kak Bertha langsung nengok ke arah kami.


"Ada apa?" tanya Mas Malik yang langsung menghampiri kubikelku dengan tampang panik. Sedangkan Mas Kelana dan Indra berdiri di samping kursi masing - masing sambil menatap aku.


"Nggak ada apa - apa kok Mas. Kak Bertha aja yang suaranya keras terus bikin kaget," jawabku berusaha meredakan kepanikan Mas Malik.


"Jangan bohong! Bertha, ada apa kamu teriak?" tanya Mas Malik yang masih panik minta penjelasan Kak Bertha.


"Sorry Lik. Nggak ada apa - apa kok. Calon bini elo nih kalau ngomong suka ngaco, jadi tadi gue teriak karena kesal sama komentarnya dia."


"Okay, coba dijelasin secara lengkap," pinta Mas Malik ke Kak Bertha dengan muka datarnya ala si bos jaman belum nembak aku. Dia pun berjalan dan berdiri di depan kubikel Kak Bertha.


Lalu Kak Bertha pun menceritakan pertanyaan dia ke aku dan dilengkapi dengan jawaban aku. Begitu selesai Kak Bertha menjelaskan, Mas Malik menatap aku tanpa bisa aku baca ekspresinya, tapi dia geleng - geleng kepala.


"Jangan suka iseng dong!" Gitu katanya sambil masih natap aku dengan ekspresi wajah mau senyum tapi ragu.


"Adek nggak iseng kok! Kan emang sampo buat keramas Mas. Lah mobil rambutnya dimana? Lagian juga nggak ada sejarahnya mobil atau motor kutuan," kataku sambil menatap Mas Malik dengan nada tidak mau disalahkan. Seperti biasa, tim gesrek mah ngetawain aku mulu. Untung aku orangnya sabar, jadi cuek aja.


Tapi tidak lama setelah aku selesai bicara, aku mendapatkan lemparan kacang kulit lagi dari Indra. Susah deh kalau punya teman nganggep aku monyet jadi suka melempar kacang kulit buat ngungkapin sayangnya.


"Sebentar deh. Calon suaminya Mbak Rachel itu Mas Malik ya?" tanya Sherin dengan nada ragu sambil menatap semua orang yang ada di sini.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget, Rin?" tanya Mas Kelana.


"Nggak, penasaran aja sama kalimatnya Kak Bertha tadi dan Mbak Rachel. Eeh tapi cocok sih Mbak Rachel sama Mas Malik kalau jadi suami istri. Kalau lagi ngaco bisa saling melengkapi seperti tadi." Sherin bicara sambil tersenyum.


"Sudah - sudah, kerja lagi semuanya. Kita meeting jam 3 sore saja ya. Saya ada zoom meeting nggak tahu selesainya jam berapa." Mas Malik bicara sambil jalan mengarah ke ruangannya. Kami pun kembali bekerja.


Kalimat Mas Malik yang seperti itu adalah salah satu kode kalau nanti aku bertugas untuk membelikan dan mengantar makan siangnya keruangannya.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2