
"Ada apa sih ini?" tanyaku yang kemudian mendekat ke kubikel setelah selesai diskusi desain Wisata Petualang dengan Mas Malik.
"Ada apa ini, guys? Jam kerja kok rumpi?" tegur Mas Malik.
"Ini.. Outing berubah lokasi Mas. Bukan di dua kota yang kemarin direncanakan, tapi di Medan," kata Indra yang saat ini posisinya sedang bersama Mas Kelana dan Sherin.
"Loh, bagus kan? Kalau Jogja sama Bali, nanti kalian bosan. Dulu jaman sekolah juga suka study tour ke kedua kota itu. Masa sudah jadi pegawai kesitu lagi," ucap Mas Malik yang mendukung perubahan tempat outing.
Yang aku bingung, itu bukannya omonganku kemarin ya, tentang aku yang bosan kalau pergi ke Jogja dan Bali. Lalu Mas Malik kan mau bilang sama Mas Ricky. Apa ada hubungannya ya? Sejauh itu dia bisa mempengaruhi Mas Ricky? Asli, penasaran aku tuh soal perubahan kota buat outing ini.
"Kok mendadak Ndra? Bukannya kemarin sudah setengah mateng kalau di Jogja rencananya apa saja, kalau di Bali rencananya juga kemana saja," tanyaku penasaran.
"Itu dia. Mas Ricky ngabarin soal pergantian kota itu tadi sekitar jam sepuluhan. Perubahan - perubahan lainnya nanti akan dikabari lebih lanjut sama Astrid," kata Indra sebagai pusat informasi outing.
"Ya sudah, kalian enggak usah mikirin. Biarin saja para atasan yang mikirin, yang penting tugas dan tanggung jawab kalian selesai tepat waktu. Yuk yuk yuk kerja lagi." Mas Malik sepertinya tidak ingin pembahasan outing mengganggu kerja timnya.
Teman - temanku pun langsung kembali ke kubikelnya masing - masing. Mas Malik sesuai rencana yang ia sampaikan ke aku, mau keluar ketemu dengan Mas Ricky dan Bang Ben.
Ruangan kembali tenang, paling hanya ada satu atau dua celetukan karena bosan dan butuh penyegaran. Suasana seperti ini akhirnya bertahan sampai sore saat waktunya kami pulang.
Hari ini Kak Bertha cuti karena ke Cirebon kemarin. Aku memutuskan pulang sore seperti yang disampaikan Mas Malik tempo hari saat dia mengantar aku pulang karena dia tidak mengijinkan aku naik motor.
***
Sesampainya dirumah mama menyambutku dengan senyuman manisnya.
Hhmmm biasanya kalau begini ada udang diatas piring, eh enggak deng. Biasanya ada maunya.
"Rachel, besok temani mama ya." Tuh.. bener kan?
"Emang mau kemana Ma?"
"Besok ada undangan, di hotel yang ada di SCBD itu loh, yang bawahnya ada molnya."
"Oh, ke The Ritz-Carlton? Boleh, jam berapa?"
"Acaranya makan siang, jam 11 deh sampai sana," kata Mama.
"Ya udah, boleh Mah. Tapi nanti Rachel nunggu Mama di mol ya," kataku.
"Iya, enggak apa - apa. Yang penting Mama jangan ditinggal."
Daaaan sekarang aku sedang berada di Kem Chick, Pacific Place. Apalagi kalau bukan belanja belinji sambil nunggu mama. Niatnya enggak banyak sih yang mau dibeli. Saat sedang berada dibagian susu, ponselku berbunyi. Ternyata Jaka yang meneleponku.
__ADS_1
"Iya Jak. Ada apa?"
("Posisi kamu dimana? Kata tante Keya kamu nganter dia.")
"Iya. Gue sekarang lagi di PP, di supermarket. Elo mau nyusul?")
" Boleh. Jangan keluar dulu ya dari supermarket.")
"Oke. Gue tungguin ya."
Setelahnya aku pun menutup sambungan telepon. Aku kembali memilih makanan dan beberapa barang yang sedang aku inginkan. Aku memilih untuk menunggu Jaka di dalam supermarket, setelah itu baru ke kasir.
Sekitar sepuluh menit, aku melihat sosok Jaka dari kejauhan baru masuk ke supermarket. Untungnya, dia pun melihatku.
"Hai.. Ada yang mau dibeli enggak?" tanyaku ketika dia sedang berjalan mendekat kepadaku.
"Hhmmm gue butuh minuman kemasan saja sih sambil nunggu nyokap. Letaknya dimana?"
"Yuk, gue temenin," ajakku sambil jalan mendahului Jaka.
Setelah membayar belanjaan kami memutuskan untuk menunggu para nyokap dengan makan siang di Pancious Pancake.
"Hahahaha dimana pun molnya makannya selalu Pancious ya?" kata Jaka ketika meminta pendapat restoran untuk makan siang kita.
Lumayan lama kami di Pancious menikmati pancake, pasta, dan Fresh Fruit Cocktail, sampai mama meneleponku minta di jemput, dia sudah di lobi hotel.
Setelah menyelesaikan pembayaran, kamipun bersama menuju lobi hotel dengan tentengan belanjaanku yang dengan gentlemen-nya dibawain oleh Jaka.
Saat sampai di lobi, orang yang pertama aku lihat bukan mama atau tante Gita, tapi Bang Ravel! Disaat yang bersamaan Bang Ravel pun melihatku. Bang Ravel terlihat rapi dengan memakai jas. Hari Sabtu pakai jas mungkin habis dari atau ke acara pernikahan, pikirku.
"Hai Rachel, apa kabar?" tanyanya setelah menghampiriku dan kami pun bersalaman.
"Baik Bang," jawabku. "Bang kenalkan, ini Jaka," kataku memperkenalkan Jaka ke Bang Ravel.
"Halo, saya Ravelino," jawab Bang Ravel tegas sambil tersenyum.
"Saya Jaka, Bang," balas Jaka.
Sama siapa Bang?" tanyaku kepo. Kan enggak mungkin rapi di hari Sabtu tapi sendirian.
"Itu sama Malik. Kami habis rapat tadi di resto di sini." Bang Ravel menjelaskan sambil menunjuk ke seseorang yang tampil sangat rapi sedang bicara dengan bule. Iya, Mas Malik tampil dengan jas dan dasi, sama seperti Bang Ravel dan si bule.
"Ooh," sahutku yang berkata masih tetap memandang Mas Malik dari posisiku, dan tanpa diduga yang dilihatin pun menatap kearah kami.
__ADS_1
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk sopan. Setelahnya aku mengajak Jaka pamit dari Bang Ravel karena takut para mama menunggu terlalu lama. Sebenarnya aku menghindar dari Mas Malik juga sih, males saja ngobrol saat aku lagi sama Jaka.
Ketika kami menemukan mama mama kami, ternyata mereka masih ngerumpi disalah satu sofa yang ada lobi. Hufh.. untung deh, jadi mereka tidak ngambek karena kelamaan menunggu.
Yang tidak terduga adalah ketika para nyokap ini seakan menganggap kami pacaran! Oh God!
"Keya, lihat deh! Anak - anak kelihatan sangat cocok kan? Iih tante mau deh, kamu jadi mantu tante," ucap Tante Gina dengan mata berbinar.
"Ibuuu. Jaka kan sudah bilang sama Ibu." Jaka menegur ibunya dengan lembut. Kelihatan banget kalau Jaka tuh cowok yang sabar.
"Hahahaha boleh saja, tapi terserah anaknya deh. Pusing saya," jawab mama.
"Yuk Bu, kita keparkiran. Katanya mau pulang," ajak Jaka ke Tante Gita.
"Oh yuk. Eh kalian parkir dimana? Bareng sekalian?" tanya Tante Gita.
"Oh kami pakai valet, Tante. Jadi kita ke depan sana," ucapku.
"Rachel kalau disuruh bawa mobil, ke tempat ramai pasti milih parkir pakai valet." Mama membocorkan kebiasaanku.
"Hahahaha, biar simple lah Ma. Aku juga enggak marah - marah kalau enggak dapat parkir. Mama juga enggak suka kalau aku marah - marah kan?" jawabku.
"Ya sudah tandanya kita pisah disini saja ya. Sampai ketemu lagi," ucap Tante Gita sambil cipika cipiki. Kemudian Jaka memberikan tas belanjaan kepadaku sambil pamit.
Ketika sampai luar, kami ketemu Mas Malik dan Bang Ravel lagi. Mama sedikit heboh, karena ketemu Mas Malik, dan dikenalkan dengan Bang Ravel. Untungnya, kendaraan mereka tidak lama datang. Dua cowok ganteng itu pun pamit ke aku dan mama.
Tapi setelahnya mama bilang, " Chel, Mama jadi bingung. Jaka sama Malik itu sama menariknya. Terserah kamu deh mau dengan siapa." Bingung aku tuh. Si mama yakin banget sih kalau kedua cowok itu suka sama aku. Jujur aku enggak berani berandai-andai. Takut jatuhnya malah sakit hati kalau ternyata malah ke aku yang kepedean.
***
.
.
.
...Mau jejaknya dooong๐๐๐...
.
.
Bersambung
__ADS_1