Bos Ajaib

Bos Ajaib
22. Foto Candid


__ADS_3

Saat ini kami sudah di penginapan masing-masing. Untungnya bukan masa liburan, jadi tidak ramai. Nah, paket yang aku pilih ini harusnya untuk dua orang, tapi karena aku jalan sendiri mau enggak mau aku bayar double. Ternyata, hal itu ditiru oleh Mas Malik.


Mas Malik penginapannya persis disamping aku. Benar-benar aku merasa dimata-matai oleh bosku sendiri. Masang ekspresi wajah judes ke si bos ternyata enggak ngaruh. Tetap saja dia keukeuh mau di samping aku persis penginapannya.


Saat sedang santai setelah makan siang di kamar penginapan, Jaka whatsapp.


Jaka :


Rachel, masih cuti?


Rachel :


Masih. Ini baru sampai ke destinasi berikutnya


Jaka :


Waaah semoga liburannya menyenangkan ya


Rachel :


Hahahaha, ya gitu deh


Aku enggak mungkin cerita kalau aku digangguin si bos disini. Hubungan kami tidak sedekat itu untuk benar-benar terbuka.


Jaka :


Jawabnya seperti ragu🙃


Rachel :


Bukan ragu, tapi ada beberapa planning yang tidak bisa diwujudkan saja. But i think, everything it's okay.


Jaka :


Sound good. Btw, to night can I call you?


Rachel :


Sure. I think you have a story to tell me😉


Jaka :


Yes!


Rachel :


Can't wait for the talk tonight


Jaka :


Okay. Bye..


Sekarang aku memilih untuk menonton televisi. Disini karena pulau kecil, aku jadi nyantai. Apalagi aku disini menginap selama dua malam.


Aku kaget saat pintu penginapanku diketuk dengan keras. Ternyata aku tertidur setelah whatsapp-an dengan Jaka. Televisi pun masih menyala.


Saat aku membuka pintunya, ternyata Mas Malik dengan wajah yang terlihat tegang.


"Kamu kenapa?" tanyanya saat aku membukakan pintu. Dia terlihat khawatir.


"Enggak kenapa-kenapa Mas," ujarku bingung.


"Saya telepon enggak diangkat-angkat. Whatsapp apalagi," protesnya.

__ADS_1


"Saya ketiduran Mas. Sorry. Masuk deh Mas, enggak enak ngobrol depan pintu begini."


"Tumben tidur siang." Mas Malik berkata dengan sok tahunya.


"Hah? Tahu dari mana saya enggak pernah tidur siang?" tanyaku penasaran. Benar nih, dia bisa baca pikiran orang. Kan kacau!


"Ya, karena kalau siang kamu kan kerja," jawabnya santai sambil duduk di bangku.


"Jiaaah. Kirain ada yang bocorin!" Lega dengarnya, prediksiku salah.


"Jalan-jalan yuk. Jangan di penginapan terus." Mas Malik memang terlihat sudah siap jalan.


"Mas jalan aja sendiri, kenapa harus ngajak saya?" tanyaku. Agak males gitu jalan berduaan sama bos.


"Kamu juga ngapain liburan sendirian? Cuma mau tidur saja? Kalau tidur ngapain harus ke pantai?" Mas Malik terdengar sedikit kesal. Yee, lagian siapa suruh ngikutin aku.


"Ya, suka-suka saya lah. Badan-badan saya kok." Kenapa si bos jadi kesel gini sih? Salah aku apa?


"Apa yang kamu takutkan sih Chel? Kan kalau kita jalan berdua disini tidak ada teman-teman kantor. Jadi kamu enggak awkward." Dia berkata dengan nada yang sudah melembut.


"Saya malas kalau selalu berduaan sama Mas Malik," ujarku to the point.


"Kenapa memangnya Chel? Seburuk apa sih saya dimata kamu?" Aduuuh kalau kalian tahu, nada bicaranya enak banget terdengar di kuping. Sumpah! Bisa bikin meleleh yang dengar. Tapi tidak dengan aku. Rachel kuat iman, Rachel jual mahal, aku kuat iman, aku jual mahal.


"Enggak apa-apa sih Mas. Cuma kalau Mas Malik selalu dekat saya, saya enggak bebas. Saya enggak bisa snorkeling, enggak bisa nyelam, enggak bisa bebas main air deh," kataku jujur.


"Hah? Kenapa enggak bisa? Kemarin saya nawarin kamu, tapi kamu yang enggak mau. Kamu bilang mau gaya seperti selegram saja dengan kacamata hitammu. Iyakan?" tanyanya lembut. Jarang-jarang denger suara dia seperti ini.


"Mas, saya ini perempuan!" ujarku kesal. Habis dia enggak ngerti maksud aku.


"Saya tidak pernah bilang kamu pria loh, Chel!" katanya dengan nada gregetan.


"Sa-ya ma-lu!" Bodo deh, ngomong apa adanya saja.


"Nanti Mas Malik lihat bentuk badan saya." Aku mengatakannya dengan sedikit malu.


"Hahahahahaha." Lagi-lagi Mas Malik tertawa terbahak-bahak, sampai seluruh badannya goyang semua. Nyebelin banget gak sih? Aku untuk jujur, ngomong kalau malu saja butuh perjuangan, eh malah diketawain.


Aku tinggal Mas Malik untuk ngambil minum. Capek lama-lama ngobrol enggak jelas gini sama si bos!


Aku kembali ke depan dengan membawa minuman botol untuk Mas Malik. Dia sudah tidak tertawa lagi, tapi matanya tidak pernah lepas memandangku.


"Yuk, jalan-jalan ke belakang. Enggak usah ganti baju. Saya risih kalau enggak ada teman jalan." Dia mengajak dengan nada normal.


"Emang mau kemana?" tanyaku sambil memberikan minum botolan.


"Dibelakang ada Pulau Penyu. Kalau kamu mau kita bisa kesana. Kamu cukup ganti rok atau celana pendek saja, biar bisa main air," sarannya.


"Tapi saya enggak mau diketawain seperti tadi ya! Saya bisa tambah marah, karena Mas mengganggu cuti saya." Aku mengatakannya dengan nada mengancam.


"Siap Chel!" Mas Malik mengatakannya sambil tersenyum.


Lalu aku pun siap-siap dan memakai celana pendek 3/4. Seperti kata Mas Malik, biar bisa main air.


Sebelum jalan, aku diingatkan untuk membawa kacamata hitam sama Mas Malik. Kalian tahu enggak? Di kepalanya Mas Malik sekarang juga bertengger kacamata hitam. Aku mau ketawa ngakak tapi aku tahan.


Keluar dari penginapan dia berjalan didepanku. Aku sibuk mengambil gambar untuk diunggah di instagramku. Tapi aku akan memasukkannya pada malam hari.


Pulau Penyu tidak jauh dari penginapan. Pulau ini berupa tumpukan batu dengan ujung batu menyerupai kepala penyu. Di tengahnya ada bukit kecil menyerupai tempurung penyu yang dipenuhi dengan pepohonan.


Puas mengambil gambar, aku lalu mengambil gambar dengan video yang akan aku taruh di instagram stories. Ya maaf, namanya juga selegram, rajin update adalah koentji.


"Kamu mau saya fotoin?" tanya Mas Malik tiba-tiba.

__ADS_1


"Nanti saja," jawabku sambil tetap mengarahkan ponsel fokus ke obyek pemandangan pulau.


"Done."


"Apanya yang done?" Aku menoleh ke arahnya.


"Candid," katanya sambil tersenyum bangga. "Saya ambil foto kamu lagi motret." Mas Malik mengarahkan ponselnya kepadaku untuk memperlihatkan hasil jepretannya.


Saat kami sedang mengeksplorasi keindahan pulau ini, Jaka telepon.


"Iya Jak. Katanya nanti malem, ini gue lagi jalan-jalan."


("Iya. Sorry, sorry, sebentar saja ini. Gue minta ijin pamer foto kita yang kemaren ke nyokap gue ya. Kemaren-kemaren nyokap enggak ngebahas jadi gue diem. Nah ini telepon, mulai nyenggol-nyenggol lagi. Gue pikir bisa nanti malem ngasih lihat fotonya, eh ini nyokap dah bolak balik neror. Lebih baik gue kirim saja ke nyokap. Biar gue enggak capek juga sih.")


"Oh iya, enggak apa -apa kok Jak. Kan niatnya emang gitu."


("Oke sip. Maksudnya, kalau nyokap elo ngebahas karena sudah dapat info dari nyokap, elo sudah siap")


"Iya, sip. Gak papa. Kita komunikasiin aja ya."


(Oke, selamat liburan ya Chel. Nanti gue kabarin lagi")


" Iya Jak. Berkabar ya. Bye!"


Teleponan kami pun usai. Saat aku kembali mendekat dengan Mas Malik, kulihat wajahnya seperti marah gitu.


"Yuk Mas. Mas Malik mau saya fotoin? Gantian," kataku.


"Enggak usah, saya bukan selegram," katanya sedikit ketus.


"Oke, kalau gitu, fotoin saya disana ya? Tapi nanti saya sambil jalan, terus Mas Malik motret dari depan saya, " kataku nyerocos sambil nunjuk tempat yang aku inginkan.


"Hhmmm." Dia tidak menjawab sesuai yang aku harapkan.


"Yuk Mas!" Aku berjalan mendahuluinya. Dia tidak menjawab, tapi mengikuti dari belakang.


"Stop Mas. Ini ponselnya, saya kesana dulu ya. Ambil beberapa gaya ya," ujarku memerintah. Kapan lagi nyuruh-nyuruh bos. Ya kan?


Mas Malik menerima ponselku dengan malas. Aku pun bergaya pura-pura berjalan di air yang tingginya sekitar sebetis aku. Mas Malik lalu memotret aku dengan tampang yang enggak enak dilihat.


"Sudah." Dia langsung mengulurkan ponsel kembali padaku.


Aku sebel, karena hasilnya tidak sesuai prediksiku.


"Makasih ya Mas. Saya minta tolong sama mbak-mbak itu saja, kayaknya mereka bisa membantu." Ponsel sudah hampir berada dalam genggamanku, tapi Mas Malik langsung merebutnya lagi setelah mendengar komentarku.


"Ya sudah, kamu gaya lagi." Mas Malik pun siap-siap ngambil gambar aku lagi.


"Pura-pura candid Mas."


"Hiiii ampun deh, cewek ribet banget ya," Mas Malik ngedumel.


***


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2