Bos Ajaib

Bos Ajaib
7. Bantuan Dari Bos


__ADS_3

"Teman - teman, sebelum gue lupa kenapa gue masuk ruangan ini ikut nimbrung bareng Sisi, sebenarnya mau ada pengumuman." Mas Malik bicara sambil ngambil menuang minuman yang tadi sudah dibawakan oleh OB.


"Jadi, ruangan kita kan luas, dan meja kita masih ada yang kosong. Nah, Sisi mau nitip anak baru minggu depan diruangan kita. Dia masuk divisi fotografi, tapi untuk beberapa bulan tugasnya lebih ke foto - foto yang siap masuk ke web kita. Jadi kita kalau mau nanya soal keperluan dengan anak foto bisa lewat dia juga. Jadi disini atasannya dia Sisi dan gue. Jarang - jarangkan kolaborasi kayak gini."


"Cowok apa cewek, Si?" tanya Indra.


"Cewek, masih baru lulus. Semoga elo bisa membimbingnya ya Ndra." Sisi menjawab dengan kedipan mata ke arah Indra.


"Nah loh, selagi bisa berubah Ndra. Sebelum janur kuning." Mas Kelana lagi - lagi mengkompori Indra. Indra hanya bisa cengar - cengir enggak jelas.


"Kira - kira cakepan mana ya sama cewek yang diajak belanja Malik?" Kak Bertha kembali memancing pembicaraan yang sudah dialihkan sama si bos.


Ternyata pembicaraan tentang Mas Malik ke gap jalan bareng 'cewek' lebih menarik teman - teman divisiku.


Mereka semua benar - benar penasaran. Tapi Mas Malik benar - benar cowok cool yang bisa membuat semua orang penasaran, kecuali aku. Ya iyalah, orang aku si cewek itu.


"Kenapa sih penasaran banget? Nanti kalau sudah ketahuan tanggalnya, semua juga bakal gue undang kok." Ampun Maleeeh! Kenapa si bos sekarang malah buat penasaran dengan topik aku sebagai obyeknya.


"Ya iyalah. Cowok - cowok di kantor ini enggak ketahuan punya cewek tapi tahu - tahu sudah mau married. Ini salah satu contohnya, yang mau nikah sama penyanyi cantik," kata Kak Bertha.


"Eh, tapi kalau belum mau diungkap juga gak papa sih, santai saja Mas. Elo kan orangnya misterius," kata Mas Kelana sambil ngambil risol dari kotak bekalnya itu. Mas Malik hanya tertawa.


"Gue nanya orangnya dulu. Kalau gue sih santai, tapi.. gue enggak tahu dianya nyaman apa enggak, kalau teman - teman gue tahu." Jawaban yang sangat keren dilontarkan Mas Malik.


"Kita kenal? Satu kantor? Waah gue akan mengawasi pergaulan elo di kantor mulai sekarang. Pantes aja elo betah di kantor." Kak Bertha bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.


"Penasaran yaaa? Sudah ah, saya keluar dulu. Intinya saya ngasih tahu mulai minggu depan ada anak baru." Mas Malik kemudian bangun dari kursi dan langsung berjalan keluar ruangan.


***


Menjelang kepergianku ke Lombok, serah terima tugas pun aku lakukan. Ada tiga tugas yang aku serahkan ke Mas Kelana dan Kak Bertha. Siapa yang ngerjain yang mana nanti mereka akan mendiskusikannya dengan Mas Malik.


Tapi aku mempresentasikannya di depan keduanya dan Mas Malik, jadi semua tahu kekurangannya dimana saja dan mereka bisa memilih mau melanjutkan yang mana.


Kalau presentasi karya untuk klien sebelum diserahkan, biasanya kita lakukan cukup langsung di depan Mas Malik. Meskipun sebelum presentasi, kita sering diskusi dulu kadang saling kasih masukan. Intinya semua harus mendapat persetujuan dari Mas Malik. Meskipun beberapa bos besar suka ingin lihat dulu sebelum diserahkan ke klien.


Disinilah aku sekarang, di depan laptop dengan proyektor yang menyala siap presentasikan desain web yang aku buat. Aku mulai menjelaskan desain yang aku buat dengan selengkap - lengkapnya termasuk kekurangan yang belum aku kerjakan.


Dari awal kerja disini, Mas Ricky sebagai big bos sudah menekankan keterbukaan dalam karya dan tidak ada sikut - sikutan, semua harus didiskusikan kalau sedang mentok. Kerjasama dalam tim lebih diutamakan. Dan aku setuju, karena kerja kita juga jadi tenang, dan kalau ada masalah kita bisa memecahkannya bersama - sama.


Serah terima tugas berjalan lancar. Setelah Mas Malik memberikan aneka masukan untuk tiga desain web yang sedang aku kerjakan, Mas Kelana menyanggupi mengerjakan dua desain web, dan Kak Bertha satu desain web dengan desain yang sudah aku kerjakan sebanyak 80 persen.

__ADS_1


"Yakin loh Lan ngerjain dua yang itu? Enggak papa kok kalau gue yang satunya, kayaknya gue masih sanggup kok." Kak Bertha menawari kemudahan, tapi ditolak dengan tegas sama Mas Kelana.


"Udah deh, santai saja. Elo kan juga harus bikin konsep desain yang buat Made Qi yang di Bali. Belum lagi elo mau cuti, gue masih sanggup kok. Rachel saja bisa kenapa gue enggak? Jangan coba - coba elo rusak harga diri gue ya."


"Ya udah, terserah elo." Kak Bertha menjawab dengan singkat.


"Sekarang dah beres semua ya? Kalau sudah, kalian sudah bisa mulai kerjain. Jangan lupa tektokan terus ya." Mas Malik menutup presentasi dan langsung ngeloyor keluar ruangan.


***


Bagaimana urusanku dengan mama? Fuuiiih dia pakai ngambek. Seperti yang sudah aku bayangkan, dia merasa aku menolak secara halus.


"Mamakan cuma mau kamu ketemu sama anaknya Tante Gita, Chel. Hanya silaturahmi kok."


"Mah, Rachel kan juga sudah setuju, enggak nolak. Tapi ini memang Rachel dapat tugas dadakan dan enggak bisa Rachel rubah. Apa perlu bos Rachel yang minta ijin sama Mama?" Aku sudah capek neranginnya ke mama, jadi ide Mas Malik kayaknya bisa di coba.


"Kamu yakin, bos kamu mau minta ijin sama Mama? Sudah deh enggak usah bohong."


"Mama, Rachel enggak bohong. Bos Rachel juga sudah nawarin kok untuk minta ijin. Ya sudah sekarang Rachel whatsapp Mas Malik, biar nanti ngomong sama Mama." Saat ini aku sudah kesel tingkat dewa menghadapi sikap mama. Aku yakin harga diriku semakin hancur di mata Mas Malik.


Sambil menarik nafas dalam, aku mulai buka aplikasi whatsapp padahal ini sudah pukul 21.20.


Rachel :


MasMalik :


"Saya tidak sedang upacara, jadi tidak dalam keadaan istirahat. Ada apa?"


Rachel :


"Mas, kayaknya saya butuh bantuan Mas Malik buat ijin ke Mama saya deh. Mau ya Mas 🙏


Mas Malik :


" Okay, no problem. Besok pagi saya ke rumah kamu sebelum ke kantor. Kita berangkat bareng ke kantor"


Rachel :


"Oh, tadinya saya fikir via telepon saja"


Mas Malik :

__ADS_1


"Tidak sopan Rachel. Tapi kalau kamu mau telepon - teleponan dengan saya, boleh kok"


Rachel :


"Selamat malam Mas. Terima kasih, sampai besok pagi."


Aku enggak mau memperpanjang berceloteh dengan Mas Malik. Hatiku lagi kesel sama mama, nanti ketambahan kesel sama omongannya Mas Malik, bisa kacau.


Aku pun menyampaikan ke mama kalau Mas Malik besok pagi akan datang ke rumah, untuk ijin ke mama.


Sesuai janjinya, Mas Malik datang pukul tujuh pagi. Sebenarnya kasihan juga, tadi malam saat aku pulang, dia masih ada di ruangannya. Sekarang, pagi - pagi dia sudah ada di rumahku.


"Pagi Mas, yuk masuk. Maaf ya Mas, enggak sesuai prediksi. Mama saya menganggap saya bohong mengenai tugas luar kota ini." Aku bicara sambil mengajak Mas Malik masuk ke ruang tamu.


"Yaa makanya, jangan keseringan bohong sama orang, apalagi orang tua."


"Mas, habis makan cabe rawit ya? Pedes banget komentarnya." Kekesalanku ke mama belum reda, terus sekarang dengar jawaban seperti itu, kayaknya ada yang ngajakin berantem nih.


"Loh, saya kan cuma mengingatkan. Kenapa harus sewot sih Chel?" Lagi - lagi dijawab dengan nada dan wajah yang datar.


"Mas, kita gelut yuk!" Yang dijawab dengan senyuman misterius.


Oh God, aku baru inget, kalau sekarang lagi ngomong sama si bos! Kenapa ingetnya ngobrol sama tim gesrek ya?


"Kamu hari ini terlihat beda Chel. Lebih segar. Apa karena saya mau datang pagi ini ya?"


"Hahahahahaha..." Mohon maaf saudara -saudara, aku enggak kuat menahan ketawa. "Oh, ternyata Mas Malik bisa ngelawak ya? Tunggu ya Mas, saya panggilkan mama dulu." Tanpa menunggu jawaban aku langsung masuk manggil mama.


Saat mama ke ruang tamu dan melihat Mas Malik, dia terpesona dong. Langsung bengong dong si mama. Dari sini aku sudah tahu, bahwa soal perijinan dinas luar kota akan berjalan lancar. Thanks to my boss!


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2