Bos Ajaib

Bos Ajaib
74. Pengakuan Mas Malik


__ADS_3

Minggu lalu, akhirnya aku ke rumah pribadi Mas Malik.


Ternyata semua ide yang kusampaikan ke Mas Malik saat aku mengunjungi rumah tersebut untuk pertama kali benar - benar diterapkannya. Bolehkan kalau aku tersanjung?


Bahagia rasanya ketika aku merasa omonganku didengar dan ideku diterapkan oleh Mas Malik. Aku merasa dia sangat menghargai pendapatku tersebut. Meskipun itu mungkin sebagai salah satu wujud biar aku kelak betah dirumah tersebut ketika sudah menikah. Hahahaha ge-er loh, Chel.


Beberapa bangku yang di maksud Mas Malik pun hanya beberapa sofa single, yang memang bentuknya dan motifnya lucu. Aku tidak masalah dengan pilihannya Mas Malik, malah suka. Jadi aku tidak mengajukan protes.


Saat aku diajak room tour dan masuk ruang kerjanya, aku hanya bisa berkata 'wow'. Hanya ruangan ini yang kata Mas Malik perabotannya harus dari sentuhan tangannya kecuali cat temboknya. Karena warna catnya menurut dia membuat dia akan selalu kangen sama aku. Asyiiik, kangen bo! Jadi lupa deh tuh kalau dia adalah manusia yang pernah nyebelin dan pernah bikin aku misuh - misuh, bahkan nangis.


Saat dirumah itu, Mas Malik pun membocorkan kalau sebenarnya orang tuanya sudah melamaraku ke Mama Papa saat hari kerja, makanya dia suka ngilang - ngilang. Gila ya? Aku nggak bisa mencium pergerakan mereka semua.


Acara kejutan lamaran itu pun merupakan kerjasama keluarga Mas Malik dengan Mama, Papa, Reyka, dan Jaka.


Kesel deh aku mendengarnya. Belum lagi saat Mas Malik bilang, "Dek, satu set perhiasan yang kamu pilih itu kalau jadi mas kawin pernikahan kita kamu setuju nggak?"


"Lah, katanya buat Mama dokter?"


"Ya nggak lah. Dia kan sudah ada Papa tempat dia meminta. Mana pernah Mama minta beliin barang mahal sama anaknya, kan dia punya sumber yang lebih dahsyat."


"Heemm, jadi kamu bohong ya? Lain kali jangan gitu ya Mas. Adek lebih senang Mas bilang, biar Adek bisa milih yang sesuai ke kepribadian Adek."


"Oh, apa kita beli lagi aja? Seperti yang kamu mau," tanya Mas Malik tanpa beban. Tapi beban ada di aku. Risih aku, kalau sudah berurusan dengan uang.


"Nggaaaaak. Sudah cukup itu saja. Jangan mewah - mewah Mas. Sudah cukup ah."


"Ya sudah kalau cukup. Kita bisa fokus ke yang lain." Gitu katanya waktu itu.


"Mas, terus cincin yang Adek pilih, itu benar untuk Becky atau hanya alibi?" tanyaku penasaran.


"Beneran dong. Tapi cuma satu. Mas memang janji sama dia. Yang satu masih Mas simpen, buat kamu."


"Ooh.." jawabku.


Pada saat kami selesai membahas untuk perlengkapan di dapur dan ruang makan, aku pun tergelitik untuk menanyai seputar mantannya Mas Malik.

__ADS_1


"Mas, kan Adek sudah nangkep tiga mantan Mas Malik nih. Nah sebenarnya mantan Mas tuh ada berapa? Kalau berkenan Adek mau tahu."


"Hehehehe.. ada banyak dong. Dari jaman SMA, kuliah S1 disini, sama di Jerman, kalau di total ya banyak. Cuma ada yang main - main, sama ada beberapa yang serius."


"Kamu playboy Mas?"


"Nggak! Pokoknya dalam satu waktu, pacar Mas tuh selalu satu. Mas tipe setia, eh tapi kalau sudah merasa nggak cocok dan ada yang berusaha mendekat ke Mas terus Mas suka, yang lama segera diselesaikan."


"Aaiih.. padat merayap gitu ya? Terus ngapain saja dong saat pacaran, apalagi padat merayap gitu."


"Hehehehe udah dong Dek, itu masa lalu. Mas malu sama kamu yang lugu ini. Yang penting, Mas seriusnya sama kamu. Ya?"


"Tapi nanti akan ada kemungkinan ada cewek lain lagi yang dateng seperti tempo hari nggak Mas?" Eh apa? Mas Malik bilang aku lugu? Waah nggak bener nih.


Mas Malik langsung menarikku untuk duduk nempel disampingnya dan langsung merangkulku. "Mas nggak tahu Dek. Bisa jadi akan masih ada, dan Mas butuh pengertian kamu dan bantuan kamu untuk menghalangnya. Selama ini Mas dibantu sama Bang Ravel, Kak Raisa, dan Becky untuk menghalang mereka. Mungkin nanti kamu bisa nanya ke mereka juga."


"Tapi sebanyak apa Mas? Tapi Mas nggak pernah hamilin anak orang kan?"


"Hush! Ngaco kamu. Punya Mama dokter, dari kecil selalu diceramahin soal masalah reproduksi dan penyakit kelamin. Jadi kamu tenang saja, Mas masih perjaka kok," ucap Mas Malik sambil colek - colek pipi aku. Tuh, dia tuh kalau duduk deket begini, selalu iseng.


"Waah lega deh. Ya sudah pokoknya apapun yang harus Adek tahu, harus di laporin ya? Jangan buat shock di kemudian hari. Meskipun masih mengganjal dan was was dengan kejutan kedatangan secara mendadak cewek yang tidak diharapkan." Mas Malik menjawab dengan anggukan kepala dan jempolnya disodorin ke aku.


Seperti yang ia ucapkan, sudah beberapa hari ini Mas Malik tinggal di rumahnya. Kalau lagi beberes, dia akan foto ruangan sama barang - barang yang akan dia atur, lalu kami membahas tata letaknya. Kalau sudah selesai dia akan mengirimkan fotonya.


Dia menghindari video call kalau sedang ada misi mengatur ruangan, karena takutnya malah tergoda ngajak ngobrol aku dan tidak melanjutkan pekerjaannya tersebut.


Oh ya, untuk jaga - jaga, Mas Malik sudah memberikan kunci serep rumah ke aku. Jadi kapan pun aku datang, bisa langsung masuk. Kan aku calon nyonya rumah. Aiih gaya beneeer.


Mas Malik juga janji mau mempertemukan aku dengan Mbak Wilsa, kakak perempuannya yang tinggal di Ausy yang segera datang ke Indonesia khusus menyambut pernikahan kami.


Sebenarnya aku sudah kenal waktu Mas Malik video call sama Mbak Wilsa, tapi kami belum pernah ketemu secara langsung. Katanya sih saat ini sudah ada di Jakarta.


Selama seminggu ini aku ke kantor tidak pernah diantar jemput sama Mas Malik karena kesibukannya dia.


Nah weekend ini aku berinisiatif untuk mendatangi rumahnya mengendarai motor. Tapi aku mau membuat kejutan.

__ADS_1


Sabtu pagi, sambil jalan aku mampir ke toko kue untuk membeli cemilan jajanan pasar buat disantap saat bersantai bersama dan beres - beres rumah. Eeh sama beli sarapan juga pastinya. Hahaha semuanya beli. Lumayan lah, minimal aku tahu diri gitu, nggak mengandalkan calon suami yang masak.


Sesampainya di rumah Mas Malik, aku pun langsung mengetuknya. Tapi tidak ada jawaban. Jadi, aku menggunakan kunci serep yang aku pegang.


Begitu masuk, aku teriak, "Asalamualaikum.. Mas Maliik, Adek dateng bawa sarapan nih.." Aku langsung ke dapur, menyiapkan sarapan yang aku beli dan juga mengeluarkan cemilan dari kardus makanan ke piring. Setelahnya, kuletakkan di meja makan.


Aneh deh, masa Mas Malik belum turun. Mobilnya padahal ada, kan tandanya dia di rumah. Aku pun langsung keatas. Kosong juga.


"Mas Malik!" Aku meneriakkan nama yayang bebeb aku dan tidak ada sahutan. Hhmmm, apa masih tidur? Okay, kita cek ke kamarnya.


Dengan langkah pasti aku membuka pintu kamar Mas Malik.


"Maass..." Aku mengamati tempat tidur Mas Malik. Bukan doi yang ada di kasurnya. Tapi seseorang dengan rambut cokelat agak panjang.


Memang tubuhnya membelakangi pintu, tapi dengan mengenakan celana pendek, kaos warna pink, dan melihat siluet tubuhnya, aku tahu itu tubuh wanita. Wa-ni-ta!


Rasanya darahku berhenti mengalir.


"Liik...." Wanita itu menggumam cukup keras, sebelum berbalik badan.


Sambil menahan amarah, aku berjalan meninggalkan kamar Mas Malik. Bagaimana mungkin Mas Malik bisa membawa wanita ke kamarnya di saat hubungan kami sedang harmonis?


Kok bisa Mas Malik tidur dengan wanita lain, padahal kemarin bilangnya dia masih perjaka. Apa karena dia menilai aku lugu, seperti yang dia sampaikan ke aku?


Tanpa babibu aku langsung keluar rumah tanpa menguncinya lagi. Aku langsung menstarter motorku dan meninggalkan rumah Mas Malik.


***


.


.


Guys, besok nggak up ya.. Mau cek rumahnya Mas Malik dulu nih.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2