
Sesuai rencanaku, malam ini aku update instagram, tidak hanya feed saja tapi juga stories. Mulai dari foto pemandangan, video suasana pulau, dan foto narsisku yang difotoin Mas Malik.
Aku memasukkan semua ke instagram setelah menikmati suasana malam dengan jalan-jalan ditepi pantai.
Sambil main ponsel di teras penginapan, aku menikmati es kelapa muda. Sebenarnya waktunya salah, harusnya tadi siang atau sore, tapi karena ada gangguan dari Tuan Muda Malik, maka baru bisa menikmati kelapa muda malam ini.
Tidak lama, terdengar notifikasi dari ponselku.
Indra :
Chel, elo insta story sama feed isinya pemandangan sama sosok elo. Nah si bos mana? Masukin dong, jangan diumpetin mulu
Rachel :
Lah, siapa yang bilang kalau gue ke pulau ini sama si bos? Gue kan belom cerita sama elo-elo semua
Indra :
Mau tau aja apa mau tau banget?
Kelana :
Mas Malik saat ini hanya milik Rachel, bukan untuk konsumsi publik
Indra :
Tapi kan gue mau tahu juga tampang bahagia mereka
Kak Bertha :
Wooy, elo berdua dah lihat ig nya si bos belum? Gue masih bingung, dia mau bahas pasir yang putih, tapi ada kaki cewek yang pake gelang kaki *kita tahu lah, kaki siapa itu😝
What? Mas Malik ngambil gambar kaki aku? Haduuuh!
Rachel :
Heeeeiiii jangan ribut! Gue lagi menikmati udara pantai dimalam hari
Kak Bertha :
Sama si bos?
Rachel :
Wayo! Kagak lah. Gue di teras penginapan ini
Indra :
Elo satu penginapan enggak sama Mas Malik?
Rachel :
Kagaaaaak!!
Kelana :
Kalau iya juga kita enggak ada yang tahu kan Chel? 🤫
Rachel :
Siapa yang bilang kalau si bos menguntit gue? Resek ah! Sebel gue!
Indra :
Elo sih, dari kemaren adem aja, enggak ada cerita perjalanan elo. Untung ada mata- mata🤪
Rachel :
Ya udah, tanya aja semuanya sama mata-mata elo. Enggak usah tanya-tanya gue lagi! *ngambek*
__ADS_1
Kelana :
Ya udah, cerita dong
Rachel :
Gue dari kemaren dah shock ketika dia bilang mau lanjut liburan kesini. Tadi malem dia tanpa basa basi bilang kalau perjalanan kita samaan (siapa yang kasih tau?!), terus ngasih tahu kalau kepulaunya jalan bareng.
Rachel :
Gimana gue gak kesel, gue kemaren gak jadi snorkeling. Terus berharap bisa disini, eh di buntutin lagi. Tadi siang gue marahin dia soal ini, eh malah ketawa
Kelana :
Ya udah, cuekin dia lah Chel. Elo itu harus bahagia. Kalau mau berenang ya berenang aja.
Kak Bertha :
Mana mau dia. Rachel gitu loh!
Indra :
Gue nyimak aja dulu deh
Rachel :
Ogah gue, body gue dilihat si bos!
Gue sekarang dah taraf pasrah deh😓
Indra :
Yang sabar ya Chel🤗
Rachel :
Rachel :
Nge-charge energi buat perang sama si bos
Aku pun menutup percakapan whatsapp grup.
"Kamu ngapain duduk sini? Nanti masuk angin loh!" Mas Malik tahu-tahu sudah ada di dekat aku.
"Ya, menikmati suasana pantai dimalam hari Mas. Kan biasanya saya masih di kantor jam segini," jawabku.
"Oh iya ya, saya juga. Biasanya jam segini masih dikantor. Ya sudah kalau gitu, saya temani kamu saja kalau gitu," ujarnya sambil duduk di bangku sampingku.
"Hah?" Kalau gini caranya, kapan aku punya waktu bebas tanpa ada si bos? Ini semua diluar prediksiku.
"Mas ngapain duduk disini? Duduk di penginapan Mas Malik aja deh," pintaku.
"Kamu ngusir saya?" tanyanya.
"Saya lagi mau menyendiri Mas. Kalau ada Mas Malik, rencana saya gagal," kataku.
"Kamu sering liburan sendiri ya?"tanya si bos.
"Iya Mas," jawabku mantap.
"Se-jomblo itu?" tanyanya dengan intonasi meledek.
"Kalau saya sudah punya pasangan resmi, ya saya pasti sama pasangan saya Mas. Kan saya belum nikah jadi ya sendirian. Dosa tahu Mas kalau pergi berduaan bukan dengan mahramnya," kataku sok bijak.
Mas Malik mendengarkan dengan mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan ekspresi menyetujui komentarku.
Saat itu ponselku yang berada di meja diantara bangku kami berbunyi, tertera jelas nama Jaka.
"Halo Jak."
__ADS_1
("Halo Chel. Gue cuma mau ngasih tahu sih, rencana teleponan mau ngomongin sesuatu malam ini batal")
"Emang soal apa sih?"
("Ya soal emak-emak kita lah")
"Hah? Nyokap gue kok enggak cerita apa-apa ya?"
("Mungkin karena elo lagi liburan, Chel. Jadi yang tertekan kemarin gue.")
"Waduh, emang masalah berat?"
("Sudah berkurang, setelah gue kirim beberapa foto ngaco kita itu")
"Hahahaha.. Bagus-bagus. Rencana gue berhasil. Nanti setelah gue pulang kita harus nyusun kelanjutannya lebih bagus lagi ya, Jak!"
("Iya. Ya sudah deh, gitu aja dulu. Selamat nikmati cutinya ya Chel. Hati-hati")
"Iya, Terima kasih ya Jak. Bye.. "
Saat aku menutup telepon dan pandanganku pas ke wajah Mas Malik, dia menatap wajahku dengan tatapan menusuk.
"Kamu pacaran sama Jaka?" Tanpa menunggu lama, dia langsung menanyakannya. Kayaknya sudah di ubun-ubun nih pertanyaannya.
"Kasih tahu enggak ya?" tanyaku dengan nada ngeledek.
"Rachel, saya serius." Suara Mas Malik terdengar berwibawa seperti kalau di rapat.
Aku menatap wajah Mas Malik. Walau tidak terlalu jelas karena lampu teras yang tidak terlalu terang, tapi aku melihat wajahnya yang tegang. Kenapa dia seperti menahan marah ya?
"Memangnya kenapa Mas?" tanyaku yang belum mau memberikan jawaban yang sesungguhnya.
"Ya saya mau tahu saja. Bukankah kalian baru kenal?" tanyanya dengan nada yang dibuat santai.
"Iya Mas, kami baru kenal. Ketemu juga baru beberapa kali," tegasku.
"Belum menjawab pertanyaan saya. Kamu pacaran?" Hahahaha tetap dicecar pertanyaan inti.
"Mas, saya pacaran atau enggak, itu kan urusan saya, tidak ada hubungannya dengan Mas Malik," ujarku.
"Tapi saya perlu tahu, Chel," Mas Malik tetap memaksa jawaban dari aku.
"Perlu? Why?" tanyaku.
"Kan saya bos kamu," jawabnya asal.
"Tapi Mas, inikan urusan personal, bukan urusan pekerjaan. Emangnya Mas Malik juga ngurusin Yaya?" tanyaku.
"Saya tidak ngurusin, tapi saya tahu siapa Yaya. Begitu pun dengan anak-anak nya Bertha, saya mengenal mereka walaupun dari cerita ibunya. Kan lebih enak kalau kita bisa dekat, jadi seperti keluarga." Si bos mah tetap keukeuh, heran euy.
"Ya udah saya jawab, biar Mas Malik bisa tidur nyenyak. Saya enggak pacaran dengan Jaka. Saya masih jomblo, karena memang saya masih ingin menikmati kesendirian saya." Biar tenang deh ya. Akunya juga enggak bolak balik ditanyain terus. Capek bo.
"Ooh ya sudah. Saya kan jadi sedikit tahu tentang sikap kamu, selain watak kamu yang suka membantah itu." Tahu enggak, tampangnya Mas Malik ngomong gitu tuh kelihatan banget leganya. Aah, elo Mas, emang deh iseng aja!
"Tapi Mas, kalau saya dekat dengan Jaka, Mas Malik cemburu enggak?" Keisengan dibalas dengan keisengan.
"What?" Si bos menjawab dengan terkejut.
Hahahahaha...
***
.
.
.
.
__ADS_1