Bos Ajaib

Bos Ajaib
79. Setelah Operasi


__ADS_3

Aku terbangun ketika sinar matahari mulai mengintip tanpa ampun disela - sela tirai kamar rumah sakit, tidak lama setelah subuh. Aku memutuskan bolos kerja, kalaupun pergi juga nggak akan konsentrasi sih.


Semalam Reyka dan Jaka menjenguk Mas Malik sambil membawakan baju gantiku. Keluarga Mas Malik semalam pun kumpul. Jadi sedikit ada pembahasan seputar pernikahan aku. Padahal calon mempelai prianya masih di ruang operasi saat membahasnya. Tapi, aku jadi dapat menyampaikan tambahan ide seputar menu pempek ikan untuk di gubuk yang harus pesan ke Akangnya Emak Rohana bin Rohalus.


Semalam Bang Ravel menawarkan diri untuk menjaga Mas Malik, tapi ditolak mentah - mentah sama Mas Malik. Dia lebih memilih aku yang jaga, walaupun kata Becky itu modusnya Mas Malik.


Tak bosan - bosan kupandangi Mas Malik yang masih tertidur lelap dari sofa yang kutempati. Walaupun sofa rumah sakit di kamar VVIP, aku tetap tidak nyaman karena harus tidur meringkuk semalaman.


Tak lama beberapa dokter dan perawat menginvasi kamar dengan gerakan cepat di saat otakku masih belum bekerja sempurna.


Mereka terlihat cek suhu, tensi, cek alat-alat vital, aah pokoknya banyak deh yang di cek ini-itu. "Oke, sudah bagus kondisinya," kata dokter yang aku tanggapi dengan anggukan dan senyuman.


Setelahnya, aku memilih mandi. Nggak enak kan kalau Mama dokter dateng, calon mantunya masih belum wangi. Habis mandi aku baru akan ngurus Mas Malik. Dia tidur lagi tidak lama setelah para dokter dan perawat keluar kamar.


Setelah mandi dan rapi, karena Mas Malik masih tidur aku kembali duduk di sofa. Sampai akhirnya terdengar notifikasi dari whatsaap grup tim gesrek.


Mas Kelana :


Chel, gimana keadaan laki loh?


Rachel :


Masih bobok nyenyak.


Indra :


Yakin elo nungguin Mas Malik? Apa elo sebenernya pulang terus males masuk kerja, karena mau ke pasar atau mol.


Rachel :


Jangan fitnah dong. Badan gue agak sakit nih karena tidur di sofa.


Indra :


Ah nggak percaya gue dengan perubahan sikap elo. Kan elo sebel sama si bos


Aku kemudian memotret Mas Malik yang tertidur, kemudian mengirimkannya ke grup.


Kak Bertha :


Sebal yang berubah cinta Indraaaa. Pegimane sih? Nggak lihat apa, Rachel jadi bucin ke Mas Malik.


Indra :


Hahahaha iya.


Indra :


Waah iya, nginep di rs toh? Ya udah jagain si bos ya


Rachel :


Btw, besok mau dong dipesenin bubur yang enak. Terus di gojekin aja ke sini.


Kak Bertha :


Boleh, nanti gue atur.


Rachel :


Makasih 🥰🥰.. Gue ngurus yayang bebeb dulu ya😝

__ADS_1


Mas Kelana :


Disgusting Rachel!


Kak Bertha :


Segitu cintanya sekarang


Indra :


Heh belum nikah loh! Jangan macem - macem


Rachel :


Dadaah bye bye 😛


Aku memilih mengakhiri pembicaraan di whatsapp, daripada terjadi percakapan yang tidak bisa aku kontrol. Tapi aku lebih memilih browsing berita di internet.


"Adek?" panggil Mas Malik yang entah sejak kapan mulai memandangiku.


"Eh, sudah bangun? Nyenyak Mas tidurnya?" Aku kemudian berdiri dan menghampirinya. "Sudah merasa baikan Mas?"


"Makasih ya sudah nungguin," katanya.


"It's okay, Mas." Aku menatapnya. Lega rasanya melihat Mas Malik bisa buka mata dan bicara dengan suara yang normal.


"Kamu mau makan dulu nggak ke bawah?"


"Nanti deh Mas. Males." Aku kemudian memegang dahinya. Eh emang dari kemarin nggak panas ya suhu tubuhnya.


"Kalau nanti, kamu yang sakit. Masa gantian terus? Kan kita mau nikah," kata Mas Malik setengah memaksa.


"Iya, nanti deh, in fifty minutes," kataku sambil ngecek baju ganti Mas Malik. Siapa tahu dia mau bersih - bersih.


"I'm listening," jawabku. Fokusku masih ke tumpukan baju yang dibawakan Bang Ravel semalam.


"Adek."


"Hmm? One second," pintaku yang masih mengecek perlengkapan mandinya Mas Malik.


"Rachel!" Kali ini suara Mas Malik terdengar jaman sebelum menyatakan cintanya ke aku. Jaman masih nyebelin.


Aku menatapnya sekarang. "Apa?"


"Handphone Mas mana?"


Aku merogoh tas, mengambil ponsel kemudian memberikannya pada Mas Malik.


"Adek nggak usah turun beli makanan deh," katanya setelah mengutak-atik ponsel. "Biar Mas pesankan."


"Adek turun saja Mas," kataku.


"Jangan. Nanti kalau Mas butuh sesuatu, siapa yang ambilin?" cegah Mas Malik yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Terserah Mas deh," kataku. Kalau di pikir - pikir sih iya juga ya.


"Kamu mau susu atau teh?" tanya Mas Malik tiba-tiba.


"Es teler," jawabku.


"Deek.."

__ADS_1


"Apa Mas? Mas butuh sesuatu?" tanyaku.


"Susu atau teh?"


"Kenapa nggak boleh milih es teler Mas? Lagi kepingin nih."


"Nanti ya, kalau Mas sudah sembuh. Nanti takutnya Mas malah mau juga."


"Ya udah deh, teh aja." Aku menjawab dengan putus asa.


"Oke, nanti dibawain sama anak buahnya Becky," ujar Mas Malik sambil


mengembalikan ponselnya padaku.


Dia pun bicara lagi, "Tolong dicas, baterainya hampir habis," kata Mas Malik dengan nada perintah yang dulu kerap aku dengar.


Aku mendengus, tapi dia malah tersenyum lebar. Sepertinya dia nggak sadar kalau aku kesal dengar nadanya. Ya sudahlah, dia masih sakit, jadi harus aku maafkan.


"Ayo Mas cepat buang angin, biar bisa cepat makan," ujarku.


Mas Malik hanya menanggapi dengan ekspresi wajahnya yang dia buat jelek.


"Mas ngerasain sakitnya sudah lama ya? Nggak mungkin kalau masih baru loh Mas. Untung nggak kenapa-kenapa!" Aku memarahinya dengan wajah judes.


Aku menambahkan, "Kalau takut bilang sama Mama atau Becky kan bisa bilang sama Adek? Sebenarnya sayang nggak sih sama Adek? Senang ya, bikin Adek khawatir?"


"Mas pikir cuma sakit perut biasa. Makasih ya Adek sudah mau ngurusin Mas, sampai rela nginep. Mas nggak salah jatuh cinta ke kamu yang ceriwis. Jadi nggak sabar mengikat kamu."


"Hah? Mas mau ngikat Adek? Kok kamu jahat sih Mas?" Protesku.


"Hiiih jangan ngelawak dong. Maksudnya, ngikat dalam pernikahan sayang. Perut Mas kalau tertawa masih sakit nih."


"Siapa yang suruh ketawa? Mas, Adek pesan bubur kantor buat besok,"aku membuat laporan.


"Hmmm," jawab Mas Malik yang sepertinya mau tidur lagi.


"Mas, bersih - bersih dulu ya," pintaku. Aku nggak mau aja kalau Mas Malik tidur lagi. Sudah pagi kan malu sama matahari.


"Tapi Adek kan yang bersihin Mas? Mas nggak mau kalau sama perawat."


"Iya sayang," ucapku. Dalam hati aku berkata, kalau sudah mandi dan wangi nanti Adek kasih sun selamat pagi deh. Tapi dalam hati loh, takut Mas Malik kesenengan kalau dia tahu. Hihihihi.


Aku pun langsung menyiapkan semua keperluannya.


Sekarang Mas Malik sudah wangi, sudah bersih, tinggal nunggu dia buang angin. Andai saja bisa aku wakilkan mungkin dari subuh sudah makan. Hehehehe dari subuh aku yang terus - terusan buang angin.


Yang pasti dia sudah mulai normal, sudah jahil lagi. Dia gangguin aku saat aku membasuh tubuhnya. Awalnya sempat tidak nyadar aku dengan permintaan isengnya yang aku harus konsentrasi penuh saat membersihkan tubuhnya. Ya, karena aku mikir jangan sampai kenapa - napa dengan bekas luka operasinya, jadi aku percaya. Lah masa dia juga nyuruh aku konsentrasi saat basuh punggungnya. Iseng bangetkan?


Begitupun saat aku sun pipinya. Dia malah ngajakin senam bibir di pagi hari. Awalnya aku protes, tapi dia minta itu sebagai hadiah karena sudah selesai operasi. Oke aku setujui, daripada nanti ada pemeran pengganti kan? Oohhh tidak...


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2