
Untuk urusan pernikahan aku tidak ikut campur, kecuali yang benar - benar berhubungan denganku, seperti baju pengantin dan mas kawin. Sisanya aku serahin ke Bang Ravel dan Mas Malik. Bukannya aku lepas tangan, tapi jujur saja, aku kalau terlibat jadi banyak emosinya, karena keinginan, gaya hidup, kebiasaan, dan ekonomi kami yang berbeda.
Coba bayangin saja, aku minta di hemat, mereka malah ingin menghamburkan uang dengan makanan yang berlimpah ruah dengan banyak gubuk - gubuk makanan.
Aku menyadari, Mas Malik kaya raya dengan aneka usaha yang dirintis orang tuanya dan dia pun biasa dengan barang bermerek. Hal ini sangat berbeda dengan aku yang cenderung lebih sederhana dan suka - suka. Kasarnya belanja di pasar Tanah Abang pun aku nyantai, tidak harus di mol dengan belanja karya desainer terkenal atau merek - merek mancanegara. Kalau sekali kali sih nggak papa, tapi ya lihat keuangan juga dan kebutuhan dulu deh.
Untuk urusan pernikahanku paling aku tahu perkembangannya dari Mas Malik dan update di whatsapp panitia pernikahan saja. Lagi pula kami pun menggunakan wedding organizer, jadi Bang Ravel dan Mas Malik hanya tinggal mantau.
Jadi tugasku saat ini, aku mulai mengatur bagaimana mengerti posisi Mas Malik, menekan ego aku, dan menghargai perbedaan. Meskipun masih suka gemes gemes gitu sih. Yaaa meskipun sempat hidup di Eropa tetap saja gaya hidup hemat sudah terpatri dalam diri aku.
Kembali kedunia perkantoran yuk. Setengah jam sebelum makan siang Emak Rohana, office girl di kantor kami datang dengan membawa plastik yang berisi beberapa kotak plastik bening untuk kami. Dia datang dengan seorang pria muda yang terlihat eksotis, karena warna kulitnya hitam manis. Tapi terlihat terawat.
"Emak bawa apa itu?" tanya Kak Bertha.
"Oh ini, pempek dos, Kak. Buat semuanya, cobain ya. Oh ya, semuanya, kenalin ini Irly, adik Emak yang mulai hari ini kerja disini." Emak Rohana bin Rohalus memperkenalkan Irly yang berdiri disampingnya. Irly hanya senyum - senyum ke kami.
"Waah asyiik ada pempek. Dalam rangka apa Mak?" tanya Mas Kelana.
"Suami Emak sekarang nyambi jualan pempek ikan dan pempek dos. Jadi ini ceritanya teman - teman disini nyobain rasanya, kalau suka bisa pesen sama Emak."
"Waaah hebat loh, suami Emak. Punya bisnis baru. Sukses ya Mak," kata Mas Kelana.
"Iya makasih ya. Bantu doanya ya semua, biar usaha si Akang bisa sukses," kata Emak.
"Aamiin Mak. Nanti kita cobain Mak, pokoknya kita juga berharap usaha si Akang sukses dan rumah tangga Emak mendapatkan rezeki yang berlimpah," kata Indra yang kami ikuti dengan aamiin bersama - sama.
"Eh iya, ini Irly sudah bisa dimintai tolong ya untuk sementara. Pak Ricky sekarang masih keluar kota, jadi belum dikasih tugas pastinya, jadi untuk sementara bantu - bantu aja," ujar Emak menambahkan.
"Oh boleh Mak, mungkin Irly nanti setelah jam makan siang bisa bantuin saya beresin meja pojokan yang disitu ya? Banyak tumpukan kertas. Biar kelihatan rapi saja sih ruangan ini," ujar Kak Bertha.
"Baik Kak. Nanti setelah jam makan siang saya kembali kesini ya?" kata Irly yang dijawab dengan senyuman sama Kak Bertha.
__ADS_1
"Ya sudah, kita makan pempek dos dulu yuuk," kata Mas Kelana.
"Kalau gitu saya sama Irly kebawah dulu ya," Emak pun pamit yang kami jawab dengan aneka jawaban yang beragam.
***
Saat ini kami masih di ruang santai, baru selesai menyantap pempek dos. Kalian tahu nggak sih kalau pempek doa itu sama sekali tidak pakai ikan? Jadi hanya tepung terigu dan tepung tapioka, eh sama bumbu lainnya juga sih. Tapi bahan pokoknya itu.
Nyeesss. Begitu gigitan pertama, aku merasakan sesuatu yang beda. Perpaduan kenyalnya sagu, bercampur dengan isiannya serta ditambah dengan kuah cuka gula aren yang sedikit pedas rasanya tuh woow banget!
Isian? Iya, pempek dos ini isinya tidak hanya telor, tapi juga ada sosis, keju, dan suwiran daging ayam. Pokoknya mantap deh! Rasanya juga enak. Kreatif juga si Akng euy.
Ya ampun! Aku menikmati makanan 'kampung' terenak yang pernah aku cicip semenjak lahir.
Sumpah deh, ini tuh betul-betul enak. Gurih dan sedap isiannya itu lho yang bikin aku suka dan meleleh.
Karena rasanya cocok, aku mikir untuk membuatnya. Tapi yang jadi pertanyaan kira - kira dikasih nggak ya resepnya? Maksudnya resep pempek dos ya, bukan resep dokter.
Saat aku lihat Irly, aku pun menanyakan seputar resep pempek dos yang baru saja kami santap.
"Bisa dong Kak. Irly juga suka bantuin waktu buatnya," jawabnya. Nah, pas kan?
Oh ya, semua pegawai dipanggil kak sama Irly dan kami tidak protes, namanya juga masih baru.
"Ly, saya minta resepnya dong. Kamu tahu kan?" ujarku.
"Tapi Kak, bukan saya yang jual," jawab Irly. Laaah kok jawabannya tolalit sih.
"Hhmmm iya ya, yang jual kan bukan kamu ya, tapi si Akang. Ya sudah deh, sana," kataku putus asa. Yang lain pun tertawa.
"Kayaknya Irly cocok deh ngobrol sama elo Chel!" Ucapan itu keluar dari mulut Indra. Cowok yang doyan membully aku. "Makanya, kalau orang suka ngomong bener jangan suka dibelokin, akhirnya kena sendiri kan?" kata Indra antara meledek dan menasehati. Aku hanya nyengir denger kalimat Indra.
__ADS_1
"Ly, nama lengkap kamu tuh siapa sih? Mirip sama nama anaknya Mpok Hindun yang di Bajaj Bajuri deh," kata Mas Kelana.
"Yee... Anaknya Mpok Hindun mah Sahili kali. Sok nyamain deh," protes Kak Bertha.
"Ya ampuun.. itu sitkom tahun berapa yah? Sudah lama pisan euy. Oneng mah sudah lupa," sahutku dengan logat Rieke Dyah Pitaloka yang memerankan Oneng di Bajaj Bajuri.
"Hahahahaha.. balik lagi kepertanyaan Mas Kelana Ly. Nama lengkap kamu siapa?" tanya Indra.
"Ooh, nama saya tuh Dirly sebenarnya. Tapi gara - gara ada Indonesian Idol yang pesertanya namanya sama, nama panggilan saya diganti," ujarnya.
"Kenapa gitu Ly?" Mas kelana masih penasaran.
"Katanya gantengan yang di Indonesian Idol. Banyak yang bilang saya lebih pantas jadi Ksatria Baja Hitam karena warna kulit saya. Tapi ya saya sih nggak masalah, kan cuma di hilangkan huruf de-nya aja."
"Ya ampuuun. Yang sabar ya Ly. Meskipun kulit kamu gelap, kamu tetap gagah dan keren kok," ujarku. Aku tuh nggak suka kalau orang sudah menilai secara fisik seperti itu lalu menghinanya.
Balik lagi ke ide pikiranku mengenai pempek dos, akhirnya aku memutuskan membicarakannya ke Mas Malik. Aku mau menanyakan pendapatnya tentang rasa pempek dos si Akang. Habis kebayang - bayang terus rasanya.
"Guys, gue cabut dulu ya. Mau ke ruangannya Mas Malik. Biasaaa.. mau gangguin," kataku. Yang langsung dijawab oleh tim gesrek dan juga Sherin.
Teman - teman yang lain sih tetap di ruang santai dengan mewawancarai Irly.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung