
Saat ini kami sudah membawa kantong belanjaan baju untuk ulang tahunku. Karena acara ulang tahun ini di sponsori oleh Mas Malik, aku minta pertimbangan dari baju yang aku pilih.
Jadi aku naksir beberapa baju, nah Mas Malik lah yang memilihnya. Kali ini aku berhasil membayar baju pilihanku sendiri, meskipun itu tidak mudah. Tadi saat perdebatan, aku mengancam akan kabur disaat ulang tahunku biar sekalian acaranya gagal. Habis susah bo, memenangkan perdebatan sama Mas Malik, si tuan tidak menerima penolakan. Akhirnya, dia mengalah meskipun dengan wajah tegang.
Setelah aku dan Mas Malik mendapati baju yang kami mau, doi malah ngajak ke Kemang. "Kita makan di Kemang. Sekalian mampir ke suatu tempat," gitu katanya.
Aku sih iyain saja, toh kami sudah dapat baju yang kami inginkan.
Ternyata dia mengajak aku ke butik Bin House. Aku jadi merasa hari ini parade ke butik desainer tanah air.
Sebelum turun, Mas Malik bicara, "Dek, kita beli baju lagi disini, tapi kali ini Mas yang bayar. Mas mau punya baju setema lagi sama kamu. Tapi yang tradisional kekinian. Okey darling?"
"Okey!" Aku sih senang aja dibeliin baju karya Obin. Siapa sih yang nggak tahu desainer senior ini, keren - keren batiknya. Kami pun turun dari mobil.
Di tempat ini, aku baru menyadari kalau Mas Malik penggemar baju Obin. Ternyata, batik yang dia pakai ke pernikahan Indra yang aku bilang bagus itu pun beli disini. Pegawainya pun sudah kenal sama doi bahkan hafal dengan ukuran dan seleranya segala.
Yang aku senang dengan butik ini adalah wangi bunga melati. Memang dibeberapa tempat terdapat bunga melati segar.
"Mas, disini nggak ada pocong ya?"
"Hah? Maksud kamu apa? Kenapa tahu - tahu ngomongin pocong?" Aku tahu dari nada suaranya, Mas Malik panik.
"Ya Adek kan perempuan. Yang ditanya saat belanja ya pocongan harga."
"Astaga! Juleha anak preman Kemayoran! Bikin kaget aja deh. Mas fikir beneran ada pocong." Mas Malik bicara sambil merangkul aku dengan tangannya di leherku. Tubuhku ketarik mendekat ke tubuhnya. Kayaknya sih ini alibi mau peluk aku deh. Laki - laki kan suka gitu ya ke ceweknya?
Saat tangannya masih melingkar dileher, aku diminta memilih dua set busana, yang kata Mas Malik jaga - jaga kalau ada acara resmi mendadak. Dia maunya, kalau ada acara resmi kami selalu menggunakan busana dengan sentuhan tradisional.
Oke, karena idenya bagus, aku tidak menolaknya. Posisi aku disini menyesuaikan diri sebagai pasangannya yang sudah memiliki konsep berbusana. Apalagi aku dibeliin. Yakin nolak? Gileee beneer. Rugi ah.
Beres dengan memilih busana, Mas Malik ngajak makan malam di salah satu restoran di daerah Kemang. Tapi aku memastikan kalau kami tidak perlu berlama - lama karena aku sudah janjian dengan Rey mau ngobrol - ngobrol dan Rey akan nginap dikamarku.
"Habis makan langsung pulang ya Mas." Pintaku ke Mas Malik.
"Nggak pacaran dulu Dek? Biar kayak anak jaman now, gitu loh," jawabnya.
"Emangnya anak jaman now kalau pacaran ngapain? Lagi pula Rey mau nginep, Mas."
"Mana Mas tahu. Selama di Jakarta, Mas belum pernah pacaran lagi. Apalagi selama dua tahun kerja sama Mas Ricky langsung suka sama anak buah yang cerewet. Eh Dek, Rey mau nginep dimana? Hubungannya sama kamu apa?"
"Nginep di kamar Adek. Yaa sebagai tuan kamar harus ada secepatnya sebelum dia masuk kamar Adek dong."
__ADS_1
"Astaga. Kirain nginep di rumah siapa gitu."
"Nggak. Mau ladies talk lah. Btw selama dua tahun? Lama bener ya, ngintainya. Keburu diserobot cowok lain itu sih."
"Kan Mas harus meyakinkan diri dulu. Terus gojlok kamu, setangguh apa kamu. Eeh tahunya suka ngeyel."
"Okey! Selesai makan langsung pulang. Besok kamu jalan sendiri ya? Mas ada meeting pagi sama Mas Ricky dan Bang Ben."
"Iya. Oh iya, besok motor dikirim katanya. Rey sih besok nggak kemana - mana."
"Kamu jangan langsung pakai ya. Besok Mas antar kamu pulangnya sekalian ngecek motornya."
"Siap bos!"
***
Saat ini aku sama Reyka sudah berada dikamarku. Dia menceritakan kalau sebelum balik ke Belanda nanti, Jaka ingin Rey ketemu keluarganya. Serta aneka cerita lainnya.
"Mbak, aku udah lama banget nggak pacaran dan jatuh cinta, kan baru sama Mas Jaka nih setelah lima tahun jomblo karatan. Terus begitu Mas Jaka ngungkapin perasaannya, aku tuh seneng banget Mbak."
"Terus?" Aku tahu akan ada cerita lain yang mau dia sampaikan.
"Lah, gimana sih? Katanya jatuh cinta sama Jaka?"
"Hehehe aku jawabnya pakai napas buatan." Rey menjawab sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Begitu dengar jawabannya, aku langsung pukul dia dengan guling. "Astaga! Rey, kamu nih nekat banget! Malu dong. Baru di tembak kamu langsung nyosor. Nanti Jaka mikir macam - macam Rey." Kaget juga aku dengan kenekatan anak ini.
Saudara - saudara sekalian yang aku hormati, disini aku bingung. Aku yang sudah mau dua bulan jadian sama Mas Malik aja masih gak berani melakukannya, inisiatif ngecup aja karena ada cewek yang ngejar - ngejar Mas Malik. Ya ampun, ternyata adekku ini lebih nekat dari aku.
"Nggak kok Mbak. Mas Jaka senyum, terus gitu deh! Rey sayang banget Mbak sama Mas Jaka."
"Haduh! Kamu konsentrasi selesaikan kuliah kamu dulu Rey, jangan macam - macam deh! Awas ya, pokoknya berhubungannya harus yang wajar."
"Iya lah Mbak. Dua anak saint masa macem - macem sih. Ini kemarin Mas Jaka sudah kasih ide beberapa judul dan tema untuk thesis aku. Enaknya berhubungan dengan senior satu jurusan gini nih Mbak, apalagi dia dosen dan aktif di perkumpulan saint di mancanegara. Up date perkembangan."
"Good! Mbak senang dengarnya. Kalian bisa saling kerjasama."
"Iya dong!"
"Ngomong - ngomong, kenapa kamu kepikiran kasih nafas buatan pada saat itu?"
__ADS_1
"Hehehehe maaf Mbak. Jangan marah ya. Nggak tahu deh, refleks aja melakukannya. Mungkin karena teman - teman di kampus sering melakukan terang - terangan ya?"
"Rey, kamu mulai kontrol ya. Mbak juga di Inggris sering lihat, malah anak sekolah melakukannya di bis. Kita orang timur, kebudayaan kita beda. Jangan ngaco lagi ah." Rey hanya jawab dengan senyuman dan dua jempol yang dia pamerin ke aku. Susah deh punya adek yang ekspresif, nekat, en sableng.
"Oh ya Rey, kalian sudah ngomongin soal pernikahan?" Yang dijawab dengan gelengan kepala. "Keluarga Mas Malik maunya kami nikah segera, tapi Mbak maunya kalau kamu sudah kelar kulaih, biar kamu juga tenang."
"Tapi Mas Maliknya gimana Mbak?"
"Dari awal dia mah sudah minta tentuin tanggal lamaran sama tanggal pernikahan."
"Kalau Mbak yakin hidup selamanya sama Mas Malik terus keluarga mereka juga asyik, ngapain ditunda Mbak?"
"Terus kamu gimana?"
"Iiih jangan mikirin aku. Pikirin diri Mbak dulu aja deh. Aku juga disini masih bisa dua bulan lagi, kan dah cincong sama dosen aku dan teman - teman disana."
"Ya udah deh, Mbak pikirin dulu. Bingung Mbak, Rey."
"Yeey, makanya pegangan Mbak."
"Okelah kalau begitu," sahutku. "Kamu besok benar ya, jangan kemana - mana, motor kamu pastiin datang dengan komplet sesuai perjanjian kemarin."
"Siaap Mbak!"
"Eh Mbak, aku mau video call dulu ya sama Mas Jaka," kata Reyka. Yang langsung sibuk dengan ponselnya dan menutup dirinya dengan selimut.
Hahahaha dasar! Sepinter apa pun kalau cinta sudah bicara susah ya? Kepintarannya bisa hilang. Lah mau ditutupin seluruh badan juga aku masih bisa dengar percakapan mereka. Dasar!
***
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1