Bos Ajaib

Bos Ajaib
43. Di Culik Mas Malik


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang buatan Mas Malik yang ternyata rasanya lezat, dia mengajak aku untuk jalan -jalan. Tapi beneran sih makanannya enak. Apalagi aku enggak bantu sama sekali.


Tadinya, dia mengajak aku nonton, tapi aku menolak dengan keras. Aku tidak akan mengenakan baju olahraga raga kalau mau ke mol, apalagi ini weekend. Mol kan penuh, bisa ketemu orang yang kita kenal.


Lah dia enak punya banyak stok baju di apartemennya Becky, nah aku cuma ganti tshirt saja, celana tetap pakai celana training. Yang ada orang mikirnya aku belum mandi abis olah raga.


Sebenarnya aku tidak mau pergi lagi, aku mau pulang, hari Minggu tuh me time, tapi dia memaksa.


"Mas, please. Saya mau istirahat dirumah saja." Aku memintanya dengan memelas. Kalau boleh memilih, aku mau naruh badan di kasur saja saat ini.


"Kamu mau ngapain dirumah? Refresing dong. Jalan -jalan keluar rumah. Sudah temani saya." Mau dikantor atau bukan tetap ya, si bos ngeselin.


"Saya mau tidur Mas. Ngantuk. Kalau tetap ke mol, besok saya bisa enggak fit Mas. Pulang aja deh. Di rumah aja deh. Mas please," Aku memintanya masih dengan memelas. Kami melangkah menuju mobil.


"Ya sudah, saya mau ngajak kamu ke suatu tempat. Enggak akan bikin kamu capek seperti kalau ke mol. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja. Selama kamu berada di mobil saya, kamu boleh melakukan apa saja, mau ganti musik yang kita dengarkan juga enggak masalah." Mas Malik tetap pada pendiriannya.


"Terserah," ucapku jengkel. Capek akutuh lama - lama berurusan dengan si bos. Aku pun mengatur senderan kursi mobil, agak tiduran dan mengatur posisi tubuh tiduran miring menghadap jendela. Biar Mas Malik enggak bisa melihat wajahku.


Tidak lama, mobil pun bergerak meninggalkan unit apartemen Becky. Aku merasakan tangan Mas Malik mengusap punggung badanku, kayak di pok pok biar cepet tidur gitu. Haduuh kalau ini terjadi terus - terusan bisa jatuh cinta nih! Tapikan aku lagi kesel. Iiih aku bisa jadi labil kalau begini terus! Aku kudu piye iki?


"Ha.. Leha bangun yuk. Istirahat di dalam yuk!" Aku terbangun mendengar kalimat ini terus menerus.


Saat aku benar-benar membuka mataku, aku mendapati sudah berada di garasi rumah tak berpagar. Aku menoleh ke kanan dan kiri mendapati sekeliling rumah dengan nuansa warna abu - abu yang mendominasi.


"Yuk, turun yuk."


"Ini dimana Mas? Maaf sebelumnya, ini saya ngapain dibawa ke rumah belum siap huni begini?" tanyaku.


Mas Malik tersenyum simpul. "Ikut saja."


Aku melepas seatbelt dengan mendengus kesal karena pertanyaanku tidak dijawab.


Setelah tiba di depan pintu rumah dan memutar kuncinya, dia berkata, "Selamat datang di rumah saya."


"Mas baru beli rumah toh," ujarku sambil berjalan mengitari isi rumah Mas Malik yang sudah jadi hanya tinggal diisi furniture.


"Mau house tour?" tawarnya.

__ADS_1


"Boleh," jawabku dengan mata yang sibuk melihat sekeliling isi rumah. "Gede juga, Mas."


"Kamu suka nggak?"


Aku mengangguk-anggukkan kepala. "Suka. Bagus loh, Mas. Kenapa milih beli rumah di sini? Eh ini dimana sih Mas?"


"Kebetulan saya suka sama konsep desainnya dan teratur. Belakang rumah juga ada jalan kecil. Ini di daerah Cinere."


Aku pun diajak ke lantai dua. Rumahnya enak, nyaman. "Mas, ini belum ada perabotannya sama sekali?" tanyaku. Mon maap dia iseng ngajak kesini, sirine kepo di kepalaku pun berbunyi, butuh asupan info.


"Paling kamar saya sama dapur, tapi itu juga ala kadarnya. Yang penting kalau saya nginep sini, ada kasur, minuman dingin, dan bisa masak, meskipun cuma menghangatkan saja."


"Mas ruangan ini untuk apa ya? Kalau ditaruh kursi baca terus dikasih rak untuk buku nyaman sekali nih."


"Pinteeer."


"Emang. Baru tahu kalau saya pinter? Kemane aje Pak?"


"Ada kok Neng." Yee dia nyaut aja lagi.


"Mas, mendingan warna cat temboknya diganti saja atau pakai wallpaper. Biar enggak monoton Mas. Masa warnanya abu - abu, putih, dan warna turunannya. Kalau didalam boleh diganti gak warnanya?" Tanyaku. Karena tadi aku melihat lingkungan perumahan ini warnanya gradasi abu -abu depannya.


"Ya Tuhan! Mas, hidup itu perlu warna, jangan pasrah dengan warna ini saja. Pelangi saja warnanya ada tujuh loh. Balonku ada lima warna, kenapa warna rumah Mas sesuai pengembang?"


Omonganku cuma dibalas dengan tertawa kecil.


"Kalau enggak mainin deh warna pastel," kataku menambahkan yang hanya dibalas dengan anggukan kepala.


Setelah agak lama, mungkin setelah berfikir, akhirnya Mas Malik bicara, "Pastel? Warna lembut apa enggak terlalu feminin Chel?"


"Untuk ruang santai, kamar anak, ruang keluarga bisa pakai warna pastel. Kalau tetap pakai warna gelap takutnya mempengaruhi mood. Jangan pasrah dengan warna ini dong. Yang gemesin gitu, Mas. Masa di cat warna gelap."


"Kalau gitu, ayo kita langsung cari warna sesuai saran kamu. Kita buka web cat tembok saja ya, biasanya mereka menampilkan koleksi warna trend mereka." Dia lalu mengeluarkan tab-nya dari tas selempang yang selalu dibawanya.


Mas Malik mengambil koran bekas yang ada di ruangan tersebut, lalu menghamparkannya ke atas lantai.


Kami kini duduk di atas koran sambil memandang tab. Lalu membuka warna cat yang mereknya terkenal bagus, dan mendownload kartu warnanya.

__ADS_1


"Warna cokelat, gimana?" tanya Mas Malik saat melihat warna tersebut, yang menurut aku masih dekat dengan warna utama dari rumah ini.


Aku menggeleng. "Masih satu keluarga Mas cokelatnya sama warna monokrom rumah ini. But, please, no offense."


Mas Malik senyum sambil ngacak - ngacak rambutku. "Kalau ini?"


"Biru ini bukan warna pastel, Mas. Kalau begini, rumah Mas jadi lebih mirip ruang kerja partai. Nggak sekalian pakai warna merah, Mas? Biar kayak pemadam kebakaran."


Kami tertawa bersamaan karena lelucon garingku. Kali ini, Mas Malik membiarkanku memilih warna dengan mencatat kodenya dan untuk ruang apa. Lalu warna tersebut aku buat ukuran kecilnya dan memasukan kecatatannya. Biar jelas, tidak perlu membuka kartu warna cat lagi.


"Kamu suka warna begini? Enggak kelihatan norak ya Ha?"


"Enggak kok Mas, ini warnanya netralin dan menenangkan. Tapi ya balik lagi, ini kan cuma saran saya." Aku sekarang sudah tahap menerima disapa dengan panggilan Juleha. Protes juga percuma kalau sama si bos ini.


"Saran dari kamu itu penting banget, Ha." Dia bicara sambil menatap mataku. Yihaaaa lagi - lagi kami bertatapan. Salah tingkah kan akunya.


"Hah?" tanyaku bingung.


"Ya sudah yuk, pulang. Tapi kita makan dulu ya. Kita cari restoran di jalan."


"Mas, saya mau makan steak deh."


"Oke, kita bisa mampir Citos." Mas Malik menjawab sambil menggandeng tanganku mengajak turun. Kalau begini terus bisa - bisa aku yang tembak dia nih!


***


.


.


.


...Oh my God! Kenapa ngetik gini author jadi suka sama Mas Malik ya? ...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2