Bos Ajaib

Bos Ajaib
48. Janjian di Mol


__ADS_3

Hari ini, sepulang kantor aku janjian sama Reyka akan ke Grand Indonesia. Jadi semua kerjaan yang ditargetkan untuk hari ini aku kejar dalam pengerjaannya, biar bisa pulang cepat.


Tadi malam, saat sampai rumah, Reyka, si kutu loncat anak nyonya Keya ini minta ditemani belanja. Mama yang begitu tahu Reyka mau belanja, langsung meminta aku dan Jaka menemaninya.


Dasarnya Jaka anak baik, dia mau aja dong. Aku tahu, niat mama pasti biar hubungan aku sama Jaka semakin dekat padahal aku lagi niat deketin Jaka dengan Reyka. Tapi misi pribadi ini tidak akan aku sampaikan ke mama sebelum berhasil.


Untungnya pekerjaan kantor berjalan lancar, Mas Malik pun seharian sibuk meeting dengan para bos diluar kantor, sehingga tidak ada komunikasi ke kami para anak buahnya.


Bagi para karyawan seperti aku, hari Jumat memang sedikit menyenangkan karena besok sudah weekend.


"Gue mau naek ojeg pulangnya. Janjian sama adek gue di Grand Indonesia nih." Aku memberi info kepada teman-temanku.


"Wah, Sherin malah hari ini enggak bawa kendaraan." Sherin pun ikut memberikan info kepada kami.


"Sherin, tumben elo enggak bawa mobil?" tanya Kak Bertha saat mengetahui anak kecil ini enggak bawa mobil.


"Hehehe hari ini, Sherin di jemput temen. Dia maksa mau jemput."


"Cewek apa cowok?" tanya Indra kepo.


"Iiih want to know aja deh loh!" Aku langsung nyeletuk.


"Cowok Mas. Dia lagi deketin Sherin, tapi Sherin sukanya sama yang lain sebenarnya."


"Nah, nanti kalau yang lagi ditaksir ngeliat Sherin dijemput jadi mundur dong?" tanya Kak Bertha.


"Tapi yang lain itu, kayaknya enggak suka sama Sherin deh." Sherin bicara dengan muka cemberut.


"Yakin?" tanya Kak Bertha.


"Iya. Jadi kayaknya lebih baik mundur secara teratur saja deh."


" Nah bener, lebih baik yang pasti-pasti aja Rin," kata Indra menimpali.


"Sip deh kalau gitu. Pokoknya kamu fikirkan yang terbaik dan jangan buang waktu kamu, Rin." Nasehat ini disampaikan oleh Kak Bertha. "Ya udah, gue cabut duluan ya. Byee," kata Kak Bertha kemudian.


Kami pun menyahuti salam dari Kak Bertha bersamaan.


Aku kemudian booking ojeg. Sedangkan Sherin sibuk dengan ponselnya.


Indra masih menyelesaikan pekerjaannya yang katanya tinggal sedikit lagi. Sedangkan Mas Kelana lagi keluar kantor, ketemu klien.


***


Saat ini aku sedang berada di Marche , salah satu restoran andalan kalau aku sedang jalan ke Grand Indonesia. Begitu sampai mol besar ini, aku langsung menuju restoran ini, biar enggak cari-carian.


Jaka saat ini masih di jalan, sedangkan Reyka sudah sampai dari tadi, saat ini sedang ngintip beberapa gerai pakaian sambil jalan menuju tempat aku menunggu.


Tidak sampai dua puluh menit, Jaka dan Reyka sudah berada di hadapanku.

__ADS_1


Seperti yang sudah aku rencanakan, kalau aku memiliki misi untuk menjadikan Jaka adek ipar aku, maka aku saat ini sedang menyusun rencana bagaimana caranya mereka pulang berdua tanpa aku.


Saat kami sedang berjuang dengan makanan kami masing-masing, ada suara familiar yang menyapa kami.


"Hai, lagi makan disini juga?" Kalian tahu siapa dia? Mas Malik bo! Sekecil ini ya ibukota negara ber-flower kita.


"Hei Mas. Iya kami sedang makan malam disini. Gabung Mas sama kami. Kenalkan ini adik saya, Reyka." Aku memperkenalkan Reyka dan Mas Malik.


"Halo Reyka, saya Malik."


"Halo Mas Malik." Sahut Reyka yang langsung berdiri saat memperkenalkan diri.


"Saya enggak ganggu, kalau gabung bersama kalian?" tanya Mas Malik.


"Enggak kok Mas. Kan kita cuma makan aja." Reyka langsung menyambut omongan Mas Malik.


"Oke." Mas Malik memilih duduk di depan aku, samping Jaka. Ya, tempat duduk kami saling berhadapan.


"Mas tadi habis meeting disini?" tanyaku.


"Iya. Sama Bang Ben juga. Tapi kami baru pisah."


"Mas cerai sama Bang Ben?"


"Lehaaa. Kamu bisa gak sih serius dikit. Main belokin omongan saya."


"Kan saya maksudnya Bang Ben ke East Mall saya pilih kesini. Tandanya pisah arah, Leha."


"Nah, ngomong atu Mas."


"Ini saya kan lagi ngomong, bukan gonggong," jawab Mas Malik dengan nada sewot.


"Iya iya, saya salah." Jawabku. Jaka dan Reyka hanya melihat perdebatan kecil kami.


"Mbak, aku nanti masih mau belanja deh. Boleh ya?" Ternyata Reyka belum puas keliling mol.


"Eh sekalian, gue juga mau cari baju kantor deh. Boleh - boleh, Rey, bareng ya." Kali ini Jaka yang nyahut.


"Mbak capek Rey. Katanya besok masih mau ke Bogor." Aku berkata dengan memelas. Ini juga strategi biar mereka banyak jalan berdua sebenarnya.


"Yaaa... Mbak. Tadi ada yang lucu bajunya, tapi aku masih ragu. Mas Jaka juga mau belanja, Mbak."


"Ya sudah, kamu sama Jaka belanja lagi saja gak papa, nanti Mbakmu pulangnya sama saya," kata Mas Malik sambil memegang gelas yang berisi jus jambu kelutuk.


Nah, berhasil kan skenario perjodohan tahap awal. Sepertinya alam turut membantuku untuk mempererat hubungan Jaka dengan Reyka.


"Wah, Mas Malik pengertian banget. Terima kasih ya Mas." Reyka tersenyum gembira sambil menatap Mas Malik. "Tuh, nanti Mbak pulangnya sama Mas Malik aja, aku biar sama Mas Jaka," sambungnya sambil menatapku dengan tatapan wajah bahagianya.


"Jak, jangan sampai larut ya. Besok pagi kita harus jalan lagi. Pokoknya gue enggak mau kalian kecapekan." Aku bicara dengan nada serius ke Jaka. Hehehehe padahal senang juga mereka bisa jalan dan pulang bareng.

__ADS_1


"Iya Bu." Jaka malah menjawab dengan nada meledek.


"Hihihihihihi.. Mas Jaka diomelin sama Mbak." Kudengar suara Reyka yang bicara sendiri dengan intonasi yang pelan, tapi masih dapat aku dengar.


"Ya sudah yuk, Rey kita belanja. Saatnya foya - foya," ujar Jaka sambil berdiri dan kemudian menggandeng Reyka.


"Oke, yuk! Daah Mbak, daaah Mas Malik. Kami mau foya - foya dulu." Pamit Reyka sambil melambaikan tangan ke aku dan Mas Malik dengan senyum bahagianya.


"Adek kamu kapan datang?" tanya Mas Malik begitu dua mahluk itu sudah tidak terlihat.


"Tadi malam Mas. Heran, enggak pakai jetlag dia. Langsung ngajak jalan."


"Kok bisa ada Jaka?" Mas Malik mulai mengintrogasi aku.


"Biasalah nyonya dirumah ikut campur."


"Tadi malam juga karena campur tangan mama?" tanyanya menyelidik. Yang aku jawab dengan anggukan kepala, karena aku sambil ngemil pizza yang tadi aku pesan.


"Leha, tapi kalau terus terusan Jaka dilibatkan, kamu nanti jadinya semakin dekat dan saling suka dong."


"Cie cie cie... Cemburu ya ceritanya."


"Kalau iya gimana?"


"Hah?" Aku bengong menatap Mas Malik. Dia berani bicara cemburu. Tumben. Tampangnya serius lagi.


"Difikirin baik - baik dulu lah Mas. Itu cemburu atau iri?" tanyaku.


"Kamu tuh. Masih nanya. Malam-malam begini tuh jangan ngajak mikir, tapi ngajak nikah. Kamu mau kan, nikah sama saya?" Mas Malik ngomong sambil menggenggam tangan aku.


"Hah?"


Lemas, itu yang aku rasakan begitu tangan aku digenggam sama Mas Malik. Dia enggak ngajak pacaran, tapi nikah. Ni-kah.


"Tapi Mas..." ucapanku tidak bisa selesai karena tubuhku seakan tidak bertulang.


***


.


.


...Guys, ninggalin jejak napa? Itu jempol yang dibawah jangan lupa di ganti ya warnanya, jadi warna merah 😇🥰...


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2