Bos Ajaib

Bos Ajaib
73. Ooh Baju Pengantin


__ADS_3

Keinginanku untuk segera menikah disambut dengan suka cita oleh kedua belah pihak keluarga.


Mereka sedikit terkejut mendengar keputusanku. Karena semua tahu, kalau Mas Malik tidak mau memaksakan kapan hari pernikahan kami, semua keputusannya ditangan aku.


Malah begitu Mas Malik tahu kesungguhan aku, dia bilang, "tahu kelemahan kamu begitu sih, dari awal deh Mas ngajakin kamu senam bibir bareng." Tapi kalau dia dari awal nakal, kemungkinan sih kena tendangan dari aku deh.


Bahkan untuk acara pernikahanku ini Bang Ravel langsung membuat grup whatsapp untuk kepanitiaan pernikahan.


Banyak keputusan yang diambil oleh Mas Malik dan Bang Ravel. Setelah aku cari tahu, ternyata waktu pernikahan Bang Ravel, Mas Malik lah yang paling sibuk. Jadi sekarang Bang Ravel membalas jasa baik adiknya ini.


Persiapan pernikahan hingga hari H hanya berjarak satu setengah bulan saja. Aku bukan orang yang ribet, baju pengantin? Aku lebih memilih nyewa dari perias pengantinnya saja. Lagi pula siapa aku? Akukan bukan selegram terkenal, ya kan? Yang endorse, orangnya itu - itu aja. Yaa.. namanya juga hanya selegram kantor dan keluarga aja kok. Jadi nggak perlu ribet kan? Fansnya pun dia - dia aja. Apalagi mau jadi sosialita juga belum kesampaian. So.. yang simple sajalah.


Apakah keinginanku dengan mudah terwujud? Ya nggak dong, Mas Malik yang apa - apa serba bermerek, ketemu aku yang suka - suka gini, yang ada debatlah.


Hal ini terjadi ketika aku sedang di apartemennya dan Mas Malik meminta aku memesan baju pengantin secara eksklusif ke desainer. Akhirnya kami berantem karena ini. Ini pertengkaran kedua kami, setelah sebelumnya kami bertengkar mengenai beli kendaraan. Ya benar apa kata orang, menjelang pernikahan akan sering bertengkar dan berdebat ya.


Seperti biasa si doi kan nggak mau dibantah, aku kali ini pun juga tidak mau membeli baju hanya untuk dipakai cuma beberapa jam. Hingga akhirnya, aku yang sudah kesal bicara, "Sebenarnya setelah di pakai sama Rachel, baju itu mau dipakai siapa? Kenapa ngotot?"


Aku tuh sudah stres, eh calon suaminya nyebelinnya kumat. Persis seperti saat jadi atasan yang nyebelin gitu deh, yang aku kerjaannya misuh - misuh. Makanya, nggak ada deh Adek - Adek-an, langsung sebut nama aja.


"Dek, memang bajunya hanya dipakai sekali, tapikan bagus hasilnya. Sesuai sama harganya juga." Mas Malik tetap keukeuh dengan argumennya.


"Harga puluhan juta? Cuma buat sekali pakai? Situ waras Mas?" Monmaap aku kembali jadi anak buah yang nyebelin dibandingkan jadi calon istri yang iya - iya doang.


"Dek, kok kamu gitu ngomongnya? Kan bicaranya sama Mas?"


"Mas juga gitu. Kok memaksakan kehendak? Mas kalau mau jahitin baju pengantinnya Mas, ya sudah, Adek juga nggak bisa menolaknya, toh Mas yang pakai. Tapi untuk Adek, hanya mau sewa, titik." Intonasi suara aku mulai nyebelin dan agak tinggi. Emosi aku tuh.


"Kan biar samaan Dek. Masa belang?"


"Maksudnya kita sama - sama pakai jas gitu? Jangan ngaco dong!" Aku menjawab dengan sewot.

__ADS_1


"Loh kok? Kamu ini sebenarnya lagi marah atau nggak sih? Kenapa jadi belok?"


Ampuun deh, nih laki belum pernah kelilipan bakiak masjid apa ya?


"Ya marah dong. Malah jadi tambah marah disuruh samaan bajunya sama Mas!" Jawabku sambil melirik sinis.


"Perempuan Indonesia dimana - mana menikah pakai gaun atau kebaya, ini disuruh samaan pakai bajunya sama suaminya di pelaminan. Gila kali ya, disuruh pakai jas? Kenapa calon suamiku jadi error ya?" Kali ini aku bicara sendiri dengan suara pelan, tapi Mas Malik masih mendengarnya.


"Dek! Maksudnya tema warnanya. Kamu suka ngaco nih."


"Yee! Mas nggak bilang soal warna ye! Tadi kan bilangnya, 'biar kita samaan'."


"Dek, kamu ini sebenarnya umur berapa sih?"


"Kok nanya umur sih?"


"Habis, kenapa bisa nggak nyambung sih? Apa karena mau nikah ya?"


"Oh iya ya. Pinter banget sih calon istri Mas ini." Mas Malik jawab sambil senyam senyum nggak jelas dan geleng - geleng kepala. Mulai kumat doi, geleng - geleng kepalanya.


"Gini deh, kalau Mas masih ngotot nyuruh pesan ke desainer baju pengantin satu tema, boleh deh. Tapi ada syaratnya, Adek mulai besok akan menghilang selama seminggu dan nggak masuk kantor juga. Mau?" Ssttt, aku tuh tiba - tiba kepikiran traveling, nah siapa tahu bisa terwujud kan dengan strategi ini.


"Eeh.. enggak ada tuh ya, ngilang - ngilangan. Kita tuh harus sering bersama Dek." Mas Malik langsung menolak dan suaranya mulai melembut, nggak sengotot tadi.


"Yang mengharuskan siapa?"


"Ya Mas lah. Kan Mas calon suami kamu." Nyengir dong si calon suamiku ini.


"Terus kalau gitu? Sewa aja ya? Nanti warnanya bisa kok di matching-in. Atau Mas tetap buat warna hitam saja, biar bisa di pakai lagi? Setujukan? Setuju dong!" Aku memaksa Mas Malik untuk menyetujuinya. Males aku tuh debat - debat gitu. Berantem tuh gak asyik cyiin.


"Iya." Dia menjawab sambil cemberut tapi badanku langsung di peluknya.

__ADS_1


Cukup lama aku dipeluk sambil nonton film di ruang tengah apartemen, sampai akhirnya Mas Malik mengatakan, "Dek, rumah Mas sudah selesai di renovasi dan sudah siap untuk diisi. Mas butuh bantuan kamu ya, untuk melengkapinya. Mas mau ada banyak sentuhan kamu disana. Mau ya?"


"Oh oke Mas. Tapi Adek harus lihat dulu kondisinya saat ini seperti apa." Yang dijawab dengan jempol di depan wajahku.


Huuh, untung permasalahan baju pengantin tidak berkepanjangan meskipun sempat buat aku emosi. Senang deh, kalau sama - sama gampang memaafkan begini.


"Sip deh. Mas sudah ngecat ulang beberapa ruangan yang tempo hari kamu kasih masukan ke Mas. Lalu juga sudah ngisi beberapa kursi lucu yang Mas suka saat lihat di toko online. Mas yakin kamu juga suka."


"Ya sudah, nanti Adek tinggal nyari yang kurang aja ya Mas? Eh kita belinya di cicil aja ya? Nanti habis nikah mungkin saat kita jalan - jalan terus nemu sesuatu yang lucu, bisa langsung kita beli. Yang penting nanti kita buat list-nya apa saja yang kita butuhkan. Gitu Mas." Aku bicara dan diakhiri dengan mencolek dagu Mas Malik.


"Sekarang aja yuk, kita ke rumah? Mau ya? Mau ya?" Mas Malik seakan tidak peduli dengan gangguan tangan aku di dagunya, malah semangat pergi ke rumahnya sekarang.


"Yuk! Tapi beli makanan ya, buat disana. Adek capek, stres mikirin harus pakai jas samaan sama Mas Malik." Mas Malik langsung jitak kepala aku.


Hiiih, bukannya di sayang atau di manja, malah di jitak. Tega bener deh. Kan habis berantem harusnya romantis ya? Ya kali, aku yang minta. Masa aku harus bilang, 'Mas aku dimanja dong. Di cium kek'. Tapi, harga diri aku kan tinggi ya, setinggi langit.


Eeh, otak aku kenapa jadi ngaco gini ya? Untung sudah mau nikah, sebentar lagi aman deh. Tapi, kalau sudah nikah, ngomong jujur gitu aku berani nggak ya? Aku kan pemalu.


"Okay. Yuk siap - siap." Mas Malik langsung mengajakku berdiri dan meminta untuk bersiap - siap.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2