
Sepulang dari mengantar mama, aku tewas dan balas dendam tidur. Aku terbangun saat bunyi Whatsapp di ponselku yang beruntun.
Setelah aku cek, ternyata si bos yang whatsapp. Iih resek banget sih, malam minggu dia menghubungi aku kayak gini.
Mas Malik :
Leha, kamu lagi apa?
Mas Malik :
Leha saya mau bicara sama kamu
Mas Malik :
Haaaa... Juleha.... Lagi apa sih? Kok enggak di baca
Mas Malik :
Lehaaaa..
Mas Malik :
Lehaaaa..
Mas Malik :
Lehaaaa..
Mas Malik :
Rachel!!... Jawab dong.
Rachel :
Iiih gangguin orang lagi tidur nih! Enggak ada tugas kantor kan? Malam minggu nih Mas, kasihan kasurnya kalau nganggur
Mas Malik :
Kirain kamu ada diluar. Ya sudah tidur lagi deh!
Rachel :
Udah bangun keles. Ada apa Mas? Emangnya kalau lagi diluar bisa digangguin gitu?
Mas Malik :
Kalau lagi ada diluar, mau saya susul
Rachel :
Lah, bisa gitu. Aneh. Udah ah, saya lapar, mau makan. Byeeee
Sebenarnya whatsapp dari Mas Malik membantu aku jadi bangun lebih cepat sih, kalau enggak takutnya bisa bablas sampai tengah malam, terus malah jadi begadang.
__ADS_1
Diluar terlihat sepi, mama papa pasti sudah masuk kamar. Kami hanya tinggal bertiga, adikku Reyka masih kuliah S2 di Belanda. Kami hanya menggunakan pembantu yang datang pagi pulang sore. Tapi kalau mama papa enggak ada di rumah, Bu Rum libur. Yaa aku kan harus kerja, yang ngawasin enggak ada, lagi pula aku bisa beli makanan di luar.
Setelah makan malam, aku memilih menonton film di televisi saja. Semua cemilan sudah lengkap di kamar, apalagi ditambah belanjaan tadi di Kem Chick.
***
"Rachel, bangun. Ada temanmu tuh dibawah," mama mengetuk pintu kamar membangunkan aku.
Aku yang sedang males-malesan di kamar tentu saja kaget. Hari Minggu, jam 7 pagi. Enggak pernah ada tamu tak diundang jam segini. Sepertinya, tamunya ngajakin ribut nih. Aku kan mau me time.
Saat aku ke ruang tamu, kosong, enggak ada orang. Lalu aku ke teras, kosong juga. Saat mau teriak karena mama bohongin aku, aku melihat papa di taman di dekat pohon jeruk bersama Mas Malik! Iya, Mas Malik. Mau apa coba tuh cowok.
"Pagi," sapaku ketika sudah berada diantara dua pria.
"Nah ini Rachel nya sudah bangun. Chel, temani Malik gih!" kata papa.
"Yuk Mas, kita diteras saja," ajakku.
"Mau minum teh anget enggak? Sekalian saya bikinin," tanyaku.
"Enggak usah Ha. Kita jalan yuk, cari sarapan!" ajaknya.
"Hah? Mas mau nyari sarapan bela -belain nyamper saya dulu?" ujarku kaget.
"Iya. Baikkan saya? Hhmmm sebenarnya saya juga mau ngobrol sama kamu Ha." Mas Malik bicara dengan ekspresi yang agak ramah.
"Ngobrol? Emang enggak bisa besok gitu? Kan kita juga bakalan ketemu besok," protesku, karena kehadirannya mengganggu hari Mingguku.
"Pleaseee.. Kamu ganti baju olahraga dan pakai sepatu kets dulu deh," pintanya dengan nada memohon.
"Intinya saya mau ngajak kamu keluar rumah. Yuk, saya mau ajak kamu makan bubur ayam di Menteng."
Tanpa banyak bicara akhirnya aku menuruti kemauan Mas Malik. Penasaran juga perasaan yang jual bubur ayam ada banyak, kenapa harus nyari yang jauh.
Aku enggak banyak ngomong, lagi males debat, jadi aku ikut aja deh kemauan Mas Malik. Lagi pula aku masih belum rela jam segini di hari Minggu sudah keluar rumah tanpa perencanaan. Hari ini seharusnya jadwal aku bermalas - malasan.
Akhirnya mobil berhenti di Masjid Cut Meutia, Menteng. Awalnya agak bingung, jam segini ke masjid, ya kali mau sholat Dhuha, eh enggak tahunya tukang buburnya ada di parkiran masjid yang sudah tua ini.
"Mas, tahu ada bubur disini dari siapa?" tanyaku penasaran.
"Dari Becky, adik saya. Dia anak gaul, mau makanan mahal sampai murah yang recomended nanyanya sama dia," kata si bos setelah dia memesan bubur.
"Ooh.. Emang Mas Malik berapa bersaudara?" Sirine kepo sudah berbunyi dikepalaku.
"Saya empat bersaudara. Bang Ravel anak pertama, yang kedua cewek, namanya Wilsa dia tinggal di Sydney, ikut suaminya, saya anak nomer tiga. Terus baru Becky deh." Gilee neranginnya jelas bener.
Sambil makan bubur di mobil, kemudian Mas Malik mulai bertanya, "Perjodohan kamu sama Jaka bagaimana?"
"Ya enggak gimana - mana. Mama sekarang juga lagi bingung," aku berkata sambil tersenyum karena mengingat omongan mama kemarin yang bingung antara Jaka atau Mas Malik. Secantik apa siih anak mama ini, sampai kege-eran emaknya.
"Bingung kenapa?" tanya Mas Malik sambil mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku.
"Itu rahasia ibu dan anak lah. Orang luar dilarang kepo. Btw, buburnya enak Mas. Tahu gitu, waktu di rawat kemarin makan bubur ini aja."
__ADS_1
"Saya juga baru beberapa kali kesini. Ya sudah, mulai sekarang, setiap hari Minggu kita sarapan bubur disini aja gimana?"
"Hah? Niat bener ya Mas? Enggak ah. Please Mas, hari Minggu tuh jadwal saya nge-charge tubuh di kasur. Jangan main dateng kayak tadi ah."
"Hahahahaha... Ya sudah kalau hari kerja mau? Jadi saya jemput kamu, sebelum ke kantor kita beli dulu bubur disini, gimana?" tanya si bos yang terlihat bersemangat.
"Tapi... Lihat nanti deh Mas," jawabku ragu. Eh tumben - tumbenan loh, Mas Malik enak diajak ngobrol. Bunglon emang nih cowok satu ini.
Dia pun meminta mangkok bubur ku yang sudah habis lalu pergi ke gerobak bubur H. Jewo. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia kembali dan ngajak ke car free day. Aku pun menyetujuinya.
Kini kami sudah ada di jalan Thamrin yang ramai karena car free day. Mobil di parkir di Hotel Pullman Jakarta.
"Mas, nanti ketemu orang kantor. Nanti digosipin," protesku ketika menyadari kemungkinan terburuk ketemu teman-teman.
"Ya enggak masalah saya sih. Saya kan digosipin nya sama kamu."
"Iih bisa serius enggak sih? Heran punya atasan nyebelin banget!" Aku berkomentar dengan nada kesal.
"Leha, balik lagi nih, kamu ada kemungkinan menikah dengan Jaka enggak?" tanya Mas Malik yang masih penasaran.
"Saya enggak tahu Mas. Mamanya Jaka sih kepingin banget kelihatannya punya mantu saya. Sudah ah, jangan bahas itu terus. Hubungan saya sama Jaka pokoknya hanya sebatas teman atau sahabat untuk saat ini. Saya enggak mau lebih," ujarku sambil jalan menuju ke Sudirman. Ceritanya kayak orang - orang, olahraga, padahal sih mataku sambil melirik dagangan kaki lima yang berbaris.
"Terus kemarin kalian ngapain di Rits-Carlton?" Wohooo ada yang penasaran toh.
"Mama minta disupirin kesana. Ada acara dia sama genk sosialitanya. Mama kan gaya, makanya anaknya mau nyoba gaya juga, cuma dananya belum cukup," kataku sambil ketawa. Miris bener deh, yang sudah enggak dapat sokongan dana dari orang tua.
"Ya nanti kamu minta tambahan dana sama suami kamu ya," kata si bos sambil ngacak rambut aku. Oh my God! Dia kan bos aku, kok megang kepala sih. Dah gitu, nih dada jadi deg - degan.
"Tapi benarkan cuma minta disupirin, bukan acara perkenalan keluarga atau mungkin lamaran?" Tanyanya lagi. Aji gile pertanyaannya dari tadi nyerempet -nyerempet terus.
"Yee ngaco! Saya itu nemenin mama ke acara temannya. Nah Jaka juga nganterin mamanya. Jangan nuduh macem - macem deh! Fitonah itu namanya Mas, fitonah!"
"Kalau saya tidak percaya dengan penjelasanmu bagaimana?"
"Ya udah minta penjelasan aja sama guru bimbel. Biasanya jago tuh guru bimbel ngasih penjelasan. Masa penjelasan guru bimbel enggak di percaya? Enggak punya murid nanti."
"Leha, kamu kan belum mau pacaran, kalau saya ajak nikah aja mau enggak?" Mas Malik bertanya sambil senyum - senyum.
"Ah punya bos enggak bener nih. Kalau ngomong tuh disaring, jangan mentang - mentang anak buahnya jomblo asal jeplak aja. Kayaknya harus ganti bos kalau udah gini. Besok saya mau ketemu Mas Ricky!"
"Leha, kalau sama atasan itu harus hormat," katanya membalas omonganku.
"Mas jadi gila hormat ya? Atasan juga harus hormat keles ke anak buah." Jalanku pun aku percepat, biar enggak dapat pertanyaan dan komentar ngaco lagi. Nyebelin kan bos aku?
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung