Bos Ajaib

Bos Ajaib
78. Pempek dan Rumah Sakit


__ADS_3

Aku mengetuk ruangannya Mas Malik dan ketika audah dijawab aku pun masuk keruangannya. Tanpa menunggu perintah, aku duduk di sofa di ruang kerja Mas Malik, biarvlebih santai gitu.


"Ada apa Dek? Sudah makan belum?"tanya Mas Malik sambil berdiri dari kursi singgasananya dan duduk di sofa disampingku.


"Mas, Adek habis makan pempek doa yang di bawa Emak. Enak Mas, Adek doyan. Mas sudah nyobain?" Aku langsung nyerocos.


"Belum disentuh. Kenapa? Kamu mau lagi? Makan punya Mas aja, nhgak papa kok."


"Bukan. Bukan itu. Mas cobain deh. Adek suka, mau belajar buat."


"Astaga! Kamu kalau suka kan diminta Emak untuk pesab lagi Dek. Hayo! Jangan iseng jualan makanan yang kamu sendiri belum bisa masaknya."


"Gimana kalau salah satu makanan gubuk dipeenikahan kita nanti ada pempeknya si Akang? Tapi minta buatin yang ikan tenggiri, jangan yang dos. Boleh ya Mas?"


"Boleh, nanti Mas yang ngomong sama Emak."


"Asyiiik... Terus nanti Adek mau kita punya stok pempek juga ya Mas kalau sudah nikah. Bumbunya enak deh Mas. Mas cobain deh."


"Iya Juleha, iya. Kamu kalau lagi seneng dan ada maunya jadi bawel lagi ya? Tapi kenapa Mas jadi tambah sayang ya, kalau kamu manja sepeeti ini?" Mas Malik bicara sambil senyum.


"Hehehehe... Ya udah Mas cobain dulu dong. Biar bisa tahu juga apa yang Adek rasakan," pintaku.


"Iyaaaa. Hiii Juleha oh Julehaaaa." Mas Malik bicara dengan nada gemas sambil memainkan kedua kupingku.


"Maaaas jangan dong. Nanti sekrup di kuping Adek pada copot. Kalau kupingnya jatuh gimana?" Protesku ke Mas Malik sambil berusaha melepas kedua tangannya.


"Ini sekrupnya malah lagi Mas kencengin kok," ucapnya gemas. Ya ampun, kenapa aku jadi semakin sayang ya sama si bos yang aneh ini?


Tanpa kuduga, Mas Malik mencium jidat jenongku. "Maaas, jangan iseng dong!" Dia hanya senyum yang kemudian memainkan jidatnya di jidatku.


Yang aku senang, Mas Malik tanpa pikir panjang mengabulkan permintaanku untuk ada pempek dipernikahan kami nanti. Hahahaha peemintaan yang simple dan receh.


Eeh tapi kok, kayaknya muka Mas Malik terlihat pucat ya?


"Mas kamu kok pucat mukanya?" tanyaku yang langsung menyentuh lehernya, siapa tahu panas, tapi untungnya suhunya normal.


"Mas agak mual Dek sebenarnya. Kamu punya obat maag nggak?" tanyanya sambil memegang perutnya.


Waduh, Mas Malik lagi akting atau bagaimana nih? Barusan happy happy aja.

__ADS_1


Aku menggeleng sambil menatapnya bingung. "Nggak punya. Emangnya Mas yakin sakit maag?"


"Kayaknya iya, perut Mas sakit banget. Mas belum sarapan sih tadi, hari ini baru minum kopi, karena kerjaan lagi banyak," katanya dengan suara yang pelan.


Jidat Mas Malik yang nggak jenong mulai dipenuhi bulir-bulir keringat, aku mulai panik.


"Mas?" Aku tidak dapat menahan kekhawatiranku.


"Mas masih kuat nggak? Kalau nggak kuat kita ke rumah sakit aja yuk!" Aku mengajaknya karena melihat wajahnya yang sudah memerah. Ya ampuuun... Aku kenapa tadi tidak menyadarinya? Malah asyik nyerocos terus.


"Ya sudah yuk, kita kerumah sakit. Tapi Mas beresin dulu mejanya ya?"


"Nggak usah. Nanti minta tolong Mas Kelana saja. Ayok, Adek yang nyetir. Hap hap hap bangun. Jangan sampai pingsan, Adek nggak kuat kalau harus gendong. Kunci mobil mana Mas?" Aku pun menerima kunci mobilnya yang selalu dikantonginya.


Aku langsung keluar mengambil tas aku, lalu masuk lagi ruangan mas Malik menuju meja kerjanya untuk mengambil tas selempang Mas Malik, dan kemudian menggandeng Mas Malik berjalan keluar ruangannya.


Saat seperti ini, pas teman - teman masih di ruang santai. Aku yang tadinya mau memberitahukan tim gesrek dilarang Mas Malik karena takut malah jadi heboh. Mas Malik pun berusaha jalan dengan tegap menuju mobilnya. Teman - teman di lantai satu pun yang melihat tidak ada yang curiga kalau Mas Malik sakit.


Saat ini kami sudah di mobil. Mas Malik mencoba menelepon Mama dokter, memberitahukan kondisinya dengan suara yang terdengar menahan sakit. Mas Malik melaporkan kalau dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Tidak lama kemudian setelah percakapan selesai aku tidak mendengar suaranya lagi. Benar - benar sunyi. Sepertinya memang Mas Malik sedang menahan sakit.


Tidak ada jawaban.


Aaaargh!!!


Dengan sedikit panik, aku memutuskan untuk fokus nyetir, karena Mas Malik lebih butuh cepat sampai di rumah sakit.


Tadi dalam percakapan Mas Malik dengan Mama dokter, aku mendengar suara manja dia. Aku selintas jadi ingat omongan Becky yang Mas Malik suka manja ke Mama dokter.


Lucu kali ya, kalau Mas Malik nanti manja seperti itu ke aku. Sambil minta peluk sama aku, terus laporan kekesalan dia, terus aku ngusap - ngusap rambutnya. Astaga! Kok aku malah mikir yang lain ya? Padahal orangnya lagi kesakitan di samping.


Sesampainya di rumah sakit, Mas Malik dibawa ke Instalasi Gawat Darurat.


Para petugas di rumah sakit sudah siap, karena sudah dapat perintah dari Mama dokter. Tapi Mama belum ada di IGD. Aku tidak ditanya - tanya lagi sama dokter ataupun perawat.


Selama dia diperiksa, aku mondar-mandir agak jauh dari


brankar Mas Malik sambil menggigit kuku.

__ADS_1


"Apakah Mbak yang datang kesini bersama Mas Malik?" tanya dokter yang menghampiriku.


"Iya, kenapa, Dok? Mas Malik sakit apa?" "Usus buntu, dan harus dioperasi sekarang. "Saya akan segera menghubungi dokter Abigail juga, untuk mengabari kondisi Mas Malik."


Aku memejamkan mata, antara frustasi dan sedih. Pernikahan kami tiga minggu lagi, semua diatur Mas Malik. Aku kok jahat banget ya? Pasti bebannya Mas Malik banyak, ketambahan dengan aneka kerjaan. Aku nggak kuat menahan air mata. Aku menyadari, aku cukup egois, sampai Mas Malik sakit seperti ini. Menangis adalah pilihan terbaikku saat ini.


Saat sedang menunduk di samping brankar Mas Malik, aku mendengar suara Mama. Ya, Mama sedang bicara dengan dokter dan beberapa perawat. Lupakan itu omongan Mama yang ingin diboncengin naik motor ke rumah sakit dan santai. Aku hanya mendengar ucapan - ucapan Mama dengan intonasi yang berwibawa.


"Haai Rachel. Eeh, kenapa kamu nangis? Malik jangan ditangisin. Sudah hapus air mata kamu." Mama bicara sambil memeluk aku dan mencium pipi aku dan mengusap air mataku.


"Sudah, santai saja Chel. Mama sun Malik dulu," kata Mama yang langsung ke Mas Malik yang sedang tidur. Eh entah tidur atau hanya memejamkan mata, aku nggak ngerti deh.


Setelah mama mencium jidat nggak jenongnya Mas Malik, Mama ngomong ke Mas Malik, "Lik usus buntu kamu harus segera di operasi. Sekarang semua sedang disiapkan." Setelahnya Mama mengelus tangan aku dan berkata, "Chel, kamu temani Malik dulu ya, Mama siapkan semua untuk keperluan operasi. Tadi Mama sudah kasih tahu Becky, tapi dia masih tugas di poli." Aku menjawab dengan anggukan. Aku masih sedih.


Setelah ditinggal berdua, aku baru ingat dengan orang kantor. Aku pun berjalan keluar ruangan IGD menelepon Mas Kelana dan menitipi untuk membereskan meja kerja Mas Malik sama titip beresin meja kerja aku, karena aku nggak balik ke kantor.


Saat aku balik ke tempat Mas Malik, ternyata dia tidak sedang tidur. "Kamu kemana?"


"Tadi habis telepon Mas Kelana." Aku menarik kursi dan duduk di samping brankar.


"Adek..." Dia sudah tidak sanggup lagi mengucapkan apa pun.


"Ya?" Aku menatapnya tepat di bola mata.


"Stay..." Dia meringis lagi, kali ini dengan mata terpejam. Lagi - lagi rasanya aku ingin menangis. Entah bagaimana, aku jadi takut terjadi sesuatu pada Mas Malik. Aku nggak suka melihat dia menderita.


"I'll stay. You'd better come out from the operating room alive, Mas," ucapku pelan.


***


.


.


.


.


Guys, besok kayaknya author-nya mau bolos dulu ya... Mau mantau situasi di RS dulu kasian Mas Maliknya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2