Bos Ajaib

Bos Ajaib
56. Mama Bocor


__ADS_3

...Berhubung banyak yang minta double up, author pun terenyuh......


...Dan ini untuk kalian semuaaaaa ...


...(bacanya sambil bayangin Ariel Noah yang teriak yaπŸ˜†).....


...Selamat hari Senin ya, semangaaaat...


...πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ...


Pas dipikir -pikir, aku baru menyadari kalau Mas Malik tuh resek banget sama nama panggilan. Iya kan? Ganti namaku jadi Juleha, terus sekarang jadi Adek. Padahal di rumah aku sebagai kakak. Ada gitu ya, orang yang rempong dengan sebutan seseorang.


Sepulang dari nonton, Mas Malik langsung cabut, nggak mampir. Hahahaha mirip ojol deh. Tapi katanya besok pagi aja mampirnya. Ada gitu ya, mampir ke rumah pacar di gabung? Semakin aku menyadari, pacarku aneh. Eh aneh apa unik ya? Lagi - lagi aku semakin mengerti kalimat Mas Ricky yang bilang, "Kalian itu sama, cuma ketutup Malik yang jaim karena sebagai atasan." Eh tapi kan aku normal dan biasa aja ya? Kenapa disamain ya?


Mama mulai curiga dengan kedekatan Jaka dan Reyka. Saat aku pulang kata Mama, Reyka tadi siang pergi ke mol dan pamit pulangnya malam dan dia bilang pulangnya sama Jaka, biar Mama nggak khawatir.


Akhirnya, aku menjelaskan ke mama tentang hubunganku dengan Mas Malik. Tidak hanya itu saja, aku pun menjelaskan kecocokan antara Jaka dengan Reyka. Yang buat mama semakin kaget adalah kalau kami sering double date meskipun aku belum dapat laporan apakah hubungan mereka sudah resmi atau belum.


"Mama kenapa enggak mikir sejauh itu dari awal ya, Chel?" tanya Mama yang masih terkaget-kaget.


"Hahahaha emang nggak perlu mikir kok Mah. Kami jalani saja. Jaka saja nyantai. Kalau sudah jodoh, pasti enggak tertukar kok."


"Lalu, kalau Mama nggak tanya kamu sekarang, kamu nggak cerita ke Mama dong?"


"Aiih si Madam suka gitu deh. Ya cerita Mah. Tapi emang rencananya minggu depan, biar mantepin perasaan dulu baru cerita ke Mama sama Papa."


"Sekarang kamu sudah mantap?"


"Yah sudah mulai yakin, tapi ya penyesuaian dulu lah Mah."


"Yaah. Kirain mau disegerakan. Kenapa harus nunda sih?"


Aku hanya senyum. Kacau nih kalau Mama ngobrol sama Mas Malik, bisa bulan depan langsung lamaran. "Mah, aku mandi dulu ya. Lengket nih, tadi naik motor."


"Ya sudah. Kamu fikirin lagi, Mama senang kalau kalian nikahnya segera. Lagian, nanti kamu juga kok yang ketagihan Chel kalau sudah nikah. Mama ke kamar dulu deh kangen sama Papa." Aku hanya menatap Mama yang bicaranya mulai vulgar.


Tuh, samakan mamaku sama pacarku? Mama kalau sudah ngomong soal gitu, enggak di saring. Lancar kayak jalan tol yang bebas hambatan. Sedangkan aku? Jujur, aku risih.


***


Setelah mandi aku mendapati ada 3 misscall dan banyak notifikasi whatsapp, yang semuanya dari Mas Malik.


Mas Malik:


"Dek! Sabtu besok Mama mau ketemu kamu.


Mas Malik:


Gara - gara Bang Ravel nyeritain sosok kamu, Mama jadi penasaran.


Mas Malik:


Kamu mau nggak? Mau ya? Ketemu calon mertua


Rachel :


Maaf, Anda siapa ya? Apakah saya mengenal Anda?


Mas Malik :


Adeeeek... Juleha.... Adeeeek.. Juleha...


Rachel :


Sepertinya Anda salah sambung Pak


Mas Malik:

__ADS_1


Kalau kamu iseng, besok pagi Mas cium kamu di depan mama papa kamu ya


Rachel :


Wuuiih berani ngancem? SILAHKAN Mas. Tapi setelah itu, maaf ya, enggak janji deh ngobrol lagi sama Mas Malik.


Rachel :


Sudah ah, mau tidur. Seharian emosinya sudah naik turun. Sekarang tambah kesel, punya pacar taunya nyebelin. Sama aja kayak bos di kantor! Kamu kenal nggak, sama bos saya di kantor?


Mas Malik :


Kamu sensitif ih. Kayak test pack aja.


Rachel :


Jangan lupa minum obat ya Mas. I love u


Mas Malik:


Obat apa? Mas nggak lagi sakit kok


Rachel :


Obat error. Dari tadi Mas Malik korslet


Mas Malik:


Hahahaha.. Nikah sekarang yuk! Biar Mas bisa gangguin kamu kapan pun Mas mau


Rachel :


OGAH. Mas jangan ganjen ya. Ganggu - ganggu cewek orang


Mas Malik:


Btw, Sabtu ke rumah mama ya.


Kita berenang yuk!


Rachel :


Hah? Mas ngajakin Rachel berenang? Enggak salah?


Mas Malik:


Enggak kok. Emang kenapa?


Rachel :


Minum obat dulu gih!


Bela - belain di Padang enggak berenang karena ada kamu, ini nawarin ke mulut macannya langsung. Situ waras?


Mas Malik:


Hahahahahaha... Oke.. Oke.. Oke.. Sorry✌✌✌


Rachel :


Ya udah ah. Mau tidur dulu nih. Mandi dulu gih.


Mas Malik:


Iya sayang. Sweet dream honey.


Rachel :

__ADS_1


Gombal! Byee


Saatnya tidur, capek juga ternyata hari ini.


***


Saat aku keluar dari kamar dan mau sarapan, aku sudah menemukan pacarku itu sedang ngobrol sama mama dan papa.


"Pagi semuanya," sapaku ke mereka.


"Pagi Chel. Ini Malik cerita ke Mama dan Papa, siap nikahin kamu kapanpun kamu mau, terus kamu kenapa nunda?" tanya Mama.


"Mah, kalau Mama mau nikah, ya udah nikah aja. Kenapa nyuruh Rachel?" Jangan nanya dan jangan protes ke aku ya kalau aku ngomong begini.


"Yee ini anak. Tahu gini, dulu kamu Mama tukar sama payung cantik deh. Ngomong asal, disaring dulu bisakan? Tuh, didapur banyak saringan. Lagi pula itu ada Papa kamu, suami Mama."


"Lah, Rachel juga nggak bilang Papa supir Mama kan? Iya kan Pah?" Yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Papa.


"Papa jangan bela Rachel! Mama masih mau manja sama Papa, jangan buat Mama kesal."


"Anaknya belum mau buru - buru nikah, kenapa Mama yang sibuk sih? Biarin deh Rachel membuat keputusannya sendiri. Kalau Malik mau buru - buru, tapi Rachel nya enggak mau, ya Malik cari wanita lain saja yang lebih cantik dari Rachel." Jawab Papa.


Dewi Fortuna, please come to Rachel.. Kalau sudah begini, aku hanya bisa pasrah kena bully mereka semua.


Aku cuma bisa pasang muka bete. Semoga pacar yang lagi nggak asyik ini sadar.


"Mah, kita juga kan masih adaptasi. Malik nggak masalah kok kalau nikahnya tahun depan." Mas Malik mencoba membelaku.


"Ya sudah terserah kalian. Awas ya, kalau kalian bulan madu duluan baru nikah! Bukan apa - apa, Mama tuh sudah nyoba dan Mama jamin deh, kalian nggak akan menyesal."


Oke, sekarang Mama sama nih seperti Mas Kelana ngomonginnya bulan madu.


Setelah menghabiskan teh hangat yang sudah tersedia di meja makan, aku mengajak Mas Malik berangkat ke kantor.


"Mas, jalan sekarang saja yuk! Kita beli bubur yang enak itu dulu Mas. Tapi jangan kasih tahu Mama ya. Nanti dia minta." Aku sengaja godain Mama.


"Wah Pah, Mama nggak dibeliin bubur sama anaknya nih. Dulu gimana ceritanya Rachel bisa lahir sih Pah? Kenapa pelit ya?"


"Mah! Udah ah. Rachel berangkat ya." Monmaap emak lagi error nih harus di cut.


"Mah, Pah, Malik berangkat ke kantor dulu ya." Mas Malik pamit sambil cium tangan ke Mama dan Papa. Begitu pun aku, tapi ketambahan cipika cipiki kalau aku.


Pagi ini, lagi - lagi Mas Malik yang jadi tukang ojeknya. Aku diminta jadi penumpang.


"Sudah dengerkan bocornya omongan Mama. Jadi lain kali kalau ngomong hati - hati ke Mama, kalau mau lanjut sama Rachel."


"Iya. Baru dengar lengkapnya ini. Kamu mau beli bubur dulu Dek yang di Menteng?"


"Mau Mas, makan bubur. Mama sudah tahu kita memiliki hubungan, tadi malam Rachel cerita. Makanya nggak pakai jaga image segala sekarang Mama kalau ngomong, sudah seperti aslinya."


"Ooh gitu. Pantes ya, mulut kamu juga suka gitu kalau ngomong."


"Dih beda lagi Mas." Mana pernah aku berani ngomong vulgar. Suka asal nih si bos. "Tapi itu yang bikin kamu suka ya Mas?"


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2