
Setelah makan siang aku meeting dengan Mas Malik di ruangannya. Desain kriyacantik untuk Bu Mona sudah selesai, sekarang tinggal tugas Mas Malik yang buat laporan ke Bu Mona sebelum di serahin ke anak IT untuk tahap berikutnya.
Beberapa garis desain disempurnakan sama Mas Malik di depan mataku tadi. Dia sekalian menjelaskan penggantian tersebut. Maksudnya kenapa harus diganti. Yaa seperti kuliah lagi deh tadi. So.. no nyinyir - nyinyir gak jelas.
Sorenya lagi-lagi aku meeting dengan Mas Malik untuk membicarakan konsep desain Wisata Petualang. Teh Muti sudah setuju dengan penjelasan konsep desain web yang akan kita kerjakan. Kami pembagian tugas dalam pembuatan konsep desain yang akan kita sodorin ke Teh Muti.
Aku sama Kak Bertha sepakat untuk lembur untuk mengerjakan desain proyek terbaru yang jadi tanggung jawab kita masing-masing.
"Loh, kalian lembur? Kenapa enggak besok saja ngerjainnya?" tanya Mas Malik saat melihat dua cewek masih di depan iMac Pro masing-masing.
"Iya Mas. Tanggung nih, selagi idenya melimpah. Besok tinggal touch up aja," jawab Kak Bertha.
"Lalu Juleha kenapa ikutan lembur?" Aku tahu si bos maksudnya nanya ke aku, tapi aku cuekin. Itu bukan nama aku. Nama aku keren!
Karena merasa dicuekin, Mas Malik kesal."Hey, diajak ngomong sama atasan kok diam aja?"
Kak Bertha malah yang nyolek aku, mau nggak mau aku nengok. Aku tatap Mas Malik dengan muka judes aku yang mulutnya dimajuin dikit alias monyong. Biar dia tahu kalau aku marah dan enggak suka dipanggil dengan nama itu.
"Eeh, si Leha marah. Ya sudah deh, enggak ngajak ngomong lagi. Kalau mau pulang kabarin saya ya."
"Iya Mas." Kak Bertha yang menjawab, karena dia yakin aku pasti diam.
"Leha.. Leha.. cuma gue yang namanya dia ganti. Nyebelin banget sih!" Aku ngedumel sendiri.
"Yaa mungkin panggilan sayang buat elo," Kak Bertha jawab sambil tertawa.
"Sayang - sayang, sayang dari Hongkong!" Kami pun kembali fokus dengan pekerjaan kami lagi.
Sekarang sudah pukul setengah sembilan. Kami habis makan martabak manis yang kami pesan via online. Meskipun martabaknya sudah habis, kami masih ngobrol seru sambil kerja.
"Lagi kerja tapi malah ngobrol?" Mas Malik tiba-tiba keluar ruangannya dan langsung sewot.
Suara tekanan tuts komputer Kak Bertha pun berhenti. Aku sendiri menahan agar tidak menyiram Mas Malik dengan kopi sasetan yang baru kuseduh.
"Waswiswus lima menit nggak akan bikin pekerjaan gue tertunda kok," jawab Kak Bertha tegas. Hahahaha kesel juga madam kita satu ini.
"Tapi akan lebih cepat kalau elo fokus, Bertha," timpal Mas Malik.
Kak Bertha hampir membalas kalau saja dia tidak melihat gelengan dan tatapan peringatan 'jangan dilawan' dariku. Sebagai pengalihan, Kak Bertha memutuskan bungkam dan kembali bergelut dengan photoshop-nya.
__ADS_1
"Kamu juga, Chel, jangan sampai kecapean." kata Mas Malik lalu kembali ke ruangannya. Aku menatap cangkirku yang saat ini hampir kosong. Kak Bertha pun menghentikan kegiatan mendesainnya lagi.
"Dia pikir selama ini gue nggak fokus apa? Kalau gue nggak fokus, semua desain gue sudah ambyar dong!" seru Kak Bertha karena kesalnya dengan omongan Mas Malik.
"Kesel Kak? Apa kabar gue yang sudah rutin? Belum ngerasain sih jadi anak buah tiri yang teraniaya," ujarku.
"Mungkin kita harus nyariin Mas Malik cewek. Biar dia beristri lalu punya anak, terus dia jadi punya sedikit rasa perikemanusiaan dan perikeadilan." Aku nyengir menanggapi khayalan Kak Bertha. Ya kali ada cewek yang mau dengan laki-laki yang enggak bisa ditebak itu.
Pernah enggak ngerasain saat ide lagi banyak-banyaknya, tahu-tahu drop karena omongan enggak penting dari atasan? Itulah yang kurasakan saat ini.
"Pulang aja yuk! Percuma kerja kalau bosnya lagi resek. Mungkin dia mau melakukan sesuatu jadi tertunda karena ada kita," kataku.
"Iya deh. Beresin dulu deh. Jangan lupa di save semuanya Chel."
Setelah kami rapi, Kak Bertha masuk ke ruang Mas Malik untuk pamit pulang.
Aku mendengar percakapan Kak Bertha dengan si bos, karena pintu ruangannya tidak ditutup rapat. Dia menanyakan kami pulang naik apa. Kak Bertha hari ini bawa mobil, sedangkan aku tadi sudah pinjam motor kantor. Semua itu dilaporin Kak Bertha ke Mas Malik.
Tidak lama, Mas Malik keluar ruangan dan langsung memandang aku dengan tatapan tajam.
"Hei, saya kan sudah bilang, kamu tidak boleh mengendarai motor sport lagi. Kenapa sih masih nekat?" Tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Kamu lebih baik saya antar daripada naik motor. Ini sudah malam Leha. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Nada suaranya mulai melembut, enggak seperti sebelumnya yang ngajakin ribut.
"Enggak ah Mas. Gak papa kok saya naik motor. Lagian sudah minjem jaket dan helmnya Sisi juga kok." Aku berusaha mengelak.
"Saya tidak terima penolakan. Tunggu saya. Saya matiin komputer dulu. Bertha, kita kebawah bareng." Si bos langsung masuk lagi ke ruangannya. Sedangkan kami berdua bengong, bingung, enggak ngerti mesti ngapain.
"Kok bos jadi aneh ya Chel?" tanya Kak Bertha yang masih bingung.
"Enggak ngerti Kak. Bingung gue juga." jawabku.
Pernah kebayang enggak sih kalau punya bos yang ternyata protektif ke bawahannya? Dan lagi - lagi, itu yang aku rasakan.
Saat ini aku sudah di mobil si bos. "Mas, memang kenapa sih kalau saya naik motor sport? Saya tuh suka, saya bisa refreshing kalau naik motor." Aku mulai mengeluh dengan sikapnya.
"Bahaya Leha. Sekarang orang di jalan raya banyak yang semakin nekat. Saya enggak mau kamu kenapa-napa."
"Mas memperlakukan hal ini kesemua karyawan atau ke saya saja?" Aku penasaran dengan sikapnya.
__ADS_1
"Yang didepan mata saya kamu, jadi saat ini berlaku hanya untuk kamu."
"Salah satu alasan saya pinjam motor adalah rencananya besok pagi saya mau mampir ke suatu tempat."
"Besok pagi kamu saya jemput dan saya akan mengantar kamu ketempat yang kamu mau. Jadi kamu enggak boleh marah ke saya."
"Lah, kenapa gitu? Mas yang main ganti rencana saya loh!"
"Tapi saya kan bertanggung jawab nganter kamu pulang dan besok jemput kamu untuk pergi ke kantor. Kalau mau ke mana-mana juga akan saya antar, yang penting kamu jangan naik motor sport lagi. Titik!" Kok dia yang kesel ya?
"Mas Malik sebenarnya sudah punya pacar belum sih?" Maaf aku akhirnya gatal untuk menanyakannya.
"Kamu mau jadi pacar saya enggak?"
Astaga Petruk! Dia ngomong apa sih? Asal jeplak aja.
"Mas sakit ya? Saya nanya bukannya di jawab. Sudah lah, saya mau tidur saja. Biar kayak nyonya besar."
"Silahkan Leha sayang." Jawab Mas Malik dengan senyum lepasnya.
Aku pun memejamkan mata dengan hati dongkol. Ruwet kalau punya bos enggak bisa dibantah dan ngeyel terus.
"Besok-besok kalau enggak urgent banget enggak usah lembur."
Aku mendengar nasehatnya, tapi aku tidak menjawabnya. Kan ceritanya lagi tidur, biar menjiwai, jadi diem aja.
***
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1