
Akhirnya hari ini bolos juga. Tadi aku sudah whatsapp Mas Malik, untuk ijin enggak masuk. Hahahaha Mas Malik agak sebel gitu waktu aku ijin.
Rachel :
Mas, hari ini saya ijin enggak masuk ya✌
Mas Malik :
Kenapa?
Rachel :
Gapapa Mas. Mau ada kepentingan aja
Mas Malik :
Kalau tidak saya ijinkan gimana?
Rachel :
Saya bolos Mas
Mas Malik :
Emangnya mau apa?
Rachel :
Rahasia dong
Mas Malik :
Rachel, kamukan baru selesai cuti, kenapa harus ijin lagi?
Rachel :
Tapikan cuti saya enggak bisa total Mas. Saya diikutin terus sama bos saya
Mas Malik :
Oh, bos kamu yang ganteng itu?
Rachel :
Hah? 🤔
Rachel :
Mas, saya ijin enggak masuk ya✌
Mas Malik :
Hhmmm
Rachel :
Makasih Mas😊
Sejak cuti memang aku belum mendapati kata-kata nyinyir dari si bos. Eh apa dia dinasehatin Bang Ravel terus nurut ya? Semoga aja sih ya.
Sesuai rencana aku dengan ketiga teman kuliahku yang berasal dari Malaysia, Yasmin, Ahmad, dan Abdu, akan ke pasar Tanah Abang. Aku meminjam mobil Papa dan menjemput mereka di guest house yang mereka sewa si kawasan Menteng.
Mereka datang dalam rangka mencari baju seragam buat panitia pernikahan Yasmin dan Ahmad. Alasannya, mereka suka dengan baju yang aku pakai ketika wisuda.
Sebenarnya, baju saat wisuda jaman kuliah di London itu aku buat sendiri. Ternyata banyak yang suka, lalu aku jawab seenaknya saja, kalau itu beli di Pasar Tanah Abang. Sialnya, mereka percaya dan minta dianterin ke tokonya kalau pas ke Indonesia.
Disinilah aku sekarang, Pasar Tanah Abang Blok A. Ketiga temanku pun terpukau. Ini pun aku batasi hanya di Blok A. Selain itu, enggak deh. Belum lagi menyusuri beberapa lantai yang tematik. Meskipun aku minta mereka hanya fokus di lantai yang khusus menjual kebaya, baju muslim, dan batik.
Apakah mereka puas? Oh tentu tidak Seo Ye Ji!
Aku dan Abdu sudah dua kali ke mobil menaruh barang belanjaan mereka bertiga. Sekarang, Yasmin dan Ahmad baru selesai dengan kesibukannya memilih baju seragam panitia pernikahannya.
Rachel :
Bagaimana? Sudah kau dapat semua yang kau mau?
Yasmin :
Saya silap. Semua kain disini cantik. Tapi ini sudah semua
Rachel :
Nanti kau setelah nikah balik lagi kesini
Yasmin :
__ADS_1
Taklah. Semakin silap nanti. Habis uang awak
Rachel :
Ya, kau kerja lagikan? Lagipula kau tinggal minta sama si Ahmad. Tak perlu pening lah
Yasmin :
Sudah yuk, kita ke mall saja. Saya mau tahu mall yang di Senayan
Rachel :
Ok. Lets go! Kita ke Senayan City saja ya.
Aku mengajak mereka bertiga ke Senayan City. Biar mereka melihat perbedaannya dengan Pasar Tanah Abang.
Tapi sesampainya di Sency, kami memilih tujuan pertama adalah makan sambil ngobrol, bukannya lihat-lihat pertokoan. Padahal waktu di Pasar Tanah Abang, kami sudah makan di food court.
Kami berempat sibuk nostalgia saat kuliah dulu, hingga cerita Yasmin dan Ahmad akhirnya berpacaran. Kadang kami saling mencela dan tertawa tanpa melihat sekeliling.
Sampai saat ponselku berbunyi. Mas Kelana whatsapp.
Kelana :
Katanya ke Tanah Abang, kenapa ke Sency?
Rachel :
Ini abis dari TA, terus si Yasmin minta ke Senayan. Ya gue ajak ke Sency. Kok elo tau? Elo meeting disini?
Kelana :
Gue juga lagi di Dapoer Podjok. Sama si bos. Dan si bos dari tadi ngeliatin elo mulu
Rachel :
Waduh! Kok gue sial terus ya? Gimana dong? Gue samperin elo ya?
Kelana :
Iya boleh. Gue arah jam empat dari tempat elo ya
Rachel :
Oke
Aku pun melangkahkan kaki menuju tempat yang dikasih tahu Mas Kelana. Tidak susah, karena dua manusia itu pun sedang menatap aku.
"Halo. Hehehe makan disini juga Mas?" tanyaku yang bingung bagaimana basa basi kalau sudah tertangkap basah gini.
"Ngapain loh disini?" tanya Mas Kelana basi basi.
"Nganter teman kuliah. Mereka dari Malaysia, minta temanin belanja."
"Belanja apa double date?" tanya Mas Malik dengan nada ketus dan tatapan yang menusuk.
"Double date apaan. Itu teman-teman saya semua kok. Saya masih suka lokal kok Mas," ujarku ke Mas Malik.
"Saya tadi belum kasih ijin kamu kan?" tanya Mas Malik.
"Tapi, tadi saya kan bilang, kalau enggak diijinin, saya bolos Mas." Aku jawab pertanyaannya Mas Malik dengan sedikit takut sebenarnya. Kalau dari tampangnya sih dia marah sama aku.
"Ooh gitu. Oke deh." Mas Malik menjawab singkat dengan gaya cuek.
"Saya balik ke sana ya, Mas. Permisi." Aku pamit dengan gaya bicara yang kaku, enggak enak dengar suara Mas Malik gitu. Enggak nyelekit cuma kayak marah ditahan gitu. Intinya, sama-sama enggak enak didengar kuping.
Tapi ucapan aku dicuekin sama Mas Malik. Kalau Mas Kelana, enggak aku pikirin deh.
Sepulang dari nganter Yasmin and the gank, aku memutuskan untuk mendiskusikan pertemuan dengan si bos ke gank gesrek.
Rachel :
Halo halo, Halo halo.. Ada orang di grup inikah? Ganti
Indra :
Woy anak bawang! Ribut tau!
Rachel :
Mas Kelana, tadi bos marah enggak sama gue?
Indra :
Kenapa marah? Emangnya elo belum jadi ijin?
__ADS_1
Rachel :
Gue ketemu bos di Sency. Jadi tadi gue abis anter teman-teman gue ke Tanah Abang, si Yasmin, salah satu temen dari Malaysia minta ke Senayan, ya gue ajak ke mol sana deh.
Indra :
Kayaknya elo jodoh Chel sama si bos. Ketemu terus deh perasaan
Rachel :
Emang gue cocok gitu sama si bos? #halah!
Kelana :
Bocah gendeng! Si bos kayaknya kesel banget sama elo. Dia nanyain teman-teman elo ke gue. Lah gue kagak kenal. Piye toh?
Rachel :
Terus elo ngomong apa Mas?
Kelana :
Ya gue bilang, kemarin Rachel bilang teman kuliahnya ada yang mau minta tolong anterin ke Tanah Abang
Kelana :
Terus Mas Malik bilang gini, 'sejak kapan Sency jadi mol grosiran?'
Ya gue diem aja deh. Takut kena sasaran.
Kak Bertha :
Haduh, nasib elo bagus bener ya Chel. Ketemu si bos mulu
Indra :
Makanya Kak, gue bilang Rachel jodoh sama Mas Malik
Rachel :
Auk ah. Jodah jodoh aja nih pembahasannya. Ya sutralah, kita lihat besok aja perkembangannya.
Niat hati datang pagi ke kantor biar jadi yang pertama hadir di ruang desain, eeh enggak tahunya malah yang terakhir.
"Sst.. kok pada serius dan kelihatan tegang? Ada apa Kak?" tanyaku ke Kak Bertha.
"Si bos kayaknya lagi mens deh. Mukanya, serem, terus enggak nyapa kita-kita." Jawab Kak Bertha.
"Haduuh! Apes gue." Aku berkata pada diri sendiri.
Ternyata benar, seharian aku dicuekin sama Tuan Muda. Masalahnya kerjaan aku sudah selesai, terus kemarin Senin pas rapat, dia bilang mau kasih desain berikutnya yang harus aku kerjain setelah desain pertama ini selesai. Nah tadi sudah aku serahin sebelum makan siang. Tapi sekarang nihil, aku ke ruangannya tapi dicuekin.
Setelah nganggur beberapa jam, akhirnya sore menjelang pulang kantor aku beranikan diri menghadap ke ruangannya lagi.
"Mas, maaf. Desain yang mau saya kerjain kok belum dikasih," kataku setelah duduk di depan meja kerjanya.
"Hhmmmm." Bos aku lucu ya, aku ngomong dengan banyak kata dia hanya bergumam doang.
"Mas Malik marah ya sama saya, karena saya badung?" tanyaku.
Karena dicuekin, aku nyerocos lagi aja. "Bukannya gitu Mas. Saya enggak enak, teman saya dari Malaysia minta bantuan ke saya untuk minta anterin ke pasar Tanah Abang."
"Yaaa, Mas Malik ngambek kayak suami ke istrinya aja deh." Semoga ocehanku ini enggak nyolot emosinya. Bingung aku tuh.
Lima menit masih diam.
"Saya janji Mas enggak akan badung lagi," kataku.
"Kalau ternyata kamu badung lagi gimana?" tanya Mas Malik. Akhirnya dia ngomong pakai kata kata. Yippy!
"Ya saya janji lagi, untuk enggak badung lagi." Aku mengatakannya sambil menatap wajah Mas Malik dengan penuh harap.
"Terus-terusan janji, kapan kelarnya Julehaaa?" Kelihatannya Mas Malik gemas sama aku, terlihat dari ekspresi wajahnya yang merah merona.
Eh, apa dia marah ya?
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung